Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 77 Persiapan Perjalanan


__ADS_3

"Ini juga Almira, kemana juga tuh anak sudah sore gini ngga pulang...pulang!! kelayapan aja kayak anak ayam!!"


"Biasanya ini anak tukang tidur, sebentar saja tiba di rumah dia sudah mencium bantalnya, lha sekarang? kuat ya dia keliaran sampai sore begini!!"


"Kakek...."


"Nah, panjang umur tuh anak...ihhhh Almira, zombie dari mana yang ikut denganmu??"


"Hah..zombie???"


Serentak Almira dan Matsuyama menoleh kebelakang mencari zombie yang dikatakan kakek Dahlan.


"Ihhh...bodohnya mamak si Kadir ini!! setali tiga uang aja sama anaknya...malah dicariin lagi, sudah tau tu zombie ada di sampingnya!!"


Kakek Dahlan terus menggerutu lalu lari menyongsong Almira dan menarik tangannya.


"Itu di sampingmu zombienya, bodoh!!" umpat kakek Dahlan menunjuk Matsuyama.


"Aku...???" seru Matsuyama menunjuk dirinya sendiri.


"Sembarangan aja nih orang tua...mata kakekmu itu silinderkah?" bisik Matsuyama di telinga Almira.


"Bukan...." sahut Mira.


"Yang kiri mur dan yang kanan baut...klop kan mur ketemu baut ya gitu sudah jadinya!!" bisik Almira membalas perkataan Matsuyama.


"Kek, ini Matsuyama...anak paman Kakegawa saudara Hiro tapi lain ibu!!" kata Mira memperkenalkan.


Kakek Dahlan menatap Matsuyama dari ujung rambut sampai ujung kaki terus balik lagi hingga berulang-ulang.


"Persis..." gumam kakek Dahlan.


"Persis apa kek?" tanya Almira lagi.


"Persis mayat hidup!!" katanya tanpa dosa.


"Hei anak muda, berapa puluh tahun kamu direndam oleh Kakegawa di lubang es?" katanya.


"Hei orang tua...aku tidak direndam di dalam lubang es, tetapi karena hawa lembah di perguruan yang sejuk membuat kulitku seputih salju dan semulus batu pualam..." balas Matsuyama.


"Hei orang tua, berapa belas tahun kau mengembara di gurun Gobi dan gurun Sahara? sehingga hitam kulitmu mengalahkan pantatnya dandang?" kata Matsuyama lagi.


Huffttt....


Hahahaha....

__ADS_1


Tawa Almira lepas tak tertahankan lagi mendengar perdebatan manusia yang berbeda generasi itu.


"Hei anak muda, apakah dulu kamu bersekolah di bawah pohon pisang? sehingga mulutmu kurang ajar sekali sama orang tua?" geram kakek Dahlan.


"Kau salah orang tua, aku dulu bersekolah di bawah dahan pohon sakura yang bermekaran, bukan di bawah pohon pisang!!" balas Matsuyama.


Stop...stop...


"Jika kalian terus berbalas kata begini, sampai kapan aku harus berdiri di sini menjadi pendengarnya? aku haus, aku lapar, aku mau makan dan minum!!" teriak Almira menyudahi perdebatan itu.


"Kakek??? kenapa sih semua orang kok mau diajak berantem??? nanti ngga punya temen lho!!" kata Almira.


"Kamu juga Matsuyama, coba mengalah saja sama orang tua begini...kualat tau!!"


"Aku tak terima, masa aku di bilang zombie!!" seru Matsuyama.


"Aku juga tak terima bocah??? masa kulitku di bilang seperti pantatnya dandang? kalah lagi pantatnya dandang!!"


"Kakek...Matsuyama...kalau kalian ngga bisa diajak bicara baik-baik maka silahkan berkelahi di tengah laut sana biar para dugong...dugongwati itu menjadi jurinya."


Setelah bicara begitu Mira melangkah masuk meninggalkan mereka.


"Chucky...tunggu aku...aku takut ditinggal sendiri sama kakek itu!!" lalu Matsuyama berlari mengejar Almira.


"Loe kira gue ini setan? kok tambah kurang ajar ya!!"


"Chucky...tadi kamu sudah menghabiskan dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk, masa kamu masih lapar?" Matsuyama berdecak melihat Almira.


"Aku kan sedang dalam masa pertumbuhan, jadi wajarlah kalau makanku banyak!!" jelas Mira.


*


*


"Ayah...ibu...jadikan kita besok pagi-pagi sekali berangkat keseberang?" tanya Xavier saat mereka sedang makan malam.


"Jadilah Gio...ibu sudah pengen banget bertemu dengan adikmu."


"Seperti apa dia sekarang yah??" tanya Serafin pada dirinya sendiri.


"Dia tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, bu!!" jawab Xavier.


"Dia cantik dan sangat cerdas, juga memiliki ilmu yang tinggi...dan dia mewarisi wajah ayah dan mata indah secantik mata ibu." kata Xavier, matanya menatap lurus kedepan mengenang kembali sang pujaan hati yang tak mungkin bisa dia miliki.


"Bu, tapi mengapa wajah Gio tidak ada mirip-miripnya dengan ibu dan ayah?" tanya Xavier tiba-tiba yang membuat Serafin kaget dan tergagap.

__ADS_1


"Perasaan kamu mirip dengan ayahmu, Gio!!" jawab Serafin.


"Mirip dari mananya bu? mata ayah berwarna Hazel dan mata ibu berwarna biru lalu kenapa bola mata Gio berwarna coklat?" protes Xavier.


Untunglah sebelum terjadi banyak pertanyaan, Giandra dan kakek Kojiro muncul.


"Kalian bersiap-siaplah...agak siangan kita berangkat!!" ujar kakek Kojiro pada Xavier dan Serafin.


"Aduh...mengapa hatiku berkebat kebit begini ya? aku deg-degan, kangen banget rasanya aku dengannya!!" bisik Xavier dalam hati.


"Sudah tiga bulan kami tidak pernah bertemu, sejak peristiwa itu baik aku ataupun Almira sama-sama bertahan untuk tidak saling berkomunikasi, lagi pula jika kami saling menyapa di saat benih-benih cinta nasih ada, malah akan menambah kepedihan saja!!"


"Tapi apa sekarang aku sudah bisa melupakan dia? belum...aku sama sekali belum bisa melupakan dia."


"Apakah dia sudah melupakan aku ya? secara adikku itu sangat cantik dan pintar, banyak laki-laki mengantri untuk mendapatkan cinta darinya, sementara aku ini apa? aku hanyalah debu yang berseliweran ditiup angin."


Xavier terus bergumam dalam.hatinya sambil membantu ayah dan ibunya membawa seperlunya barang yang diperlukan untuk perjalanan nanti.


"Ayah sudah memberi tahu kakek Dahlan kalau kita mau kesana?" tanya Xavier sambil membungkus bekal untuk perjalanan mereka.


"Tidak usah, ayah sengaja ingin membuat kejutan untuk mereka, sebab jika ayah telepon nanti Miramu bakal melarikan diri dan tidak mau bertemu denganmu."


"Almiraku?" ulang Xavier sedih...


"Iya Almiramu, siapa tau ada keajaiban yang bisa membuat kalian bersatu kembali!!" jawab kakek Kojiro.


"Oalah yah...ngga usah melambungkan harapan dan impian Xavier kalau pada akhirnya akan dihempaskan kembali ke jurang tak berdasar!!" jawab Xavier sambil menunduk pura-pura memasukan kotak makanan kedalam.tas padahal hatinya serasa bagai teriris sembilu.


"Maafkan ayah nak, belum saatnya kamu tau bahwa kamu dan Almira bukan saudara kandung juga bukan saudara sepesusuan...walaupun ayah hanya orang tua angkatmu tak beda dengan Giandra dan Serafin, tetapi ayah selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." Bisik hati Kojiro.


"Akhirnya selesai juga, mana kereta kuda yang akan menjemput kek??" tanya Xavier.


"Paling tak lama lagi ayahmu akan datang bersama kereta kuda sewaan itu!!" jawab kakek Kojiro.


Lalu mereka bertiga menunggu di teras rumah dengan barang bawaannya.


"Bagaimana perasaan ibu?" tanya Xavier kepada ibunya Serafin.


"Ibu sangat gugup, Gio...ibu takut Almira akan membenci ibu dan ayahmu karena telah menelantarkannya selama kurang lebih 18 tahun ini!!" jawab Serafin.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Bagaimanakah pertemuan antara orang tua dan anak itu kelak? apakah justru Almira akan menghindar saat tau Xavier ikut dalam rombongan kecil itu?


Ikuti terus kisahnya ya...jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2