
Tak jauh dari gedung bioskop...
"Gila anda nona??? Rafa itukan keponakan anda? mengapa mau dicelakakan?" tanya Sima pada Levia.
"Eits...Rafa keponakan Alia bukan keponakan Levia, ingat itu Sima!!" kata Alia palsu.
"Lagi pula mengapa kamu mendadak mengincar kematian bocah itu?" tanya Sima.
"Bocah itu dibalik sifat cengeng dan manjanya, dia mempunyai kemampuan untuk bisa melihat siapa aku sebenarnya walau sebisa mungkin aku menyembunyikan identitasku."
"Berada didekatnya membuat seluruh ilmuku terasa lumpuh tak berguna...dia mampu menyerap dan kemudian balik menghempaskan ilmuku sehingga membuat tubuhku terasa lemas tak berdaya."
"Makanya selama berbulan-bulan tinggal di sana hanyalah Alia yang mampu kutaklukan sementara tuan Kelvin dan lainnya tak mampu kusentuh seperti ada pagar gaIb yang memagari rumah itu dan penghuninya.
"Awalnya aku tak menyadari tapi suatu hari aku telah memegoki Rafa mengayun-ayunkan telapak tangannya keseluruh mansion."
"Jika mata awam yang tak memiliki kemampuan pasti mengira Rafa hanya sedang bermain, tetapi jika diperhatikan dengan lebih seksama dari telapak tangan Rafa seperti mengeluarkan cahaya berkilau berwarna putih."
"Makanya tatapan matanya selalu tajam melihat kepadaku..."
"Ilmu dari bunda pun tidak dapat kuserap dengan baik, Sima."
"Kamu lihat awan yang terbang seputaran loteng?" disitulah aku memindahkan Alia, dari dalam kaca kedalam gumpalan awan itu...dan hampir saja si Hiro saudara kembarmu yang sialan itu membongkar semuanya...untung semua cepat teratasi.
"Entah ilmu titipan atau memang kemampuannya itu Rafa bawa mulai dari dalam kandungan Valeria."
"Dan beberapa hari lalu bunda ratu Hikaru mengatakan akan ada seorang anak kecil yang mampu menandingi kesaktiannya.
*
*
"Sayang...kok aku ditinggal sendiri sih?" Valeria mendatangi Rafa dan Aliandhara yang sedang menikmati es krim di sebuah kafe yang mereka singgahi.
"Karena kamu sangat menjengkelkan Valeria!!" lirik Aliandhara tajam.
"Aku hanya ngga suka melihat kamu dekat-dekat lagi sama pelakor kecil itu." Sungut Valeria.
"Maksudmu siapa yang kamu sebut dengan pelakor kecil itu, Valeria?" tanya Aliandhara geram.
"Dengar Valeria, gadis yang kamu sebut dengan pelakor kecil itu adalah gadis yang aku cintai...Rafa dan aku sangat mencintainya!! kamu mengerti?" sentak Aliandhara membuat Valeria kaget dan terkejut karena semenjak dulu Aliandhara tak pernah berkata kasar padanya, bahkan hingga kini pun setelah mereka berpisah, Aliandhara masih mengijinkan dia tinggal di apartemen dan masih membiayainya.
__ADS_1
Tampaknya Aliandhara benar-benar marah saat Valeria menghina Almira terus menerus.
"Aku mencintainya Valeria, aku ingin melamarnya untuk menjadi istriku dan mommynya Rafa karena Rafa juga sangat menyayangi Almira.
"Jika kamu merasa keberatan dan tak setuju silakan kamu angkat kaki dari apartemenku.
Seketika Valeria terdiam mendengar ancaman Aliandhara. Tentu saja dia tak siap bahkan tak mau kehilangan semua fasilitas dan kenyamanan yang selama ini Aliandhara berikan walaupun status mereka bukanlah suami istri lagi.
"Sayang, kok ngomongnya gitu amat sih? kamu sudah tak memcintai aku lagikah?" ucap Valeria sambil memperlihatkan ekspresi sedih dan memelasnya.
"Cinta? sudah semenjak kamu pergi meninggalkan aku dan Rafa bertahun-tahun yang lalu rasa cintaku kepadamu juga ikut mati."
"Meninggalkan suami dan anak yang maaih bayi demi mengejar ambisimu untuk kembali kepada Xavana, kamu rela meninggalkan orang yang benar-benar tulus mencintaimu!!"
"Aku menerimamu di sini semata-mata demi Rafa.. tapi setelah melihat kejadian tadi, aku bisa melihat bahwa kamu belum berubah masih sama seperti dulu yang tak pernah peduli pada putramu sendiri bahkan mencaci maki orang yang telah menyelamatkan nyawa Rafa."
"Ibu macam apa kamu ini Valeria?" Aliandhara juga Rafa menatapnya dengan tatapan sinis.
"Sebaiknya mulai hari ini kamu kemasi barang-barangmu, sudah terlalu banyak kekecewaanku kepadamu, Valeria."
"Kumohon sayang, jangan kamu usir aku kalau kamu mengusirku aku mau tinggal di mana?" Valeria bersimpuh di depan meja Rafa dan Aliandhara, hilang lenyap sudah kesombongan dan keangkuhannya selama ini.
Rafa memandang daddynya lalu memandang mommynya. Dan seolah mengerti arti tatapan putranya itu, Aliandhara menarik napas dulu sebelum berkata.
"Baiklah Valeria, aku dan Rafa masih berbaik hati padamu...kuberikan apartemen milikku padamu, tinggalah selama kamu suka di sana, aku akan tetap tinggal di mansion bersama keluargaku dan kuharap kamu tidak mengganggu kehidupan kami lagi apalagi kita memang sudah resmi bercerai.
Lalu tanpa menunggu persetujuan Valeria, Aliandhara menggendong Rafa keluar dari kafe itu.
"Sialan...aku harus merendahkan diriku seperti ini?" wanita berambut pirang itu menggeram menahan emosinya.
"Ini semua gara-gara pelakor kecil yang bernama Almira itu...Aliandhara mau direbutnya sekarang Xavana juga tergila-gila padanya..."
"Ilmu pelet apa yang dia gunakan sehingga semua laki-laki suka padanya... soal cantik, cantikan juga aku kemana-mana!!" kata Valeria dengan penuh percaya diri.
"Awas kamu Almira, potongan badan dekil dan muka kusam begitu aja berani-beraninya bersaing dengan Valeria."
Valeria bangkit dan berdiri sambil tersenyum smirk.
"Kamu lihat saja nanti, Almira!!" ancamnya sambil bergumam.
Sementara itu...
__ADS_1
"Wah keren filmnya ya Chucky!! tapi kok bisa ada orang di dalam situ ya?" tanya Matsuyama tampak berpikir.
"Di dalam mana maksudmu?" tanya Almira bingung.
"Itu di dalam layar yang warnanya putih tadi, kok bisa ya sekian banyak orang berjejal masuk ke dalamnya."
"Cowi...kamu lahir di zaman apasih?? Itu yang dinamakan bioskop!!" tutur Mira.
"Yah maklumi saja, aku berasal dari gunung di bawah lembah yang hampir tak bersentuhan dengan manusia lainnya."
"Kami sungguh terisolasi tinggal di sana, pegang yang namanya ponsel aja barusan ini!!'
Aku melongo mendengar penjelasan Matsuyama.
"Kakek Dahlan itu terbilang kuno, tetapi ada lagi yang lebih kuno dari kakekku...walaupun terlihat kuno, tetapi kakek berusaha tampil keren dihadapan semua orang."
"Jangan...jangan nih bocah juga ngga ngerti makan bakso ya?" Almira melirik kearah Matsuyama.
"Eitsss jangan salah, kalau bakso aku tau karena awal aku datang beberapa waktu yang lalu aku memesan makanan yang berkuah dengan bola bekel di atasnya.:"
"Awalnya aneh rasanya di lidahku tapi lama- lama kok enak juga!!" kata Matsuyama antusias.
Hatsyi...hatsyiiiii
Tiba-tiba kakek Dahlan bersin berkali kali....."
"Siapa orang yang berani-beraniya mengingatku di saat aku lagi makan?" gerutu kakek Dahlan.
"Pasti itu hanya ada dua kemungkinan...orang itu sudah bosan hidup atau sengaja mencari mati!!" ucap kakek Dahlan.
"Ini juga Almira, kemana juga tuh anak sudah sore gini ngga pulang...pulang!! kelayapan aja kayak anak ayam!!"
"Biasanya ini anak tukang tidur, sebentar saja tiba di rumah dia sudah mencium bantalnya, lha sekarang? kuat ya dia keliaran sampai sore begini!!"
*
*
***Bersambung...
Rasakan kamu Valeria, sampai juga kejengkelan Aliandhara pada puncaknya😊😊 kesabaran ada batasnya begitupun dengan Aliandhara dan bagaimana tentang kekuatan tersembunyi Aliarafa??? Ikuti terus kisahnya ya!!
__ADS_1