
Belum jauh mereka pergi, telinga Hiro yang tajam mendengar suara desingan di telinganya.
Tanpa melihat dia melambai kearah belakang dan terdengar suara teriak kesakitan dari Miku.
Dialah tadi yang melempar senjata rahasia yang langsung dibalikan oleh Hiro dan mengakibatkan luka gores yang sangat dalam di pipinya.
"Rasakan olehmu...sudah jadi pengkhianat jadi juga seorang pengecut pula!!" kata Sima.
"Hiro...Sima...dasar kalian berdua anak durhaka...rasanya ibu kalian menyesal telah melahirkan kalian..." teriak Kakegawa.
Hiro dan Sima berhenti sesaat lalu membalikan tubuh mereka.
Dilihatnya Kakegawa sedang berdiri di samping Miku yang sedang memegangi pipinya yang tergores dengan pisau terbang miliknya sendiri.
"Ibu tak pernah menyesal melahirkan kami, ibu lebih menyesal menikah dengan seorang pengkhianat seperti anda tuan Kakegawa!!" terdengar Sima tertawa mengekeh mendengar perkataan saudara kembarnya.
"Jangan kalian kembali keperguruan ini lagi...dan anggap saja aku bukan ayah kalian lagi...hubungan darah antara kita putus!!" bentak Kakegawa.
Hiro dan Sima kembali menyeringai sinis.
"Kami juga tidak ingin mempunyai ayah pengkhianat seperti anda...untuk apa juga kembali ketempat kotor ini karena kalian berdua yang telah berbuat kotor dan mesum di tempat ibu kami...dan satu lagi nyonya Miku yang sebentar lagi akan mengalami luka cacat di pipinya??? angin pukulan Hiro itu mengandung racun ganas, kalian tahu ibu kami Dewi Abesira adalah dewi segala racun, racun itu akan menggerogoti pipimu hingga berlubang dan menampakan tengkorang tulang pipimu!!" kata Sima.
"Nikmatilah penderitaanmu dari sekarang...PELAKOR!!!" lalu Hiro dan Sima melangkah pergi dan tidak menoleh lagi.
"Ayah...pipi ibu nyeri sekali...tolong ambilkan ramuan obat yang ada di atas lemari ruang tengah, yah!!" pinta Miku sambil meringis.
Kakegawa masih berdiri tegak seolah mimpi!! Apa yang telah dia perbuat bersama Miku belasan tahun lalu harus dia bayar sekarang!!"
"Ayah...cepat ambilkan!!" teriakan Miku menyadarkan Kakegawa lalu dia bergegas ke ruang tengah untuk mengambil ramuan obat yang di maksud oleh istrinya.
"Selamat datang di tempat kediaman kalian yang baru, Hiro...Sima!!" kata ibu Saki tersenyum lebar pada dua anak asuhnya itu.
"Terima kasih telah mengijinkan kami untuk bisa tinggal di sini, bu!!" kata Sima.
"Anggaplah rumah ini rumah kalian juga dan jangan sungkan jika kalian peŕlu sesuatu!!" kata ibu Saki.
****
"Kenapa abang semenjak tadi terlihat gelisah dan termenung??" tanya Almira pada Matsuyama suaminya.
"Entahlah...perasaan abang sejak kemarin ngga enak!! rasanya teringat ibu dan ayah terus!!" kata Matsuyama pelan.
"Mungkin abang merindukan mereka, jika abang ingin pulang ke lembah, pulanglah dulu!!" jawab Almira.
"Tetapi jika abang pulang ke perguruan, kamu di sini nanti bagaimana??" tanya Matsuyama.
"Tidak perlu khawatir...toh ada ibu dan ayah juga di sini!!" kata Almira.
Setelah lama berpikir, akhirnya Matsuyama setuju juga untuk pulang sebentar menjenguk kedua orang tuanya.
"Hati-hati di jalan Matsuya...tak usah mengkhawatirkan istri dan calon bayi kalian!! ayah dan ibu akan menjaga mereka dengan baik!!" kata Serafin dan Giandra mendampingi Almira mengantarkan suaminya.
"Jaga dirimu ya sayang...kamu juga jagoan daddy...jangan nakal di dalam perut mommymu ya!!" Matsuyama menciumi perut Almira yang usia kandungannya sudah menginjak 6 bulan.
Lalu Matsuyama beralih pada Xander. Dia menggendong Xander dan menciumi pipi gembul Xander yang sudah lancar berjalan dan bicara walaupun masih cadel. Rupanya kecerdasan Almira menurun pada bocah lelaki yang tampan itu.
"Xander jangan nakal ya nak...kasihan mommy kalau Xander nakal...juga jangan buat kakek dan nenek susah ya!!" lalu Matsuyama mengembalikan Xander pada ibu mertuanya.
Setelah itu dia menyalami kedua mertuanya.
"Titip istri dan anak-anak Matsuya ya bu...yah...semoga urusan di perguruan cepat selesai, secepat itu pula Matsuya akan segera pulang, tak tahan rasanya lama-lama meninggalkan keluarga.
Setelah itu Matsuyama naik ke mobil yang biasa mereka pakai untuk bepergian.
"Sudah...jangan sedih begitu nak...suamimu hanya pergi sementara dan bukan pergi untuk selamanya!!" kata Giandra.
"Ayah...!" tegur Serafin.
****
Sudah seminggu ini kakek Dahlan kurang enak badan. Kepalanya terasa sakit dan dadanya pun sering terasa sakit dan napasnya sering merasa sesak.
"Kita kedokter ya Tosiro??" kata sepupunya kakek Kojiro.
"Iya kek...sudah seminggu kakek seperti ini!!" tambah Xavier.
"Atau kakek merindukan Almira?? Sudah hampir 3 bulan dia tak ada kabarnya lagi sejak dia menelpon 3 bulan lalu yang mengatakan bahwa kandungannya baik-baik saja!!" kata kakek Kojiro.
Xavier mendadak terdiam saat nama mantan istrinya itu disebutkan oleh ayahnya.
"Jangan membebani dia, Kojiro...kasihan juga anak itu...dia juga punya banyak masalah!!" kata kakek Dahlan.
"Jelas dia pasti akan sangat khawatir mendengar keadaanku yang sedang sakit begini!!" kata kakek Dahlan lagi.
Diam-diam Xavier menemukan ide dan mempunyai alasan untuk menelpon mantan istrinya itu.
Dia mengambil ponsel milik kakek Dahlan lalu berjalan menjauhi rumah dan menekan dial nomor Almira.
📱"Iya kakek ada apa?? tumben menelpon Mira?? biasanya Mira duluan yang menelpon kakek."
Suara Almira menyerocos dari seberang sana, dan Xavier mendengarkannya sambil tersenyum. Suara khas sang mantan yang selalu dia rindukan dan tak dimiliki oleh wanita manapun di dunia ini selain Almira.
📱"Dek...!"
__ADS_1
Deg...seketika Almira berhenti bicara saat mendengar suara itu. Suara orang yang pernah sangat dicintainya, orang pertama yang membuatnya jatuh cinta sampai sedalam-dalamnya dan menjadi orang yang pertama juga yang telah menghancurkan hatinya sampai sehancur-hancurnya.
📱"Abang mohon jangan tutup dulu ponselnya, abang hanya ingin bilang bahwa kakek Dahlan sakit, tetapi kamu tau sendiri betapa keras kepalanya beliau untuk mengakui tentang sakitnya dan tentang rindunya kepadamu!!"
📱"Kakek sakit apa??"
Suara Almira tampak bergetar. Antara rasa panik juga rasa benci yang ditekan di dalam hatinya.
📱"Kakek tidak mau dibawa kedokter...bisakah kamu datang kemari untuk menjenguk sekaligus membujuknya??"
Lama Almira berpikir. Dengan siapa dia akan pergi menjenguk kakeknya?? sedangkan Matsuyama saja pulang menjenguk kedua orang tuanya dan tidak tau kapan kembali.
Itupun Almira sengaja tidak ikut agar dia tidak bertemu bertemu dengan Hiro, masakan sekarang dia harus pergi berdua Xander dalam keadaan hamil besar ??" begitu pikirnya.
Seperti mengetahui kegelisahan dan apa yang ada di dalam pikiran sang mantan, Xavier berkata lagi...
📱"Jika kamu tidak keberatan, abang akan menjemputmu di sana...jangan kamu punya pikiran yang macam-macam pada abang, abang hanya sekedar menolong saja!!"
📱"Almira tidak bisa ambil keputusan sendiri, nanti Almira akan membicarakannya dengan ayah dan ibu, apalagi bang Matsuya baru saja pulang menjenguk kedua orang tuanya di perguruan, ngga tau kapan akan kembali!!"
Dalam hati Xavier meradang, "enak saja Matsuyama ikut-ikutan menyebut dirinya abang untuk Almira...sebutan itu hanya untukku, orang lain tak pantas menggunakannya.
📱"Ya sudah...kamu pikirkan dulu lalu bicarakan dengan ayah dan ibu nanti jika ada keputusan, telepon kembali abang ya sa....ehm...maksud abang, Mira!!"
Hampir kata sayang terlontar dari mulut Xavier, untuk dia cepat menyadarinya.
Sambungan ponsel terputus. Sebenarnya Xavier kecewa sekaligus sedih, tak ada lagi peluk dan cium jauh seperti yang dulu sering mereka lakukan semasa masih bersama.
Tetapi Almira tidak menolak untuk bicara dengannya sudah merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.
Dia masuk kembali ke dalam dan bergabung dengan kakek Dahlan dan ayahnya.
"Mengapa kamu senyum-senyum sendiri dan wajahmu sumringah?? habis menang lotere loe...mencurigakan!!" ketus kakek Dahlan seperti biasanya.
"Kakek bawaannya curiga melulu!!" kata Xavier.
******
"Yah, mengapa luka ibu tak juga kunjung sembuh?? bahkan kulit ibu terkoyak sedikit demi sedikit begini!!" kata Miku kepada Kakegawa suaminya.
"Entahlah bu, jangan-jangan benar apa yang dikatakan anak itu jika angin pukulan yang dia hempaskan mengandung racun yang mematikan.
Tok...tok...tok
"Ada tamu bu, ayah lihat kedepan sebentar ya??" kata Kakegawa lalu meninggalkan istrinya.
Ceklek...
"Matsuya??? apa kabarmu nak??? mana istri dan anakmu??" tanya Kakegawa sambil celingukan.
"Mereka tidak bisa melakukan perjalanan jauh yah...Almirakan sedang mengandung!!" kata Matsuyama.
"Mana ibu yah??? kok tidak kelihatan??" tanya Matsuyama.
"Masuklah...ibumu sedang sakit di dalam!!" kata Kakegawa.
Matsuyama bergegas ke kamar ibunya mendengar bahwa wanita itu sedang sakit.
Ceklek...
"Ibu??" teriak Matsuyama sambil lari menghambur ke pelukan ibunya.
"Sayangnya ibu...mana menantu ibu??" kata Miku.
"Almira tidak bisa ikut, bu...dia sering mabuk darat di kehamilannya yang sekarang!!" kata Matsuyama.
"Ibu kenapa kok menutupi wajah dengan masker?? ibu kena flu?? tadi ayah bilang bahwa ibu sedang sakit..." tanya Matsuyama.
Miku membuka masker di wajahnya memperlihatkan kulit pipinya yang mengelupas.
Matsuyama terhenyak lalu mundur.
"Pipi ibu kenapa kok seperti daging membusuk begitu??" tanya Matsuyama.
"Ibu terkena angin pukulan kakakmu Hiro!!" jawab Miku.
"Terkena pukulan kak Hiro??" tanya Matsuyama mengerenyitkan dahinya.
"Rasanya tak mungkin kak Hiro seperti itu, Matsuya mengenal kak Hiro sejak kecil, kalau kak Sima yang melakukan ini Matsuya percaya tapi jika kak Hiro..." Matsuyama tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ini salah ibumu juga, Matsuya..." tiba-tiba Kakegawa masuk.
"Ayah..." kata Miku tak suka suaminya membela Hiro.
"Tapi ini memang kenyataannya kan bu, seandainya ibu tidak curang melemparnya dengan pisau terbang milik ibu dan membokongnya dari belakang, tentu hal ini tak akan terjadi!!" kata Kakegawa.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih ibu...ayah...mengapa keluarga kita jadi tercerai berai seperti ini?" tanya Matsuyama.
"Kebencian Hiro dan Sima karena kesalahan ayahmu ini, nak!!" kata Kakegawa.
"Maksudnya, yah??" tanya Matsuyama lagi.
"Ayah!!" kata Miku sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah waktunya Matsuyama tau tentang kebusukan kita di masa lalu bu, sehingga menimbulkan perpecahan di antara kita seperti ini." Kata Kakegawa tertunduk lesu.
"Matsuyama, Hiro dan Sima pantas membenci ayah dan ibu karena perselingkuhan ayah dengan ibumu lah maka mengakibatkan ibu mereka meninggal." Kakegawa tampak frustasi.
"Kalian kejam!!" suara Matsuyama nampak bergetar hebat.
"Jangankan hanya membenci, membunuh kalian berduapun kak Hiro dan kak Sima pantas." jawab Matsuyama.
"Matsuyama!!" bentak ibunya.
"Keterlaluan kamu Matsuyama!!" kata ibunya.
"Ayah dan ibulah yang keterlaluan...kalian bukan hanya berselingkuh tapi juga pembunuh!!" geram Matsuyama.
"Setelah menyakiti hati mereka, ibu juga membokong mereka dan mengakibatkan luka seperti ini!!" kata Matsuyama.
"Cobalah kamu periksa ibumu itu, Matsuya!! karena ayah dan ibu kurang begitu paham soal racun!!" kata Kakegawa.
"Iya...ibu dan ayah memang kurang mengerti soal racun, tetapi kalau soal berselingkuh, kalian pakarnya sampai-sampai merenggut nyawa wanita tak berdosa!!" lirih Matsuyama yang membuat ibu dan ayahnya jadi terdiam membisu tak bisa berkata apapun lagi.
Matsuyama memeriksa luka di pipi Miku yang berwarna hitam kebiruan.
"Racun Kala biru dan kala hitam yang diracik menjadi satu!!" kata Matsuyama.
"Ayah, ini racun yang teramat jahat...setauku hanya orang yang melepaskan racun ini saja yang mempunyai penawarnya...jika tidak segera diobati maka luka itu akan terus menjalar dan cepat menjadi busuk hingga keseluruh tubuh dan menutup semua pembuluh syaraf hingga pada akhirnya orang tersebut akan mati mengenaskan.
"Kalau tidak salah Almira dulu pernah terkena racun serupa yang menyebabkan kelumpuhan diseluruh tubuhnya."
"Tetapi yang ini sepertinya kadar racunnya lebih tinggi." Jelas Matsuyama.
"Lalu bagaimana dulu istrimu itu bisa sembuh??" tanya Kakegawa.
"Ular sahabatnya yang bernama Kadir berasal dari lembah yang sama di kaki gunung Himalaya, racun di tubuhnya saat itu yang bisa dijadikan penawarnya dibantu pula oleh Xavier mantan suaminya kala itu."
"Tapi setauku racun di tubuh Kadir itu hanya berfungsi sekali hanya untuk mengobati Almira, setelah itu dia tak punya racun cadangan lagi, butuh waktu sekitar 5 tahun untuk Kadir supaya dapat mengumpulkan racun kembali."
"Lalu bagaimana dengan luka ibu, Matsuya??" tanya Miku setengah putus asa.
"Hanya Hiro yang punya penangkalnya bu, ibu atau ayah harus meminta maaf padanya sekaligus minta pertolongannya!!" kata Matsuyama dengan berat hati.
Terus terang Matsuyama kecewa dengan ayah dan ibu, rupanya Matsuyama hanyalah anak dari hasil perselingkuhan yang menyebabkan nyawa orang lain melayang...seandainya Matsuyama berada di posisi kak Hiro maka Matsuyamapun pasti akan membenci kalian berdua." Kata Matsuyama.
Kakegawa dan Mikupun hanya terdiam, menyesalpun kini tak berguna...jasad Abesira tidak mungkin bangkit kembali. Kini hanya kutukan istri yang telah dia sakiti itulah perlahan tapi pasti akan mengikuti mereka kemanapun kini mereka bertiga pergi.
Matsuyama berdiri menatap matahari terbenam. Dalam hatinya berkecamuk berbagai macam perasaan.
Dulu dia, Hiro dan Sima saling menyayangi dan saling menjaga satu dengan yang lain...tetapi kini semua sudah berubah. Kedua orang tua merekalah yang telah merusak hubungan persaudaraan mereka.
******
"Mira...jadi juga kamu berangkat untuk menjenguk kakekmu? lalu siapa yang akan menjemputmu dan Xander?" tanya Giandra merasa khawatir apalagi Almira sedang hamil besar sekarang.
"Sepertinya bang Xavier, yah!!" jawab Almira pelan.
"Kamu yakin mau pergi dengan Xavier?? kamu tidak takut diculik sama dia?? Xavier lho masih tergila-gila sama kamu!!" goda Giandra.
"Ishhhh, ayah...ngga usah bikin takut, napa?" kata Almira kesal.
"Ngga mungkinlah dia menculik mantan istrinya sendiri, untuk apa coba menculik wanita hamil sementara istrinya saja jauh lebih cantik!!" jawab Almira.
Tit...tit
"Panjang umur...itu orangnya muncul...duh gantengnya putra ibu!!" kata Serafin lalu menyambut kedatangan Xavier.
"Ibu...ayah...Xavier kangen sama kalian berdua." Kata Xavier memeluk kedua orang tua angkatnya.
Setelah itu dia memandang kepada Xander yang juga tengah memandangnya!!
"Hai...halo jagoan ayah...apa kabarmu??" sapanya pada Xander.
"Ayah..." kata bocah umur 14 bulan itu.
Xavier menggendong Xander dan menciuminya...tak terasa buliran air mata menggelinding dari kedua kelopak matanya.
Almira yang menyaksikan itu juga tak kuasa menitikan airmata. Ada rasa sesak yang menggumpal di dadanya.
Xavier memang sengaja tidak mau menatap Almira sama sekali, dia tidak akan tahan untuk tidak memeluk wanitanya yang kini telah menjadi milik orang tersebut.
"Segeralah kalian berangkat, mumpung hari belum siang karena bisa sampai malam kalian baru tiba di tempat tujuan!!" kata Serafin.
"Sampaikan salam ibu dan ayah untuk ayahmu Kojiro dan kakek Dahlan ya...ini ibu bawakan oleh-oleh untuk mereka!!" kata Serafin menyerahkan sekresek bungkusan besar.
"Hati-hati di jalan Xavier...jaga Xander, Almira dan bayi yang ada di dalam kandunganya." Kata Serafin dan Giandra bergantian.
*
*
****Bersambung....
Sakit apa sebenarnya kakek Dahlan?? parahkah sakitnya??
Ikuti terus kelanjutan kisahnya ya reader...dan minta selalu dukungan kalian!! 🙏🙏
__ADS_1