
"Ya kamu ngga akan bisa bacalah, saya kan tau kelebihan yang kamu punya, dan saya juga tau kekurangannya...saya saat berhadapan sama kamu mengosongkan pikiran saya alias tidak memikirkan apapun."
Mira memandang Xavier lekat-lekat...tiba-tiba wajahnya memerah seperti kepiting rebus lalu memalingkan wajahnya ke jurusan lain.
Xavier hanya tersenyum sebab yang ada dalam pikirannya tadi adalah i love you dan want you marry me?" Karuan aja Almira jadi ketar ketir.
"Kenapa? Ngga dilanjutkan kegiatan membaca pikirannya?" Tanya Xavier.
"Tau ah...gelap!!" Sahut Almira.
"Oh iya, saya belum sempat makan selepas mengajar tadi langsung menjemputmu duluan, bisakah kita mampir untuk makan dulu? Sekalian mengecoh sipenguntit di belakang kita yang ganggu orang pacaran aja dari."
"Kan saya sudah bilang dari tadi pagi saya lagi tongpes pak...mau bayar pake apa?" Tadi aja di kantin, bapak yang bayarin makanan saya!!"
"Toples?" Kata Xavier...
"Ish...kok toples sih?" Mira mengerucutkan bibirnya.
"Ngga usah mengerucutkan bibir gitu, mau saya *****?" Kata Xavier dengan gemasnya.
"Cilok tuh...pantat botol..."
"***** Mira bukan cilok...jauh perbedaannya."
"Ayo kita turun di restoran itu dulu saya benar-benar lapar...nanti malah kamu yang saya makan saya pikir steak." Xavier memarkir mobil lalu mengajak Mira masuk.
Mereka berdua memesan makanan sambil menunggu makanan pesanan datang, mereka berdua asyik mengobrol. Tanpa mereka sadari, seseorang menyelinap ke dapur dengan cepatnya dan memasukan sesuatu ke dalam salah satu minuman yang dipesan oleh Almira dan Xavier.
Tak ada siapapun para koki di dapur itu ataupun pelayan yang lalu lalang mengambil dan mengantarkan pesanan makanan dan minuman untuk para tamu restoran menyadari bahwa ada penyusup masuk di dapur mereka.
"Alhamdulillah...makanan dan minumannya sudah datang..." Seru Almira.
"Kebetulan saya haus banget pak!!" Almira segera menyambar gelas minumnya.
Mereka asyik kembali melanjutkan obrolannya sambil makan, tiba-tiba...
Almira terdiam. Wajahnya terlihat menegang. Suhu tubuhnya terasa naik, gerah dan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
Dia seperti berusaha melawan sesuatu yang mau berontak keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
Xavier yang melihat perubahan dari diri Almira langsung menangkap ada sesuatu yang tak beres padanya.
"Pak..."Suara Almira bergetar hebat.
"Tolong saya pak...tolong carikan susu atau madu untuk saya minum."
Xavier mengendus makanan yang di makan oleh Mira. Tak ada yang mencurigakan. Lalu dia mengendus minuman yang diminumnya. Mungkin bagi orang awam tak bisa mencium sesuatu yang aromanya tak berbau itu, tapi penciuman Xavier tak bisa ditipu.
"Obat perangsang dalam dosis yang tinggi...kurang ajar siapa yang berani-beraninya mencampurkan obat ini kedalam minuman Almira?" Xavier menggeram marah.
Xavier tak lagi melanjutkan makanannya. Dia juga tak berani meninggalkan Mira sendiri untuk mencari madu dan susu yang diminta Almira, dia takut sesuatu akan terjadi pada gadis yang dicintainya.
Wajah Almira semakin merah...tapi dia berusaha terus melawan efek obat itu.
Tak ada pilihan lain...dari pada Almira terus menderita begitu, Xavier langsung menotok titik-titik syaraf di tubuh Almira dan akhirnya membuat gadis itu jatuh tak sadarkan diri.
Dia memanggil pelayan tadi. Dengan menahan kemarahannya dia berucap, "Siapa yang berani mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman pacar saya?? Katakan!!! Atau kuhancurkan tempat ini.
Dengan segala kemarahannya Xavier menggebrak meja kayu jati di depannya hingga patah dua dan hancur.
Para pengunjung restoran panik dengan keributan itu.
"Sabar pak...ini sebenarnya ada apa?" Tanyanya.
Para pelayan dan koki berdiri ketakutan melihat keributan itu. Karena memang tak ada satupun dari mereka yang melakukan perbuatan itu.
"Buka cctv..." Perintah pemilik restoran.
Cctv diperiksa oleh mereka. "Lihat...coba diulang!!" Kata Xavier sementara tangannya masih menggenggam tangan Mira yang masih dia buat pingsan.
"Pak...ada bayangan hitam melintas di antara para koki yang sedang memasak!!" Kata pelayan yang membawa minum tadi.
"Wajahnya tertutup cadar hitam, begitu pula rambut dan pakaiannya...tapi aku meyakini bahwa dia adalah seorang wanita!!" Kata Xavier.
"Maafkan atas semua yang terjadi tuan!!" Kata pemilik restoran.
Xavier menarik napas dalam. "Sudahlah...ini memang murni bukan kesalahan kalian."
Akhirnya Xavier menggendong Almira menuju mobilnya. Dengan cepat dia membawa Almira menuju rumah pantai.
__ADS_1
"Efek obat ini masih 4 jam.lagi...semoga dia aman di rumah pantai karena di sana ada kakek dan Kadir yang bisa ikut menjaganya.
"Kurang ajar...licik sekali mereka menggunakan cara ini untuk merusak Almira."
"Aku akan mencari siapa yang sudah melakukan ini, beraninya kalian ingin merusak hidup wanita yang kucintai...kalian semua tak akan kuampuni!!" Gigi-gigi Xavier sampai bergemeletukan menahan amarahnya.
Tapi perjalanan pulang tak semudah itu. Almira tiba-tiba terlepas dari totokan Xavier. Dia membuka matanya perlahan dengan cepat Xavier memberikan susu dan madu seperti yang diminta Mira tadi.
Tenang sesaat. Tiba-tiba Mira merasakan lagi gairah seperti di awal tadi. Dia menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan di dalam mobil Xavier.
"Lawan pengaruh obat lak nat itu Mira, kamu pasti bisa..." Xavier berusaha terus menyemangatinya.
"Ini bukan obat biasa, rangsangan obat ini kepada si pemilik tubuh mampu menetralkan totokanku di pusat syaraf-syaraf di tubuh Almira."
"Berhenti pak..." Sambil mengerang Mira meremas lengan Xavier.
"Tapi ini masih jauh dari rumah Mira!!" Jawab Xavier.
"Justru itu pak, saya akan berlari dari sini supaya efek obat itu keluar bersama keringat melewati pori-pori di tubuh saya."
Almira turun dari mobil dan langsung melesat berlari meninggalkan Xavier. Sementara Xavier mengikuti dibelakangnya.
Hati Xavier menangis melihat penderitaan Almira, ada dendam membara di hatinya. Sementara Almira terfokus pada larinya untuk menghilangkan efek rangsangan yang terasa menggila menggerayangi setiap inci di tubuhnya.
Tak terasa mereka hampir sampai di pantai. Baju Almira telah basah oleh keringat karena sengaja hanya mengerahkan tenaga luarnya.
Efek obat perangsang itu sedikit demi sedikit telah berkurang. Karena matahari sore masih terasa terik, air laut juga terasa hangat. Almira menceburkan dirinya dan menenggelamkan tubuhnya di air laut untuk beberapa saat lamanya.
Saat dia muncul kepermukaan, Xavier sudah berdiri tak jauh darinya.
"Kamu seperti putri dugong kalau basah kuyup begitu baby..." Dia tertawa saat melihat kepala Mira muncul."'
"Sembarangan aja bapak ini...cantik-cantik gini di bilang putri dugong." Mira cemberut.
"Dari pada bapak bilang singa laut? Hayo pilih yang mana?"
***Bersambung...
Dukungannya selalu ya, reader...like, komen, vote, favorit dan rate nya,,,🙏🙏😊😊😊
__ADS_1