
Purnama merah itu hanya ada 100 tahun sekali di mana tempat berkumpulnya segala ilmu hitam melebur menjadi satu untuk menghancurkan ilmu putih agar ilmu hitam, kebatilan, kejahatan berjaya di muka bumi ini...hihihihi!!
Tawa melengking mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya.
Kadir perlahan turun dari tiang rumah dan perlahan melata dan menghilang untuk menunggu Almira pulang kerumah.
Almira dengan seksama mendengarkan dan melihat gerakan tubuh hewan kesayangannya itu.
"Menurutmu, apa itu adalah sisi jahat dari kakek Dahlan?" tanya Almira.
Kadir hanya mendesis seolah mengiyakan.
"Ya Allah...tolonglah hambamu ini...kepada siapa hamba bisa bertanya??? dulu ada pak Xavier yang selalu membantuku setelahnya ada Hiro yang juga selalu menolongku keluar dari semua permasalahanku, tapi sekarang? aku benar-benar sendiri dan bingung apalagi kondisi kakekku seperti ini!!"
"Mira???"
Almira terlonjak kaget saat kakek Dahlan sudah berada di dekatnya. Kakek Dahlan menyeringai aneh dan sangat menakutkan bagi Mira dan Kadir yang saling berpelukan sambil menunggu Matsuyama.
Kadir melingkarkan tubuhnya di leher Almira seolah ingin melindungi gadis cantik itu. Sayap di kiri dan kanan lehernya sudah terkembang seperti centong sayur.
Almira bersikap tenang agar kakek palsu itu tak tau kalau Almira sudah tau itu sebenarnya bukan kakeknya.
"Kalian berdua tidak pergi kuliah?" tanya kakek Dahlan padaku.
"Menunggu Matsuyama sebentar kek, baru kami berangkat!!" kataku."
"Nah itu Matsuyama...salim dulu kek!!" jawabku.
"Ngga usah...langsung pergi aja sana, geli tangan kakek bersentuhan dengan tanganmu yang habis memegang Kadir." Jawabnya memberi alasan.
Akhirnya aku, Kadir dan Matsuyama langsung ngibrit tunggang langgang meninggalkan kakek Dahlan yang tersenyum penuh misteri.
"Mira, kok aku tambah serem dekat-dekat sama kakekmu itu ya?? Matsuyama bergidik ngeri.
"Kita ngga usah pulang lagi yuk, aku takut nih!!" kata Matsuyama.
"Jika kita tidak pulang, bagaimana nasib kakekku, Cowi...kakek Dahlan terjebak dalam sisi gelap dirinya, kalau bukan aku yang menolongnya...lalu siapa lagi??" sahut Mira.
"Kakek adalah orang paling berjasa di dalam hidupku...mereka bisa mengambil jiwa kakek juga karena aku terlalu sering meninggalkan kakek sendirian di rumah.
"Lalu bagaimana cara menolong kakek Dahlan, Mira??" tanya Matsuyama.
"Kita berdoa saja semoga menemukan jalan keluarnya, Cowi!!" jawabku.
Tak lama ada bis lewat dan kami segera naik menuju ke kampus.
*
__ADS_1
*
"Kenapa ayah gelisah sekali?" tanya Xavier pada Kojiro.
Mereka berempat tengah dalam perjalanan menuju ke tempat kediaman kakek Dahlan dan Almira sekarang.
"Kek, perasaan banyak sekali rintangan kita untuk sampai ke tempat tujuan!! seperti ada sesuatu yang sengaja menghalang-halangi langkah kita berempat." Kata Serafin.
Memang ada Sera, kekuatan tak kasat mata yang sengaja menghambat langkah kita....aku bahkan kepikiran sepupuku si Tosiro terus menerus sepertinya sepupuku itu sedang dalam bahaya besar!!" jawab Kojiro.
"Sudah empat hari kita terombang ambing di lautan...mungkin besok kita sudah sampai di tempat tujuan." kata kakek Kojiro pada ketiganya.
"Hei Xavier...kenapa kamu ternenung saja?" tanya Giandra pada putranya itu.
"Dia kangen sama Almira, ayah!!" kata Serafin menggoda putranya itu.
"Tenang saja, besok siang jika tidak ada ada aral melintang, kita akan tiba di pelabuhan." jawab Kojiro.
"Almira...apa kabarmu selama hampir empat bulan ini sayangku? apakah kamu juga merindukanku seperti aku yang merindukanmu?" bisik hati Xavier.
"Hei...kenapa kamu melamun? kamu merindukannya?" tanya Matsuyama.
Dia menatap Almira dan menepuk bahunya agar Almira tetap semangat.
"Mira, aku dan Kadir menunggumu di perpustakaan aja ya?? siapa tau aku bisa bertemu kakakku secara tak sengaja supaya aku bisa membawanya pulang keperguruan agar langkahnya tak tambah tersesat semakin jauh." Kata Matsuyama.
"Kamu tak usah khawatir, tak lama lagi kamu akan berkumpul dengan orang-orang yang kamu cintai, Mira!!" jawab Matsuyama sambil tersenyum.
"Walaupun kita jauh, toh kita kan tetap bersahabat!!" tambah Matsuyama.
"Siapa maksudmu orang-orang yang aku cintai, Cowi?" tanya Almira penasaran.
"Yah...kamu lihat saja nanti!!" jawab Matsuyama.
Bis berhenti di depan kampus. Saat akan turun, mata Mira menatap kearah parkiran.
"Aduh...mau apa lagi sih om...om maniak itu?" batin Almira kesal saat melihat Xavana sedang menunggunya.
Mira mempercepat langkahnya tetapi Xavana keburu melihatnya dan mengejarnya.
"Baby...tunggu!!" teriaknya.
"Apa? babi?" kata Matsuyama.
"Baby pakai huruf y bukan babi pakai huruf i, Cowi!" kata Almira bertambah kesal.
"Ada apa lagi sih tuan Xavana yang terhormat?" kata Almira berbalik dan menatap Xavana.
__ADS_1
"Amunah...aku minta maaf karena saat itu telah kasar padamu...tetapi itu semua karena aku cinta padamu, my Amunah!!"
Huffttt...
Matsuyama berusaha menahan diri agar tidak tertawa ngakak mendengar kelebayan Xavana.
"Amunah...lagi...ya Amunah...ya Aminah...ngga lama namaku ntar jadi Amanah!!" sahutku agak kesal.
"Kita pacaran lagi ya...aku akan membawamu pada ayahku untuk kuperkenalkan, Amunah!!" kata Xavana menghiba.
"Aduh tuan...hidupku sekarang ini sedang susah, kau malah menambahnya menjadi semakin susah!!" jawabku.
"Kamu kesulitan apa, baby? kalau soal uang, kamu minta belikan kampus ini pun akan aku belikan untukmu!!" jawab Xavana.
"Haduh tuan, untuk apa aku kampus ini? aku tidak membutuhkannya!!" jawabku tambah kesal.
"Hidupku ini penuh dengan bahaya, aku tak mau orang lain juga ikut masuk dalam bahaya karena aku!!" kataku.
"Please baby...biarkan aku membantumu!!" jawab Xavana.
Aku tak menghiraukannya.
"Anda tak tau betapa besar bahaya yang tengah dihadapi oleh sahabatku ini, tuan Xavana!!" batin Matsuyama, lalu bergegas menyusul langkah Almira.
"Nona, tampaknya anda senang sekali hari ini?" tanya Sima pada Levia.
"Ibunda ratu Hikaru telah kembali...walaupun wujudnya masih berupa kabut tapi separuh dari kekuatannya telah kembali." jawab Levia.
"Kamu tau di saat bulan purnama merah nanti siapa yang akan di korbankan, Sima?" tanya Levia.
"Sepasang kekasih yang kini tengah terpisah jauh dan seorang anak kecil yaitu anak dari Aliandhara." kekeh Sima.
"Kamu tau mengapa? karena di dalam tubuh mereka tersimpan batu mustika naga biru yang kesaktiannya dicari oleh kaum golongan putih dan golongan hitam."
"Itu sebabnya ibunda ratu mencegah ketiga permata itu untuk bertemu sebelum purnama merah tiba, karena jika kekuatan batu mustika itu menyatu sebelum ibundaku menjadi utuh sepenuhnya, maka bisa di pastikan ibundaku akan musnah selamanya.
"Tapi bagaimana cara untuk mengorbankan mereka?" tanya Sima.
"Rafa adalah kelemahan Almira, jika aku bisa mengambil Rafa maka otomatis Almira dan Xavier tak punya pilihan lain selain menyerahkan diri mereka...masalahnya Rafa ini tak bisa kusentuh dengan tanganku...keturunan ratu Hikaru ataupun orang-orang ibundaku tak dapat menyentuh ketiganya!!" jawab Levia.
*
*
***Bersambung...
Xavana tak tahu betapa besar bahaya yang harus dihadapi Almira, masih inginkah dia mendekati Almira jika dia tau nyawa Almira terancam bahaya juga termasuk nyawa orang-orang yang bersamanya?"
__ADS_1
Mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya readers...terima kadih🙏🙏