
"Bukankah wanita cantik yang paling belakang itu adalah mantan madumu??" tanya Tristan berbisik pada Almira.
"Mereka ini....suami pergi berperang, mereka malah mau pergi shoping!!" kata Almira.
"Berperang dan shopingkan ngga ada hubungannya, ayo kita masuk..." kata Tristan menarik tangan Almira.
"Sepi...benar kata mata-mata kita, fokus mereka adalah menyerang istana goa pualam dan istana paman Bara Seta!!" kata Tristan.
"Baguslah..." kata Almira.
"Jadi kita banyak mengeluarkan tenaga untuk melumpuhkan pengawal rendahan yang tersisa." Kata Almira lagi.
Dengan cepat Almira melepaskan cincin dari Hiro yang bisa menghilangkan dirinya dari pandangan siapapun.
"Pegang tanganku Tristan!!" kata Almira lalu melangkah maju.
"Kok aku jadi deg-degan gini ya??" kata Tristan pada Almira.
"Kamu grogikah atau gugupkah??" tanya Almira lagi sambil berbisik pada Tristan.
"Aku gugup dan grogi karena ada di dekat mommy cantik sepertimu!!" kata Tristan sambil tersenyum.
"Ya kalau gitu kamu anggap aja aku mommy jelek...supaya kamu ngga grogi dan gugup lagi!!" lalu Almira menarik tangan Tristan supaya cepat melangkah mengikuti langkah kakinya.
"Jangan kamu sekali-kali melepaskan pegangan tanganmu kalau tidak mau kamu terlihat sama penjaga di sana itu nantinya!!" bisik Almira pada Tristan pelan.
Tristan sudah tak mampu menjawab, dia hanya mengangguk saja karena Almira sedemikian dekatnya pada tubuhnya.
Istana Kebebitak tampak lengang dan sunyi. Rakyatnya beraktivitas seperti biasa begitupun penjagaan di istana tampaknya biasa aja.
Tetapi dalam keadaan seperti itu Almira merasa curiga. Tak mungkin Kebebitak yang pandai dan licik membiarkan istananya begitu saja.
Dia berhenti sejenak sambil memandang sekitarnya dengan waspada lalu pandangannya menyapu kearah atas dan kearah tanah.
Benar saja apa yang ada dipikiran Almira.
Matanya yang jeli melihat banyak sekali jebakan di pepohonan dan di atas tanah yang tersembunyi oleh dedaunann banyak ranjau yang jika terinjak pemicunya maka...
BOOM...
Ranjau itu akan meledak menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
"Ada apa??" bisik Tristan perlahan melihat ketegangan di wajah Almira.
Almira menunjuk keatas pohon yang tersembunyi di balik dedaunan.
"Lihat itu??" bisiknya pada Tristan.
"Juga lihatlah jalur tersembunyi di di tanah ini!!" katanya lagi.
__ADS_1
"Tristan...kamu punya ilmu naga melayang di atas awankan?? Pergunakan ilmu itu supaya kita bisa melangkah tanpa menjejak bumi." Bisik Almira.
Terlihat Tristan merapalkan sesuatu lalu tak lama tubuh keduanya tampak melayang sangat enteng seperti kapas yang tertiup angin.
"Sempurna, Tristan...ilmu ini mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi juga diperlukan ketekunan dan kesabaran dalam mempelajarinya, tetapi kamu mampu menguasainya dengan sangat sempurna!!" puji Almira tulus.
Lalu kedua tubuh yang tak kelihatan itu bergerak melayang menuju keistana Kebebitak.
"Kita ambil mahkota kerajaannya juga sebuah permata merah delima yang menyatakan kalau kita adalah pemimpin mereka dan bukanlah lagi Kebebitak." Bisik Almira.
""Siap tuan putriku yang cantik!!" kata Tristan sambil tersenyum.
Mereka berdua telah masuk kedalam istana Kebebitak.
"Tristan, kalau kamu jadi Kebebitak kamu akan menyimpan barangmu yang paling berharga di mana??" bisik Almira.
Tristan nampak berpikir sesaat.
"Kalau aku akan menyimpan di tempat yang tak pernah dipikirkan oleh orang lain!!" kata Tristan.
"Di mana??" tanya Almira.
"Di balik kursi singgasana ini!! orang akan berpikir untuk menyimpannya di kamar, atau di tempat penyimpanan barang pusaka!! Itu kalau aku jadi Kebebitak.
"Ok...kita akan menuju ke kursi singgasananya itu."
"Hati-hatilah Mira, jebakan pasti juga terpasang di sekitar singgasana itu!!" bisik Tristan sambil menggandeng tangan Almira.
"Ngga ada yang aneh pada kursi ini!!" kata Tristan pelan sambil terus berpikir.
Tiba-tiba mata Almira yang tajam menangkap sesuatu yang menonjol di balik batu pijakan kursi singgasana itu.
"Coba kamu lihat batu yang menonjol di dekat pijakan kaki itu." tunjuk Almira pada Tristan.
Perlahan ditekan oleh Tristan dengan menggunakan ujung tumitnya.
Tak lama kurai singgasana yang terbuat dari baru pualam itu tampak bergeser ke samping dan nampaklah sebuah tangga menurun yang juga terbuat dari batu pualam.
"Mari kita masuk, aku mau lihat apa yang ada di dalam sana!!" balas berbisik Almira.
Mereka berdua tetap berjalan saling berpegangan. Almira berpegang pada Tristan agar tetap bisa selalu melayang dan Tristan berpegangan pada Almira agar dirinya tetap tidak terlihat oleh siapapun.
Begitu mereka berdua melewati tangga batu.
SREEERTT
Pintu batu bergeser menutup kembali.
"Waduh, kok tertutup?? kita bisa terkurung di sini??" kata Tristan.
__ADS_1
"Tenang Tristan...pasti ada alat pembukanya dari bawah sini, sekarang kita fokuskan mencari mahkota dan batu merah delims itu dulu." Bisik Almira.
Lalu keduanya melepaskan pegangannya dan terlihatlah wujud mereka kembali.
"Cepatlah cari Tristan...kita tidak mempunyai banyak waktu, kamu ngga usah ngeliati aku terus!!" cerocos Almira ketus seperti biasanya.
Tristan nampak tersipu malu lalu mulai mencari benda yang di maksud oleh Almira tadi.
"Mira, lihatlah kotak batu di pojok ruangan itu!!" tunjuk Tristan.
Mata mereka berdua tertuju kepada sebuah kotak batu yang bersinar redup itu.
"Aduh dalam ruangan ini hanya ada obor kecil sebagai penerangannya!!" keluh Tristan.
"Tristan, kamu kan masih dalam posisi menggunakan ilmu naga melayang di atas awankan?? Coba kamu maju periksa ke kotak itu aku akan mengawasi keadaan di sekitar sini!!" jawab Almira.
Tristan mencoba membuka kotak itu, begitu kotak terbuka...
WUSSSS
Sebuah anak panah bergerak tanpa suara melesat kearah batok kepala tristan.
"Tristan awas!!!" teriak Almira memperingatkan.
Sebenarnya tadi Tristan sudah mendengar sesuatu yang berdesing melaju kearahnya, sehingga dia yang memang sudah waspada dari tadi menundukan kepalanya.
Tampaklah dua buah benda bersinar di dalam kotak itu. Dua buah benda yang mereka cari sejak tadi.
Lihat Almira...mahkota dan batu merah delima sebesar telur burung unta ini!!" teriak Tristan.
"Cepatlah ambil Tristan kita tidak punya banyak waktu lagi!!" seru Almira dari tempatnya berdiri.
Dengan cepat Tristan memasukan kedalam kantung yang dia bawa setelah itu mereka berdua berusaha mencari tombol atau apapun untuk menggeser pintu batu itu.
"Lihatlah cekungan batu yanga agak menonjol itu!!" Almira menunjuk sesuatu di dinding yang agak tertutup oleh lumut.
Dengan cepat Almira meraba lalu berusaha menekan-nekan batu itu.
Tristan sebenarnya kagum pada wanita di depannya itu. Pikirannya dan pandangan matanya yang tajam sangat membantu dalam keadaan seperti sekarang ini!!
"Cepat Tristan kita tidak punya banyak waktu lagi!!" lalu Almira kembali memasukan cincin kedalam mulutnya dan Tristan cepat meraih tangannya hingga mereka berdua kembali melayang cepat dan tak terlihat menuju tangga batu yang pintunya telah bergeser.
Tak ada hitungan waktu, pintu yang terbuka dengan cepat bergeser tertutup kembali.
"Aduh...hampir kakiku terjepit!!" kata Almira agak kesulitan bicara karena mulutnya mengulum cincin sakti yang bisa membuat tubuh mereka menghilang.
*
*
__ADS_1
****Bersambung....
Lanjut ke next episode ya reader...dan jangan lupa selalu dukungannya🙏🙏