
"Apa yang bisa saya bantu nyonya Sullivan yang terhormat?? suamimu hilang di mana carinya juga di mana??" tanya Almira menatap Sullivan dengan dingin.
Bukan main terkejutnya Sullivan melihat siapa yang sedang berdiri di tengah pintu sambil menatap datar dan dingin kepadanya.
"Almira..."
Desis Sullivan sambil balas menatap Almira dengan garang.
"Mau apa kamu berada di sini??" tanya Sullivan melihat keberadaan Almira di mansion tuan Kelvin.
Almira yang telah lama menahan geram kepada wanita sok lembut yang telah menjadi duri dalam pernikahannya tersebut menjadi bertambah berang.
Ctek...
Almira mengetek ibu jarinya...
"Halo....ini rumah ayah saya?? dan kamu siapa? terserah saya dong saya mau berada di sini atau tidak itu bukan urusanmu!!" jawab Mira ketus.
"Aku mencari suamiku, aku tau dia berada di sini!!" sentak Sullivan.
"Kasihan dirimu sekarang Sullivan, kupikir setelah merebut paksa bang Xavier dariku maka sebagai pelakor kamu akan bahagia, ternyata tidak sama sekali...nasibmu sama sepertiku sama-sama ditinggalkan oleh dia!!" kata Almira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Diam kamu Almira!!" bentak Sullivan geram.
"Diam??? apa hakmu melarang aku bicara di rumahku sendiri?? sebaiknya kamu pergi saja, cari suamimu sana...ingat Sullivan, hukum karma berlaku....kamu telah merebut paksa bang Xavier di saat aku tengah mengandung anaknya, kamu ini manusia atau bukan? punya otak atau kah tidak di kepalamu itu Sullivan??? bagaimana jika keadaan dibalik kamu yang hamil lalu aku mengambil suamimu, bagaimana perasaanmu Sullivan??"
"Kamu halalkan segala cara untuk mengambil milik orang lain, aku sumpahi semoga bang Xavier diambil lagi oleh perempuan lain dari sisimu!! supaya kamu bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya kehilangan dan rasa sakitnya dikhianati." Almira tertawa hambar.
Lalu dia masuk kedalam mansion sambil menggendong Xander dan menggandeng Rafa.
Bruaakkk...
Almira membanting pintu sangat keras sehingga membuat Sullivan yang berdiri mematung di depan pintu menjadi kaget.
Semua kejadian itu tak luput dari pengawasan Raga dari samping halaman.
"Maafkan aku Sullivan, tapi aku tak akan pernah mau pulang lagi kerumah, aku akan memperjuangkan hati anak dan istriku kembali!!" bisik hati Raga sambil pura-pura menyabit rumput.
Hati Sullivan sangat sakit, demi cintanya kepada Xavier dia rela mengambil paksa milik orang lain dari tangan si pemilik hati yang sebenarnya.
Kini tepat seperti yang di katakan Almira, Xavier pun pergi meninggalkannya entah kemana.
"Kita kerumah pantai..." perintah Sullivan pada ketiga orang kepercayaannya itu.
Di dalam mansion tepatnya di ruang tamu, Almira memeluk Xander dan Rafa dengan penuh linangan air mata.
Hatinya teramat sakit dengan kejadian barusan.
"Kamu puas menyakiti aku dan membawa istrimu ke hadapanku, bang??" tanya Almira terisak.
"Jangan menangis mommy, apakah kita pulang saja kepeternakan? di sini mommy selalu saja merasa sedih, kalau di peternakan kita bisa berkebun, beternak dan menikmati suasana desa dengan tenang!!" kata Rafa berusaha menenangkan wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu.
"Kita akan hubungi daddy di sana juga kakek dan nenek, baru kita minta antarkan kakek Kelvin dengan helikopter pulang kepeternakan." Kata Almira menyusut air matanya.
Mereka bertiga tak menduga, Raga menguping pembicaraan mereka dari balik jendela. Pemuda bungkuk itu pura-pura memangkas tanaman di bawah jendela sambil berjongkok di sana.
"Tidak...kamu dan Xander tak boleh kembali kesana sayang, abang tak ingin kehilangan kalian berdua lagi!!"
"Jangan lagi pergi dari hidup abang sayang...jangan kamu bawa lagi buah hati kita pergi menjauh dari abang, abang bisa gila jika sekali lagi kehilangan kalian." Raga memangkas tanaman sambil berlinangan air mata.
Kita kembali lagi ke peternakan Matsuyama yang kini penuh dengan misteri.
Pagi ini Matsuyama bersama Serafin dan Giandra mau mulai memanen jagung di ladang belakang yang telah siap panen.
Kiki dan Koko hanya mengangon ternak di padang rumput di sekitar peternakan saja dan tidak membuka pagar kayu yang kokoh pembatas peternakan dengan padang rumput di luar.
Ketiganya sibuk menyabit batang-batang jagung, memisahkan buah dan daun-daunnya. Begitu pula dengan ladang gandum mereka.
"Wah...setelah batang-batang jagung dipangkas habis, semua kelihatan terang, ya!!" kata Serafin sambil memasukan jagung kedalam karung.
Lagi-lagi terdengar lolongan memilukan dari Kiki dan Koko dari samping pojok pagar.
Dengan cepat ketiganya mendatangi suara anjing yang menyalak itu.
__ADS_1
"Bu, ini apa??" tanya Matsuyama saat melihat dua gundukan batu hitam yang tertutup diantara batang-batang jagung yang sudah tinggal setengahnya.
Giandra ikut berjongkok dan memeriksa gundukan batu itu.
"Ini seperti batu Nisan??" kata Giandra.
"Masa sih, yah??" masa ada manusia yang jasadnya terkubur di bawah ladang jagung ini?" tanya Serafin.
Mereka berjongkok mengamati, lalu Giandra mengambil sekop dan mulai menyekop sekitaran gundukan batu yang seperti nisan itu.
Giandra terus menggali hingga di kedalaman setengah meter dia menemukan dua kerangka manusia yang masih mengenakan baju rumahan dan satunya memakai baju berkebun lengkap dengan sepatu bootnya.
"Tampaknya inilah jasad nenek Suki dan kakek Jerome yang telah menghilang beberapa waktu yang lalu...tetapi siapa yang telah membunuh mereka? lalu siapa kakek Abraham yang telah menjual peternakan ini dengan harga murah kepada Matsuya??" kata Matsuyama sambil memperhatikan kedua kerangka itu.
"Hei...ada sesuatu yang bersinar redup di balik kerangka kakek Jerome!!" kata Giandra.
Dia mengambil sesuatu yang bersinar itu dan setelah diamati ternyata sebuah cincin.
"Aku sepertinya pernah melihat permata hitam ini!!" kata Serafin.
Giandra mengambil cincin dari tangan istrinya dan mengamatinya sesaat.
"Aku ingat Sera...ayah mertua pernah bercerita tentang sepasang cincin bermata permata hitam yang bisa menguasai dunia kegelapan."
"Ayah mertua pernah bercerita sepasang cincin itu dikuasai oleh sepasang suami istri."
"Mereka berdua orang baik...para siluman yang tinggal di dalam dunia kegelapan tak pernah lagi mengganggu manusia semenjak sepasang cincin itu berhasil dikuasai sepasang suami istri tadi."
"Barang siapa yang menguasai cincin itu maka dia akan menguasai kerajaan siluman dan bisa berkuasa atas mereka termasuk memerintahkan mereka melakukan kejahatan untuk menguasai dunia, yah...tak bedalah seperti apa yang dilakukan oleh Hikaru."
"Sebentar yah, terus apa hubungannya dengan kakek Jerome dan nenek Suki?" tanya Matsuyama.
"Mungkin kedua suami istri ini pemegang sepasang cincin bertuah itu, selama di tangan mereka dunia baik-baik saja lalu muncullah kakek Abraham yang entah dengan maksud apa ingin menguasai cincin itu, mungkin benar kata penduduk sekitar peternakan jika kakek Abraham bersepupu dengan kakek Jerome."
"Entah dia tahu dari mana bahwa sepupunya memegang cincin sakti itu lalu timbulah niat jahatnya untuk menjadi penguasa dunia dengan menguasai terlebih dahulu sepasang cincin itu."
"Dia hanya berhasil mengambil cincin yang dipakai nenek Suki sementara cincin yang ada pada kakek Jerome keburu ditelan oleh sang kakek sebelum diketahui oleh orang yang mengaku sepupunya itu."
Jasad kedua kakek dan nenek yang malang ini kemudian dikubur diatas lahan yang ditanami jagung." Akhir penjelasan Giandra.
"Ayah...Matsuya...lihatlah....ada empat batu nisan lagi di sebelah sana!!" teriak Serafin.
Matsuyama dan Giandra bergegas mendatangi Serafin, di sana sudah ada Kiki dan Koko yang mengendus-endus membaui sesuatu.
"Lalu ini kuburan siapa lagi??" tanya Serafin.
"Apa sebelum kita juga ada lagi yang membeli peternakan ini?" tanya??" tanya Matsuyama.
Mereka bertiga berinisiatif menggali keempat makam tersebut dengan sekop dan cangkul.
Tak lama keempat jasad itu dikumpulkan dan dibaringkan.
"Lho...coba ayah lihat, jasad lelaki tua ini??? bukannya ini jasad kakek.Abraham??" tanya Matsuyama.
Giandra menoleh pada Matsuyama sesaat.
"Katamu, kamu membeli peternakan ini dari laki-laki tua yang bernama Abraham dan itu baru sekitar tujuh bulan lalu, sedangkan kamu baru dua kali memanen jagung-jagung di sini kamupun tak pernah meninggalkan peternakan ini bagaimana ada orang yang bisa mengubur jenazah di sini tanpa sepengetahuan pemilik peternakan ini?? pasti kedua anjing itu akan ribut jika ada orang asing yang masuk ke tempat kediamanmu!!" kata Giandra.
"Di sini ada empat jasad, dua sepasang kakek dan nenek, dan dua jasad ini seperti masih remaja!!" kata Serafin.
:Aduh...aku kok jadi pusing ya!! rasanya otakku tak bisa di ajak untuk berpikir...seandainya di sini ada istriku, dengan otak encernya dia pasti bisa memecahkan masalah serumit apapun walaupun masalahnya sendiri bertumpuk-tumpuk seperti hutang di bank!!" Serafin mendelik pada Matsuyama, dia pikir pemuda itu sedang bercanda tetapi dia melihat raut keseriusan di wajah Matsuyama sampai keningnya pun ikut berkerut.
"Aku kok jadi kangen sama anak dan istriku ya, bu?? padahal baru tadi malam Matsuya melihat wajah cantik Almira dan si tampan Xander juga Rafa."
"Mereka juga tampak kecewa saat Matsuya bilang di peternakan ada masalah yang cukup serius agar Almira dan anak-anak jangan pulang dahulu takut membahayakan keselamatan mereka bertiga." Kata Matsuyama.
"Jadi ini gimana, yah??? apa kita lapor polisi saja? biar keenam kerangka manusia ini bisa dimakamkan dengan layak??" tanya Serafin.
Akhirnya para polisi dan tetangga sekitar yang memang berjauhan letaknya datang dan turut membantu.
Menurut keterangan mereka memang pemilik asli peternakan itu adalah kakek Jerome dan nenek Suki. Lalu sepupunya Abraham dan istrinya Linda beserta kedua anak mereka datang dan tinggal di sana.
Setelah itu kami lama tak jumpa dengan mereka, hanya ada kakek Abraham yang nampak mengurus peternakan.
__ADS_1
"Tapi pertanyaannya, jika kakek Abraham juga sudah meninggal, siapa yang waktu itu menjual peternakan pada Matsuya? serta teror yang sering mengganggu kita akhir-akhir ini??" tanya Matsuyama.
"Seandainya Kiki dan Koko kedua anjing peternakan ini bisa di tanya!! Hanya Almira yang mengerti bahasa hewan karena dia telah lama bergaul dengan Kadir dan juga...Xavier..." kata Matsuyama pelan seolah dengan menyebutkan nama itu ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Terus cincin milik kakek Jerome ini bagaimana, yah? Matsuya yakin banget bahwa si peneror peternakan ini akan datang mencari cincin ini lagi karena hanya dengan satu cincin kekuatan untuk menguasai dunia kegelapan itu tidak sempurna perlu cincin pasangannya ini yang harus kita selamatkan."
"Kamu jagalah cincin itu baik-baik...ayah yakin dalam waktu dekat para manusia kelelawar itu akan kembali, mungkin beserta sang pemimpin." Kata Giandra.
"Sebaiknya bagian ladang jagung ini kita bersihkan habis saja yah...jangan dijadikan ladang jagung lagi, kita tanami sayur mayur saja sementara ini." Kata Matsuyama.
*****
"Apa kata daddy, mommy?? apa kita bisa balik kepeternakan lagi dalam waktu dekat ini?" tanya Rafa.
"Belum bisa Rafa...semalam daddy, nenek dan kakek menelpon bahwa ada masalah di peternakan."
"Kata daddy, peternakan lagi dalam keadaan tidak aman, daddy takut jika kita bertiga balik kesana maka kita bertiga akan terancam bahaya."
"Mommy jadi khawatir pada keselamatan daddy Matsuyama, nenek Serafin dan kakek Giandra!!" kata Almira dengan raut wajah cemas.
"Sebaiknya mommy menenangkan diri dulu jangan terlalu khawatir, semoga daddy, nenek dan kakek bisa mengatasi semua masalah di sana!!" kata Rafa.
*****
"Sungguh bodoh kalian semua...kalian berlima dan mereka hanya bertiga bahkan yang satu masih bocah kemarin sore tetapi kalian kalah telak!!"
"Apa yang harus aku laporkan nanti pada yang mulia?? dasar kalian bodoh semua!! "
"Ini juga mengapa teman kalian bisa buta begini?? malah bikin susah saja, mengapa tidak sekalian saja dimusnahkan??" kata pemimpin mereka dengan suara menggeram.
"Jangan dimusnahkan ketua, dia bisa berguna untuk memijat kita!!" kata salah seorang dari antara mereka berusaha melunakan hati ketua mereka sekaligus menyelamatkan nyawa kawannya.
"Siapa sih sebenarnya lawan kita kali ini?? yang mulia tidak pernah menjelaskan apapun siapa lawan yang harus kita bunuh, tetapi kurasa mereka bertiga orang-orang hebat."
"Sekian tahun kita hidup damai saat cincin keramat itu dikuasai oleh kakek Jerome dan nenek Suki, aku mendengar mereka semua terbunuh dan salah satu cincin pusaka itu jatuh ketangan yang Mulia, untung tidak kedua cincin itu yang diambil bersamaan, jika tidak akupun tidak tau lagi, jangankan mengendalikan kalian, mengendalikan diriku sendiri saja mungkin aku sudah tidak mampu akibatnya kita akan terjerat lagi dalam kubangan darah berkepanjangan.
"Mengapa kita tidak melawan saja ketua?? kasihan bangsa kita jika harus terikat perjanjian lagi dengan tuan kita yang baru??" tanya salah seorang dari mereka.
"Akupun ingin...aku juga lelah hidup harus terus menerus patuh dan mengikuti keinginan pemegang sepasang cincin pusaka itu, tetapi inilah takdir bangsa kita, kecuali sepasang cincin itu dimusnahkan jadi tak ada lagi yang bisa berkuasa pada bangsa kita!!" kata seseorang berjubah tinggi besar yang dipanggil dengan sebutan ketua itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan ketua? di sisi lain kita tak mau lagi melukai dan membunuh siapapun, tetapi jika kita tidak melakukan perintah si empunya cincin, sesuai dengan sumpah maka seluruh bangsa kita akan dimusnahkan." kata anak buahnya yang merupakan pimpinan dari keempat manusia yang nenyerang keluarga Matsuyama semalam.
"Kita akan kembali kesana, kali ini aku mau ikut, aku mau melihat siapa sasaran yang harus kita bunuh!!" kata ketua mereka.
*****
"Rafa...apakah Rafa tidak kangen sama daddy??" tanya Aliandhara saat sore itu duduk bersama dengan putra tunggalnya.
"Daddykan sudah ada tante Desiree, maka Rafa memilih ikut mommy Mira dan daddy Matsuyama..."
"Mereka sangat sayang pada Rafa, mereka tak pernah mengacuhkan Rafa dan selalu ada di samping Rafa saat Rafa membutuhkan sosok-sosok orang tua yang akan menyayangi dan mencintai Rafa."
"Sedangkan di sini?? kakek sibuk dengan bisnisnya, aunty Alia sibuk dengan kuliahnya dan daddy sibuk dengan pekerjaan dan kekasih-kekasih daddy, lalu Rafa sama siapa?? di sini Rafa kesepian sendirian, hanya bik Asih yang menemani Rafa, tetapi sekarang bik Asih sudah berhenti dan Rafa sekarang sendirian lagi di mansion!!" Aliarafa menumpahkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya selama ini.
Aliandhara menatap putranya dengan sedih!!
"Daddy tidak bermaksud seperti itu Rafa, tetapi Rafa lihat sendiri sejak Rafa bayi, daddy selalu mengurus Rafa sendiri, sedangkan mommy Valeria tidak pernah peduli pada Rafa."
"Sekarang kebutuhan Rafa semakin besar, dan daddy juga harus giat mencari uang agar Rafa bisa hidup layak!!" kata Aliandhara sambil memeluk Rafa.
"Seandainya daddy dulu lebih memilih mommy Mira daripada mommy Valeria, tentu kita sekarang bisa hidup bahagia dan Rafa tentu bisa punya dedek bayi sendiri dari mommy." Kata Rafa sambil merajuk.
Aliandhara tersenyum kecut. Memang penyesalan selalu datang belakangan, benar kata orang bahwa cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, begitu pula dengan perasaan Aliandhara ke Valeria dan perasaan Xavier ke Sullivan yang membuat mereka akhirnya betul-betul kehilangan cinta yang sebenar-benarnya dari seorang gadis yang bersedia tulus mencintai mereka, bukan wanita masa lalu yang hanya tinggal kenangan tetapi wanita yang sekarang bisa untuk hidup bersama merajut masa depan, dan mereka berdua telah kehilangan itu semua karena terlalu melihat dan mengenang masa lalu.
*
*
****Bersambung....
Siapa kira-kira yang disebut Yang Mulia oleh sang Ketua itu??
Ikuti terus lanjutan ceritanya ya guys...ini mau berusaha up date yang banyak agar ceritanya cepat kelar๐๐ yang lain sudah pada berlomba menulis novel baru lha author hanya terputar kesitu-situ aja...
__ADS_1