
"Lucu dan guoblok abis!!" sahut kakek Kojiro lagi.
Bibir Matsuyama maju bersenti-senti mendengar ucapan kakek Kojiro padanya.
"Sudah...jangan cemberut gitu!!" kata Giandra sambil menepuk bahu Matsuyama sambil tersenyum geli.
"Makanya kalau mau nguping pembicaraan orang tua itu denger yang bener...jangan cuma setengah-setengah, yang pada akhirnya ngga ngerti juga apa yang dibahas!! seperti ini nih...." Xavier mengacak rambut Almira.
"Dia sudah pasang telinga sedemikian rupa semenjak tadi, tapi tetep ngga ngerti apa yang dibahas...dasar duo bocil."
"Abang....awas ya!" ancam Almira sambil mengejar Xavier yang kabur menghindari cubitan maut Almira.
"Jadi menurutmu kita masih bisa menyelamatkan sepupuku yang item itu kan? biar sejelek apapun, sehitam apapun, dia tetapTosiro sepupuku yang tampan!!" kata Kojiro dengan sangat yakin.
"Bisa kek, tapi kita harus bisa mengikuti Kebebitak itu sampai ke goanya, mencari tau dia tinggalkan di mana tubuh kakek Dahlan lalu cabut penutup kendi yang berisi roh kakek Dahlan dan membiarkan roh yang penasaran itu masuk ke tubuhnya." kata Matsuyama.
"Kamu pikir sepupuku itu setan, dibilang roh penasaran segala...kurang ajar betul!!" semprot kakek Kojiro kesal.
"Kebomicak??? eh,siapa tadi namanya?" tanya Giandra.
"Kebebitak, paman...Kebomicak!!" gerutu Matsuyama.
"Namanya memang itukah?" tanya Serafin penasaran.
"Iya bi...menurut ayahku, nama pemimpin siluman kera itu ya, si Kebebitak!!" kata Matsuyama.
"Jelek amat!!" sahut Serafin.
"Menurut cerita ayahku, Kebebitak mempunyai seorang istri yang bernama Bakul Rumbis...sepertinya si istri ini tidak tau jika suaminya telah berselingkuh dengan ratu Hikaru."
"Jika kita sampai bentrok dan terdesak oleh pasukan kera Kebebitak kita bongkar saja aib perselingkuhannya dengan Hikaru biar mereka saling bentrok satu dengan yang lain." kata Matsuyama.
"Cerdas kamu Matsuyama...." kata mereka semua.
"Permasalahannya siapa yang akan menyelinap masuk mengikuti Kebebitak ke dalam goa tanpa ketauan?" tanya kakek Kojiro perlahan.
"Almira!!" kata Matsuyama...
"Kenapa harus boneka barbieku ini sih?" tanya Xavier sangat keberatan.
"Bang Xavier dengarkan...." kata Matsuyama.
"Almira pernah menerima cincin pemberian dari kak Hiro, cincin warisan keluarga kami yang mempunyai kesaktian jika si pemakai memasukan jari yang bercincin itu ke dalam mulut, jangan kan manusia, setan dan siluman aja ngga akan bisa melihat apalagi manusia!!!" kata Matsuyama.
__ADS_1
"Dengan begitu Almira bisa leluasa mengikuti kakek Dahlan supal eh palsu!!" kata Matsuyama lagi.
Setelah semua merundingkan, akhirnya diputuskanlah bahwa Almira lah yang akan pergi membawa kendi berisi roh kakek Dahlan dan mengikuti kakek Dahlan palsu sampai ke goa siluman kera.
"Hati-hati ya Mira...aduh apa aku ngga bisa ikut serta bersamanya masuk ke dalam goa siluman kera itu?" kata Xavier cemas.
"Kita akan mengawasinya dari jarak jauh sambil mempelajari situasinya!!" kata Giandra yang sebenarnya juga cemas akan keselamatan putrinya.
Mereka semua kembali ke rumah pantai. Kakek Dahlan nampak sedang duduk santai di teras
"Dari mana saja kalian semua? mengapa bisa bersama-sama?" tanya kakek Dahlan.
"Kami habis dari pantai mau bersantai sejenak..." kata Serafin sambil memamerkan senyum manisnya yang membuat pemimpin siluman kera yang diam-diam menyukainya itu jadi klepek-klepek.
"Jangan genit-genit Sera...nanti dia malah semakin naksir padamu." Kata Giandra menyikut pinggang istri cantiknya.
"Bu...Almira mau makan masakan ibu!!" kata Almira sambil merangkul ibunya.
"Boleh sayang, pergilah ke kebun belakang bersama abangmu Xavier dan Matsuyama."
"Petiklah sayuran dan tangkaplah beberapa ekor ikan di kolam belakang untuk makan malam kita!!" kata Serafin.
Satu persatu mereka pergi meninggalkan kakek Dahlan sendirian.
"Sebaiknya aku harus mulai berhati-hati, aku ada di tengah orang-orang yang berilmu tinggi, jangan sampai aku jadi bulan-bulanan mereka semua!!"
"Aku tak mau wajah dan tubuhku jadi bonyok dipukuli oleh mereka!! Aku masih haus akan kehangatan tubuh ratuku yang cantik jelita itu."
"Tapi mereka tak mungkin menyakiti tubuh burik kakek ini...hehehe!!" Kebebitak tertawa mengekeh.
Dia berbalik ke dalam kamarnya dan bergelantungan di tiang seperti orang utan.
"Ratu...kamu selalu membuatku tergila-gila dan bergairah...menyentuh kulit mulusmu sangat berbeda jika aku menyentuh tubuh istriku Bakul Rumbis yang penuh bulu dan bisanya cuma bilang hahahuhu saja."
"Kenapa juga sih kera setampan dan secerdas aku harus menikahi spesies berbulu yang jelek itu??" kata Kebebitak merasa kesal pada permintaan kedua orang tuanya saat dulu dia harus menikahi Bakul Rumbis anak pemimpin siluman kera itu.
"Di sini ada dua wanita sangat cantik...Almira dan ibunya Serafin!! tetapi menyentuh Almira membuat tubuhku terbakar dan gosong, entah kekuatan dasyat apa yang melindungi gadis itu dan kurasakan juga bahwa dia sebenarnya juga bukan manusia seperti yang lainnya tetapi dia belum menyadari akan hal itu."
"Kalau Serafin sangat cantik dan membuat hasratku berkobar tetapi selain memiliki ilmu yang tinggi, suaminya juga selalu mendampinginya terus."
"Sebenarnya hidup di antara mereka membuatku sering merasa was...was...mereka semua rata-rata berilmu tinggi, satu-satunya pelindungku adalah tubuh kakek burik ini saja."
*
__ADS_1
*
Pangeran Redo sedang bersemedi di dalam ruangan rahasianya yang juga menjadi tempat persembunyian aunty Alia nya.
"Bunda...bunda ratu Nilakandi!!" Pangeran Redo berbisik memanggil nama ibundanya.
Tak lama suasana di dalam kamar itu berubah menjadi temaram berwarna kebiruan.
Tampak sesosok wanita yang sangat cantik memakai kemben. Dari atas mahkota di kepalanya hingga bola mata dan pakaiannya semua berwarna biru.
"Ada apa kamu memanggil ibunda ratu, pangeran Redo?" tanyanya pada sang putra.
"Bunda...Redo merasa yunda Refanya sedang berada dalam bahaya...kakek yang selama ini merawatnya diambil alih tubuhnya oleh seekor siluman kera yang sangat sakti bernama Kebebitak."
"Dan yunda berusaha untuk membebaskan kakeknya itu, bunda!! apakah Redo harus turun tangan membantunya??" tanya Pangeran Redo pada ibundanya ratu Nilakandi.
"Tak usah dulu Redo, cukup kamu awasi saja dari kejauhan...dan satu lagi, apakah kamu mencintai bibi tersayangmu itu?" sang ratu kembali bertanya pada putranya.
Redo terdiam. Remaja yang masuk ke dalam tubuh bocah kecil itu bungkam saat ibundanya bertanya tentang hal itu.
"Ingat Redo, kita ini adalah naga penjaga...jangan sampai menyalahi kodrat kita untuk mencintai seorang manusia seperti yundamu.
Redo tak bisa berkata apapun lagi. Dia memang menyukai Alia, makanya dia mati-matian menyelamatkan auntynya itu dari sekapan Levia.
Tapi perkataan bundanya tadi sangat menohok hatinya.
"Iya bunda, Redo tau dan Redo sadar kok!!" jawabnya lesu.
"Jika sudah tidak ada yang mau kamu tanyakan, bunda akan kembali ke goa, Redo...jaga dirimu baik-baik!! lindungi orang-orang yang kamu sayangi dengan segenap jiwa dan ragamu...selalu pantau yundamu karena yundamu itu sedang kasmaran berat!!" kata bundanya.
Tanpa Redo sadari, Alia mendengarkan semua percakapan ibu dan anak itu.
Jantungnya berdebar saat mendengar bahwa Redo menyukainya.
Usia Alia memang sudah 20 tahun sementara Redo jika hitungan usia manusia baru berusia 15 tahun. Alia pernah melihat wajah tampan Redo yang sangat mirip dengan Almira dan dia tidak pernah lupa saat melihat wajah itu untuk pertama kalinya.
*
*
***Bersambung...
Sepertinya lagi musim ya wanita mencintai pria yang usianya jauh lebih muda๐๐
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya๐๐