
"Pesanku, ini hutan belantara yang terkenal angker...masukan cincin dari kak Hiro itu kedalam mulutmu, agar kamu dan Rafa tidak terlihat oleh mahluk apapun apalagi sekarang kamu sedang hamil, takut terjadi sesuatu denganmu dan bayimu.
Sekali lagi Matsuyama membelai kepala Almira dan kepala Rafa bergantian sebelum beranjak mengikuti yang lain. Pesan yang sama pun dikumandangkan oleh kakek Dahlan, Kojiro, Giandra dan Serafin untuk Rafa dan Almira.
"Semoga kalian semua berhasil mengambil jantung itu, jika tidak pun aku sudah ikhlas untuk menjalankan takdirku, setidaknya aku bahagia pernah dilahirkan menjadi seorang manusia, mengenal seorang pria dan punya anak, walaupun akhirnya aku di khianati oleh cinta."
"Dasar manusia..." umpat Almira.
"Terkadang mereka lebih kejam dari pada kaum kami!!" airmata kembali menggenang di kedua kelopak matanya.
"Ibunda ratu Nilakandi, adikku pangeran Redo, dan kau Tristan, apa kabar kalian sekarang?" gumam Almira.
Kita ikuti kembali kelima orang yang mau masuk ke dalam goa mengapung itu.
"Kamu lihat tadi betapa besar dan panjangnya Ular itu??" bisik kakek Kojiro pada kakek Dahlan
"Aku tidak buta Kojiro, tentu saja aku melihatnya." Kata kakek Dahlan.
"Kalian semua bersiaplah, begitu dia mulai mundur masuk ke dalam.goanya biasanya dia akan tidur sambil membuka mulutnya menunggu mangsa yang datang." Kata Matsuyama.
"Jangan membuat pergerakan apapun dan usahakan jangan membuat suara apapun...karena ular reflek akan menyerang jika mendengar suara." Kata Matsuyama lagi memperingatkan.
"Kojiro...aku tidak tahan dari tadi mau kentut??" kata kakek Dahlan memegang perutnya.
"Tidak usah bertingkah macam anak kecil, Tosiro...tahan kentutmu jika tidak mau seluruh rencana kita gagal total...." Sentak Kojiro pada sepupunya itu.
Mereka semua menahan napas tegang saat ular besar itu mundur perlahan masuk kedalam goa kediamannya seperti mobil mundur mau masuk garasi.
Lama mereka menunggu agar sang ular terpejam. Di saat mata itu sudah akan terpejam dan ketegangan semakin mewarnai tempat itu, tiba-tiba...
Duuuttttt....
Suara yang berasal dari pantat kakek Dahlan tak tertahankan lagi.
Si ular yang sudah mau memejamkan mata di peraduannya, matanya menjadi nyalang kembali dan penuh waspada.
Suasana semakin menegang saat ular itu keluar perlahan sambil matanya yang mengeluarkan cahaya merah menyala menyapu ke seantero semak belukar di hadapannya.
Blusshhh
Tiba-tiba dia menyemprotkan semacam cairan mungkin bisanya yang berwarna hitam kemerahan.
Sontak rombongan kakek Dahlan kocar-kacir tak karuan dibuatnya.
semak belukar yang terkena cairan hitam kemerahan itu nampak gosong dan berubah menjadi abu.
Si ular semakin garang menatap mereka semua. Tatapannya tajam membunuh orang-orang yang ada di depannya.
"kita harus ubah strategi, salah satu dari antara kita harus bisa masuk ke dalam mulut ular itu dan yang empat harus menghadapinya dan memancingnya untuk membuka mulut agar yang satu bisa menerobos masuk ke dalam." Teriak Matsuyama sambil melompat menghindar.
Kini di depan mereka terpampang gambaran ular hitam sanca sangat besar dengan taringnya yang panjang dan matanya memancarkan cahaya merah.
"Kalian berempat pancinglah terus ular itu agar aku bisa melesat masuk ke dalam mulutnya saat dia lengah..." kata Matsuyama.
"Ini semua gara-gara kamu Tosiro...seandainya kamu tidak kentut, tidur ular itu tak akan terusik, mestinya kamu yang masuk ke dalam mulut ular raksasa itu, dan bukan Matsuyama." Kata kakek Kojiro geram.
"Isshhh dari pada nanti kupendam malah jadi penyakit?? Hayo!!" ucap kakek Dahlan santai.
"Besar sekali ular ini...bukankah ini ular yang waktu itu bertarung dengan raja naga biru?? Ya, kan?" tanya Giandra bergidik ngeri.
"Dan sekarang kita harus memancing sekaligus jadi umpan ular sialan ini??" kata Giandra lagi.
"Harus...kita harus bisa memancingnya, ini semua demi putri dan cucu kita!!" kata Serafin.
Keempat orang itu terus menggempur ular besar itu sambil berkali-kali berjumpalitan menghindari semburan bisa dan sabetan ekornya.
Akhirnya di suatu kesempatan Matsuyama berhasil menerobos masuk kedalam mulut ular besar itu terus meluncur melewati tenggorokannya.
Matsuyama menghunus pedang saktinya di sebelah tangan kanan dan di sebelah tangan kiri dia mengeluarkan batu berpinjar berwarna terang yang dia gunakan untuk penerangan di dalam perut ular yang gelap gulita itu.
Benar seperti kata paman Axelo dan bibi Rayanna...ada 12 cabang jalan di sana. Matsuyama berusaha mengingat dengan cepat apa yang sudah dijelaskan oleh ayahnya.
Dengan melangkah sempoyongan karena ular besar itu terus bergerak bertarung melawan ke empat orang lawannya, Matsuyama berusaha berpegangan pada dinding yang licin dan air mencapai lututnya untuk mencari tempat penyimpanan jantung ratu Hikaru.
Berkali-kali Matsuyama jatuh terduduk karena terpeleset tapi tak menyurutkan tekadnya.
"Semua kulakukan demi kamu Mira, apapun akan aku lakukan demi membantumu!!" ucap Matsuyama...
Lalu seperti memiliki energi baru dia bangkit walaupun udara di dalam perut ular besar yang selalu bergerak itu terasa pengap.
Dia ingat apa yang di katakan Axelo bahwa dia meletakan jantung itu berdekatan dengan sebilah samurai mustika yang mampu menghancurkan jantung itu sendiri.
"Hei...cahaya apa itu di ujung lorong ini?? seperti ada sesuatu yang bersinar terang??" gumam Matsuyama.
Perlahan dia mendekati cahaya itu tetapi karena di luar sana terjadi pertarungan, tentu saja Matsuyama juga terlempar kesana kemari dibuatnya.
Matsuyama menancapkan belati keci yang selalu dia bawa ke sisi kiri perut ular besar itu membuat si empunya perut menggeliat lagi.
Dengan berpegangan pada belati itu, Matsuyama melangkah perlahan mendekati cahaya itu.
Tepat di ujung lorong dia melihat sebuah kotak besi dan sebilah samurai tertancap di atas batu di samping kotak itu.
__ADS_1
Permata putih yang melingkar di sekitar samurai itulah yang tadi dilihat Matsuyama mengeluarkan cahaya berpendar.
Sedikit lagi tangannya menggapai kedua benda itu, tubuh ular besar itu kembali bergoyang tepat pada saat Matsuyama meraih kedua benda itu dengan tangannya.
Kita tinggalkan dulu Matsuyama dan rombongannya yang tengah berjuang melawan ular sanca raksasa itu.
Di goa siluman di tempat kediaman Kebebitak, Levia baru saja selesai berjuang melayani naf*su sang panglima yang seperti tak berujung, tugasnya sekarang digantikan oleh Shiera untuk menggoyang ranjang panglima perang kerajaan siluman kera itu.
Dengan langkah sedikit diseret karena sejak berjam-jam lalu dia menemani sang panglima, dia menuju kamar ibundanya.
Ratu Hikaru semenjak pertarungannya dengan raja naga tempo hari telah kehilangan separuh dari kekuatannya.
Hikaru nampak sangat gelisah dan Levia tidak tau mengapa karena semenjak pertarungan itu ibunya seolah menjadi bisu dan tak bisa berkomunikasi lagi dengan siapapun juga.
"Ibunda...mengapa ibunda tampak gelisah sekali??" tanya Levia cemas.
Hikaru hanya menggerakan tangannya saja lalu dengan dibantu Levia dia duduk bersila di tempat tidur dan memejamkan mata terfokus pada satu titik.
Seperti diketahui jantung sang ratu kini ada dalam bahaya, jika jantung itu musnah, maka tamatlah ratu Hikaru untuk selamanya tak akan bisa bangkit kembali dari kematiannya.
Itu yang membuat ratu Hikaru gelisah semenjak tadi. Dia merasa ada seseorang yang telah berhasil mengetahui di mana letak jantung itu di sembunyikan.
Dia mencoba menghubungi Sinoe ular sanca raksasa hitam yang menjadi junjungannya. Karena di dalam perut Sinoe lah jantung itu tersimpan bersama samurai pusaka milik ayahnya yang dia curi tetapi tidak bisa dia gunakan karena samurai itu tidak bisa lepas dari sarungnya.
Tubuhnya semakin melemah pertanda ada seseorang yang telah berhasil mengambil jantung itu, tetapi siapa? siapa yang berani masuk ke dalam perut ular raksasa itu?"
Ratu Hikaru terus memcoba bersambung rasa dengan Sinoe yang tengah bertarung.
Dengan sisa kekuatannya ratu Hikaru melakukan teleportasi masuk ke dalam perut Sinoe.
Tepat pada saat Matsuyama mencoba mau membuka kotak kecil itu tiba-tiba ada yang mencekik lehernya dari belakang keras sekali sampai dia sesak napas.
"Bocah laknat...lepaskan jantungku!!" sebuah suara menyeramkan berbisik di telinganya.
Matsuyama mengarahkan batu putih berpijar yang dia gunakan sebagai penerangan di dalam perut ular yang dingin dan lembab itu.
Batu itu adalah batu mustika pemberian ibunya yang mempunyai fungsi menangkal semua ilmu apapun yang berniat menyerangnya dari belakang.
Suara teriakan menggema di seantero goa itu dan saat lehernya berhasil lepas dari cekikan dia cepat berbalik untuk melihat siapa yang telah berani mencekik lehernya seperti itu.
Matsuyama terpekik kaget setengah mati melihat sosok awut-awutan yang telah berdiri di depannya.
Seperti diketahui bahwa Matsuyama takut sama hantu apalagi berada sendirian di tempat itu.
Nyalinya langsung menciut melihat sosok asli ratu Hikaru. Rambut putih panjang tergerai seperti miss key juga matanya semua berwarna putih.
"Aduh...siapa sih mahluk putih semua ini??? Ibu...ayah...kak Hiro...Matsuya takut!!" desisnya gemetaran.
"Aku harus berani...karena aku harus melindungi orang yang aku cintai..." desis Matsuyama.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya tangan kanan memegang kotak tangan kiri memegang samurai dan batu permata putih.
"ini...ambillah..." kata Matsuyama mengangsurkan samurai dan batu permata putih itu kehadapan sosok mengerikan ratu Hikaru.
"Tidak..."
Ratu Hikaru melompat mundur seolah takut pada samurai dan permata putih tersebut.
Kini Matsuyama tau kelemahan ratu Hikaru. Keberaniannya muncul sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba Kletek...
Samurai yang terkunci itu terbuka. Dengan cepat Matsuyama mengaitkan kepinggangnya dan memegang samurai dan permata putih dengan satu tangan.
"Aku harus cepat keluar dari dalam perut ular ini, keselamatan mereka yang ada di luar sana bergantung kepadaku!!" desis Matsuyama.
Crassshh...
Hawa sedingin es menyapu kearah ratu Hikaru yang berteriak keras untuk menghindar.
Angin kibasan samurai di tangan Matsuyama merobek perut ular itu membuat ular sanca raksasa itu meraung dan melolong kesakitan.
Seketika semua yang ada di dalam tersedot keluar tanpa terkecuali ratu Hikaru.
Ular sanca raksasa itu segera mundur masuk kedalam goanya tak muncul lagi.
Saat ular sanca raksasa itu meraung dan melolong, kakek Dahlan dan kakek Kojiro segera lari menyelamatkan diri.
"Aduh suaranya seram amat...seperti serigala cari istri!!" kata kakek Dahlan.
Bersamaan dengan itu dilihatnya dari perut ular yang robek besar itu bertebaran keluar Matsuyama dengan bawaan penuh di tangan kanan dan kirinya.
Lalu ratu Hikaru dengan wajah dan tubuh awut-awutan.
Lalu ada lagi.sebuah cincin mustika dan sebuah kitab terlempar jauh kebawah tepat di tempat Mira beristirahat.
"Apa itu ya??"
Mira yang sejak kepergian kelima orang itu tak bisa tidur kembali hanya duduk dalam kegelapan menunggu Rafa tidur dan masih dalam keadaan mengulum cincin Hiro di dalam mulutnya.
Dengan cepat dia meraih sebuah kitab kuno dan cincin putih bermata giok warna hijau redup menandakan ada racun di dalam batu giok itu.
__ADS_1
Aneh perutnya yang semenjak beberapa hari ini terasa sakit saat dia tempelkan cincin dan kitab itu keperutnya terasa ada hawa hangat menjalar.
Walaupun usia kandungannya baru menginjak tujuh bulan tetapi Almira sering merasakan sakit di sekitar perutnya, mungkin efek kelelahan, istirahat dan makan tidak teratur apalagi bagi ibu hamil sepertinya yang membutuhkan nutrisi dan istirahat yang cukup.
Sudah tiga bulan lebih dia dan Rafa pergi berkelana selama itu juga dia tak lagi mendengar kabar ayah dari bayinya itu.
Tuan Kelvin dan Aliandhara ataupun Alia juga tidak pernah menceritakan tentang suaminya dan dia pun enggan atau bisa dikatakan sudah malas untuk mendengar kabar apapun tentang Xavier.
Almira segera menyimpan kitab itu dibalik bajunya serta memakai cincin putih itu di jarinya.
Kembali pada pertempuran di atas...
Setelah terlempar keluar dari dalam perut ular sanca raksasa itu mereka berlima berdiri menghadapi sosok Hikaru yang sangat mengerikan.
Mata dan hidung wanita iblis itu hanya merupakan rongga yang dalam dan mengeluarkan darah, rambut putihnya berkibar dalam gelapnya malam, badannya yang tinggi terlihat seperti tinggal kulit pembungkus tulang.
"Anjrottt...kenapa sosok ratu Hikaru ini lebih seram dari kuntilanak?" tanya kakek Kojiro bergidik ngeri.
"Serahkan jantung itu....jantung itu milikku!!" tiba-tiba tangannya mengulur dan mulur seperti karet meluncur cepat kearah Matsuyama.
Dengan cepat Serafin mengayunkan kedua pedang kembarnya menebas tangan itu.
Trang...
Kedua tangan itu putus, tetapi begitu tersentuh ke tanah secara aneh tangan itu meluncur dan bertaut kembali di tubuh itu seperti ditarik oleh maghnet yang tak kelihatan.
"Cepat Matsuyama....buka peti baja itu putuskan gembongnya dengan samurai di tanganmu!! jangan kamu malah terpesona oleh kecantikan ratu Hikaru." Kata kakek Dahlan.
"Ishhh terpesona apanya...jangan kata Matsuyama, aku yang tua aja ogah!!" kata kakek Kojiro sambil mencibir.
"Cepat Matsuya!!! teriak Giandra karena seluruh anggota tubuh ratu Hikaru berlepasan dan siap untuk menyerang.
Sekarang kepalanya pun terlepas dari lehernya. Rambut panjangnya berubah kaku seperti bulu landak, lidahnya panjang terjulur dan bercabang seperti lidah ular dan dari mulutnya tumbuh taring memanjang semua bersiap menyerang Matsuyama.
"Alamak...ambo tak ado tidur tapi kok mimpi buruknyo sekarang??" teriak kakek Dahlan bergidik ngeri.
"Sekarang bukan hanya burung bisa terbang, tapi tangan dan kepala juga bisa terbang jadi berhati-hatilah..." kata Giandra memperingatkan sambil mengeluarkan tongkat besinya yang dia pakai untuk berjalan semasa dia masih buta dulu.
Matsuyama konsentrasi sambil memegang samurainya dan...
Trang...
Gembok berkarat yang mengunci peti kecil itu terbuka.
Tampaklah di dalamnya jantung ratu Hikaru yang masih utuh.
"Cepat Matsuyama...sebelum yang punya jantung menarik dan mengambil jantung itu!!" teriak kakek Kojiro lantang membuat Matsuyama segera tersadar dan dengan cepat menusukan samurai itu tepat ke tengah jantung ratu Hikaru.
"Aahhh tidaaakkkk..."
Terdengar bunyi teriakan disertai suara seperti melolong panjang sampai terdengar di bawah pohon tempat Rafa dan Almira duduk.
Rafa yang kaget dan terbangun dengan cepat memeluk Almira.
"Suara apa itu mommy?? mengapa sangat mengerikan?" tanyanya.
"Rafa tenang dan jangan takut ya!! kan ada mommy di sini bersama dengan Rafa!!" Almira memeluk bocah itu untuk memberinya ketenangan.
Potongan tangan dan kepala itu seketika luruh dan jatuh ke tanah bahkan potongan kepala itu menggelinding kearah kaki Giandra.
Hiiii....
Bluk....
Dengan cepat Giandra menendang potongan kepala itu kearah kaki Kojiro.
Waalllaaaa...matilah aku jadi kodok!! teriaknya lantang.
Perlahan jantung yang ditusuk itu menghitam seperti arang bersamaan dengan itu potongan tubuh ratu Hikaru musnah.
"Syukurlah...kita berhasil!! semoga dengan musnahnya Hikaru maka kutukan itu bisa segera musnah pula dari diri Almira dan keturunannya."
Senyum bahagia Matsuyama tampak sumringah.
Berbeda dengan kebahagiaan mereka, jauh di tempat kediaman kerajaan siluman kera, Levia yang sedang menunggu ibundanya menjerit histeris.
Tubuh ratu Hikaru perlahan berubah menjadi tengkorak dan tergeletak di atas pembaringan.
Teriakannya itu menggema sampai ke peraduan Kebebitak. Shiera dan Kebebitak yang sedang berada di puncak sesaat menulikan telinga mereka sampai mereka berdua menuntaskan hasrat yang menggelora. Setelah tubuh keduanya terkulai lemas, Shiera memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai begitu pula dengan panglima perang kerajaan siluman kera itu.
Mereka bergegas menuju ke arah kamar Hikaru dan terbelalak melihat ratu Hikaru hanya tinggal tengkorak saja.
*
*
***Bersambung....
Akhirnya Almira dan bayinya terbebas dari kutukan turun temurun yang mengikatnya beserta keluarganya selama ini.
Ikuti terus lanjutan kisah Almira ya...baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏
__ADS_1