
"Jika racun samurai ini telah sampai kejantungku di situlah akhir hidupku, Serafin, seluruh ilmuku telah kuturunkan padamu, semestinya samurai kembar itu dimainkan kau dan suamimu, tapi karena Giandra sudah mempunyai tongkat besi maka mainkan lah kedua samurai itu oleh dua tanganmu sendiri."
"Cepatlah turun lembah, tak usah lagi kembali ke pondok karena aku merasa bahaya besar menunggu kalian di sana."
Arrgghhh
Sebuah erangan panjang dari nenek Megumi karena sakit pada putusnya lengan dan luka di bahunya.
"Nenek...bertahanlah, aku akan meracik obat untuk mengurangi rasa sakitmu." Kata Serafin.
"Tak perlu nak, nenek rasa kebersamaan kita cukup sampai di sini...jika nenek sudah tak ada maka pergilah kalian turun lembah carilah kedua anak kalian, sudah waktunya kalian berdua menghentikan kejahatan Hikaru.
"Dan satu lagi pesan nenek, jaga kedua samurai kembar itu anggaplah itu sebagai nyawa kedua bagimu."
"Tak lama kemudian warna biru kehitaman sudah mencapai leher nenek Megumi, sang nenek sangat kesakitan. Serafin dan Giandra juga bingung harus melakukan apa karena nenek Megumi memang sudah sekarat.
Tak lama tubuh menegang itu mulai melemas pertanda nyawa sudah tercabut dari tubuhnya.
Serafin menangis sedih, bagaimanapun nenek Megumi adalah malaikat penolong dia dan Giandra dulu. Sang nenek seolah adalah pemberi nyawa kedua untuk mereka.
"Sebaiknya nenek lekas kita makamkan... dimakamkan di sekitar lembah ini saja tak usah dibawa naik keatas...kamu dengarkan tadi apa kata nenek? Kemungkinan ada bahaya besar yang menunggu kita di atas sana."
Sebelum petang kedua suami istri itu sudah selesai memakamkan sang nenek dan setelah membersihkan tubuh mereka dengan air sungai Nishizawa yang bening lalu mereka bersiap untuk pergi.
Serafin awalnya mau mengisi kendi air minumnya tiba-tiba Giandra menahan tangan istrinya.
"Ada apa yah!!" Tanya Serafin sambil berpaling pada suaminya.
"Lihatlah!!" Lalu tanganya menunjuk kearah hulu sungai..."
Sungguh hebat pendengaran Giandra, banyak binatang hutan yang mati termasuk ikan-ikan dalam sungai...semuanya larut ke hulu.
"Jika tadi kamu sempat mengambil air itu tentu kamu akan mati mengenaskan seperti mereka." Kata Giandra.
__ADS_1
"Ada seseorang yang meracuni air sungai dari hulu...cepatlah kita pergi tinggalkan tempat ini sebelum gelap, akan sangat berbahaya jika kita berada di tempat terbuka seperti sekarang."
Tepat dugaan Giandra, sepuluh menit kemudian tampak seseorang memakai jubah biru gelap melesat menuju tempat mereka sebelumnya.
"Keparat...cepat sekali mereka hilang." Dia adalah seorang wanita berparas cantik tapi berwajah bengis. Orang menyebutnya Dewi racun.
Dia adalah salah satu tangan kanan ratu Hikaru yang tak kalah jahat dan kejamnya dengan sang ratu. Baginya nyawa seseorang hanya seperti lalat saja.
*
*
"Yah, haruskah Gio pergi kembali ke Jepang? Lalu di sini Almira bagaimana, yah? Rasanya berat sekali meninggalkan kota penuh kenangan ini." Giovanno menatap lautan lepas dengan perasaan pedih.
"Kamu di mana adikku? Kakak sangat merindukanmu...pulanglah, kakak mungkin akan pergi jauh dan entah kapan akan kembali kemari lagi?"
"Kakak akan kembali jika luka hati karena cinta kita tak bisa bersatu ini sudah sembuh, setidaknya kakak sudah mampu menganggapmu sebagai adik tersayang dan bukan sebagai kekasih tercinta." Xavier Giovanno lalu melangkah meninggalkan pantai dan bersiap untuk pergi.
Sementara di tempat yang cukup jauh dari rumah pantai milik Xavier...
Kata-kata itu ditulisnya berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Terkadang air mata yang mengalir di pipi mulusnya cepat-cepat dia hapus dengan jari telunjuknya.
"Almira...apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Hiro menyusul bersama Kadir yang melingkar di lehernya.
Hiro tercenung membaca tulisan ranting Almira di pasir putih.
"Kamu merindukannya?" Tanyanya penuh rasa iba!!"
"Dia sekarang sedang apa Hiro? Apakah dia pergi mengajar seperti biasanya?" Almira menatap Hiro.
Ada perasaan iba di hati Hiro saat memandang Almira. Matanya terlihat cekung dengan lingkaran hitam di bawah matanya pertanda dia kurang tidur dan lelah.
Lelah dengan hatinya, juga merasa lelah dengan hidup dan kisah cintanya.
__ADS_1
"Dia akan pergi bersama paman Kojiro kembali ke Jepang hari ini Almira...apa kamu tak ingin menemuinya untuk yang terakhir kali? Mungkin dia tak akan pernah kembali kemari lagi karena hatinya juga sama terlukanya denganmu." Hiro ikut duduk di samping Almira sambil memangku Kadir.
Almira hanya menggeleng lemah sambil menunduk memeluk kedua lututnya. Rambut hitamnya tampak sangat berantakan tertiup angin laut yang kencang.
"Biar kami berpisah dengan membawa luka masing-masing, Hiro...biarlah perpisahan kami sama seperti saat pertemuan kami...berawal tanpa kejelasan dan berakhir tanpa kepastian dan berujung dengan kebingungan dan keputus-asaan."
Ada nada ratapan dalam setiap kata-kata Almira. Hiro tau gadis malang itu sangat terpukul dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang.
"Setelah kepergiannya nanti, kamu harus menata hatimu kembali dari sisa-sisa kehancuranmu...bangkitlah dan aku yakin kamu pasti bisa, buat Giovanno bangga denganmu." Hiro menepuk pundak Almira.
"Sekarang kita bersiap pulang ya...sudah berhari-hari kita di sini...waktunya kamu kembali menata hatimu."
"Kita pulang dengan apa Hiro? Masa kita pulang dengan perahu?" Almira dengan polosnya bertanya.
Justru pertanyaan polosnya itulah yang mengundang tawa Hiro.
"Kita akan berlari, aku akan menggendongmu karena aku tau kamu tak ada tenaga lagi untuk berlari." Hiro membelai membenarkan rambut Almira yang terhambur karena tertiup angin. Lalu dia berjongkok di depan Almira.
"Kamu kalau mau berak jangan di depanku begini juga kali, Hiro...mentang-mentang tubuhku lemas tak bertenaga tetapi jika hanya untuk menendang bokongmu yang kurang ajar itu, aku masih mampu!!" Ucap Mira sambil cemberut.
"Siapa yang mau berak? Aku mau menggendongmu di belakangku agar tangan kamu bisa memeluk leherku dan kedua kakimu bisa kamu lingkarkan kepinggangku saat aku lari nanti supaya kamu tidak jatuh." Jawab Hiro.
"Tapi kok aku malah seperti bayi sih jika digendong begitu?" Kata Almira lagi.
"Jadi kamu mau putar posisi, gendong begitu dari arah depan aja? Jangan...nanti malah aku yang ngga fokus, takutnya ada yang lain nanti yang mau menyusup masuk di celah-celah kedua pahamu." Jawab Hiro sambil cengengesan ngga jelas.
"Hiro, aku melingkarkan pahaku dan kakiku di pinggangmu...bukan di atas otongmu lagian hebat betul otongmu bisa menembus masuk lewat celana jeans yang aku pakai...memang kamu mau lari ngga pakai celana membiarkan otongmu gundal gandil kemana-mana melihat dunia?" Almira dengan tanpa dosa menyerocos tanpa mengerem mulut usilnya seperti biasanya.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Semoga dengan kehadiran Hiro yang humoris mampu mengobati luka di hati Almira...
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman semua😊😊💖💖💖