
"Kamu seperti putri dugong kalau basah kuyup begitu baby..." Dia tertawa saat melihat kepala Mira muncul."'
"Sembarangan aja bapak ini...cantik-cantik gini di bilang putri dugong." Mira cemberut.
"Dari pada bapak bilang singa laut? Hayo pilih yang mana?"
"Bagaimana? Kamu masih merasakan efek obat itu, Mira?" Jika masih juga kamu merasakan, lebih baik nyerah aja...bapak
bersedia kok jadi kelinci percobaannya."
"Huuuu...enak di bapak ngga enak di saya namanya."
"Jadikan sekalian kita bisa nikah aja, Mira!!' Mira hanya mengerucutkan bibirnya saja.
Mira keluar dari dalam air dengan keadaan basah kuyup. Tubuh indahnya tercetak nyata membuat Xavier merasakan tubuhnya panas dingin.
"Ayo pak kita pulang, Mira lari aja lagi toh rumah juga sudah dekat." Mira berlari mendahului Xavier seolah tak pernah terjadi apapun.
Sementara itu....
Kakek Dahlan tampak gelisah karena sudah pukul 5 sore Cucunya belum pulang juga.
Saat dia sibuk mondar mandir di teras depan, tiba-tiba...
Bluk...Kadir menjatuhkan dirinya tepat di atas kepala kakek Dahlan. Kontan kakek Dahlan berteriak kaget sekaligus ngeri.
"Dasar bocah ular bodok...kurang ajar...ini nih akibat salah ajaran dari mamak angkatnya nih, jadi anaknya kurang ajar juga."
Dengan reflek kakek Dahlan mengibaskan kepalanya dan berusaha melemparkan Kadir ke tanah.
Kadir terlempar jauh kesemak-semak. Tapi hebatnya, begitu tubuhnya menyentuh semak secara reflek Kadir memantulkan badan hitamnya yang licin lalu meluncur kembali ke pangkuan kakek Dahlan.
"Bocah gila...kamu mau membuatku sakit jantung?" Kakek Dahlan menghindar cepat.
Tapi seperti bola karet yang dilempar, Kadir mengikuti kemana arah kakek.
"Kalau kamu terus menggodaku, jangan salahkan aku jika membuat kulitmu lebih gosong lagi ya Kadir??"
"Siapa yang berani-berani mau membuat gosong anak kesayanganku?"
Sebuah suara menggelegar mengagetkan Kadir dan kakek Dahlan.
"Walah...emaknya datang!!" Kakek mencibir pada Mira.
Kadir berhenti mengikuti kakek Dahlan, pandangannya beralih pada Mira yang baru datang.
Tanpa menunggu persetujuan lagi Kadir melompat ke dalam pelukan Mira.
"Anak mama sayang...pergi kemana aja kamu selama berhari-hari? Apakah kamu pergi cari istri?"
Mira menciumi kepala Kadir. Seolah tau jika sedang di sayangi, Kadir menggesek-geseksn kepalanya ke pipi halus Almira.
__ADS_1
"Hei anak sambal...kehujanan di mana kamu kok basah kuyup begitu? Mana badanmu bau ikan kering lagi!!"
"Pak Xavier...kecebur di comberan mana Almira itu sampai bau garam begitu?"
Xavier lalu menceritakan dengan cepat dan singkat kejadian yang terjadi tadi. Kakek mendengarkan dengan seksama.
"Apa pak Xavier sempat melihat orang itu?" Tanya kakek.
Xavier menggeleng. "Dia bergerak seperti bayangan kek, sangat cepat...hanya kelebatan pakaiannya saja yang terlihat.
Kakek Dahlan hanya geleng-geleng kepala.
"Inilah akibatnya terlalu petakilan...jadi musuhmu di mana-mana, Mira!!"
"Untung kamu bisa mengendalikan dirimu jadi tidak terjebak kedalam gairah yang berkepanjangan, mungkin jika perempuan lain sudah habis kamu."
"Mira...kamu mandi sana!! Saya juga sekalian mau pamit pulang...hati-hati ya, sekarang kamulah incaran mereka."
"Entah apa yang mereka cari darimu, tapi tujuan mereka cuma satu...yaitu hendak membuatmu celaka."
"Saya pulang dulu ya putri dugong!! Besok pagi saya akan menjemputmu lagi."'
"Saya permisi dulu ya kakek...dah Kadir...Assalamualaikum semua!!"
Setelah berpamitan, Xavier melaju dengan mobil sportnya membelah jalanan yang sepi.
"Aduh rasanya berat banget aku mau ninggalin putri dugongku ini...padahal seharian sama dia, bawaannya masih kangen aja!!" Xavier berucap sendiri.
*
*
Tuan Anderson menyapa putranya. Mau tak mau Xavier ikut duduk bersama kakak dan daddynya.
"Kak Xavana tumben malam main kemari? Ngga bersama kakak ipar?" Tanya Xavier.
"Kakak ipar yang mana?" Jawab Xavana.
"Ya kak Valerialah..." Kata Xavier. Padahal dia tau kalau Valeria kembali mengemis cinta pada Aliandhara.
"Untuk apa aku menikah dengan perempuan sampah itu...dia bukan istriku dan dia bukan kakak iparmu." Gerutu Xavana.
"Sekarang dia pergi dari apartemen entah kemana...tapi berat dugaanku dia pergi menemui mantan suaminya, mereka punya seorang putrakan?"
Xavier memandang wajah kakaknya dengan tatapan intens. Tak ada penyesalan sama sekali dalam setiap ucapan kakaknya itu.
"Kenapa kak Valeria bisa pergi kak? Bukannya dia wanita pemuja kemewahan?"
"Malam itu kami bertengkar...dia menuntutku untuk tidak bersama dengan wanita lain selain dia...ya aku keberatanlah...pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi."
"Sebenarnya dia kasihan juga Xavana...karena dendam daddy pada keluarga Kelvin, Valeria rela mengorbankan dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang tak di cintainya hanya demi cintanya padamu."
__ADS_1
"Sebenarnya dari awal perjodohan, Xavana sama sekali tak menginginkannya, daddy."
"Omong kosong dengan segala cinta dan perjodohan...lagi pula Valeria telah kumanjakan dengan segala fasilitas dan kemewahan...itu sudah cukup untuk membayar kerugiannya selama ini."
"Kamu sendiri bagaimana selama sebulan menjadi dosen di sana Xavier?" Tuan Anderson beralih bicara pàda Xavier.
"Yah begitulah dad...namanya juga yang dihadapi sudah dewasa semua..."
"Dan cantik-cantik...." Sela Xavana sambil tersenyum memandang adiknya.
Xavier hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yan tidak gatal.
"Ya sudah daddy...kak Xavana...saya mau ke kamar dulu mau mandi...badan rasanya gerah semua."
Dia berdiri lalu melangkah santai masuk ke dalam kamarnya.
*
*
"Honey....kamu dari mana? Jam segini baru balik ke apartemen!!" Valeria duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Aku dari tempat ayah." Jawab Aliandhara singkat.
Dilewatinya Valeria. "Bagaimana kabarnya Rafa, honey? Tanya Valeria.
Aliandhara berhenti lalu menatap Valeria tajam. "Tumben kamu menanyakan keadaan anakmu, biasanya kamu cuek saja.
"Memang salah ya honey kalau aku menanyakan kabar putraku?"
Aliandhara mendengus lalu melanjutjan langkahnya masuk ke dalan kamar.
Dia mengguyur seluruh tubuhnya dengan menggunakan shower untuk menghilangkan penat di seluruh tubuh, hati dan otaknya.
Masih terbayang jelas dalam ingatannya saat tadi siang Almira sama sekali tak mau melihat ke arahnya saat bicara.
Lalu teringat omongan dari pengawalnya yang bilang kalau Almira telah dijemput oleh kekasihnya.
Entah mengapa ada rasa sakit dalam hatinya mendengar itu.
"mommy...daddy kangen..." Bisiknya.
" Bisakah kita bersama lagi seperti dulu dan membesarkan Rafa bersama-sama?"
Hampir setengah jam dia baru selesai dengan ritual mandinya. Dia keluar hanya memakai handuk di pinggangnya.
Dia terkejut melihat Valeria sudah baring-baring di tempat tidurnya, hanya menggunakan lingerie saja.
"Mau apa kamu tidur di kamarku Valeria. Sana kembali ke kamarmu..."
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa selalu dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏