
Matsuyama mendekatinya lalu...
Fuih...
Dia meniup kencang dan ajaib mata mahluk itu tidak buta lagi dan membuat Bara Seta sangat kagum padanya!!
"Nah gelarmu sebagai si buta dari goa hantu sudah dicabut sekarang!!" kata Matsuyama menepuk bahu mahluk itu.
"Kami pergi dulu Giandra...Matsuyama, jagalah cincin itu baik-baik...semoga kamu bisa mengambil pasangan cincin yang lain...aku tahu kamu orang baik dan hatimu sangat mulia Matsuyama!!"
Lalu Bara Seta menghilang dari pandangan mereka bertiga.
"Siapa tadi nama mahluk yang menyamar menjadi kakek Abraham dan selalu meminta tumbal itu, yah??" tanya Matsuyama.
"Kayatai" sahut Giandra.
"Apa?? Kayak tai??" ulang Matsuyama.
"Ngga pakai huruf K ditengahnya Matsuya dan ngga dipisah tulisannya supaya tidak mempunyai arti yang lain!!" jawab Serafin.
Sementara di tempat lain...
"Lapor yang Mulia Kebebitak...mereka berhasil menemukan keenam jenazah yang dikubur di bawah ladang jagung itu tetapi yang lebih utama lagi si gondrong Matsuyama itu kini memakai pasangan cincin keramat itu!!" jawab Kayatai.
"Sial...."
Brakk...
Bangku batu pualam yang menjadi singgasana Kebebitak hancur dipukulnya.
Kayatai melirik sambil berpikir, "jika itu bangku batu hancur terus yang Mulia Kebebitak duduk di mana??" pikirnya.
"Bocah gondrong yang sedikit sengklek otaknya itu lagi yang cari gara-gara denganku...kenapa aku ditakdirkan untuk selalu bertemu.dengannya??" geram Kebebitak.
"Kamu awasi terus si gondrong itu, jika ada kesempatan maka ambil dan curi cincin itu dari jarinya." Titah Kebebitak.
"Baik yang Mulia, lalu saya harus menyamar jadi siapa lagi yang Mulia?" tanya Kayatai.
"Terserah kamu mau menyamar jadi siapa saja asal kamu jangan menyamar menjadi Almira atau anjing peternakan itu."
"Kalau kamu menyamar menjadi Almira berarti kamu sama saja menghantarkan nyawamu secara suka rela dengan mereka dan jika kamu menyamar menjadi anjing peternakan, kamu bisa habis juga dihajar oleh kedua ekor anjing itu."
"Perlu kamu ketahui bahwa kedua anjing itu bukan anjing sembarangan...mereka adalah anjing dari dunia bawah tanah, yang memiliki racun jahat di setiap gigi dan kuku-kuku mereka."
"Jangan tertipu dengan wajah imut mereka yang menggemaskan." Kata Kebebitak lagi.
Kayatai undur diri dari hadapan Kebebitak dan kembali menyamar menjadi orang lain yang tak dikenali siapapun.
Bilygong geram melihat kelakuan putranya yang sudah bertindak terlalu jauh.
Putra dari istri pertamanya itu mewarisi sifat istrinya.
Serakah, tamak, jahat, tak bisa mengendalikan nafsunya dengan menggauli banyak wanita cantik, juga rakus kekuasaan.
"Apa yang sekarang harus aku lakukan?" gumam Bilygong.
"Aku ibarat hanya sebutir debu di istanaku sendiri, semua kuasa telah diambil alih oleh putraku sendiri, tetapi kejahatannya telah kelewat batas dan aku sebagai ayahnya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.
Bilygong masuk kedalam goa yang menjadi pintu pembatas dunia siluman dan dunia manusia.
Tujuannya hanya satu untuk bertemu Xavana putranya dari Xiexie istri manusianya yang sangat dia cintai.
Bersama dengan Xavana dia merasakan ketenangan dan kedamaian.
Dia lebih nyaman di dunia manusia bersama Xavana daripada di istana bersama Kebebitak.
Bilygong duduk sendiri di tepi teluk menatap matahari yang akan tenggelam.
"Ayah..."
Xavana berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
Senyum Bilygong terkembang saat melihat Xavana putranya.
"Mengapa ayah lama baru kemari??" tanya Xavana sambil memeluk Bilygong ayahnya.
Ayah banyak urusan nak, begitu pula denganmu kan??" tanya Bilygong.
Mereka duduk di tepi laut membelakangi teluk menatap senja di dekat teluk.
"Apa yang terjadi yah...mengapa ayah bermuram durja seperti ini!! Kata Xavana.
Akhirnya Bilygong bercerita pada Xavana.
"Ayah ikut dengan Xavana aja kerumah ya...ayah sudah tua, sudah waktunya hidup damai tak terlibat masalah apapun." Kata Xavana menggenggam tangan ayahnya.
"Lalu bagaimana dengan daddymu?? apakah dia akan bisa menerima ayah yang hanya seorang siluman ini?" tanya Bilygong.
"Ayah itu siluman yang baik, jangan kata melukai manusia, melukai seekor lalatpun ayah tak tega!!" kata Xavana membesarkan hati ayahnya.
*****
"inikah kediamanmu dan daddymu, Xavana?" tanya kakek Bilis memandang terkagum-kagum pada mansion tuan Anderson.
"Masuklah yah, daddy ada di dalam!!" ajak Xavana.
Kakek Bilis mengikuti Xavana masuk menemui tuan Anderson yang sedang bersantai.
"Daddy??"
__ADS_1
"Kamu sudah pulang Xavana??" lalu tuan Anderson mengalihkan tatapannya pada kakek Bilis.
"Siapa orang tua ini?? aku seperti pernah melihatnya tapi di mana ya??" pikir tuan Anderson.
"Halo tuan Anderson!!" kakek Bilis membungkukan sedikit badannya pada tuan Anderson.
"Apakah aku mengenalmu, orang tua?" tanya tuan Anderson.
"Aku seperti pernah melihatmu tapi aku lupa di mana!!" kata tuan Anderson.
"Aku adalah Bilygong, suami pertama dari Xiexie!!" kata Bilygong alias kakek Bilis.
Tuan Anderson terdiam menatap lekat seseorang yang pernah dia ambil istrinya itu.
"Maafkan aku!!" kata tuan Anderson.
"Sudahlah tuan Anderson...itu adalah masa lalu...aku mestinya berterima kasih kamu telah menyayangi istriku dan merawat putraku...anggaplah dia putramu juga." Kata Bilygong.
Lalu kedua orang yang berbeda dunia itu saling berpelukan.
"Tinggalah di sini Bily...temani Xavana di sini, walaupun dia sudah sedewasa itu, tetapi dia sering merasa kesepian!!" kata tuan Anderson.
Xavana sangat senang melihat keakraban antara ayah kandung dan ayah sambungnya itu.p
******
"Dayang....dayang...." teriak Kebebitak.
Semenjak kemarin dia tak melihat ayahnya, karena kesibukannya beberapa hari ini membuat dia mengabaikan orang tua itu.
"Iya tuan panglima?? ada apa tuan memanggil saya??" tanya dayang istana kecil tempat Bilygong tinggal selama ini.
"Kemana ayahku, dayang??" tanya Kebebitak!!
"Kemarin tuan Bilygong pamit mau berjalan-jalan di tempat biasa tuan Bilygong pergi tetapi sampai hari ini tuan belum juga kembali!!" kata dayang tua itu.
"Ayah sekarang lebih senang di luar istana dari pada di dalam istana bersamaku !!" kata Kebebitak pelan.
"Biarkan saja tuan besar menenangkan pikirannya, tuan panglima...jika sudah bosan di luar sana pasti tuan besar akan kembali ke istana lagi !!" kata dayang itu.
"Ya sudah dayang, jika ayahku pulang...beritahu aku mencarinya!!" kata Kebebitak.
Akhirnya Kebebitak pulang ke istananya.
Sudah berhari-hari dia tidak merasakan kehangatan wanita. Oleh sebab itu dia buru-buru pulang ke istana untuk menggilir ketiga wanitanya, Shiera, Levia dan Valeria.
Sesampainya di kamar Valeria dilihatnya wanita itu sedang berendam dalam bak besar bertabur aneka bunga. Tanpa ba...bi...bu lagi dia melepas seluruh pakaiannya tanpa tersisa dan ikut melompat masuk kedalam bak mandi membuat Valeria menjerit karena terkejut tak menyangka lelaki siluman itu akan masuk kedalam bak pemandiannya.
*****
📱"Sayang...bagaimana kabarmu dan anak-anak di sana?"
📱"Matsuya...kenapa beberapa hari ini kamu tak pernah menelponku??"
📱"Tetapi kalian di sana baik-baik aja kan??"
📱"Daddy...aku dan Xander mau pulang ke peternakan...aku kangen!!"
📱"Aku juga kangen sayang...tapi sabarlah dulu...aku takut nanti malah membahayakan nyawamu dan Xander, sayang..."
📱"Sebenarnya di peternakan ada masalah apa? apakah serius??"
📱"Pokoknya kamu dan Xander tenangkan diri dulu di sana, sayang...begitu suasana aman maka aku akan menelponmu!!"
📱"Baiklah sayang, i love you!!"
📱"I love you too!!"
Telepon Matsuyama di tutup. Mira merasa sedih sekali. Dia dan Matsuyama menikah baru satu bulan saat Aliandhara meminta Rafa kembali karena Valeria hilang.
Bahkan hingga kini pihak kepolisian pun masih mencari jejak wanita itu yang bagaikan hilang di telan bumi.
Dari balik jendela Raga menguping pembicaraan Almira via telepon yang diyakini Raga adalah Matsuyama.
Wajahnya memerah, dadanya terasa bergemuruh dan akan meledak.
"Seenaknya kamu berkata-kata mesra dengan lelaki lain selain abang, Mira!! abang tidak rela mendengar istri abang bermesraan dengan lelaki lain di telepon!!" gumam Raga.
"Dia seolah lupa bahwa dia dan Almira kini sudah bukan siapa-siapa lagi...baginya istrinya adalah Almira dan bukanlah Sullivan dan putranya adalah Xander.
"Raga?? kemari!! mengapa kamu bengong di situ??" kata Almira memanggil Raga yang memangkas rumput sambil termenung.
Papapah...
Xander tampak mengoceh dipangkuan Almira.
"Bukan sayang...itu bukan daddymu...itu uncle Raga ya...daddy tidak ada di sini!!" kata Almira pada putranya.
Hati Raga terasa sangat sakit mendengar apa yang diucapkan Almira. Ingin rasanya dia berteriak mengatakan bahwa dia adalah ayah dari Xander, tetapi mungkinkah?? salah-salah Almira akan membenci dia selamanya.
"Sini sama om Raga..."
Setelah mencuci bersih tangannya dan membuka baju luarnya dan mengganti dengan baju lain, Raga mengangsurkan tangannya pada Raga.
Sejenak hati Almira berdesir. Dia sempat melihat saat Raga membuka baju luarnya dan menggantinya dengan baju bersih karena akan menggendong Xander.
"Dada bidang itu?? walaupun dia bungkuk tetapi dada itu begitu bidang mengingatkan aku pada dada seseorang!!" bisik Mira.
Almira menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Mengapa aku harus mengingat kembali laki-laki yang telah menghancurkan hidupku??"
Raga yang tentu saja bisa membaca pikiran Almirapun juga merasa terpukul, karena takut tak bisa menahan air matanya lalu dia segera menggendong Xander dan mengajak bocah itu berkeliling taman.
Tuan Kelvin dan Alia yang melihat Xander akrab dengan Raga jadi bingung.
"Xander akrab sekali dengan Raga ya, yah!! seperti ayah dan anak saja!!" kata Alia.
"Hush...ngawur kamu ini kalau bicara, Alia!!" kata tuan Kelvin.
******
Suasana di peternakan terasa lebih terang saat ladang jagung dan gandum telah di panen dan sisa batang jagung dan gandum di pangkas habis.
"Sebaiknya kita menanam sayuran saja dulu, Matsuya...lihatkan suasana peternakan kelihatan lebih terang." Kata Giandra.
"Apakah gangguan mahluk-mahluk itu akan terus berlangsung, yah?? jika begini terus maka Matsuya tak bisa membawa Almira dan.Xander pulang kembali ke peternakan." Kata Matsuyama.
"Bersabarlah Matsuya, kita akan hadapi masalah ini bersama-sama." Kata Giandra.
Mereka baru selesai makan malam ketika ternak mereka di kandang ribut bercampur dengan suara salakan Kiki dan Koko ramai bersahutan.
Mereka bertiga segera keluar dari rumah.
"Sera, kamu tetap di sini, biar ayah dan Matsuya yang akan memeriksa kandang!!" kata Giandra.
Giandra berkeliling kandang memeriksa sementara Matsuya mengecek keadaan di dalam kandang.
Di atas pojok kandang Matsuyama melihat sesuatu bersinar merah sedang berjongkok di pojok kandang.
"Ooo rupanya kamu ya yang membuat hewan ternakku ketakutan...."
"Keluar kamu...jangan berak di sudut kandang bikin bau dan bikin kotor kandangku saja!!" kata Matsuyama memandang kepojok kandang sambil mengarahkan senter di tangannya.
Tiba-tiba...
Breettttt...
Sosok itu menerjang Matsuyama dengan kuku-kuku tangannya yang runcing siap mencabik-cabik Matsuyama.
"Sungguh kau mahluk sesat mencari mati...dan
Wuutttt
Seberkas cahaya putih kehitam dari cincin yang dipakai Matsuyama melesat menghantam mahluk jadi-jadian itu dengan telak.
Kabaaammm.....
Mahluk itu terpental jauh dengan dadanya yang bolong terkena cahaya putih kehitaman itu.
Suara raungannya terdengar sampai jauh mengakibatkan.Giandra yang sedang berkeliling kandang dan Serafin yang berjaga di dalam rumah jadi terpaku dan sangat kaget.
Tak lama mahluk itupun musnah menjadi debu dan terbang ditiup angin malam.
"Sepertinya aku, ayah dan ibu harua memagari lagi seluruh peternakan ini dengan tenaga dalam kami!!" gumam Matsuyama.
Seandainya aku bertemu langsung dengan yang Mulia Kebebitak itu akan kuubah namanya menjadi Kebebitik dan si Kayatai akan kuubah menjadi Kaya tele...gemas aku rasanya...membuat onar saja kerja mereka ini!!" geram Matsuyama.
"Gara-gara mereka nih sampai anak dan istriku tidak bisa kuajak kemari takut nanti Xander jadi sawan melihat penampakan yang tidak mengenakan mata!!" gerutu Matsuyama dengan kesal.
"Teriakan apa yang tadi itu Matsuya?" tanya Giandra saat bertemu di luar kandang.
"Biasa yah, mahluk kiriman ketua mereka yang bernama Kayatai itu!!" jawab Matsuyama.
"Ayo kita keluar dan kerahkan tenaga dalam kita untuk melindungi peternakan ini!!" jawab Giandra.
Sementara Giandra dan Matsuyama mengerahkan tenaga dalam mereka, Serafin berjaga-jaga untuk melindungi suami dan menantunya jika mereka mendapat serangan dadakan dari luar.
Di tempat lain....
"Gondrong brengsek..." maki seorang lelaki paruh baya.
"Jadi benar si gondrong muka bayi itu yang memusnahkan kawanmu?" tanyanya geram.
"Benar ketua Kaya...ilmu anak itu sulit diukur ketinggiannya....dibalik sifat polos dan suka ceplas ceplosnya, tersimpan sesuatu yang berbahaya!!!" kata anak buahnya.
"Aku tambah penasaran sama tuh bocah...jika ada kesempatan maka aku yang akan menghadapinya dan menghabisinya dengan kedua tanganku sendiri.
Sementara itu hampir setengah jam Giandra dan Matsuyama mengerahkan tenaga dalam mereka untuk menutup seluruh peternakan supaya tidak diganggu oleh mahluk suruhan Kayatai itu.
Keringat sebesar biji jagung membanjiri wajah mereka berdua.
"Untuk sementara ini hewan-hewan ternak tak berdosa itu aman...aku tidak mau ternakku jadi santapan mahluk malam dan kelaparan itu." Kata Matsuyama.
"Lewat tengah malam nanti kita akan menyerang peternakan itu, yang tadi hanyalah sebuah pemanasan saja." kata Kayatai lagi
"Ayah, aku merasa berdebar...akankah mereka menyerang lagi?" tanya Matsuyama.
"Kita memang seharusnya bersiap-siap untuk menghadapi mahluk-mahluk jahat itu...jika ada kesempatan sebaiknya kita musnahkan saja.
"Ayah benar, dari pada kita terus menerus di ganggu?? kasihan juga anak-anak di rumah kakeknya mau kujemput takut keadaan masih terombang ambing seperti ini..."
*
*
***Bersambung....
Sanggupkah Matsuyama dan Giandra menghadapi teror mahluk suruhan Kebebitak itu
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya ya reader
Jangan sampai ketinggalan...