Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 21 Serangan Kakek


__ADS_3

Aliandhara tersenyum-senyum ngga jelas melihat kebingunganku. "Dasar masih bocil..." Katanya!!


"Ngomong apa sih megalodon itu? Aku ngga ngerti sama sekali maksudnya."


Lalu aku balik ke paviliun untuk menemui kakek Dahlan.


Aku tak menemui kakek di kamarnya. Kuintip ke dalam kamarku tampak Kadir tidur melingkar di tempat tidur seperti gulungan kabel.


"Tidur si cacing bongsor..." Bisikku.


Aku berjalan ke halaman belakang. Belum juga aku menginjakan kakiku secara sempurna tiba-tiba lima buah pisau terbang meluncur cepat mengarah ke lima titik di tubuhku.


"Kakek gila ya? Mau membunuhku?"


Aku tak sempat banyak bertanya merangkai kata karena aku harus berpikir cepat untuk menghindari serangan mematikan dari kakekku sendiri.


Tiga serangan yang mengarah kepala, leher dan dada kuhindari dengan membuat gerakan melompat dan berputar tinggal dua serangan lagi yang mengarah kepinggang dan pahaku.


Hiattt...sambil memutar tubuhku di udara, aku membuat gerakan menendang gagang pisau sedemikian rupa sehingga ke dua pisau terbang itu berbalik menuju pemiliknya.


"Mampus...."


"Mau main-main denganku?"


"Dasar cucu edan...kamu mau membunuh kakekmu ini?"


Aku tertawa mengekeh. "Tiga tahun Mira memperdalam ilmu mengejar sukma itu kek, kakek rasakan sendiri ke dua pisau itu akan terus mengejar kakek sampai ke lubang undur-undur sekalipun."


""Kenapa dua pisau ini seperti punya mata, kok arahnya mau menuju otong kakek...aja!!"


Dengan gesit kakek melompat dan mendaratkan ke dua kakinya di atas gagang pisau terbang itu.


"Stop...stop...aku ini majikanmu...dasar pisau ngga ada akhlak."


Kakek sudah mendarat sambil tetap menginjak ke dua pisau itu.


"Lagian kakek sih main lempar aja, coba yang dilempar biru-biru sama yang merah-merah...langsung Mira tangkap ngga pake menghindar lagi."


"Cisss...kalo yang warna biru sama merah mendingan kakek bawa ke warung beli rokok sama cemilan.


"Rokok aja...ngemil aja...tuh obor isap tiup jadiin rokok...tuh kenanga beserta bunga dan daunnya cemilin."


"Lagian Mira kemari itu mau ngecek luka di bahu Mira...kakek malah di sini."


"Siapa juga yang berani masuk kalau bayi amazon itu tidur bergelung di atas kasurmu kayak kue cucur."


"Terus si Kadir kok tiba-tiba bisa nyelonong masuk dan tidur di kasur Mira, kek? Biasanya di atas pohon mangga.


"Ya mana kakek tau...di kerubungi semut rang-rang kali di sangka tali melungker."


"Lagian tuh anak angkatmu kan rada bodoh, kalo dia turun dari pohon mangga bukannya merayap, malah langsung lompat kayak spiderman."

__ADS_1


"Halah...berani jelek-jelekin Kadir pas tu bocah lagi tidur, coba pas lagi bangun...ngomong sama Mira aja jaraknya satu kilo."


"Ngga kedengeran kalo ngomong jaraknya satu kilo dodol..."


"Lagian apasih yang kakek takutkan dari Kadir? Dia itu anak yang manis, imut dan lucu!!"


"Walah....kepala gepeng, badan botak licin tak berbulu, hitam....lucu dari mananya?? Yang ada lucu kagak serem iya!!"


"Kayak situnya ngga hitam aja, berani-beraninya menghina Kadirku!!" Kataku menggerutu pelan takut kedengaran kakek Dahlan.


"Kamu ngomong apa bocah aneh? Kamu pikir kakekmu ini budek ya...ngga dengar kamu tadi barusan ngomong apa?"


"Emang Mira barusan ngomong apa?"


"Itu tadi kamu barusan ngomong kalau kakek tampan, padahal aslinya kakek kan hitam, walau tak sehitam Kadir sih..."


"Dasar tubek..."


"Apa itu tubek Mira?"


"Tuli budek..." Kataku.


"Dasar bocah kurang ajar...kakek sumpahin kamu agar nikah muda...terus punya anak banyak...."


"Ngga mau ah kek..."


"Cepat na kek, Mira mau minta liatkan luka di bahu Mira, karena masih terasa nyeri."


Aku mendekati kakek dan duduk bersila membelakanginya.


"Walah...."


"Kenapa kek??? Kok kayaknya kaget gitu?" Kataku juga kaget mendengar teriakan kakek.


"Lukamu jadi borok dan banyak belatungnya!!"


"Hah?? Serius kek?" Kataku mulai panik.


"Bercanda!!" Katanya lagi.


"Haduh...kalau ngga inget orang tua aja, kalau ngga inget takut kualat, sudah Mira ajak berantem..." Aku mendengus kesal.


"Ngga Mira, dokter hipet itu memang hebat kok...kakek mengakuinya."


"Dokter hipet siapa kek? Lagian tadi pagi mana ada di obati dokter.


"itu hipet...si hitam pekat yang lagi ngorok di atas kasurmu."


"Lidahnya manjur juga, lukamu mengering dalam hitungan jam terus luka yang menganga karena bengkak tadi, mengempes dan merapat kembali."


"Nyeri tadi paling tulangmu aja yang keseleo."

__ADS_1


Aaaahhhhh


"Siapa lagi itu yang teriak-teriak di dalam?" Aku dan kakek memandang ke dalam paviliun.


Aliandhara lari terbirit-birit ke belakang sambil menggendong Rafa.


Hosh...hosh...


"Aduh...kupikir yang ada di atas kasurmu itu gulungan kabel, sekalinya Kadir lagi tidur...untung dia ngga tau kalau aku dan Rafa masuk."


Nafas Aliandhara turun naik tak beraturan.


"Mommy...Rafa melorot turun dari gendongan daddynya dan lari ke dalam pelukanku."


"Mommy...ada Kadiy bobo di atas kasuy...daddy atut..."


"Daddymu itu memang kok, jangankan sama Kadir...liat bayangannya sendiri aja di dinding dia sudah kabur."


"Makanya mommy jangan jauh-jauh dari kita!!! Kalau ada mommy di samping daddy dan Rafa...kita pasti ngga akan penakut lagi!!" Aliandhara tersenyum kecut.


"Jadi bagaimana lukanya Almira kek?" Aliandhara bertanya serius.


"Luar biasa...lukanya sudah kering dan menaut kembali."


"Syukurlah...saya lega jadinya." Kata Aliandhara.


"Mira, kamu ngobrol dulu dengan tuan muda dan tuan kecil ya...kakek mau mandi dulu."


"Mom, dua hari lagi ulang tahunnya Rafa yang ke dua, rencananya daddy mau merayakan bertiga dengan mommy di restaurant."


"Kasihan Rafa...sebulan sekalipun belum tentu diajak pergi keluar, daddy selalu sibuk di kantor pas pulang ke rumah Rafa sudah tidur."


Kami duduk bertiga di bangku taman. Rafa duduk di pangkuanku sementara Aliandhara duduk di sebelahku.


"My, sekarang usia mommy sudah berapa?" Tanya Aliandhara.


"Kenapa tuan muda menanyakan itu? Kok tumben?" Aku berpaling dan menoleh padanya.


Kami berdua saling berpandangan. Baru kumelihat dengan jarak sedekat ini, pemilik mata hazel itu.


Biasanya kami selalu bertengkar, biasanya dia selalu mengganggu dan menggodaku. Sekarang dalam keadaan dia diam, aku bisa melihat betapa tampannya tuan muda ayahnya Aliarafa ini.


Bahkan ketampanannya tak kalah dengan Xavier, hanya saja sifat ke duanya yang jauh berbeda. Xavier dengan segala kelembutan dan kesabarannya. Sementara Aliandhara dengan sifat seriusnya tapi bisa berbalik dengan ke kocakannya yang sangat menjengkelkanku.


"My, kalau usia mommy sudah genap 17 tahun nanti, daddy akan melamar mommy...kita akan bertunangan dulu, tahun depan baru kita menikah."


Uhuk...uhuk....Aku langsung tersedak air liurku sendiri.


Sementara kakek Dahlan memandang dari kejauhan sambil tersenyum melihat ke dekatan kami.


***Bersambung....

__ADS_1


Aliandhara belum tau bahwa Valeria menyusun rencana untuk kembali, akankah dia bisa menepati janjinya saat sang mantan kembali nanti? Jangan lupa tekan like, komen, vote, favorit dan rate nya ya...😊😊


__ADS_2