
Almira menatap Matsuyama dari kepala sampai kaki lalu balik lagi dari kaki sampai kepala lalu menggeleng.
"Kamu bukan tipeku...kamu terlalu imut, salah-salah malah aku yang selalu melindungimu dan bukan kamu yang akan melindungiku!!" jawab Almira.
"Eitsss...jangan kamu salah Chucky, walaupun aku imut, aku tetap laki-laki lho!!"
"Yang bilang kamu perempuan itu siapa Cowi...sudahlah, ayo masuk kedalam kamu bisa menunggu aku selesai mengikuti mata kuliah mau di kantinkah, mau di perpustakaan atau mau jalan-jalan di sekitaran kampus."
Akhirnya kami berdua masuk kedalam berdua.
"Kenapa kamu tidak tinggal di sini dan berkuliah di sini aja. Cowi?" tanya Almira saat mereka jalan beriringan menuju perpustakaan.
"Aku sih mau aja, tetapi belum tentu aku diijinkan oleh ayah dan ibu!! aku bisa keluar dari lembah karena ayah mengutusku untuk mencari dan menjemput kak Sima san membawanya pulang kembali keperguruan." Kata Matsuyama.
"Kamu mau ikut aku saat kembali kelembah jika tugasku di sini nanti sudah selesai, Chuky?" tanya Matsuyama padaku.
"Supaya aku bertemu dengan Hiro dan istrinya, begitu maksudmu?" tanyaku.
"Bukanlah, kitakan berteman...tak ada salahnya teman yang baik mengajak temannya mampir kerumahnya..." kata Matsuyama.
"Boleh juga, aku sering bermimpi tentang negerimu yang indah itu...aku juga ingin kesana suatu hari nanti!!" jawabku.
"Siapa tau kita bisa langsung dinikahkan oleh ayahku di sana nanti!!" jawab Matsuyama ngasal.
"Aku ngga mau sama kamu dengan wajah imut dan muka bayimu itu..." cibirku.
"Jika wajahku macho dan tidak imut lagi kamu mau kan sama aku?" tanya Matsuyama sambil menaik turunkan alisnya.
"Ngga...." jawabku singkat sambil melangkah meninggalkannya.
"Cowi...lihat...itu Sima kakakmu kan?" tunjukku pada Sima yang sedang berbincang-bincang sama teman satu jurusannya.
"Eh benar..."
"Kak, kak Sima!!!"
Matsuyama bangkit dan berlari kearah Sima. Sima yang kaget dengan cepat menguasai diri lalu menghilang lagi dari tempat itu.
"Yah hilang lagi...licin betul kakakku ini seperti belut...seperti aku ini debt colector aja ngejar-ngejar dia mau nagih hutang!!"
Yang ada Matsuyama malah dikerubuti kakak tingkat Almira...ada yang mencubit pipinya, ada yang menoel dagunya..."
"Ihhh imutnya....gemezzzz!!" kata mereka.
"Anak SMP dari mana nih nyasar kesini??"
Membuat Matsuyama harus lari tunggang langgang menghindari mereka.
__ADS_1
Dari balik persembunyiannya Sima tertawa mengejek adiknya lain ibu tersebut.
"Mampus...rasakan olehmu bocah tengil!! mau bermain-main denganku??" tawanya kembali mengekeh.
"Sini Cowi...kenapa kamu termehek-mehek begitu?" aku menarik tangannya sembunyi di balik pohon sampai mereka yang mengejar Matsuyama hilang dari pandangan.
"Gila tuh cewek semua, maniak banget!!" seru Matsuyama dengan nafas terengah.
Almira hanya tertawa geli mendengar keluhan Matsuyama.
"Gimana kamu mau mencari Sima kalau baru setengah jalan aja kamu sudah dikerjai habis-habisan oleh kakakmu itu."
"Kamu tunggu aku aja di perpustakaan ya...nanti setelah selesai mata kuliah aku akan menyusulmu kita kekantin sama-sama, tapi kamu yang bayari aku ya!!" sambil nyengir Almira berlalu meninggalkan Matsuyama yang menggerutu panjang pendek.
*
*
"Gio, apakah adikmu baik-baik saja?" tanya Serafin pada Xavier Giovanno.
Xavier mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Almira.
"Ibu lihatlah, ini Almira adikku dan dulu juga sempat menjadi kekasihku..." Xavier tersenyum kembali mengenang kebersamaannya selama beberapa waktu bersama Almira.
"Maafkan kami Gio...ada hal yang seharusnya kalian tau tapi tidak sekarang," Batin Serafin menatap putra sahabatnya itu dengan iba.
Mereka berdua kelelahan dan duduk di bawah sebatang pohon.
"Giandra, Xavier itu mirip siapa ya kok ngga mirip dengan salah satu dari kalian? kalau Almira wajahnya lebih mirip denganmu tetapi bola matanya biru seperti bola mata Serafin."
Giandra menatap sesaat pada Kojiro lalu dia tersenyum.
"Giovanno itu bukan anak kandung kami kek!! dia anak sahabatku. mereka berdua seorang prajurit dan mereka berdua gugur dalam peperangan."
"Aku dan Serafin iba melihat Giovanno yang waktu itu masih berumur dua tahun...dari pada dia dititip di panti asuhan, mending kami berdua yang merawatnya."
"Lagi pula saat itu kami berdua belum mempunyai anak jadi anggaplah Giovanno sebagai pancingan agar Serafin bisa hamil."
"Apa? jadi Xavier dan Almira itu bukan saudara kandung?" tanya Kojiro lebih menggeser duduknya ke dekat Giandra.
"Terus apakah mereka saudara sepesusuan juga?" tanya kakek Kojiro lagi.
"Tidak kak, Almira lahir saat Giovanno sudah berumur 5 tahun!!" jawab Giandra.
"Kamu tau Giandra, Xavier dan Almira itu saling mencintai satu dengan yang lain...tetapi terpaksa mereka harus saling melupakan satu dengan yang lain pula karena ada ikatan darah di antara mereka berdua."
Kojiro menjelaskan sambil berkali-kali menghela napasnya.
__ADS_1
"Aku sendiri sebagai ayahnya juga merasa sakit saat Xavier anakku terluka..." kata kakek Kojiro.
"Bisakah kita berempat menyeberang untuk kembali menemui putriku, kek? aku dan istriku begitu merindukannya, bayangkan saja saat usianya baru satu bulan kami harus berpisah untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
"Pasti...aku pasti akan mengantar kalian menemui putri kalian!!" kakek Kojiro menepuk pundak Giandra.
Sebaiknya cepat kita selesaikam tugas kita memanen sayuran ini sebab pembeli dari kota akan datang nanti siang kalau semua urusan cepat selesai aku bisa mengantar kalian keseberang untuk menemui putri kalian.
*
*
"Amunah...siapa laki-laki kulit pucat yang bersama denganmu ini?" Xavana langsung menarik tangan Almira yang berniat pulang bersama Matsuyama.
Rencananya mereka berdua hari ini akan makan dan nonton bioskop bareng.
Entah mengapa Almira begitu suka berteman dengan Matsuyama. Selain usia mereka yang hanya terpaut dua tahun, selain itu keduanya sama-sama asyik, tengil, suka bercanda dan menyukai petualangan.
"Siapa maksudmu kulit pucat?" tanya Almira pada Xavana.
Xavana menunjuk tepat di depan jidat Matsuyama.
"Laki-laki sontoloyo ini yang kumaksudkan si kulit pucat!!" katanya sambil menatap tak senang pada Matsuyama.
"Namanya bukan si kulit pucat, namanya juga bukan si sontoloyo...dia punya nama yang bagus, namanya Matsuyama...seenaknya saja kau mengganti nama temanku ini?" Mira nampak sangat tak suka dengan kelakuan Xavana.
"Dengar Amunah...aku pacarmu, aku berhak melarangmu dekat dengan laki-laki manapun selain aku!!" Xavana tampak sangat marah mendengar Almira membangkangnya.
"What??? pacar??? halo tuan pemarah??? sejak kapan kita resmi pacaran?? pacarku, kekasihku cuma satu hanya Xavier Giovanno walaupun kami tidak bisa bersatu tetapi aku tetap menyayangi dia sepenuh hatiku!!"
"Sekarang kamu melarangku dekat dengan siapapun, apa hakmu?" Almira berteriak dengan lantangnya.
Merah padam wajah Xavana menahan kesal dan marah.
"Keterlaluan kamu Amunah...tak ada seorang wanitapun berani menolakku apalagi hanya gadis ingusan sepertimu!!"
Mira hanya tersenyum dingin lalu diapun berkata," sudah tau aku hanya gadis ingusan mengapa kamu suka padaku? tidak semua wanita akan tertarik pada pesonamu, contohnya aku...aku tak tertarik sama sekali dengan pesonamu, bahkan kekayaanmu tuan Xavana Anderson!!"
*
*
***Bersambung...
Babang Xavana jengkelin ya...enak aja mengklaim Mira sebagai pacarnya😁😁
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya readers...
__ADS_1