
"Salam buat Xavier dan Almira ya kek...salam juga buat bibi Serafin dan paman Giandra...Hiro hanya bisa membantu doa dari sini!"
Kedua kakek sakti itupun duduk bersila saling berpegangan tangan dengan pikiran fokus untuk menuju rumah.
Dan Wussss...
Seketika tubuh mereka lenyap dari pandangan mata Matsuyama, Hiro dan ayah mereka Kakegawa.
Bluk....
"Aduhhhhh...pantatku!!" teriak kakek Kojiro langsung cepat bangkit berdiri saat dia duduk di sisa pembakaran sampah tadi pagi.
"Tolong...tolong aku Kojiro..." teriak kakek Dahlan saat dia mendarat masuk ke dalam baskom press body dan tidak bisa lepas dari pantatnya.
"Wah...parah kamu, Tosiro...itu kan baskom kesayangan Serafin!!! pecah...pecah dah tu baskom!!" kata Kojiro tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan Serafin nantinya.
"Bunyi apa itu??" suara berteriak dari dalam.
"Suara siapa itu, yah??' teriak Serafin lagi!!
"Habis lah sudah kamu, Tosiro!! kita pergi aja yuk!!" lalu mereka berdua mengendap dan pergi sebelum Serafin membuka pintu belakang.
"Alamak...sisa sampah terhambur...baskomku pecah dua...tapi kok ngga ada siapa-siapa ya?? mungkin ada babi hutan nyasar kali ya!!" gumam Serafin.
*****
Air terjun itu mengalir dari ketinggian menuju sungai di bawahnya. Seorang wanita bergaun biru gelap sedang duduk seorang diri di hari gelap menjelang pagi itu.
Air matanya sudah lama berhenti mengalir. Sejak beberapa bulan terakhir ini dia selalu menghabiskan waktu di tepi sungai ini menunggu sinar matahari pagi menyinari seluruh tubuhnya.
Karena begitu sinar matahari itu mengenai tubuhnya, maka secara perlahan dia akan berubah menjadi wujud seekor naga besar.
Di awal perubahan itu dia menangis, menjerit, berteriak, marah pada keadaan mengapa harus dia yang menjalani takdir hidup seperti ini??
Mengapa takdir mempermainkan hidupnya? memisahkannya dari suami dan putra kecilnya yang masih butuh kasih sayang dan perhatiannya, masih membutuhkan asupan ASI darinya.
"Apa kabar kalian di sana sekarang? apakah kalian merindukan aku seperti aku yang merindukan kalian?"
Sebuah belanga besar berbentuk seperti cermin. Dari sana lah dia selalu melihat dan memantau keadaan suami dan putra kecilnya.
"Belanga sakti...tunjukan kepadaku...apa kabar anak dan suamiku sekarang??" katanya sambil tak hentinya menangis.
"Xander anak ibu...." dia terisak sedih saat bayi mungil berumur 3 bulan itu menangis dalam dekapan seorang lelaki tampan yang juga tengah terisak sedih.
"Cup...cup sayang...jangan menangis lagi ya!! kamu haus ya...kamu merindukan ibumu??"
"Almira...kembalilah sayang...abang merindukanmu...Xander putra kita merindukanmu...kapan kamu kembali sayang??" isakan Xavier bercampur tangisan Xander begitu memilukan hati.
Tiiiddaakkk...
Almira menjerit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mata sudah membanjiri bantalnya.
"Sayang...bangun sayang...kamu mimpi buruk lagi??" kata Xavier mendekap sayang istrinya yang masih terisak.
"Bang...Mira takut, takut pada setiap mimpi yang datang berulang-ulang dalam tidur Mira!! sepertinya mimpi itu adalah sebuah gambaran bahwa itulah nanti yang akan kita alami kedepannya!!"
"Sayang...berdoalah semoga kutukan yang menimpamu bisa segera dipatahkan....sekarang ayah, ibu, kakek Dahlan dan ayah Kojiro sedang pergi berkelana untuk memcari letak goa Simbra itu...semoga berbekal cincin sakti pemberian Hiro, lalu arahan yang diberikan oleh paman Axelo dan bibi Rayanna melalui paman Kakegawa bisa membantu mereka berempat."
"Jika kamu merasa kesepian di rumah ini, bagaimana jika kita tinggal di rumah ayah Kelvin?? di sana ada Alia dan Rafa yang bisa menghiburmu, kalau di sini jika abang pergi mengajar maka kamu hanya sendirian di rumah...Kadir??? Kadir sekarang ngga bisa diharapkan terlalu banyak lagi, karena sekarang Kadir juga sibuk...sibuk kencan dengan gadis-gadisnya."
"Baiklah bang, nanti sore kita pergi ke rumah ayah ya!!" sahut Almira.
"Sekarang kamu mau makan apa?? abang buatkan ya!! kita makan sama-sama...abang juga ngga ada jadwal mengajar hari ini!! Abang ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri abang tercinta!!"
Sementara menunggu Xavier memasak di dapur, Almira menatap kearah pantai lewat jendela kamarnya mengingat semua mimpi yang barusan dialaminya.
"Seandainya ayah dan ibu, kakek Dahlan dan ayah Kojiro tidak berhasil menemukan goa Simbra, atau jikapun mereka berhasil menemukannya tetapi tak berhasil memusnahkan jantung ratu Hikaru, akankah mimpi itu menjadi kenyataan?? bagaimanakah nasib keluarga kecilku nanti??" kembali pipi halus mulusnya dibanjiri oleh air matanya.
Xavier yang melihat istrinya dari balik pintu sedang menangis tak bisa berbuat apa-apa...sejujurnya dia pun takut hal itu akan terjadi, tetapi tak mungkin dia menambah beban pada sang istri selain memberikannya semangat agar istrinya tidak terus menerus tenggelam dalam kesedihan dan keputus asaan.
"Makan ya sayang...abang suapin ya...kasihan bayi kita jika kamu bersedih terus!!"
Xavier membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan segelas air putih. Dengan penuh kasih sayang dia membujuk istrinya agar mau makan.
******
__ADS_1
"Yah...sudah seminggu lebih kita melakukan perjalanan mencari keberadaan goa Simbra tetapi belum juga kita menemukan titik terangnya."
Giandra, Serafin, Kojiro dan Dahlan sedang beristirahat di tengah hutan di pinggir sebuah sungai.
Kakek Kojiro sedang mencari ikan dengan mengikatkan belati yang selalu dibawanya pada sebuah dahan pohon yang agak besar. Sementara kakek Dahlan mencari kayu bakar di sekitar pinggiran sungai.
"Malam ini kita menginap di sini saja ya...aku sudah lelah!!" kata Serafin pada Giandra suaminya.
Tampak Giandra mulai membuat api unggun agar mereka tidak kedinginan dan agar binatang buas dan binatang berbisa jadi takut untuk mendekat.
Serafin membersihkan tempat yang akan mereka jadikan tempat tidur malam ini.
"Semoga malam ini tidak turun hujan ya, yah...jika hujan turun, kemana kita akan berteduh??"
"Ya kita buka saja tenda darurat yang kita bawa ngga apa-apa berjejal-jejalan asal tidak kehujanan." Jawab Giandra.
Cukup banyak kayu bakar yang dibawa oleh kakek Dahlan dan ikan yang ditangkap oleh Kojiro.
"Wah...kita makan besar malam ini!!" kata Serafin.
"Aku akan merebus air dan membuat teh untuk menghangatkan tubuh kita malam ini!!" kata Serafin lagi.
"Wah...ikannya besar-besar kek!! hebat kakek bisa menangkap ikan sebanyak ini!!" puji Giandra yang membuat kakek Kojiro senang.
Malam itu mereka hanya makan ikan tanpa nasi. Serafin membuatkan teh untuk mereka semua dan memasukan sebagian air panas kedalam termos yang selalu dia bawa.
Ternyata apa yang ditakutkan Serafin sore tadi memang benar kejadian. Cuaca yang tadi tenang tiba-tiba memburuk. Angin berhembus kencang dan rintik-rintik kecil mulai turun. Di langit gelap menghitam tanpa bintang lagi seperti tadi.
"Waduh...benar dugaanku tadi sore!!" keluh Serafin.
"Seandainya hujan turun dengan deras tentu tenda yang kita bawa ngga bisa menahan derasnya hujan!!" jawab Giandra.
"Kita tidur di atas pohon saja...bereskan!!" jawab kakek Dahlan.
"Kamu pikir kita semua anak monyet!!" kata kakek Kojiro.
"Daripada kita semua larut dibawa air seperti anak kecebong??" kata kakek Dahlan.
"Memang sepertinya akan ada badai kek!!" kata Serafin memandang ke langit.
"Hei...lihatlah para burung dan kelelawar itu lari menuju belakang semak berduri itu, apakah ada goa di sekitar situ??" tanya Giandra menunjuk kearah rerimbunan semak belakar di kegelapan malam yang semakin pekat.
"Apa salahnya kita lihat ke sana??" kata Serafin lalu berdiri diikuti oleh suaminya.
"Aku di sini saja dulu aku amat kedinginan!!" kata kakek Dahlan duduk di depan api unggun yang apinya meliuk-liuk ditiup angin kencang.
Mereka bertiga berusaha menyibak semak belukar dalam gelapnya malam hanya di bantu oleh senter yang mereka bawa dari rumah.
"Kau benar yah, lihatlah...ada sebuah gua kecil yang pintunya hanya muat dimasuki oleh dua orang." Kata Serafin.
"Benar Sera, tempatnya juga berada jauh lebih tinggi dari pinggiran sungai tadi!!" kata Giandra.
Mereka mengecek keadaan di dalamnya dengan teliti takut ada sejenis ular goa, kalajengking atau apa pun yang bisa membahayakan mereka berempat nantinya.
"Kalian di sini saja aku akan memanggil Tosiro sekalian membantu mengangkat kayu tadi untuk kita buat perapian di sini!!" kata kakek Kojiro.
Giandra dan Serafin kembali membersihkan kotoran yang berserakan dengan bantuan senter di tangannya.
"Yah, kok banyak sisik-sisik ular sih?? besar-besar lagi dan warnanya putih seperti gigi...apakah ini goa ular ataukah ada ular besar yang berdiam di dalam sana?" tanya Serafin pada suaminya.
Giandra memeriksa apa yang dilihat Serafin tadi untuk meyakinkan pandangan matanya.
"Kau benar Sera, jika ini goa ular atau ada ular besar bersemayam di dalam sana berarti kita hanya akan mengantarkan nyawa saja dong jika berteduh di sini!!" kata Giandra.
"Jadi bagaimana ini, yah??" tanya Serafin.
"Sementara di luar sepertinya akan ada badai besar!!" kata Serafin.
"Perasaan ayah ngga enak Sera, ayo cepat kita keluar dari tempat ini!!" Giandra dengan cepat menarik tangan istrinya.
"Lho...lho...aku barusan mau angkut-angkut peralatan kita masuk ke dalam goa...kenapa jadi keluar lagi??" tanya kakek Kojiro sama kakek Dahlan.
"Lebih baik kita naik keatas pohon itu saja sepertinya lebih aman, jika sudah sampai di atas, ikat badan kita dengan dahan yang lebih kuat." Kata Giandra.
Akhirnya mereka berempat naik keatas pohon besar itu. Mencari dahan yang besar dan mengikatkan diri mereka agar tidak jatuh ke tanah.
__ADS_1
Tak lama badai besarpun datang. Pohon yang mereka tempati bergoyang-goyang ditiup angin. Tetapi sangking rimbunnya dedaunan pohon itu maka air hujanpun tak tembus masuk kedalamnya.
"Tiba-tiba pandangan kakek Dahlan secara tak sengaja mengarah pada goa yang tadi tidak jadi mereka tempati.
"Apakah kalian pernah melihat kalau goa itu punya kepala?" tanya kakek Dahlan sementara matanya tak berkedip menatap kearah goa dari atas pohon yang cukup tinggi sehingga orang dari bawahpun tak tau jika ada orang di atasnya.
Matanya terus menatap goa itu saat petir menyambar dia seperti melihat ada cahaya merah di sisi kiri dan kanan atas goa.
"Apa itu ya?" batin kakek Dahlan bergumam pada dirinya sendiri.
"Cahaya merah itu berkedip? hei..." teriak kakek Dahlan di tengah gemuruhnya suara hujan, petir dan kilat yang menerangi malam pekat yang gelap itu.
Tapi Giandra, Serafin dan Kojiro setengah terkantuk-kantuk sambil memeluk dahan pohon yang tertiup angin kencang jadi mereka sama sekali tak fokus pada ucapan kakek Dahlan barusan.
"Lho...lho...kemana goa itu tadi? kok hilang!! masa ada goa yang bisa menutup mulutnya? atau jangan-jangan benar kalau itu bukan goa tetapi ular besar yang sedang menganga membuka mulutnya untuk mencari mangsa?"
"Selamet...Selamet tadi ngga beristirahat di dalam goa itu, kalau tidak kami berempat pasti sudah akan beristirahat untuk selamanya alias mokat, meninggoy, modyar di dalam sana kehabisan napas."
Mata kakek Dahlan berpindah pada air sungai yang meluap dan tak lama banjir pun datang.
Untung pohon besar yang mereka tumpangi ini sangat kokoh sehingga tidak terseret oleh banjir.
Lalu pandangan kakek Dahlan berpindah pada tiga orang di depannya.
Dia jadi mau tertawa geli melihat keadaan mereka sekarang. Keadaan mereka sekarang seperti orang bodok...bodok yang menempel erat memeluk pohon seperti bayi gorila yang besar.
Mereka semua jatuh tertidur karena kelelahan yang teramat sangat ditambah lagi dengan cuacanya yang dingin luar biasa.
Menjelang subuh cuaca mulai sedikit terang.
Hoamhem....
Mereka berempat baru bangun tidur.
"Aduh ngga nyamannya, tidur dalam posisi seperti ini?" kata Giandra dengan cepat sambil menepuk bahu Serafin yang masih tertidur pulas dalam keadaan duduk.
"Benar dugaanku bahwa semalam goa besar yang kita lihat itu adalah mulut ular besar.
"Yah...kemana goa yang semalam kita lihat itu?" tanya Serafin setengah berteriak pada suaminya.
"Hah??" kata Giandra yang belum sepenuhnya mengumpulkan kesadarannya.
"Aduhhhh..." rintih kakek Kojiro.
"Pinggangku sakit banget...kedua kakiku terasa bengkak karena tidur dengan posisi menggantung seperti ini."
"Berkali-kali semalam aku akan jatuh tergelincir dari dahan pohon yang aku duduki, untung ikatanku pada dahan pohon ini cukup kencang!!" kata kakek Kojiro.
"Kamu bilang apa, Sera??? goa yang semalam menghilang??" ulang Giandra.
"Iya, yah...aku tuh yakin banget posisinya ada di dekat semak belukar itu...tetapi sekarang kok ngilang?? ngga mungkinlah aku ngehalu di pagi buta begini..." kata Serafin.
"Kalian semua sudah benar...yang semalam kita lihat dan sempat kalian masuki itu sebenarnya bukan goa melainkan mulut seekor ular besar!!" kata kakek Dahlan menimpali.
"Dari mana kamu tau, Tosiro??" ucap kakek Kojiro pada sepupunya.
"Ya, tau lah...aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ada sepasang cahaya merah di kiri dan kanan goa itu seolah berkedip-kedip terkena hujan semalam."
"Lalu pintu goa itu menutup dan perlahan bergeser mundur ke belakang sesaat sebelum air sungai meluap dan banjir entah perģi kemana mahluk itu." Kata kakek Dahlan.
"Mengapa kamu tidak mengatakannya kepada kami, Tosiro??" kata kakek Kojiro.
"Aku sudah ingin mengatakan pada kalian tetapi kalian sibuk berpegangan dan sibuk memandang kearah air sungai yang meluap dan banjir..." kata kakek Dahlan.
"Bagaimana jika kita turun dan melihat kearah hilangnya mahluk itu?? siapa tau kita bisa menemukan petunjuk lebih jauh!!" kata Giandra.
Lalu mereka berempat melepaskan ikatan masing-masing pada dahan pohon itu. Setelah dirasa air sungai benar-benar surut maka mereka melompat kedarat walaupun dengan sepasang kaki yang pegal semua karena bergelantungan di atas pohon semalaman suntuk sambil menahan dinginnya dari serangan hujan yang untungnya tidak terlalu menembus kerimbunan pohon tempat mereka memanjat.
*
*
***Bersambung...
Mahluk apa sebenarnya yang mereka lihat semalam? apakah ada hubungannya dengan apa yang mereka cari selama ini?
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya reader...terima kasih😊😊🙏🙏