
"Bagaimana? Betah tinggal di rumah pantai?" Xavier mengalihkan pembicaraan.
"Kalau Almira di mana aja betah pak, asal kakek tidak kedinginan tidur di jalanan saja...Almira sudah senang.
"Ayo kita berangkat ke kampus bareng!!"
"Ayo..." Kataku.
Hup...Aku melompat masuk ke mobil yang atasnya terbuka itu tanpa membuka pintunya lagi.
"Mira...." Xavier melotot.
"Kamu ini cewek lho...kok pintunya dilompati, kan ada pintu."
"Kelamaan pak!!" Mira nyengir.
"Pak, bapak ngerasa ngga dari tadi kita itu seperti diikuti." Aku memandang dari kaca spion.
"Iya saya tau." Jawab Xavier santai.
"Tapi Mira tak melihat mobil lain di belakang mobil ini?"
"Dia tak mengejar dengan mobil Mira."
"Futaeibuki..."
"Apa pak? Miyabi?" Mira mengulang perkataannya.
"Dia tepatnya mereka, menggunakan tehnik lari cepat biasanya banyak dikuasai oleh para ninja di Jepang...biasa di sebut Futaeibuki."
"Mungkin kalau di tanah Jawa di sebut ilmu saipi angin...ilmu yang dapat berlari sangat cepat."
"Bapak tadi bilang mereka? Berarti si penguntit tidak sendiri dong?" Aku menoleh lagi ke belakang.
"Iya..."
"Sepertinya ada dua orang!! Mungkin laki-laki dan perempuan."
"Apa mereka juga yang menyerang Mira dan Alia tempo hari pak?"
"Bisa jadi Mira, bahkan mungkin bisa jadi sebenarnya kamulah yang menjadi incaran mereka."
"Kok bisa saya pak?" Almira menoleh pada Xavier.
"Ya kenapa ngga? Mungkin kamu punya benda berharga yang kamu bawa?"
"Yang benar aja pak, saya ini lagi tongpes lho...alias kantong kempes...seperak uang aja saya ngga punya sekarang ini."
"Terus kamu istirahat siang nanti mau ke kantin gimana?" Xavier menoleh sejenak padaku.
"Gampang...." Aku mencetekkan jariku.
"Saya tinggal minta bapak saja untuk mentraktir saya."
__ADS_1
"Dasar gadis nakal..." Xavier mengacak rambutku.
"Itu mereka..."
"Pegangan Mira, saya mau lihat cepat mana lari mereka dengan mobil ini."
Xavier melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Luar biasa, salah satu dari mereka mempunyai kecepatan lari yang luar biasa...dia mampu mengejar laju mobil ini walaupun yang satunya lagi agak tertinggal jauh di belakang."
"Awas pak..."
Suara desingan sangat halus meluncur cepat kearah kepala Xavier.
"Saya tau Mira, ada setengah lusin jarum beracun mengarah ke enam titik mematikan di kepala saya."
Dengan cepat Xavier menekan tombol di dekat setang. Dan tap...tap...mobil sport yang tadinya terbuka, kini dengan cepat menutup sempurna melindungi pengemudi di dalamnya.
Enam jarum itu langsung terpental dan luruh jatuh ke jalan raya.
"Mobil ini anti peluru Mira, jadi tak bisa di tembus oleh jarum-jarum itu."
Aku menahan napas, "Tapi bapak lihat, kaca belakang mobil ini yang awalnya bening berubah warna menjadi biru gelap!!"
"Luar biasa, jarum-jarum beracun itu lebih tinggi kadar racunnya dari shuriken tempo hari yang menyerangmu, Mira."
"Kalau sampai jarum itu melukai sedikit saja kulit kita, jangan kata manusia...gajah aja bisa mati dalam hitungan detik."
"Coba kalau berani itu sini...one by one..."
"Saya curiga pak, penyerang ini juga berkuliah di kampus yang sama dengan saya dan Alia."
"Tapi bagaimana cara membuktikannya, ya? Kalau gini caranya jadi males mau kuliah, padahal jauh sebelum mengenal tuan Kelvin dan keluarganya...hidup saya tenang-tenang aja."
"Kalau sekarang? Mau nungging aja takut!!! Takut diserang dari belakang."
"Lagian, kamu ngapain nungging? Kayak ngga ada kerjaan aja." Xavier tersenyum gemas memandang pujaan hatinya yang kalau bicara seolah ngga ada remnya itu.
"Kita lihat saja nanti, kita pasti bisa menemukan pelakunya!!" Xavier mengacak rambut Almira dan mencubit pipinya.
"Kenapa jika disentuh Xavier aku selalu saja diam dan mati gaya, ya?" Batinku.
"Dekat dengan dia membuatku tenang...aku yang biasanya selalu berapi-api, seolah-olah seperti mendapat siraman air yang sejuk."
"Beda kalau dekat tuan muda Aliandhara...bawaannya tambah emosi aja...hawa-hawanya pengen membunuh...kesel banget!!"
"Kok diam? Biasanya bercuit seperti burung ketemu jagung!!" Xavier menoleh padaku.
"Aku bisa membaca apa yang ada dalam hati dan pikiranmu, Mira...aku juga bahagia bila ada di dekatmu...aku seperti merasakan kasih sayang yang telah lama hilang seolah kurasakan kembali."
Xavier tersenyum sambil melambatkan mobilnya karena sudah dekat menuju gerbang kampus.
Aku turun lebih dulu sambil diiringi bisik-bisik dan ada sebagian mahasiswi menatap sirik dan sinis padaku.
__ADS_1
"Hei cewek bar-bar...ada hubungan apa kamu dengan pak Xavier?" Stevia cewek paling seksi di kelas kami menyentakku.
"Pacar..." Jawabku santai sambil berlalu.
Xavier yang sepintas masih mendengar sebelum dia masuk ke ruangannya jadi tersenyum berbunga-bunga mendengar perkataanku barusan.
Banyak bisik-bisik seperti lebah mendengung di belakangku tapi tak kuhiraukan. Aku segera masuk kelas yang masih agak sepi.
Aku duduk di bangku yang biasa kududuki. Aku serius membaca buku sampai aku mendengar sesuatu berdesing dan menancap di kursiku.
Sebuah pisau kecil tertancap disertai dengan sebuah lipatan kertas.
"Hai cantik...serahkan kalung kepala naga bermata biru yang menggantung di lehermu itu, dan kamu akan selamat."
Dengan cepat aku keluar kelas berusaha mencari si pelempar kertas tersebut.
Hampir aku bertabrakan dengan Alia di muka pintu kelas.
"Ada apa Mira? Kenapa wajahmu kulihat tegang?" Alia bertanya.
Aku menatap Alia. "Aku mencari si pelempar gelap itu, tapi kenapa tiba-tiba Alia yang muncul, ya?"
Aku menggeleng..."Aku tadi kebelet tapi begitu melihatmu rasa mulesku hilang."
"Dasar kurang ajar, emang kamu pikir mukaku ini kayak toilet umum!!" Alia cemberut.
"Gimana kabarmu dan semua, Alia?" Kami lalu duduk bersebelahan.
"Buruk Mira, kasihan Rafa selalu menangis memanggilmu." Kata Alia.
"Lho...terus gunanya tante Valeria itu untuk apa? Bukannya dia kembali karena ingin bertemu Rafa?"
"Rafa tak mau didekati oleh ibu kandungnya sendiri!! Jangan kata disentuh, di dekati saja dia tak mau."
"Terus...apa tuan muda tinggal bersama Valeria dan meninggalkan Rafa?" Tanyaku. Sebenarnya aku sangat iba pada anak angkatku itu.
"Ngga...Bang Ali tetap tinggal dengan kami dan membiarkan Valeria tinggal sendiri di apartemen."
"Kasihan bang Ali, Mira...sejak kamu pergi, bang Ali selalu termenung."
"Dulu sewaktu kamu ada di rumah, bang Ali selalu kerasan di rumah, selalu ceria walaupun kalian sering bertengkar."
"Aku tak lagi dibutuhkan di sana, Alia...dari pada Valeria terus menghinaku lebih baik aku yang pergi."
"Dari pada aku khilaf kalau aku marah, terus dia kuinjek-injek, ku bejek-bejek lebih baik aku pergi saja."
"Aku hanya bodyquardmu dan ikut membantu mengasuh Rafa."
"Itu sebenarnya tugas tuan muda, mestinya tuan muda bisa lebih mendekatkan Rafa dengan mommynya yang asli...karena mau bagaimanapun, Valeria tetaplah ibunya."
***Bersambung...
Happy reading...selamat bermalam minggu...jangan lupa dukungannya selalu ya...like, Komen, vote, favorit dan rate nya guys😊😊
__ADS_1