Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 91 Misi Penyelamatan


__ADS_3

Kakek Kojiro memeriksa denyut nadi dan pernapasan kakek Dahlan.


Tak ada denyut nadi tak ada pernapasan dan tak ada tanda kehidupan di tubuh itu.


Kojiro seakan tak percaya pada sosok terbaring yang dia lihat di dalam peti jenazah itu.


"Tosiro....benarkah ini kau??? kamu memang benaran sudah mati atau hanya berakting mati!!"


Tiba-tiba entah dari mana datangnya sebuah suara yang menyumpahi kakek Kojiro.


"Heh tua bangka bodoh...buka matamu yang kecil sebelah itu dan perhatikan baik-baik!"


Kakek Kojiro langsung melengos saat mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.


"Kamu di mana Tosiro item?? mengapa hanya suaramu saja yang terdengar, mana wujudmu? jangan lama-lama meninggalkan ragamu ntar badan burukmu ini di makan cacing dan belatung."


"Sialan kau Kojiro, aku ada di dalam botol di atas kepala botak separomu itu, aku tidak bisa keluar dari sini, bodoh..."


Kakek Kojiro mengedarkan pandangan matanya keseluruh penjuru ruangan itu.


"Kamu belum budek kan?? aku bilang di atas kepalamu bukan di bawah selangkanganmu, dasar bodoh!!"


"Dasar tua gila..." umpat kakek Kojiro. Tetapi dia melihat juga ke arah atas kepalanya.


Benar saja ada sebuah kendi kecil yang tutupnya disumpal dan kendi itu tergantung indah di atas kepala kakek Kojiro berdiri.


"Ambil cepat kendi itu dan bukalah, Kojiro...jangan lagi kamu berpikir sampai gajian baru kamu buka!!" perintah kakek Dahlan kesal melihat Kojiro terkesan melambat-lambatkan.


Dengan cepat Kojiro menyambar kendi itu, saat hendak membukanya Giandra memberi isyarat dengan ketukan 3 kali di pintu pertanda siempunya kamar sudah kembali.


Dengan cepat Giandra dan Kojiro menyelinap meninggalkan kamar itu bertepatan dengan munculnya kakek Dahlan palsu.


Si kakek palsu melirik kearah kendi dan tersenyum lebar saat melihat bahwa kendi roh kakek Dahlan masih ada di sana.


Sebelumnya kakek Kojiro telah menukar kendi kosong dengan kendi roh itu dengan bentuk yang sama.


Di luar kakek Kojiro dan Giandra tertawa senang.


"Dasar siluman bodoh...kebanyakan makan pisang dan daging mentah sih makanya bodoh...coba makan roti dan makan apel pasti tidak akan sebodoh itu jadinya.


"Terus bagaimana caranya kita membuka mantra yang menutup botol ini kek?" tanya Giandra.


"Coba dengan kalung yang dipakai oleh Almira...kalung itu memberikan reaksi positif jika bersentuhan dengan sesuatu yang bersifaf positif pula.

__ADS_1


"Ayo cepat Kojiro, cepat buka penutup kendi ini?? aku sudah merasa pengap ada di dalamnya."


"Sabar napa Dahlan, dia pikir seperti membuka tutup termos kali ya!!" umpat Kojiro kesal.


"Bersabarlah kamu di dalam sana, aku dan Giandra akan berupaya untuk berembuk dengan yang lain supaya tutupnya ini bisa terbuka.


Almira sangat terkejut mendengar penuturan kakek Kojiro, dia sangat geram dengan siluman itu.


Akhirnya mereka semua berkumpul agak jauh dari rumah pantai itu agar tidak menimbulkan kecurigaan si kakek Dahlan palsu.


"Kalau menurut penglihatanku, jenazah yang ada di dalam peti itu bukan tubuh kakek yang sebenarnya, justru tubuh yang asli yang ada di hadapan kita, yang di dalam itu hanyalah batang pisang." Kata Almira.


"Setiap pagi dia pergi dan kemudian kembali di sore hari adalah untuk bergabung dengan kawanannya...dan masuk kembali ke tubuh aslinya serta meninggalkan tubuh kakek sendiri!!"


"Maksudmu, jika dia keluar dari tempat ini maka dia hanya meminjam tubuh kakek untuk sampai ke golongannya, melepaskan raga kakek dan membiarkannya sementara dia memakai tubuh aslinya sendiri, begitukan Mira??" kata Xavier.


Mata keduanya saling memandang dengan mesra satu dengan yang lain.


"Persis seperti itu, karena siluman yang masuk ke dalam tubuh kakek adalah jenis siluman kera, pemimpin bala tentara siluman anak buah ratu Hikaru...dan ngomong-ngomong itu mata di kondisikan ya...ada 3 jomblo merana di sini!!" seru Matsuyama kesal.


Almira dan Xavier tersentak dan tersipu malu mendengar ocehan Matsuyama.


"Maksudmu 3 jomblo itu siapa, Matsuyama??" tanya Serafin.


"Kamu tadi bilang apa, Matsuyama?" tanya Giandra.


"Bilang apa paman? jomblo maksud paman?" ulang Matsuyama.


"Bukan jomblo itu, tapi pemimpin siluman kera itu, bagaimana kamu bisa tau tentang siluman kera?" tanya Giandra.


"Ayahku yang banyak menceritakan jenis-jenis siluman yang jadi pengikut ratu Hikaru...dan kelompok siluman kera ini yang paling tangguh dan tinggi ilmu mereka di antara para siluman lain pengikut sang ratu."


"Malam itupun saat aku mengintip dalam ketakutan, aku juga melihat ekor di pantat kakek Dahlan." kata Matsuyama.


"Kenapa ekor itu tidak kamu tarik saja?" kata kakek Kojiro sambil melirik Matsuyama.


"Maksud kakek apa? kakek mau melihatku dicakar-cakar dan tercabik-cabik oleh siluman itu? apalagi saat itu dia tengah bersama dengan selingkuhannya." ujar Matsuyama gusar.


"Selingkuhan? siluman itu punya selingkuhan juga?" tanya balik Giandra tak mengerti maksud Matsuyama.


"Ya iyalah paman...selingkuhannya ya ratu Hikaru itu!!" sahut Matsuyama.


"Kok seorang ratu mau-maunya sama Siluman sih? siluman kera lagi!!" kata Giandra.

__ADS_1


"Paman, aslinya pemimpin siluman kera itu wajahnya sangat tampan tetapi karena dia salah masuk ke tubuh kakek Dahlan ya jadi ikutan burik juga!!"


Ucapan Matsuyama yang spontan dan tanpa disaring dulu itu menyebabkan mereka semua tertawa terpingkal-pingkal.


"Tapi tetap aja setampan apapun dia pasti berbulu dan berekor panjang!!" kata kakek Kojiro.


"Masalah berbulu itu bukan prioritas utama yang pentingkan batangnya besar dan bisa memuaskan hasrat ratu Hikaru."


"Bocah ini benar-benar tengil ya kalau bicara tanpa disaring dulu!!" kata Serafin.


"Maksudmu batang apa, Matsuyama? bicara yang jelas!!" kata Giandra mengulum senyum.


"Bang...batang apa sih yang di maksud oleh Matsuyama itu?" bisik Almira ke telinga Xavier.


Xavier memencet hidung mancung Almira dan mengacak rambutnya.


Anak kecil ngga boleh ikut-ikutan pembicaraan orang dewasa!!" bisik Xavier.


"Tapi Matsuyama kok boleh, bang??" kata Almira lagi.


"Matsuyama usianya kan lebih tua darimu, lagi pula kamu ngga usah ikut-ikutan membahas soal batang...nanti kepengen repot jadinya!!" ucap Xavier sambil senyum-senyum.


"Abang ini bicara apa sih?? Almira makin ngga ngerti..." bisik Almira kesal.


"Ya batang paman...Matsuyama juga ngga ngerti batang apa, Matsuyama hanya mendengar itu saat mencuri dengar pembicaraan ayah dan kak Hiro tempo hari sebelum kak Hiro pergi dan sebelum Matsuyama menyusul mereka kemari." sahut Matsuyama tanpa rasa bersalah.


"Lugonya anak Kakegawa ini...." kata kakek Kojiro setengah tertawa juga setengah kesal.


"Apa itu lugo kek??" tanya Matsuyama.


"Lucu dan guoblok abis!!" sahut kakek Kojiro lagi.


Bibir Matsuyama maju bersenti-senti mendengar ucapan kakek Kojiro padanya.


"Sudah...jangan cemberut gitu!!" kata Giandra sambil menepuk bahu Matsuyama sambil tersenyum geli.


*


*


***Bersambung...


Walaupun berupa roh tetap aja emosian bawaannya si kakek idola, Dahlan Tosiro.๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya selalu ya reader๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2