Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 134 Terungkap


__ADS_3

Aliandhara tersenyum kecut. Memang penyesalan selalu datang belakangan, benar kata orang bahwa cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, begitu pula dengan perasaan Aliandhara ke Valeria dan perasaan Xavier ke Sullivan yang membuat mereka akhirnya betul-betul kehilangan cinta yang sebenar-benarnya dari seorang gadis yang bersedia tulus mencintai mereka, bukan wanita masa lalu yang hanya tinggal kenangan tetapi wanita yang sekarang bisa untuk hidup bersama merajut masa depan, dan mereka berdua telah kehilangan itu semua karena terlalu melihat dan mengenang masa lalu.


*****


"Bu, boleh ngga jika besar nanti Giovanno menikah dengan adik Mira?" tanya seorang bocah lelaki saat melihat adiknya yang baru lahir.


"Giovanno kan abangnya adik Mira...masa abang mau menikahi adiknya sendiri??" jawab wanita cantik yang bernama Serafin itu.


"Ngga boleh ya bu!!" rengek Giovanno kecil.


"Jika bukan dengan adik Mira, abang tidak mau menikah ah....."


"Terus nanti jika ada cewek yang sangat cantik dan mau sama abang gimana?" tanya Serafin menggoda putranya itu.


"pokoknya ngga mau...titik...maunya hanya sama adik bayi...iya kan dek?? Jodohnya adek sama abang Gio saja ya!!" seolah mengerti perkataan kakak laki-lakinya...bayi mungil nan cantik itu menggenggam erat telunjuk tangan kakaknya.


"Gio...adik bayimu cantik sekali...jika sudah besar nanti, kak Hiro akan melamar adik Mira untuk jadi istri kak Hiro."


Mata Giovanno kecil langsung melotot garang.


"Tidak...tidak ada yang boleh memiliki adik Mira selain Gio!!" katanya sengit.


"Tapi kalian berduakan kakak adik, mana boleh kakak menikahi adiknya...Gio cari yang lain aja ya??" kata Hiro dengan kata-kata menggoda yang semakin membuat Giovanno marah.


"Pokoknya adik Mira punya Gio...punya Gio...."


Ahhh...


Raga bangun dari tidurnya dengan seluruh tubuh basah bermandikan keringat.


"Cuma mimpi...itu obrolanku dulu dengan Hiro saat diajak ayah dan ibu keperguruan paman Kakegawa." Kata Raga.


"Mira punya abang...sampai kapanpun akan tetap menjadi milik abang!!"


Hua...hua...hua


Raga menegakan kepalanya. Dia seperti mendengar tangisan Xander putranya.


Benar saja, tengah malam buta itu Almira tengah sibuk menggendong berusaha menenangkan putranya.


"Tuan muda kenapa menangis nyonya??" kata Raga sambil keluar dari kamarnya.


Almira yang melihat Raga keluar kamar segera menoleh.


"Entahlah Raga...setiap malam Xander selalu rewel begini!!" kata Almira dengan wajah lelahnya.


"Mari sini saya gendong!!" kata Raga mengangsurkan kedua tangannya pada Xander.


Dengan wajah sumringah Xander menerima uluran tangan Raga dan bersembunyi di balik leher pemuda bungkuk itu.


Raga menggendong Xander sambil menepuk pelan pundaknya dan membuatnya perlahan tertidur.


"Raga, kamu temani Xander di sini ya...biar aku tidur di sofa, takut dia menangis lagi jika terbangun kamu tak ada didekatnya." Kata Mira dengan wajah mengantuknya.


"Masa kita akan tidur di dalam.satu kamar, nyonya?? nanti bagaimana jika ada yang melihatnya?" tanya Raga.


"Kamukan membantu menjaga putraku, lagian kita tidak berbuat apa-apakan?" kata Almira.


Padahal di dalam hati Raga bersorak kegirangan saat bisa mendapatkan kesempatan bisa tidur dekat dengan Xander putranya dan mantan istrinya itu.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Almira untuk tertidur. Dengkuran halusnya mengiringi wajah lelahnya.


Raga yang justru tidak bisa tidur perlahan mendekat kearah sofa dan duduk bersimpuh di depan sang mantan.


Raga mengusap lembut pipi halus mulus itu. Pipi yang dulu selalu dia hadiahi dengan kecupan selamat pagi.


"Abang memang bodoh, Mira...abang membuang permata seindah dirimu hanya untuk mendapatkan batu kali tak berharga, abang akan berusaha untuk terus memperjuangkan agar kita bisa bersama lagi seperti dulu.


Karena tak tahan melihat bibir merah merekah yang telah sekian lama didambakan olehnya, Raga memberanikan diri mengecup bibir Almira dan ********** perlahan.


Setelah itu dengan berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana, dia cepat-cepat berdiri lalu berbaring di samping Xander.


Rasa nyaman yang tak terkira saat dia tidur sambil memeluk buah hatinya dengan Almira itu.


****


"Mengapa pemuda bungkuk itu selalu menempel pada ibu dan bocah itu??" padahal aku ingin sekali mencicipi darah keduanya..."


Hihihihi...


"Kecilkan suara tawamu dodol...kamu pikir sekarang kita sedang piknik bersenang-senang hingga harus tertawa sekencang-kencangnya begitu??"


"Jangan lupa, ibu bocah itu sebelum menjadi manusia seutuhnya adalah bangsa naga, walaupun kekuatannya telah berkurang banyak, tetapi jika hanya untuk merontokan gigi depanmu itu saja, kurasa dia masih mampu!!" kata teman di sebelahnya lalu dibarengi dengan temannya yang tertawa tadi diam seribu bahasa sambil memegang giginya.


"Jika kedua taringmu itu patah, kamu pikir bisa menghisap darah pakai sedotan? dasar mahluk bodoh!!" kata temannya.


Memang semenjak menjadi manusia seutuhnya, kepekaan Almira jauh berkurang juga ilmu kanuragan yang hampir berkurang setengahnya seperti saat dirinya mendominan ke bangsa naga dahulu.


Tetapi tidak dengan Xavier. Jauh sebelum Almira dan putranya akan pulang ke mansion Xavier telah mendapat mimpi bahwa istri dan putranya akan datang makanya dia menyamar menjadi tukang kebun dan merubah seluruh penampilannya menjadi seorang pemuda bungkuk untuk lebih meyakinkan. Terbukti ayah mertuanya pun bahkan mantan istrinya sekalipun sama sekali tidak mengenali penyamarannya.

__ADS_1


Seandainya dia berhadapan dengan Almira yang dulu mungkin akan dengan mudah Almira mengenali penyamarannya.


Kedua mahluk inilah yang sering membuat Xander tak bisa tidur dan gelisah serta menangis terus menjelang tengah malam.


Mahluk itu tak bisa mendekati Mira dan Xander karena cincin putih yang Almira dapatkan dari jebolan perut Sinoe waktu pertempuran itu selalu melingkar di jari Almira


yang membantu melindunginya dan Xander dari bahaya serangan mahluk seperti dua pengisap darah yang bertengger di atas pohon di luar mansion.


"Jengkel kali aku sama si bungkuk itu, bah...apa baiknya kubuat tambah bungkuk aja badannya??" kata mahluk yang bergelantungan macam monyet di sebelah kiri.


"Hohoho...rupanya kamu belum liat wajah dan tubuh asli si bungkuk itu ya, bodoh??" tanya temannya.


"Jika kamu melihat rupa aslinya, kupastikan kamu pasti akan menyesal mengapa kamu terlahir sebagai siluman dan bukan terlahir sebagai manusia." cicit temannya lagi.


"Lha terus untuk apa punya wajah tampan rupawan jika harus di sembunyikan dibalik tubuh bungkuk seperti punuk onta?" kata temannya masih penasaran.


"Semua itu dia lakukan demi cintanya pada anak dan istrinya!!" kata temannya.


"Memangnya kenapa hubungannya dengan anak dan istrinya?"


"Apakah kamu mau aku hadapkan langsung dengannya supaya kamu bisa leluasa bicara dari hati ke hati dari jiwa ke jiwa dengannya?? dasar mahluk bodoh...memangnya aku ini wartawan pencari berita?" geram temannya.


"Sudah ah...hari hampir menjelang subuh...aku tak mau matahari pagi membakar gosong kulit indahku!!" katanya sambil melayang dari satu dahan ke dahan lain.


"Emang dia pikir dirinya vampir bisa gosong terkena sinar matahari pagi?? sombong betul!! tetapi aku kok jadi penasaran dengan apa yang dia katakan tadi ya?? apa bagusnya aku tendang saja punuk ontanya si bungkuk itu, aku penasaran apa isi yang dia sembunyikan di dalam bungkuknya itu??" lalu dia pun melayang dan berlalu dari sana.


Tak lama setelah kepergian kedua siluman itu, Raga membuka kedua matanya, bola mata hazelnya yang sengaja dia tutupi dengan lensa kontak berwarna hitam.


"Dasar siluman salah kaprah...berani kamu menyentuh sedikit saja kulit istri dan putraku, akan aku pastikan kematian kalian akan tergantung di antara langit dan bumi." Seringai sini Raga mencuat di bibirnya.


Lalu dia berpaling pada Xander yang tidur nyenyak semalaman karena adanya perlindungan dari ayahnya.


Lalu dia berpaling juga pada Almira yang tengah tidur terlentang.


"Dia tetap cantik sama seperti sebelum kami menikah dulu, bahkan setelah menikah dan melahirkan, kecantikannya malah berkali-kali lipat kadarnya!!"


Raga hanya mampu memandangi dari tempat dia duduk. Lalu bergegas keluar kamar untuk mandi membersihkan diri di kamar mandi belakang, meninggalkan Almira dan Xander yang masih pulas tertidur.


*****


"Hei...mengapa kamu malah melamun di sini?? udara terasa sangat dingin menjelang musim gugur begini??" Giandra mendekati menantunya yang tengah duduk termenung di teras rumah mereka.


"Matsuya merindukan Almira dan anak-anak, yah...hanya Matsuya takut membawa Xander dan Rafa kembali kemari sementara ini.


Gangguan mahluk-mahluk itu...Matsuya takut akan berpengaruh pada Xander dan Rafa." Kata Matsuyama.


"Sudah satu bulan Almira dan anak-anak di rumah kakeknya di sana yah...tetapi kita belum menemukan dan menyelesaikan masalah peternakan ini??" kata Matsuyama.


"Matsuya sampai sekarang itu penasaran, siapa yang membunuh keenam orang di peternakan ini dan siapa pelakunya?" kata Matsuyama.


"Sudahlah sebaiknya kita masuk ke dalam...cuaca mulai terasa semakin dingin...ayah tidak mau masuk angin karena cuaca sedingin ini!!" kata Giandra.


"Sebaiknya kita makan malam saja dulu...ibu sudah memasak untuk makan malam kita!!" kata Serafin.


Di saat mereka sedang menikmati makan malam, tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang.


Mereka bertiga saling berpandangan. Pintu pagar telah dikunci, lalu bagaimana orang itu bisa masuk sampai keteras??" pikir mereka berbarengan.


"Matsuyama mengintip dari kaca jendela untuk melihat siapa yang datang!!"


"Siapa Matsuya?" tanya Giandra.


"Ngga tau yah...mereka bertiga terus memakai jubah hitam semua seperti malaikat maut pencabut nyawa." Kata Mstsuya sedikit tercekat.


Giandra bangkit dari kursi makannya dan ikut mengintip keluar.


Sesaat dia mengerutkan keningnya seperti mengingat sesuatu.


"Bara Seta...iya benar dia Bara Seta...!"


Giandra dengan cepat membukakan pintu sementara Serafin dan Matsuyama sudah kebat kebit jantung mereka di belakang Giandra.


"Bara Seta!!!" teriak Giandra.


"Giandra..." balas Bara Seta lagi.


Lalu mereka berdua saling berpelukan.


"Masuklah sahabatku??" kata Giandra.


"Serafin??" kata Bara Seta pada Serafin lalu mereka saling bersalaman.


"Siapa pemuda tampan yang berilmu tinggi ini, Giandra??" tanya Bara Seta.


"Namanya Matsuyama...dia menantuku!!" kata Serafin.


"Rupanya kau orangnya anak muda yang waktu itu berhasil menghancurkan jantung ratu Hikaru dan kamu juga yang berhasil membuat yang mulia seperti orang kebakaran jenggot."


"Sebenarnya ini ada masalah apa, Bara?? setauku kaummu hidup tenang di dunia bawah tanah sana, lalu mengapa tiba-tiba kamu sebagai ketua kelompokmu jadi berkeliaran seperti malam ini??" tanya Giandra pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Saat ayahmu tuan Giliano dan ayahku bersahabat, ayahmu pernah meminta pada ayahku untuk menyerahkan cincin pusaka itu ketangannya agar tak ada lagi mahluk lain yang berniat jahat kepada kaum kami....


*******


Flashback on...


*********


"Burnama...aku tau bangsa kalian adalah bangsa yang bergantung pada siapa pemegang cincin sakti yang ada di tanganmu itu.


"Ditakutkan suatu hari akan ada mahluk lain yang akan menguasai cincin itu darimu dan mereka jahat, kasihan para kaummu...baru saja terlepas dari penindasan harus mengalami penindasan kembali."


"Jika kau tidak keberatan aku bersedia membantumu menjaga sepasang cincin pusaka itu!!" kata Giliano.


"Baiklah sahabatku aku percaya padamu, kupercayakan cincin milik kaumku ini ketanganmu.


Maka mulailah sejak saat itu antara Giliano dan kaum bawah tanah yang dipimpin oleh Burnama bekerja sama saling menghormati satu dengan yang lain.


Sampai Giliano mempunyai seorang putra bernama Giandra dan Burnama Seta juga mempunyai putra yang diberi nama Bara Seta.


Sama halnya seperti ayah mereka, kedua bocah berlainan dunia itu tetap bersahabat baik hingga suatu hari Giliano jatuh sakit.


Keluarga besar Giliano akhirnya membawa Giliano beserta anak dan istrinya berobat keluar pulau untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


Sebelum pergi Giliano memasangkan sepasang cincin sakti ketangan sahabat yang juga tak usah di ragukan lagi kesetiaannya.


Demi menjaga amanah Giliano, Jerome dan Suki pergi dari negeri Sakura dan merantau hingga mereka membangun sebuah peternakan sederhana dan menyamarkan kehidupan mereka yang sesungguhnya.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak...Giliano meninggal karena penyakitnya yang tergolong misterius itu.


Kepergian sang sahabat membuat Burnama Seta menjadi terpukul dan akhirnya diapun sakit-sakitan dan tak lama ikut menyusul sahabatnya.


Pada saat itu keadaan masih baik-baik saja, Jerome dan Suki mati-matian menjaga amanat dari sahabat-sahabatnya itu.


Hingga suatu hari munculah seorang lelaki yang belakangan diketahui sebagai panglima pasukan tertinggi kerajaan siluman kera bersama seorang wanita yang memiliki kecantikan yang luar biasa, dia lah ratu Hikaru.


Entah dari mana mereka mengetahui perihal cincin di tangan Jerome dan Suki itu.


Pada saat Jerome kedatangan tamu sepupu Suki yang bernama Abraham dan keluarganya, saat itulah pasukan siluman jahat itu menyerang mereka.


Bara Seta dan pasukannya datang membantu tetapi terlambat...Suki dan Abraham sepupunya serta kedua anak mereka telah terbunuh dengan keji dan cincin di tangan Suki telah dikuasai musuh.


"Melihat hal itu, dengan cepat kakek Jerome menelan cincin pasangan yang telah direbut oleh antek-anteknya ratu Hikaru.


Jerome tewas menyusul keluarganya dan mereka dikubur dengan tidak layak oleh Yang Mulia di belakang peternakan dan kelak dijadikan tempat menanam jagung dan gandum oleh Abraham palsu.


Kayatai yang ditugaskan Kebebitak sang ketua tertinggi untuk menyamar menjadi Abraham untuk mencari tumbal cincin yang hanya satu itu agar tetap sakti dan dapat menguasai kerajaan bawah tanah milik Bara Seta walaupun tak sepenuhnya bisa dikuasai tetapi karena satu cincin itu sering mendapat tumbal nyawa maka kelompok bawah tanahpun sedikit demi sedikit bisa dikuasai.


Setiap keluarga yang membeli peternakan itu akan dikorbankan nyawa mereka oleh Kayatai yang menyamar menjadi Abraham.


Hingga pembeli berikutnya adalah Matsuyama dan Almira, pasangan yang telah memusnahkan ratu mereka, membuat dendam mereka menjadi berkali-kali lipat.


Dengan mengancam Bara Seta akan memusnahkan rakyatnya, akhirnya Bara Seta dan anak buahnya terpaksa menjadi jahat kembali.


Tetapi musuh kali ini membuat Bara Seta penasaran. Orangnya masih sangat muda tetapi memilki ketinggian ilmu yang dia sendiripun tak tau bisakah dia menandinginya apalagi diketahuinya bahwa anak muda itu telah mengalahkan ratu Hikaru.


Akhirnya seperti yang pernah diceritakan sebelumnya, dia turun tangan sendiri untuk mencari tau.


******


Flashback off


******


"Lama sekali kita tak pernah bertemu, Bara..." kata Giandra.


"Giandra, aku juga mau minta tolong padamu, tolong rebut kembali cincin sakti pasangan cincin yang dikenakan di jari manis anak muda itu."


Tangan bara menunjuk pada cincin bermata redup yang dipakai oleh Matsuyama.


"Kasihan rakyatku, untuk sementara ini aku masih mampu mengendalikan diri karena hanya satu cincin yang dikuasai oleh Yang Mulia, mereka terus mencari siapa pemegang cincin satunya lagi, maka berhati-hatilah jangan sampai mereka mendapatkannya darimu anak muda!!" Bara Seta menepuk pundak Matsuyama.


"Kami tak bisa lama-lama di sini, Giandra...oh iya anak muda maafkan atas kelakuan anak buahku menyerangmu, bisakah kamu membuat matanya melihat kembali?" tunjuk Bara Seta pada salah satu anak buahnya yang buta akibat pertempurannya dengan Matsuyama.


Matsuyama mendekatinya lalu...


Fuih...


Dia meniup kencang dan ajaib mata mahluk itu tidak buta lagi dan membuat Bara Seta sangat kagum padanya!!


*


*


***Bersambung....


Siapa sih duplikat Abraham yang bernama Kayatai itu??


Ikuti terus kisah perjalanan mereka ya reader dan terima kasih atas segala dukungannya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2