Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 188 Menjadi Raja Lagi


__ADS_3

"Paman, ada yang ingin Tristan sampaikan kepada paman Bilygong tetapi karena paman Bilygong tak ada di tempat, sebaiknya Tristan menyampaikannya kepada paman Alnan saja." Kata Tristan menarik napasnya dulu sebelum melanjutkan pembicaraannya.


"Paman...Tristan mohon maaf yang sebesar-besarnya pada paman jika Tristan telah berani lancang dan kurang ajar."


"Paman, sebenarnya mahkota dan batu merah delima sebagai lambang kerajaan ini sudah Tristan dan Almira kuasai.


Tristan berhenti sebentar untuk melihat reaksi dari paman Alnan tetapi wajah orang tua itu datar-datar aja!! lalu Tristan melanjutkan lagi ceritanya.


"Sekarang Tristan mohon petunjuk paman Alnan apa yang harus Tristan lakukan!!"


"Sebenarnya di satu sisi Tristan tidak ingin melakukan ini tetapi di sisi lain, Kebebitak telah lebih dahulu menyerang kerajaan kami, padahal walaupun kerajaan kita bermusuhan sejak lama namun tak pernah sedikitpun terlintas di dalam benak ratu kami untuk menyerang kerajaan kalian, maka begitu mendengar dari mata-mata yang menyatakan bahwa Kebebitak dan pasukannya mau menyerang istana kami maka ratu Nilakandi mengutus kami berdua untuk menyusup ke dalam kerajaan kalian untuk mengambil mahkota dan batu metah delima itu maksudnya ratu Nilakandi ingin menaklukan Kebebitak tanpa harus ada banyak jatuh korban yang tidak berdosa!!" kata Tristan.


Paman Alnan mengangguk lalu mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Tristan dan Almira terkejut.


Sebenarnya kehancuran kerajaan ini sudah lama tertulis dalam ramalan bahwa ada seorang dari bangsa naga bakal menaklukan kerajaan ini tetapi tidak di katakan siapa itulah mengapa Kebebitak memaklumatkan permusuhan kepada bangsa naga karena ramalan itu."


"Ternyata kamulah orangnya, Tristan!! paman tau kamu orang baik kamu tidak ingin mengorbankan rakyat yang tak berdosa karena ambisi dari Kebebitak."


"Itulah mengapa Tristan datang kemari untuk berunding paman, bagaimana ini baiknya...jika terus dalam kekuasaan Kebebitak, maka rakyat akan sengsara selamanya." Kata Tristan.


"Sebaiknya kita ke istana dan berunding di sana." Kata paman Alnan.


"Paman maaf, sepanjang perjalanan kami kemari tadi kami banyak melihat rakyat kalian keleleran dan kelaparan, mengapa bisa terjadi demikian, paman??" tanya Almira buka suara setelah sekian lamanya terdiam.


"Begitulah tuan putri, demi ambisinya maka Kebebitak dan para pongggawanya menarik pajak sangat besar untuk para rakyatnya!!" kata paman Alnan.


"Pertama jangan memanggilku tuan putri karena aku tidak suka, kedua apakah tidak lebih baik rakyat dibebaskan dari segala aturan pajak itu paman?? kasihan mereka yang sudah hidup susah jadi bertambah miskin!!" kata Almira dan dibenarkan oleh Tristan.


Makanan sudah siap??? sebaiknya nak Tristan dan istrinya makanlah dulu baru kalian kembali keistana!!" bibi Taran memanggil ketiga untuk bersantap.


Kembali Almira cemberut mendengar bahwa dia disebut sebagai istri Tristan.


"Maaf bi, paman...Almira ini bukan istri Tristan, kami hanya berteman saja!!" kata Tristan sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah makan maka ketiganya segera berangkat menuju istana, dan anehnya sepanjang perjalanan rakyat malah berduyun-duyun datang menuju ke istana dan membawa apapun yang mereka miliki untuk makan besar di alun-alun istana.


"Lihatlah para rakyat itu Tristan, Almira...mereka tampak senang sekali melihat kejatuhan dari pemerintahan Kebebitak, mereka sangat berharap akan naiknya seorang raja baru yang akan membawa mereka pada kemakmuran, kejayaan serta ketenangan, dan bukan membawa mereka selalu kedalam suasana yang menegangkan karena peperangan juga kemiskinan." Kata paman Alnan sepanjang perjalanan mereka.


***Flashback off***


Setelah mengadakan perjamuan, mereka kembali melanjutkan perundingan yang tertunda.


Rakyat kera di luar sana menginginkan Bilygong untuk naik tahta kembali dan mereka semua yang ada di situ sangat mendukung keputusan rakyat itu.


"Tapi bukan saya yang harusnya menjadi raja tetapi Tristan karena dialah yang telah berhasil merebut mahkota dan batu merah delima itu!!" kata Bilygong.


Tristan tersenyum mendengar perkataan Bilygong barusan.


"Paman, Tristan itu hanya perantara saja...bukan Tristan yang pantas jadi raja tetapi paman Bilygong..."


"Hidup raja Bilygong...hidup raja Bilygong!!" teriak Tristan yang diikuti oleh sorak sorai rakyat di luar istana.


Akhirnya tanpa menunggu kedatangan Kebebitak kembali, Bilygong naik kembali menjadi raja seperti semula, walaupun usianya tidak muda lagi tetapi kebijaksanaannya dan kecintaannya kepada rakyatnya membuat mereka tak pernah melupakan Bilygong sebagai raja mereka.


"Sekarang ayah tidak usah keluyuran kedunia manusia lagi, jika Xavana merindukan ayah, Xavanalah yang akan mengunjungi ayah kemari." Kata Xavana.


"Satu lagi...!!" teriak Bilygong lantang.


"Inilah adalah pangeran Xavana...dia putraku dari Xiexie istri manusiaku dulu...jika pangeran Xavana dan kawan-kawannya itu datang kemari, bukalah pintu untuk mereka semua, kalian paham??" teriaknya lantang.


"Paham!!!" teriak mereka bersemangat.


*****************


"Tuan Senopati, bagaimana ini?? belum juga masuk kedalam istana Bara Seta tetapi pasukan kita sudah berkurang setengahnya??" teriak seorang tamtama pada senopati kepercayaan Kebebitak itu.


Para prajurit yang tersisa semakin merasa was-was...suasana di sekitar itu terasa makin mencekam apalagi bau anyir darah dan mayat teman-teman mereka semakin membuat mental mereka yang tersisa semakin memciut.

__ADS_1


Senopati itu sebenarnya juga sudah mulai bercabang pikirannya antara terus maju dengan taruhan nyawa ataupun mundur juga dengan taruhan nyawa.


"Bagaimana ini tuan senopati, tuan harus cepat memutuskan sebelum pasukan kita terbantai sia-sia di tempat ini."


"Sebaiknya kita memilih untuk mundur dulu sambil kita mempelajari dulu strategi musuh!!" ucap Senopati itu.


Sementara di tempat kediaman Bara Seta...


"Bagus Rangga...strategi kita berhasil, setidaknya dengan pasukan mereka yang hanya tersisa setengahnya mampu membuat mereka berpikir ulang untuk menyerang istana ini!!" kata Bara Seta saat mereka mengadakan perundingan di tempat rahasia mereka.


"Ayah, Rangga mau pulang dulu menjenguk istri Rangga, yah!!" kata Rangga lagi.


Rangga meninggalkan pertemuan untuk pulang menjenguk Bonita setelah berhari-hari dia dan pasukannya menyusun strategi penyerangan dan pertahanan terhadap musuh.


Kita kembali dulu ke peternakan di mana Matsuyama sudah semakin galau karena Almira sudah berbulan-bulan pergi tak ada lagi kabar beritanya.


Revita dan Xander sudah dijemput oleh tuan Kelvin kembali ke mansion. Rana dan Rini setelah menyelesaikan kesalah pahaman mereka dengan Matsuyama akhirnya kembali meneruskan perjalanan mereka untuk mencari pembunuh ibu mereka sebenarnya.


"Miranda, ihhhh pintarnya cucu kakek sudah bisa merangkak sampai ke pagar!!" teriak Giandra yang mendapati cucunya mulai merangkang ke pagar halaman.


Mata Matsuyama berembun melihat Miranda tumbuh sedari bayi merah hingga sudah berusia tujuh bulan begini tanpa kehadiran ibunya lagi di sampingnya.


Setiap hari Miranda mengoceh mengatakan ma...ma...ma...ma yang membuat hati Matsuyama terasa pedih.


Waktu dia dan Almira berpisah dulu belum dalam keadaan baik-baik saja, masih ada kesalah pahaman di antara mereka yang belum terselesaikan.


"Hei...kok kamu malah melamun di situ?? kemarikan Miranda biar ibu mandikan, hari sudah sore!!" kata Serafin pada Matsuyama yang sontak mengagetkan ayah satu putri itu!!


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Lanjut ke next episode ya reader...ikuti terus kisah mereka selanjutnya🙏🙏


__ADS_2