
"Sepertinya benar yah...rumah paling ujung yang di depan halamannya ada patung gorila...buruk sekali seleranya kakek itu ya? masa patung gorila?" kata Serafin.
"Sudahlah, selera orangkan beda satu dengan yang lain...sebaiknya kita tunggu saja mereka di sini.
"Sera, jangan kamu pandangi terus patung gorila itu nanti dia hidup." Giandra menyenggol lengan istrinya.
"Ah...masa sih yah!!" kata Serafin.
"Bercanda Seraku yang cantik!!" senyum Giandra.
Tak lama dari kejauhan muncul dua orang. Dari jauh saja suara ribut mereka perang mulut sudah ramai terdengar.
"Ayah...Xavier capek...kaki Xavier bengkak dari kemarin jalan kaki melulu...kenapa sih jadi orang pelit banget? uang ngga dibawa mati aja kok??"
"Kenapa kita ngga naik ojek aja sih?" keluh Xavier.
"Kamu ini manja seperti anak perempuan, betul memang uang ngga dibawa mati tapi tanpa uang kita mau beli makan pakai apa? pakai daun? kamu mau makan ikan terus atau makan telur terus? ntar kamu cacingan baru tau rasa."
"Terus kamu bilang naik ojek? kamu mimpi ya, ini bukan di tempatmu sana yang ada ojeknya, lagi pula apa itu ojek? buntut-buntutnya Kojiro bertanya.
"What??? ayah tidak tau ojek?" hufftt...
Hahahahaha....
Xavier tertawa besar sambil menahan sakit perutnya!!
Kojiro sendiri bingung, apa yang sedang ditertawakan oleh anaknya itu!!
"Apa yang kamu tertawakan anak sambal? apa ada yang lucu?" mata Kojiro sudah melotot mau marah.
"Ssttt yah, berhenti marahnya...lihatlah siapa yang sedang menunggu kita di halaman?" Kojiro berhenti melotot dan marah, fokusnya sekarang jadi terbagi antara mau ngomel, marah dan senang.
"Selamat datang di tempat kediaman kami yang sederhana ini tuan Giandra dan nyonya?" kata Kojiro.
Xavier mencibirkan bibirnya pada sang ayah.
"Tadi aja ngomel, ngoceh tak karuan...sekarang begitu melihat yang bening dikit aja langsung berubah...dasar biawak tak berbulu!!" kata Xavier pelan.
"Terima kasih kakek..." kata Giandra.
"Terima kasih juga mau menerima kedatangan kami berdua...kek!!" kata Serafin tapi matanya menatap Xavier tak berkedip. Dia ingin membuktikan ucapan suaminya tentang pemuda yang wajahnya mirip mendiang Ichiko dan Kikio itu.
"Mari silakan masuk tuan dan nyonya kegubuk kami yang reot ini!!" Kojiro menundukan badannya sedikit memberi hormat.
"Yah, pintunya dibuka dulu...mereka mau masuk dari mana jika pintunya belum ayah buka?"
"Dan satu lagi yah, kata reot ngga usah diungkapkan deh...menjatuhkan harga diri sendiri aja!!" bisik Xavier ketelinga ayahnya.
Mereka berdua masuk dan duduk di ruang tamu rumah Kojiro yang sederhana itu."
"Xavier, tolong kamu petikan buah kelapa di kebun belakang untuk minum mereka."
"Baik ayah..." kata Xavier.
Lalu Xavier beranjak kebelakang rumah untuk mengambil buah kelapa itu.
Diambilnya busur dan dibentangkannya beserta anak panahnya.
Tessss....
Dua buah kelapa putus di bagian tangkainya. Dan sebelum kedua buah itu jatuh ketanah, secepat kilat Xavier memasukan anak panah dan busurnya lalu melesat menyambar kedua buah kelapa itu!!"
Dengan cekatan dibolonginya kedua buah kelapa itu dengan ujung jarinya dan membawanya untuk tamu di luar.
"Terima kasih anak muda...ucap Serafin sambil tersenyum menatap Xavier.
Mereka berempat saling bertukar cerita.
__ADS_1
"Xavier, kenapa tidak pergi menyeberang pulau? tidak ingin melihat dunia di luar sana?" tanya Serafin.
"Saya dulu seorang dosen di kota tempat kediaman ayah angkat saya tetapi karena suatu dan lain hal maka saya balik ke Jepang lagi."
Wajah Xavier berubah mendung. Dia menatap nanar di kejauhan.
Semua itu tak luput dari pandangan Giandra dan Serafin.
"Kau habis putus cinta, anak muda?" tanya Giandra.
Hah...
"Kamu tak usah bingung begitu, suami saya mampu membaca pikiran dan masuk jauh ke dalam hatimu." kata Serafin tersenyum melihat Xavier bengong.
"Iya..." jawab Xavier karena tak ada gunanya lagi berbohong.
"Apakah kalian bertengkar?" tanya Serafin.
"Cinta kami terhalang takdir!!" jawab Xavier singkat.
"Maksudnya!!" Giandra bingung dengan jawaban Xavier.
"Mereka berdua ternyata saudara kandung yang sejak lama terpisah!!" Kojiro menambahkan.
"Lama terpisah?" kata Serafin.
Kakek Kojiro dan Xavier mengangguk bersamaan.
Lalu Kojiro bercerita tentang asal usul Xavier yang diketahuinya dari tuan Anderson.
"Jadi sekian tahun kamu mengalami amnesia?" tanya Serafin.
Xavier hanya menganggukan kepalanya.
"Berarti kamu mempunyai orang tua kandung, kamu ingat siapa nama mereka?" tanya Giandra.
"Ingatlah tuan, nama ayah kandung saya Giandra dan nama ibu saya Serafin..." jawab Xavier spontan.
"Giovanno Giandra."
Deg....
Serafin dan Giandra saling berpandangan mendengar semua perkataan Xavier.
"Gi...Giovanno?" kata Serafin.
"Lalu di mana adikmu Almira?" tanyanya.
Xavier dan Kojiro saling berpandangan lalu kembali menatap sepasang suami istri itu bergantian.
"Bagaimana nyonya bisa tau nama adik saya?" tanya Xavier dengan suara bergetar.
"Apakah kalian mempunyai kalung dengan liontin kepala naga bermata biru?" tanya Serafin tanpa menjawab pertanyaan Xavier yang pertama.
"Seperti ini?" kata Xavier lalu menunjukan kalung dari balik bajunya.
"Giovanno...kau putra kami yang telah hilang 17 tahun yang lalu!!" kata Serafin memeluk Giovanno.
"Kamu kenal wajah ini?" lalu Serafin membuka cadar penutup wajahnya.
Jika Giandra mengalami sedikit perubahan pada wajahnya selama 17 tahun ini walaupun tak mengurangi sedikitpun kadar ketampanannya, sedangkan istrinya tak berubah sama sekali wajahnya.
"Ibu..." suara Xavier tercekat!!
"Iya sayang...ini ibu!!" suara Serafin tercekat.
Giandrapun memeluk putranya itu dengan erat. Mereka bertiga saling berpelukan dengan diiringi derai air mata.
__ADS_1
"Lalu di mana adikmu, Gio?" tanya ayahnya.
"Gadis yang Gio maksud itu adalah Almira, bu??" jawab Xavier dengan menahan kepedihan hatinya.
Giandra dan Serafin saling berpandangan. Serafin ingin menjelaskan sesuatu tetapi suaminya memberi isyarat untuk tidak diberitahukan terlebih dahulu khawatir Giovanno semakin syok jika tau dia bukan putra kandung Serafin dan Giandra.
"Ya sudah, sebaiknya kalian berdua mandi dulu sementara saya akan menyiapkan makan malam bersama Xavier!!" kata Kojiro.
"Xavier?" kata Serafin.
"Xavier adalah nama yang diberikan oleh ayah angkat yang telah menemukan Xavier semasa kecil, jadi sebutan itu sudah melekat dan mendarah daging..." kata Kojiro.
Sementara Giandra dan istrinya Serafin membersihkan diri, Kojiro dibantu Xavier memetik sayuran di kebun mereka, menangkap ikan di empang dan terakhir mengambil telur ayam.
"Kamu ambillah beberapa butir telur ayam sementara ayah akan memasak sayuran dan menggoreng ikan ini di dapur." kata Kojiro.
Tak lama....
"Adudududuh...." teriak Xavier dari sangkar ayam di belakang rumah.
Sontak ketiganya ķeluar untuk melihat apa yang sudah terjadi.
"Ada apa, nak?" teriak Serafin.
"Ayah....tanganku dipatok si blurik sampai berdarah..." teriak Xavier.
"Memangnya gimana kamu mengambilnya??" tanya Giandra.
"Saat blurik duduk cantik, aku meraba bokongnya untuk mengambil telurnya terus dia marah sudah dipatok di kasih teleknya lagi di tanganku!!" Xavier mengibas-ngibaskan tangannya dengan jijik.
"Ya salahmu, memang di sangkar yang lain ngga ada telurnya sampai harus telur si blurik yang kamu ambil?" teriak Giandra.
"Dia pikir tanganmu itu ular yang meraba bokongnya." kekeh Kojiro geli melihat kelakuan putranya itu.
"Kamu lebih baik mandi sana dulu...biar tidak bau!!" ujar Giandra.
Kita tinggalkan dulu kebahagiaan Giandra, Serafin dan Xavier yang sudah belasan tahun tak bertemu akhirnya bersama lagi....
*
*
"Hiro...kenapa sejak tadi kamu diam dan mengacuhkanku? apakah kamu tak suka melihat kedatanganku?" tanya Daniah.
Hiro menghela napasnya sebelum menjawab.
"Jujur aku senang bertemu denganmu Daniah, apalagi kita berteman sedari kecil...tetapi aku lagi ada masalah sekarang ini!!" jawab Hiro.
"Hiro, aku tau kamu tak begitu suka dengan kedatanganku dan ayahku ini!! seandainya aku bisa menolak perjodohan ini seberani kakakku untuk menentang di jodohkan dengan Sima mungkin kita tidak akan tersiksa seperti ini!!" Daniah menghembuskan napas dengan kasar.
"Kamu juga tak menyetujui perjodohan ini, Daniah?" tanya Hiro sambil berpaling memandang gadis berwajah oriental yang duduk di sebelahnya.
"Aku dan kamu berteman sejak kecil Hiro, kedekatan kita hanya sebagai teman...tak lebih dari itu."
"Persahabatan kita tiba-tiba harus disatukan dengan perjodohan? membuatku jadi merasa kamu seperti orang asing, bukan sebagai Hiro sahabat karibku." Daniah membalas tatapan mata Hiro.
"Apalagi kak Daren juga sudah mempunyai kekasih, tentu dia menentang keras perjodohan ini terlebih hingga kini Sima belum ditemukan juga keberadaannya."
"Tetapi ayah mengancam jika aku juga menolak dijodohkan denganmu maka ayah lebih baik memilih mati saja dari pada hidup harus menanggung malu!! begitu kata ayah padaku beberapa hari yang lalu."
"Aku juga tak bisa menentang keinginan ayah, Daniah!!" kata Hiro.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Akhirnya Giandra, Serafin dan Xavier Giovanno bertemu dan berkumpul lagi...akankah mereka juga akan bertemu Almira dan mengetahui fakta yang sebenarnya?"
Mampir, baca, like, komen, berikan vote, favotit dan rate nya...🙏🙏