Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 94 Pulang Kembali


__ADS_3

"Kek, acara tangis-tangisannya nanti aja dulu ya...sekarang kita lagi ada di sarang macan lebih baik kita keluar aja dulu dari tempat ini."


Almira segera menekan tombol di samping pintu yang tadi dilihatnya, tak lama pintu itupun bergeser perlahan.


Suasana sangat hening dan mencekam bahkan suara anginpun nyaris tak terdengar.


"Kek, pegang tangan Almira jangan kakek lepas ya...dan jangan banyak bacot dulu."


Sambil mengerucutkan bibirnya seperti corong minyak tanah, kakek Dahlan menuruti juga perkataan Almira.


Saat Almira kembali memasukan cincin itu ke dalam mulutnya, saat itu juga dia dan kakek Dahlan menghilang dari pandangan.


Hahahuhu...hahahuhu


Puluhan manusia kera saling bersahutan. Tetapi mereka sama sekali tak menyadari ada 2 orang manusia berjalan di antara mereka.


Mereka berdua terus berjalan hingga sampai di luar perkampungan para siluman kera itu.


Almira mengeluarkan cincin dari mulutnya dan tampaklah kini wujud keduanya.


Sstttt...sstttt


Matsuyama memberi kode pada kami berdua tentang keberadaan mereka berempat.


"Heh...Kojiro botak....ngapain loe enak-enakan di sini sementara aku dan cucuku berjuang di dalam sana untuk mencari jalan keluar?" semprot kakek Dahlan pada sepupunya itu dengan ketus.


"Wah...dia sudah kembali yah...itu buktinya kata-kata dari mulutnya meluncur mulus dan pedes seperti ngga ada filternya." Kata Xavier sambil tersenyum.


"Benar...itu Tosiro yang asli!!" kata kakek Kojiro tersenyum bahagia.


"Iyalah asli...kalian pikir aku siluman monyet berekor itu?" sahut kakek Dahlan dengan ketus.


"Wah...selamat datang kembali ke dunia yang penuh tipu-tipu ini kek!!" kata Matsuyama.


Kakek Dahlan memandang Matsuyama dari atas kepala sampai ke kaki!!"


"Siapa bocah kecil berkulit pucat ini? aku baru melihatnya...kamu ini malah lebih mirip terlihat seperti manusia salju sangking putihnya kulitmu itu!!" kata kakek Dahlan pada Matsuyama.


"Aku lho bukan bocah kecil lagi...usiaku sudah 20 tahun kek!!" sahut Matsuyama.


"Berarti kamu ini termasuk golongan kelimubo!!" kata kakek Dahlan.


"Kelimubo itu apa kek?" tanya Matsuyama lagi.


"Kelihatan muka bocah!!" sahutnya.


"Jadi kalau Matsuyama adalah kelimubo berarti kamu adalah kelimutuseke!!" sahut kakek Kojiro.


"Kelimutuseke??? apa itu?" tanyanya lagi.


"Kelihatan muka tua sekali dan keriputan!!" sahut Matsuyama!!"


"Dasar bocah kurang ajar...anak siapa sih dia ini?" tanya kakek Dahlan.

__ADS_1


"Biasa...anaknya siapa lagi kalau bukan anaknya Kakegawa." Jawab Kojiro.


"Sebaiknya kita cepat pergi meninggalkan tempat ini, sebelum mereka semua menyadari keberadaan kita di sini!!" kata Giandra.


"Mira...stop kamu menggandeng kakekmu seperti ini, kakek bukan manula yang tidak bisa jalan sama sekali!!" ketus kakek Dahlan.


"Kakek memang bukan manula tapi menoupose!!" jawab Almira santai menanggapi keketusan kakeknya.


"Jika kakekmu tidak mau di gandeng, lebih baik kamu menggandeng abang saja, Mira...marilah kita sama-sama bergandengan tangan menuju ke penghulu." Kata Xavier sambil cengengesan.


"Ingusmu itu bang mau gandeng Mira ke penghulu, sudah Almira sama aku aja..." kata Matsuyama.


"Bagus ya...bagus...kalau Almira aja direbutin, coba kalau orang tua seperti kami ini di jauhin!!" kata kakek Kojiro.


"Kakek berdua bau ompol ngga? biasanya kalau orang sudah tua itu suka kencing sembarangan." Sahut Matsuyama.


"Enak aja...kamu pikir kakek ini pikun? tuh...Tosiro yang sudah pikun!!" sahut kakek Kojiro.


"Kurang ajar...mau kuhajar kau Kojiro!!" kata kakek Dahlan dengan mata mendelik.


"Aishhh para manula...eh orang tua...sampai kapan kita semua akan menunggu kalian selesai ribut?? jika punya dendam pribadi, harap diselesaikan di kantor polisi.sana jangan di sini, ayo cepat kita pergi...feelingku jadi ngga enak nih!!" sahut Almira lalu melesat pergi menyusul ibu dan ayahnya.


Tak lama dua orang yang saling bersiteru ditambah dengan dua orang provokatornya juga terlihat melesat pergi.


Tak ada beberapa detik sehabis mereka pergi, para siluman kera dengan dipimpin langsung oleh Kebebitak dengan muka merah padam dan hawa ingin membunuh, tiba di tempat itu.


"Kampret...kita terlambat...para bedebah itu sudah pergi dari tempat ini beberapa detik yang lalu." Kebebitak meradang dengan kesalnya.


Beberapa menit setelah Almira dan kakek Dahlan menghilang dari ruangan itu, Kebebitak masuk untuk melihat tubuh kakek Dahlan dan kendi roh yang tergantung di atas tempat tidur itu.


Dia mempunyai kebiasaan menggoncang-goncang kendi dulu setiap pagi sambil tertawa senang mendengar suara sumpah serapah sang kakek dari dalam kendi.


Beberapa hari ini dia sangat sibuk, mulai dari mengurus anak buahnya untuk persiapan purnama merah nanti, juga urusan kenikmatannya bersama ratu Hikaru di atas ranjang.


Sang ratu selalu mengukungnya setiap malam hingga menjelang pagi membuatnya hampir lupa dengan tubuh yang dia tempati untuk memata-matai Almira itu.


Kebebitak menekan tombol rahasia di samping batu dan bergeserlah pintu batu itu lalu menutup lagi dengan sendirinya.


Dia mengedarkan pandangan matanya keseluruh penjuru ruangan.


"Ngga ada yang aneh!!" gumamnya lalu melangkah menuju pembaringan batu.


Dia masih melihat kakek Dahlan terbaring di atasnya. Lalu matanya beralih pada kendi di atasnya.


Sepintas mata mungkin tidak ada keanehan pada kendi itu tetapi saat diperhatikan baik-baik olehnya, kendi itu sedikit bergeser dari tempatnya.


Kebebitak semakin merasa curiga. Diambilnya kendi itu dan digoncang-goncangkannya.


Sepi...biasanya langsung terdengar suara sumpah serapah si kakek yang sudah menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Mengapa tua bangka itu diam saja tak ada suaranya? apakah dia tidur di dalam sana?" gumam Kebebitak.


Lalu dia beralih kepembaringan batu.

__ADS_1


"Kok tubuh itu terlihat aneh ya...seolah-olah patung?" Dia mendekati tempat tidur itu.


"Jaha*nam..." Kebebitak memukul hancur patung batu yang menyerupai tubuh kakek Dahlan itu.


"Berani-beraninya kakek tua bangka itu mengerjai aku!!" umpatnya geram.


"Tapi kurasa kakek itu tak mungkin bisa lepas dengan sendirinya, pasti ada orang lain yang ikut ambil andil membantunya mengeluarkan roh busuknya itu dari dalam kendi kemudian memasukan kembali ke dalam jasadnya...tapi siapa?"


Sebelum Mira dan kakek Dahlan tadi keluar dari dalam goa, dengan kesaktiannya sang kakek merubah sebuah batu menjadi wujud dirinya.


Wujud yang tadi dilihat dan dihancurkan oleh kakek Dahlan itulah batu yang dibentuk oleh kakek Dahlan dalam hitungan menit dalam wujud dirinya.


"Sialan...mereka belum lama kabur dari sini!!" umpat Kebebitak sangat marah.


"Awas saja kalian yang telah berani mempermainkan Kebebitak....akan ku kuliti hidup-hidup dan kujadikan hiasan di kamar Bakul Rumbis, istriku!!"


"Kembali anak-anak..." teriaknya lantang.


"Belum saatnya kita mengejar mereka, biarkan dulu mereka menghirup udara kebebasan sebelum purnama merah!!" kekeh Kebebitak.


Lalu dia dan pasukannya kembali ke dalam goa dan menghilang di sana.


*


*


"Aduh....napasku sudah mau putus!! tak bisakah kita beristirahat barang sebentar?" kata kakek Dahlan kepada yang lainnya.


"Aku kan sudah lumayan lama tidak berlari sejauh ini, apalagi rohku terkurung di dalam kendi sialan itu!!" ucapnya setengah ngos-ngosan.


"Kita berhenti sebentar!!" kata Giandra.


"Oh iya...aku sampai lupa menanyakan...kalian berdua ini siapa?" tanya kakek Dahlan pada Giandra dan Serafin.


"Maaf sebelumnya kek, kami berdua belum sempat memperkenalkan diri karena kami lihat sejak tadi kakek sibuk mengomel terus!!" kata Giandra.


"Kami berdua adalah orang tua dari Almira dan Giovanno atau Xavier." Kata Serafin.


"Namaku Serafin dan ini suamiku, Giandra." Jelasnya pada kakek Dahlan.


"Terima kasih karena telah membesarkan Almira selama ini dan mendidiknya hingga menjadi seorang gadis hebat dan tangguh seperti sekarang!!" kata Giandra sambil menundukan kepalanya memberi hormat pada kakek Dahlan.


"Almira anak yang baik, walaupun tumbuh di tengah kemiskinan kami tapi dia sama sekali tak pernah mengeluh!!" ucap kakek Dahlan.


Dia gadis yang kuat dan tangguh, hanya saja dia tumbuh menjadi gadis yang bar-bar dan teramat ketus dan dingin!!" kata kakek Dahlan.


"Lho dia tumbuh menjadi gadis ketus dan dinginkan karena ajaranmu juga!!" kata kakek Kojiro diikuti dengan delikan mata dari kakek Dahlan.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Akhirnya berkat kegigihan Almira, kakek Dahlan bisa kembali lagi ke tubuhnya...bagaimanakah petualangan Almira selanjitnua?


Jangan lupa dukungannya ya readers๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2