
"Sudah lama sekali rasanya aku tak pernah lagi mendengar celotehan dari mulut si ceriwis itu...si ceriwis tapi ngangenin!!" senyum Hiro mengembang teringat akan semua kenangan indahnya bersama Almira.
"Mengapa harus Xavier?? mengapa bukan aku??"
"Hiro..."
Suara Daniah yang tiba-tiba ada di belakangnya begitu mengejutkannya.
"Oh...kamu Daniah, ada apa??" tanya Hiro pada istrinya itu.
"Aku mau bertanya padamu, kuharap kamu jawab dengan jujur."
"Apa kamu tak pernah menginginkan pernikahan kita? sudah berbulan-bulan kita menikah, tapi seujung rambutpun kamu tak pernah menyentuhku, apakah bagimu aku terlalu menjijikan, Hiro??" air mata sudah menggenangi kedua kelopak mata Daniah.
"Mungkin aku tak secantik gadis pujaanmu itu, aku tak semenarik dia...tapi aku ini istrimu, Hiro!!"
"Hatiku sakit setiap kali melihatmu duduk termenung sendiri sambil memandang kejauhan dengan sorot mata penuh kerinduan, sementara aku yang ada di dekatmu kamu abaikan!! seandainya kamu yang sekarang ada di posisiku? bagaimana perasaanmu, Hiro!!" tiga bulan lebih menikah tanpa disentuh oleh suaminya membuat kesabaran Daniah sedikit demi sedikit mulai terkikis.
Hiro berpaling lalu menghadap Daniah.
"Maafkan aku Daniah, kita berteman sejak kecil aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, rasanya sulit sekali mengubah rasa cinta sebagai saudara menjadi rasa cinta sebagai istri, aku sudah mencobanya Daniah...tapi aku belum bisa!! sekali lagi maafkan aku!!"
Daniah lari meninggalkan Hiro dengan bersimbah air mata.
Di taman samping dia berselisihan dengan Matsuyama yang akan menuju ke goa belakang membawakan makanan buat Sima yang dikurung di sana!!"
"Ada masalah apa kamu dan istrimu, kak? kulihat hubungan kalian di depan ayah dan ibu tampak sangat mesra walaupun aku tau hubungan kalian yang sebenarnya jauh dari kata baik-baik saja." Kata Matsuyama.
"Aku juga tidak tau mengapa semua bisa jadi seperti ini, Matsu..."
"Aku sudah berupaya untuk mencintai Daniah tetapi aku tak bisa...apakah ini semua juga karena salahku menerima perjodohan itu begitu saja tanpa berani membantah demi baktiku kepada ayah dan ibu??"
Matsuyama menaruh rantang di batu datar di samping mereka.
Ditepuknya bahu kakaknya itu, dan menyemangatinya.
"Kak, aku sebenarnya juga tidak bisa memberikan saran apapun padamu apalagi menyangkut soal cinta karena seperti yang kamu tau bahwa aku tak pernah punya pacar sama sekali."
"Hanya pesanku padamu, lebih baik bersama orang yang mencintai kita dengan setulus hati dari pada bersama orang yang kita cintai walaupun setulus hati kita mencintainya tetapi kita tak tau setulus apa perasaannya pada kita!! kamu mengertikan maksudku kak Hiro??" kata Matsuyama kepada kakak laki-lakinya yang sedang dilanda kegalauan itu.
Lalu Matsuyama mengangkat rantang makanan untuk Sima dan berlalu dari hadapan Hiro yang masih duduk termangu merenungi kata demi kata yang diuntai oleh adik bungsunya itu.
"Mungkin kamu benar, Matsu...aku akan mencoba melupakan Almira karena dulu aku pernah berjanji akan melepaskannya sepenuh hati jika aku tau dia telah hidup bahagia bersama Xavier dan mulai membuka hati untuk cinta yang baru, cinta Daniah istriku sendiri."
*****
Huek...huek...
Pagi-pagi rumah pantai sudah dihebohkan dengan suara orang sedang muntah di kamar mandi yang cuma satu itu jadi mereka semua harus bergantian mengantri.
Terkadang kakek Dahlan dan kakek Kojiro jika sudah kebelet ngga tahan pengen boker langsung saja lari kehutan bakau dekat pantai dan jongkok di sana setelah sebelumnya menggali lubang dulu.
Karena pernah dua kali kejadian saat mereka jongkok lupa membuat lubang pembuangan dan hanya ditutupi pasir dan daun-daun kering, Kadir yang kebenaran melintas lewat hutan sehabis ngapelin pacarnya di kampung sebelah, menyeret tokai di sepanjang badannya pulang menuju rumah dan langsung naik dan bobo cantik di atas kasur Almira seperti biasanya.
Badan Kadir yang hitam berkilat seperti dipoles dengan emas cair berwarna kuning di
sepanjang badannya lalu dia merayap dari teras melewati ruang tamu lalu naik ke kasur. Bisa dibayangkan bagaimana kuning dan wanginya sepanjang teras hingga ke dalam dan membuat si empunya kasur mengamuk seperti singa gurun.🤣🤣
Dan kejadian yang kedua kali yang benar-benar membuat kakek Dahlan dan kakek Kojiro kapok sampai ke liang kubur saat ibunda ratu rumah Serafin sedang mencari kelapa untuk diambil santannya mau membuat sayur lodeh, dengan santainya dia menginjak ranjau kedua kakek beracun itu sampai lenyak sepenyet-penyetnya.
Tanpa komando lagi, ibu cantik itu dengan wajah merah padam pulang kerumah mencari golok untuk memotong daging dengan mengasah golok kanan kiri di batu asahan dia mencari kedua kakek laknat itu.
"Tosiro...Kojiro...keluar kalian berdua...tanggung jawab sini!!" teriaknya penuh kemarahan.
"Ada apa Sera???" kata Giandra yang habis memanen cabe sekebon di belakang datang menghampiri istri yang sedang dalam mode mengamuk itu.
Tetapi langkahnya tertahan saat mencium aroma yang tak sedap dari tubuh istrinya.
"Kok kamu bau banget sih??" kata Giandra menjauh sambil menutup hidungnya.
"Tumben kamu bau Sera, biasanya biar ngga mandi sebulan, kamu tetap wangi!!" kata Giandra.
Mata Serafin tambah mendelik mendengar ucapan suaminya itu.
"Ayah lihat ini!!" kata Serafin sambil mengangkat sebelah kakinya dengan sandal penuh dengan lumpur kuning berbau busuk.
"Ala mak...jorok banget!!" kata Giandra membuat sang istri jadi bertambah uring-uringan.
"Yang jorok itu dua tua bangka laknat itu, buang air besar sembarangan saja...mana suruh keluar para tua bangka itu biar aku buat perhitungan dengannya."
"Sayang...itu golok untuk apa??" tanya Giandra hati-hati.
"Untuk memotong burung beserta telur-telurnya biar ngga bisa menetas sekalian." kata Serafin.
Kakek Kojiro dan kakek Dahlan lari keluar lewat pintu belakang lalu kemudian kabur kehutan.
Siapa yang mau aset berharganya hilang begitu saja?
__ADS_1
Kembali kebiang kehebohan pagi ini...
Huek...huek...
"Aduhhhh perutku rasanya mual dan sakit!! keluh Almira.
"Aku habis makan apa ya?? sampai perutku sakit rasanya mual dan mau muntah!!" gumam Almira.
"Sayang...kamu kenapa??" Xavier yang masih memakai sarung keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi.
"Kamu ngidam ya sayang..." katanya sambil memijit tengkuk istrinya.
"Aduh, Mira ngga tau bang...ngidamkah...atau ngidimkah tapi yang jelas perut Mira seperti diaduk pakai sekop!!" ucapnya."
"Istrimu kenapa, Gio??" tanya Serafin saat melintasi kamar mandi mendengar Mira muntah-muntah di sana.
"Coba ibu cek dulu tekanan darahnya, coba baringkan istrimu di sofa ruang tamu, Gio!!" perintahnya.
Wajah Almira pucat pasi dan mengeluarkan keringat dingin saat berbaring di sofa.
"Almira sedang mengandung, Gio...selamat ya sebentar lagi kalian berdua akan menjadi ayah dan ibu!!" ucap Serafin sangat bahagia.
Kakek Dahlan dan kakek Kojiro pun sangat bahagia.
"Kojiro kalau anaknya Mira lahir kau bukan lagi dipanggil kakek tetapi dipanggil datuk Kojiro, hahaha!!" kakek Dahlan tertawa kencang.
"Kayak kamu ngga dipanggil datuk aja, Dahlan...Dahlan...masa kamu mau dipanggil om?? om Dahlan....wuahahaha...sangat tidak cocok!!" kata kakek Kojiro.
"Kampret kamu Kojiro!!" umpat kakek Dahlan.
"Hari ini ngga usah kekampus dulu ya?? badanmu masih lemah begini!!" kata Xavier pada istrinya.
"Nanti abang bagaimana?" tanya Almira.
"Ngga apa-apa kamu istirahat aja dulu, pokoknya abang ngga mau kamu terlalu lelah, sayang!!" Xavier mengusap lembut kepala sang istri.ĺ
"Ya, sudah...Mira tiduran aja ya bang...kepala Mira pusing dan badan Mira lemes banget.
****
"Xavier..."
Xavier menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
"Kak Xavana!!" gumam Xavier.
Mengenakan kaos putih berkerah tinggi yang digulung seperti sweater celana jeans biru laut dan sepatu kets warna putih. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Bola matanya yang berwarna Hazel dan rambutnya yang sedikit berombak.
"Apa kabar adikku yang tukang menipu perasaanku?" sindirnya membuat Xavier bingung mesti bilang apa.
"Apa maksudmu kak Xavana?? aku menipu apa??" tanyanya masih bingung.
"Kamu ngga usah pura-pura linglung begitu, Xavier!!" ketus jawaban Xavana yang mampir kerungu Xavier.
"Sungguh kak, Xavier minta maaf jika ada salah...tetapi sumpah Xavier tidak tau letak kesalahan Xavier itu di mana?" katanya lagi.
"Letak salahmu itu adalah mencintai gadis yang juga aku cintai."
"Maksud kakak, Almira istriku kah??" tanya Xavier sedikit keras. Dia sangat sensitif jika itu menyangkut tentang istrinya.
"Maaf kak bukan maksudku untuk membohongi kak Xavana tetapi memang pada saat itu kami berdua tak tau bahwa kami berdua bukan saudara. Kami saja sempat shock mengetahui kenyataan Almira adalah adikku tapi ternyata semesta mendukung cinta kami berdua.
"Almira sekarang sedang mengandung anakku kak, jadi tolong jangan ganggu dia lagi."
"Aku membencimu, Xavier...sangat!! Mulai detik ini kamu bukanlah lagi adikku...kamu berhati-hati sajalah, aku akan merebut wanitaku itu kembali dengan segera." katanya penuh penekanan.
Lalu dia membalikan tubuh masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan Xavier.
Xavier sempat berdiri termangu di parkiran itu.
Dia dan Xavana sempat 6 tahun bersama sebelum dia diambil oleh Kojiro diangkat sebagai murid sekaligus sebagai anak angkatnya. Dibawa ke Jepang menimba ilmu di negeri Sakura itu.
Mereka berdua saling menyayangi walaupun tak ada hubungan darah diantara mereka berdua tetapi tuan Anderson ayah angkatnya tak pernah membedakan kasih sayangnya pada Xavana dan Xavier.
Kini keduanya berpisah karena perasaan cinta pada satu wanita.
Xavana melajukan mobilnya di atas jalan aspal berdebu dengan kecepatan di atas rata-rata untuk menghilangkan rasa kecewa di hatinya.
Dia marah, kecewa, kesal entah harus ditujukan kepada siapa.
Dan perjalanannya malah membawa dirinya tiba di sekitaran rumah pantai tempat keluarga Almira tinggal.
Xavana menghentikan mobilnya lalu dengan berjalan kaki dia melangkah menuju pinggir pantai yang sunyi.
Hanya suara debur ombak yang memecah bibir pantai dan suara burung-burung camar yang menemaninya.
Aaaaggghhhh
__ADS_1
Xavana berteriak keras.
Aaaagggghhhh
Sekali lagi Xavana berteriak lebih keras dan dia baru berhenti saat ada seorang tua yang memandanginya dengan heran.
Awalnya dia ingin marah karena niat awalnya tadi mau kehutan bakau mau menyetorkan hasilnya semalam.
Mendengar teriakan Xavana, yang tadi mau dia keluarkan malah masuk kembali dan membuatnya sangat kesal.
Dipakainya kembali celananya dan bergegas menghampiri Xavana.
"Hei anak muda...bener-bener kamu ya!! Ini masih pagi tapi kamu membuat keributan dengan teriakanmu itu!!"
Xavana menoleh kearah kakek tua yang ada di sampingnya dan memandangnya dengan tajam.
"Maaf kek, jika suaraku mengganggumu tapi aku benar-benar suntuk berat hari ini!!" kata Xavana.
"Bagaimana jika kamu ikut denganku pergi ke teluk sana, kita memancing di sana!!" ajak orang tua itu.
"Memancing??" kata Xavana.
Seumur hidup dia tidak tau cara memancing, jangan kata memancing memegang pancing saja dia tidak pernah.
"Iya, ayolah anak muda...jika kita dapat ikan, kita bisa membakarnya di teluk sana dan soal air minum jangan khawatir, di sini banyak kelapa yang bisa kita ambil airnya.
Akhirnya Xavana setuju mengikuti kakek itu pergi untuk memancing ke teluk.
"Siapa namamu anak muda dan mengapa kamu berteriak-teriak di pagi begini membangunkan seluruh penghuni pantai?"
"Sekali lagi maafkan aku kek, namaku Xavana...aku datang kemari karena hatiku sedang tidak baik-baik saja."
"Pasti karena cinta ya!!" tebak kakek tua itu.
"Kok kakek bisa tau??" kata Xavana keheranan padahal dia belum menceritakan persoalam pribadinya.
"Ya, taulah...kakek juga pernah muda, kamu pikir kakek lahir langsung setua ini?? ngga kan??"
"Coba kamu ceritakan pada kakek, tampaknya kamu butuh teman untuk berbagi keluh kesahmu."
"Aku jatuh cinta pada seorang gadis tetapi gadis itu justru jatuh cinta pada kakaknya sendiri yang diketahui belakangan hari bahwa mereka ternyata tak ada ikatan persaudaraan apapun."
"Laki-laki itu adalah adik angkat aku kek...sebenarnya aku tidak menyalahkan mereka berdua, aku lah yang salah dalam hal ini!!"
"Semestinya aku sadar dari awal bahwa mereka berdua saling mencintai, tetapi aku saja yang terlalu bodoh menutup mata dan mengingkari semua hingga aku jadi kecewa seperti ini."
Si kakek tampak termangu mendengar cerita si pemuda di sampingnya, dia juga jadi teringat pada kisah hidupnya yang mencintai seorang wanita yang sudah dimiliki oleh orang lain.
Pada akhirnya dia lah yang harus menelan pil pahit penolakan dan akhirnya memutuskan membawa dirinya pergi untuk melupakan semua lukanya.
"Mengapa kakek malah melamun?? sepertinya pancing di tangan kakek bergerak dan bergetar!!" kata Xavana mengagetkan lamunan si kakek.
Benar saja, kailnya menangkap ikan yang lumayan besar.
"Wah kakek hebat..."teriak Xavana kegirangan. Sejenak bersama dengan kakek misterius itu, membuat perasaan Xavana berangsur menjadi lebih baik.
Mereka berdua asyik bercerita berbagi pengalaman masing-masing.
Xavana yang biasanya tak pernah mau bercerita dan akrab pada sembarang orang, hari ini pikirannya jadi berubah.
Tak terasa hari telah menjelang sore.
Si kakek melihat kearah matahari dan dia mulai terlihat panik.
"Kamu pulanglah Xavana...terlalu berbahaya bagimu berkeliaran di tempat seperti ini kalau menjelang malam hari." ucapnya pada Xavana.
"Tapi aku masih betah bersama kakek di sini!!" kata Xavana.
"Pulanglah anak muda masih ada hari esok untuk kita bisa bertemu dan ngobrol lagi!!"
"Nama kakek siapa??" sejak tadi pagi aku belum menanyakan nama kakek!!" ucap Xavana lagi.
"Bilis...kamu panggil saja dengan nama kakek Bilis!!" kata kakek misterius tersebut.
Akhirnya Xavana kembali kemobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.
Tak lama berselang setelah Xavana pergi, si kakek Bilis pun berdiri dan hendak beranjak pergi dari sana.
"Ayah...ayah dari mana??"
*
*
***Bersambung...
Hayo...pasti tadinya berpikir itu kakek Dahlan atau kakek Kojiro kan😁😁. Siapa sebenarnya kakek misterius itu??
__ADS_1
Baca terus lanjutan kisahnya ya...tak bosan mengingatkan untuk memberikan dukungan like, komen, vote, favorit dan ratenya🙏🙏