
"Kau mau ini? ambillah dariku jika kau mampu, Dewi racun...aku mau lihat seberapa dahsyat racunmu mampu menandingi ketajaman dua samuraiku."
Empat anak buahnya yang lain bergerak mengepung Serafin dan Giandra.
"Hei botak, kamu mau maju duluan? biar kupukul kepala botakmu itu dengan tongkat di tanganku ini?" sentak Giandra.
"Sombongnya kau Dewi kerudung biru, akan kurobek cadar dan kerudungmu untuk melihat apakah kesombonganmu.sebanding dengan wajahmu?"
Suaranya masih menggema saat tubuhnya
sudah melesat cepat kearah Serafin.
Sepuluh kuku jari-jari tangannya yang panjang melengkung mengarah pada wajah Serafin, bisa dipastikan jika sedikit saja kulit tergores dengan kuku panjang yang mengandung racun itu maka si empunya kulit bisa meninggal akibat terkena racun jahat yang ada dalam kandungan kuku beracun itu.
Dengan tenang Serafin mengayunkan samurainya, dan tring...
Kuku beradu dengan samurai itu. Dewi racun terkejut melihat bentroknya samurai dan kuku yang mengeluarkan percikan api.
"Setan alas...ternyata namamu bukan nama kosong belaka...tenaga dalammu luar biasa."
Diperiksanya kuku yang tadi berbentrokan dengan samurai milik Serafin, terlihat kuku yang sekeras baja itu nampak gompal membuat Dewi racun marah bukan main.
Dilihatnya Dewi kerudung biru nampak tenang-tenang saja.
Aku tak terima jika harus kalah dengan orang sepertimu.
Lalu dia melesat lagi melancarkan jurus-jurusnya.
Sangat cepat kuku dan tangannya bergerak dan yang nampak hanya kelebatan-kelebatan bayangan warna ungu saja.
Buk...
Tubuh Dewi racun terpental beberapa meter kebelakang akibat dadanya terkena tendangan telak dari Serafin.
Dia memuntahkan darah segar kehitaman. Dia mengerenyit menahan sakit di dadanya.
"Hei kalian berempat apakah hanya akan diam menonton saja?? cepat ringkus manusia buta itu..." teriak Dewi racun pada keempat anak buahnya.
Keempatnya kaget dan seolah tersadar lalu merapat mengurung Giandra.
"Ayah..." teriak Serafin dari samping.
"Tidak usah khawatir Sera, akan kubuat empat manusia bodoh ini menyesal karena telah berani mengeroyokku."
Sreettt...
__ADS_1
Ternyata di bagian bawah tongkat Giandra ada semacam pisau runcing yang keluar jika tombol di ujung tongkat bagian atas di tekan.
Tessss....
Cepat sekali gerakan Giandra memutus tali kolor keempat anak buah Dewi racun dan membuat keempatnya sontak kelagapan menahan celana yang meluncur manis tanpa hambatan kemata kaki.
Serafin sendiri kagum dengan kecepatan gerak suaminya sehingga diapun tak sempat melihat apa yang dilakukan Giandra tau-tau keempat orang itu sudah berteriak kalang kabut menyelamatkan aset berharga mereka.
Walaupun jengah tapi Serafin tertawa juga melihat ulah keempat orang itu. Dan suara tawanya ditimpali lagi oleh suara seorang kakek-kakek.
"Ayah..."
"Kebiasaan, melihat orang lain tertawa ikut tertawa juga walaupun ngga tau apa yang ditertawakan."
"Itu lucu Xavier...melihat lampu antik bergelantungan indah tertiup angin kian kemari."
"Lucu apanya??? indah apanya??? yang ada jorok tau melihat benda burik itu yang ngga ada sedap-sedapnya dipandang mata."
Whuahahaha...
Tambah kencang tertawa si kakek mendengar ucapan anaknya tadi.
Xavier hanya diam dan cemberut kesal melihat tingkah ayahnya itu.
Iya...mereka adalah Kojiro dan Xavier Giovanno. Sang ayah sengaja mengajak putranya ke desa untuk membantu menghilangkan stres Xavier yang walaupun sudah jauh tapi masih terus keingatan Almira, adik sekaligus kekasihnya.
Melihat gelagat yang kurang baik, Dewi racun bangkit sambil menahan sakit di dadanya lalu berteriak pada keempat anak buahnya untuk kabur meninggalkan tempat itu.
"Yah, mereka kabur...ngga ada tontonan gratis lagi deh!!!" kakek Kojiro sedikit kecewa.
"Dah, deh, dah, deh...kok senang betul melihat orang berkelahi?" sungut Xavier.
"Hei anak muda, mengapa putus cinta membuat mulutmu mengerucut dan cerewet saja seperti perempuan?" sang kakek terkekeh.
Lalu keduanya berjalan mendekati Giandra dan Serafin.
"Kalian tidak apa-apa tuan dan nyonya?" sapa kakek Kojiro.
"Kami berdua tidak apa-apa kek, hanya tangan saya sedikit ngilu karena bentrokan tenaga dalam dengan Dewi racun tadi." jawab Serafin.
"Permainan samuraimu hebat sekali nyonya? aku seperti pernah melihat dua orang wanita cantik memainkan jurus samurai seperti yang kau mainkan itu berpuluh tahun lalu."
"Tapi kau memainkannya hanya seorang diri dengan mengandalkan kecepatan gerak tanganmu saja, aku tau tak mudah memegang samurai dengan satu tangan, tapi kau mampu memegangnya bahkan memainkan jurus-jurusnya dengan dua tangan sekaligus."
"Jurus-jurusmu mirip dengan jurus-jurus Megumi dan Ayumi, dua kembar cantik yang juga dijuluki Dewi Seribu Obat...karena selain mahir memainkan Samurai, mereka berdua juga seorang tabib yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan racikan daun obat-obatan mereka."
__ADS_1
"Kau murid siapa? Ayumi atau Megumi?" tanya kakek Kojiro.
"Saya murid nenek Megumi kek, nenek Ayumi telah lama meninggal dunia."
Sementara Giandra yang sebenarnya sudah tidak buta lagi memandang lurus menatap Giovanno. Dia seperti melihat satu wajah yang sangat mirip dengan putra mendiang Ichiko dan Kikio sahabatnya...putra yang telah diamanatkan padanya untuk dijaga tapi akhirnya mereka terpisah karena serangan ratu Hikaru.
Wajah pemuda itu mirip sekali dengan mendiang Ichiko berarti dia mirip dengan Giovanno anak angkatnya, tapi apa iya? jika itu Giovanno berarti Almira ada bersama mereka, tapi di mana? Giandra celingukan memandang kekanan dan kekiri seperti mencari-cari sesuatu.
"Kemanakah tujuan kalian berdua nyonya?" tanya Kojiro.
"Kami berdua mau pergi kekota kek, kami mau menyeberang mencari kehidupan baru!!" jawab Serafin.
"Oh ya??? jika kalian tak keberatan, mampirlah ke gubukku di pinggiran kota, ini alamatnya!!"
Kakek Kojiro menuliskan alamat itu dengan cepat dan menyerahkan pada Serafin.
"Kalian berdua juga mau kemana?" tanya Serafin pada kakek Kojiro dan begitu manik matanya memandang Xavier dia sedikit terperanjat dan mengerenyitkan dahinya."
"Wajah pemuda tampan ini mirip sekali dengan putra angkatku dulu!!" batin Serafin menatap Xavier tak berkedip.
"Dia anakmu atau cucumu kek?" tanya Serafin.
"Dia putraku, nyonya...tampan sekalikan putraku ini!!" kakek Kojiro tertawa mengekeh.
"Ya sudah, kami berdua mau melanjutkan perjalanan kek, nanti sesampainya di kota pasti kami berdua akan mampir sebelum kami menyeberang pulau."
"Sayonara..."
Mereka saling melambaikan tangan dan berpisah di ujung jalan.
"Sayonara...sayonara aja...memang ayah tadi sempat menanyakan nama suami istri itu?" tanya Xavier setelah mereka jauh.
"Astaghfirullah...bodohnya orang tua pikun ini? hal sepenting itu malah dilupakan!!" kakek Kojiro menepuk jidatnya berulang-ulang.
"Sudah ngga usah ditepuk-tepuk terus, nanti tambah pikun...berat urusannya!! Ayah tadi tak lupa memakai ce*lana dalamkan??" kekeh Xavier.
"Kok semakin lama kamu ini semakin menjengkelkan sama seperti Dahlan dan Almira? Kalau ngomong ngga disaring dulu asal jeblak aja!!" sungut kakek Kojiro.
*
*
***Bersambung...
Akankah Xavier Giovanno bertemu lagi dengan kedua orang tua angkatnya itu???
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya ya guys...dan jangan lupakan dukungannya🙏🙏🙏