Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 35 Asal Mula


__ADS_3

Hiro memeriksa tangan Sima yang melepuh. seperti terbakar.


"Untung ular itu tidak ada niat untuk membunuhmu, dia hanya sekedar memberimu pelajaran saja...jika dia mau, sudah sejak tadi kamu meregang nyawa.


Hiro beralih ke lemari yang ada di kamarnya itu. Dia mengambi beberapa botol ramuan obat kemudian meraciknya lalu dibalurkannya di atas tangan Sima yang melepuh.


"Aku sudah mengurangi rasa sakitnya semoga bisa menghentikan racunnya untuk tidak menjalar kemana-mana."


"Terima kasih Hiro, kamu memang saudaraku yang baik!!" Sima menepuk pipi Hiro.


Tak lama dia keluar dari kediaman Hiro dan melesat pergi entah kemana.


"Kamu sudah melangkah terlalu jauh Sima, aku yakin kamu hanya di manfaatkan oleh nona Levia."


"Kamu sering melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu, sehingga kamu tidak bisa membedakan mana yang benar-benar baik dan mana yang modus."


Hiro mengambil ponselnya dia membuka galeri dan banyak sekali foto-foto Almira di dalamnya.


"Aku akan berusaha melindungimu, walau aku harus bertarung melawan saudara kembarku sendiri."


"Itulah janji ayahku kepada ke dua orang tuamu dan ayah memberi tugas itu kepadaku."


"Entahlah janji apa yang telah diberikan nona Levia kepada Sima sehingga dia rela menjadi seorang pengkhianat seperti sekarang."


"Seandainya kamu bukan saudaraku sudah lama aku memberi pelajaran padamu."


"Seandainya kamu tau bahwa yang kamu curi dari perguruan itu bukan kitab yang asli tapi hanya tiruannya saja...karena kitab aslinya ada di tempat yang aman."


"Itulah yang kubilang tadi kamu selalu bertindak tanpa memikirkan dulu sebab akibatnya."


"Nona semakin cantik...andainya nona ingat akulah yang sering menggendong-gendongmu dulu saat kau masih kecil.


Flashback***


"Hiro...Sima....coba kemari..." Tuan Kakegawa pemimpin perguruan lembah Soshen memanggil anak kembarnya.


Dari dalam keluarlah dua orang bocah lelaki dan perempuan berusia sekitar 8 tahun yang wajahnya sangat mirip satu dengan yang lain.


"Ada apa ayah memanggil kami?" Tanya Hiro.

__ADS_1


Hiro anaknya memang lebih ramah dan penyayang dibandingkan dengan Sima.


"Hiro...Sima...ini tuan dan nyonya Giandra, dan ini putra dan putri mereka yang baru lahir...Giovanno dan Almira."


"Halo..." Sapa Hiro kepada Giovanno kecil yang selisih usianya dua tahun di bawah Hiro dan Sima.


"Ayah, adik bayinya lucu ya...imut banget, siapa tadi namanya tuan?" Tanya Hiro sopan.


"Almira...." Kalau kamu siapa namanya anak ganteng?" Tanya tuan Giandra lagi.


"Namaku Hiro dan ini..." Belum sempat Hiro menjelaskan, ucapannya sudah diputus oleh Sima!!"


"Ngga ada untungnya kamu mengenalkan aku pada mereka." Potong Sima ketus.


"Sima..." Tuan Kakegawa melotot pada putrinya dan hanya dibalas dengan mengangkat bahu dan memutar bola matanya dengan malas.


"Tuan, bolehkah Hiro menggendong adik bayi? Hiro ingin punya adik tapi bunda sudah keburu meninggal."


Kakegawa dan Giandra beserta Serafin istrinya hanya saling berpandangan sebelum akhirnya Serafin bertanya pada Hiro.


"Memang Hiro bisa menggendong Almira?" Tanya Serafin kepada Hiro.


Serafin lalu memberikan Almira untuk digendong oleh Hiro.. Dengan senang hati Hiro menggendong Almira sambil menina bobokannya.


"Adik cantik...maukah saat kamu besar nanti untuk menikah dengan kakak? Kakak janji untuk selalu melindungimu...berkali-kali pipi Almira diciumi oleh Hiro kecil.


Mereka yang ada di situ hanya tertawa mendengar celotehan Hiro.


"Apa kabarmu sahabatku, cukup lama juga ya sejak peristiwa itu kita tidak pernah bertemu lagi." Kata Kakegawa.


"Giovanno...kamu mainlah dulu dengan kak Hiro ya..." Lalu mereka bertiga, Kakegawa, Giandra dan Serafin masuk ke dalam. Sementara Sima lalu masuk dan memilih diam di kamarnya.


Setelah memberikan Almira kembali kepada Serafin, Hiro mengajak Giovanno.


Mereka berdua tampak akrab, sesekali Hiro menjelaskan kepada Giovanno tentang sekitar perguruannya.


Sementara dari balik jendela kamarnya Sima menatap tak suka pada mereka.


"Bagaimana kabar kalian? Angin apa yang kiranya membawa kalian untuk mampir kemari?" Tanya Kakegawa.

__ADS_1


"Kak, apakah ratu Hikaru memang benar-benar sudah tewas?" Tanya Serafin agak berbisik.


"Kenapa memangnya Serafin? Bukankah kita semua menyaksikan sendiri saat itu tubuh ratu jahat itu terlempar masuk ke dalam sumur tak berdasar?"


"Itu sebabnya kami mampir kemari kak? Aku mempunyai firasat bahwa Hikaru masih hidup." Bisik Serafin sementara suaminya Giandra hanya menjadi pendengar.


Memang kalau soal kesaktian dan ilmu kanuragan, Giandra masih dua tingkat di bawah Serafin istrinya.


"Jika dia masih hidup, akan sangat berbahaya Serafin...waktu itu saja kita berlima yang menghadapinya masih kewalahan, apalagi sekarang istriku sudah tiada di tambah lagi Axelo suami Hikaru juga sudah sakit-sakitan."


"Hatiku masih sakit, Serafin...seandainya Abesira tidak terkena pukulan telapak merapi di dadanya pada saat pertarungan melawan Hikaru, tentu istriku sampai sekarang masih hidup."


"Padahal saat itu Abesira tengah mengandung 2 bulan." Kakegawa menggertakan rahangnya mengingat semua kenangan pahit tiga tahun yang lalu itu."


"Entah mengapa Axelo sampai bisa menikah dengan wanita golongan hitam seperti itu." Kata Serafin lagi.


Kakegawa, Serafin dan Axelo suami dari Hikaru yang berarti ayah dari Levia dan Alia yang bernama asli Lunelia, adalah tiga saudara seperguruan. Tapi Axelo memang sedikit keras kepala dan tergolong suka membangkang yang pada akhirnya dia bisa menikah dengan ratu Hikaru yang telah menjerumuskannya.


Beruntung dua saudara seperguruannya telah membantunya menghilangkan pengaruh ilmu hitam yang sempat mempengaruhi jalan pikiran Axelo.


Sehingga mereka berlima dengan Giandra dan Kakegawa berhasil menggempur mundur Hikaru dan menyebabkan perempuan iblis itu terperosok masuk ke dalam sumur tak berdasar.


Tapi tak ada seorangpun yang tau apakah wanita jahat yang berambisi untuk menguasai dunia persilatan dan hendak menggabungkan menjadi satu, golongan hitam dan golongan putih itu benar-benar tewas atau tidak.


Peristiwa itu sudah tiga tahun berlalu...Hikaru juga meninggalkan dua anak kembarnya Levia dan Lunelia. Dan Kakegawa harus rela kehilangan Abesira istrinya ibu dari si kembar Hiro dan Sima.


"Kenapa kamu bisa beranggapan kalau Hikaru masih hidup, Serafin?" Tanya Kakegawa.


"Kalung kepala naga biru yang ada di leherku beberapa hari ini terus bersinar kebiruan di bagian matanya."


"Ayahku dulu pernah bilang, jika mata naga biru yang selama puluhan tahun tak pernah lagi mengeluarkan sinar tiba-tiba bercahaya, berarti dunia sedang di selimuti kejahatan.


"Ayah Serafin adalah guru dari Kakegawa dan Axelo."


Axelo sendiri kemudian menitipkan putrinya Lunelia kepada sahabatnya Kelvin Antonio untuk di rawat dan dia mengucilkan Levia ke goa Simbra karena seseorang telah meramalkan bahwa kelak kejahatan sang ibu akan turun ke salah satu putri kembarnya yaitu Levia.


****Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen,vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2