
"Lalu mereka mau membunuhku kemungkinan ini mengambil pasangan cincin yang ada di jari manisku ini!!" gumam Matsuyama pelan.
"Lalu jika dia tidak punya hubungan apapun dengan Sinoe, mengapa dia bernaf*su untuk membunuhku?? apa hanya perkara cincin ini, atau ada hal yang lainnya??" gumam Matsuyama.
"Kamulah yang harus memecahkan teka-teki ini Matsuyama..." kata Yula.
"Jangan kamu, kami saja tak pernah tau bagaimana rupa sang ketua itu sendiri...setiap dia dan wakilnya berbicara pasti mereka menggunakan tenaga dalamnya untuk menyamarkan suara mereka!!" kata Yula lagi.
"Terima kasih kamu telah mau menjaga ayah dan ibuku di sini Yula!!" kata Matsuyama tulus.
"Aku tau kamu siluman yang baik juga tampan, seringlah berkunjung kemari menemui kami, aku suka berteman denganmu!!" kata Matsuyama lagi.
"Benarkah kamu suka berteman denganku, Matsuyama?? sedangkan kaumku aja bilang bahwa aku ini siluman yang lemah, lembek dan penakut, makanya aku selalu dikucilkan."
"Ayah dan ibu selalu melimpahkan tugas penting kepada Yuli kakak kembarku karena mereka menganggap Yuli lebih mampu dan aku tidak bisa apa-apa untuk membanggakan mereka."
"Apalagi sekarang Yuli sedang pergi untuk beberapa hari meninggalkan aku, jadi saat aku merasa kesepian aku mampir kemari mengira Almira sudah kembali sekalian menjaga amanat yang telah diberikan Almira kepadaku!!" kata Yula panjang lebar.
Matsuyama memperhatikan lelaki yang duduk di depannya dengan wajah tertunduk itu.
Hatinya iba juga merasakan bagaimana rasanya dikucilkan sama seperti dulu dia dikucilkan oleh Hiro dan Sima.
"Hiro dan Sima??? apa mereka sudah tau ya, jika ibu dan ayah sudah tiada??" batin Matsuyama tiba-tiba teringat pada kedua kakaknya itu.
"Aku pulang dulu Matsuya...nanti orang tuaku curiga jika aku menjalin pertemanan dengan manusia!!" kata Yula lalu pamit pergi meninggalkan Matsuyama.
*******
Kebebitak duduk di kursi batu di apit dengan dua orang kepercayaannya.
Di depannya duduklah sang ketua beserta wakilnya. Di belakang mereka berdua juga berdiri dua orang pengawal kepercayaannya.
"Bagaimana perasaanmu ketua Ro dan wakil ketua Ma?" tanya Kebebitak sambil tersenyum menyeringai pada dua orang yang duduk di hadapannya.
"Bagus yang mulia panglima Kebebitak, aku puas melihat kinerja anak buahmu...aku puas karena dendam kami terbalaskan aku mau melihat apa langkah si anak emas selanjutnya!!" kata sang ketua.
"Baru aku melemparkan masalah itu pada anak-anak Sinoe, aku mengadu domba mereka agar antara si anak emas dan anak-anak Sinoe saling tuduh menuduh." Kata Kebebitak.
"Terus apa rencanamu selanjutnya panglima Kebebitak??" tanya sang ketua.
"Aku tetap pada rencanaku semula, ketua...aku mau minta bantuanmu untuk menguasai dunia bawah tanah yang memang tak tersentuh oleh kekuasaanku lalu dunia pualam biru yang dikuasai oleh bangsa Naga." Kata Kebebitak.
"Aku akan membantumu, tetapi bantu juga untuk membunuh si anak emas itu, aku mencintai istrinya dan aku sangat tak rela jika mereka hidup bahagia!!" sang ketua tampak terkepal tangannya.
"Oke...kita saling membantu dalam hal ini ketua!!" seringai Kebebitak.
"Selama cincin itu ada di tangan Matsuyama, aku rasanya tak bisa tenang!!" kata ketua Ro.
"Kita pasti bisa mendapatkannya!!" kata wakil ketua yang duduk di sampingnya.
Mereka bertiga sama-sama bersulang untuk merayakan keberhasilan mereka.
**********
Almira sedang duduk di taman belakang mansion sendirian. Revita dan Xander sedang bermain dengan kakeknya. Miranda sedang tidur siang bersama Xavier di ruangan bayi.
Laki-laki itu memang benar-benar berusaha untuk mengambil hati mantan istrinya, dia benar-benar mengambil momen mengasuh Miranda karena saat Revita dan Xander masih bayi dia tak ada untuk mendampingi mereka.
Almira kaget saat sesuatu meniup telinganya.
"Abang..." seru Almira kesal melihat Aliandhara datang mengagetkannya. Di sampingnya ada Rafa yang menggandeng lengan daddynya.
"Kok mommy sendirian di sini??" kata Rafa lalu duduk di pangkuan Almira.
Iya Xander dan Revita bermain dengan kakek, adik Miranda bobo siang ditemani om Xavier...Redo dan Alia sedang jalan malam mingguan!!" kata Almira.
"Kita kapan jalan lagi seperti dulu, Mira??? kita bawa Rafa jalan-jalan keliling kota!!" kata Aliandhara.
"Bang, itu semua sudah lama berlalu...lagi pula status Mira itu apa sih?? hanya sekedar body quard dan bang Ali kan juga sudah menentukan pilihan untuk kembali pada mommynya Rafa yang asli!!" jawab Almira.
"Ngga...mommynya Rafa itu mommy Almira dan bukan mommy Valeria...Rafa maunya sama mommy Mira, bukan yang lain!!" jawab Rafa dengan gusar.
Bocah itu memeluk erat Almira seolah takut kehilangan wanita cantik itu.
"Maafkan abang dek, itulah kesalahan abang...abang bimbang dengan perasaan abang sendiri!!" jawab Aliandhara.
"Seandainya dulu abang mengesampingkan rasa egois abang, tentu kita bertiga sudah bersama-sama!!" kata Aliandhara.
"Ngga ada gunanya menyesali cerita lama, bang...yang telah lewat tidak mungkin akan kembali lagi pada kita!!" kata Almira.
Aliandhara duduk di depan Almira sementara Rafa duduk di samping Almira.
Aliandhara menatap wanita cantik yang duduk di depanntnya lekat-lekat.
"Bang, jangan ngeliati Almira gitu bang...ngga enak Almira malu dilihatin begitu!!" wajah Almira bersemu merah membuat Aliandhara jadi gemas melihatnya.
"Mira, jika nanti kamu bercerai dengan Matsuyama...kembali ya sama abang!! abang akan selalu setia menunggu jandamu!!" kata Aliandhara tertawa mengekeh.
"Ngga jelas lho abang ini!!" kata Almira kesal bercampur malu.
Mereka bertiga tampak akrab sehingga saat kedatangan tuan Kelvin ke taman belakang pun ngga ada yang tau.
Tuan Kelvin tersenyum mendengar perkataan Aliandhara barusan.
"Ah, seandainya apa yang dikatakan Ali jadi kenyataan, aku pasti akan bahagia sekali!!" gumam tuan Kelvin.
"Kalian ini pada ngobrolin apa sih?? kok kayaknya asyik banget!!" kata tuan Kelvin ikut nimbrung dengan mereka.
__ADS_1
"Ini yah...mulut bang Ali ngawur banget...masa mau nunggu Almira jadi janda lagi??" kata Almira cemberut.
Mereka semua tertawa mendengar celoteh Almira.
Sementara itu Revita dan Xander menemani ayah mereka Xavier bermain bersama Miranda.
"Ayah...mengapa ayah tidak kembali saja dengan mommy??" tanya Revita yang lebih lancar bicaranya dibandingkan Xander.
Xavier tersenyum pahit, dia ingin sekali untuk kembali tetapi semua sudah tak mungkin lagi terjadi.
Almira sudah terlanjur menutup pintu hati untuknya, kalaupun bisa lalu bagaimana dengan Matsuyama??
Apalagi antara Matsuyama dan Almira sekarang sudah ada Miranda yang mengikat mereka berdua.
"Entahlah jika yang Kuasa mengijinkan Revita!!" kata Xavier pada putri kandungnya itu.
*******
Bonita tampak duduk termenung di taman belakang istana mereka.
Dia sangat rindu pada Matsuyama, sudah sebulan dia dan Matsuyama hidup terpisah.
Semenjak kejadian itu hingga mereka menikah terpaksa dan Matsuyama pergi meninggalkan dia di sini, Bonita tak lagi menjumpai Matsuyama.
"Apa aku susul saja Matsuyama ke peternakan, ya??" gumam Bonita.
"Atau jika aku hamil, mungkin aku bisa mengikat Matsuyama??" gumam Bonita lagi.
"Apa sebaiknya aku mencari orang untuk tidur denganku saja ya?? Lalu jika aku hamil, aku bisa merekayasa bahwa ini adalah anak Matsuyama." Pikiran liciknya mulai bekerja.
Bonita berdiri. Dia melangkah kearah samping halaman sambil melihat sekitar.
Di samping itu dia melihat seorang pemuda dari bangsanya sedang membersihkan halaman samping.
"Tampan...dia tampan!!" gumam Bonita tersenyum sambil mengamati pemuda itu.
"Hai...." panggil Bonita.
Si pemuda menghentikan kegiatannya sambil celingukan mencari sumber suara.
"Saya tuan putri??" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Iya kamu?? apa kamu melihat ada orang lain lagi di sini selain kamu??" tanya Bonita.
"Kemarilah...aku membutuhkan bantuan darimu!!" kata Bonita lagi.
Tukang kebun yang tak kalah tampan dari Matsuyama itu mendekat pada tuan putrinya.
Hatinya dag dig dug duer saat mendekati tuan putrinya yang cantik itu!!
Sudah lama dia menaruh hati pada putri tunggal Bara Seta itu, tetapi dia sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa, dia hanya tukang bersih-bersih di istana ini.
"Ada apa tuan putri Bonita memanggil saya??" tanyanya sambil menunduk takut bertatapan mata dengan gadis jelita itu.
"Siapa namamu??" tanya Bonita.
"Nama saya Rangga, tuan putri!!" jawabnya sopan.
Dalam hatinya Bonita menyayangkan mengapa pemuda setampan ini harus di pekerjakan hanya sebagai tukang kebun di istana ayahnya??
"Ikutlah denganku, Rangga!!" kata Bonita.
Bonita membawa Rangga ke bagian lain istana ini.
"Duduklah Rangga!!" kata Bonita mempersilakan Rangga.
Mereka berdua duduk berhadapan. Wangi aroma bunga dari tubuh Bonita menyeruak sampai ke pernapasan Rangga.
"Rangga...bisakah aku meminta tolong padamu??" tanya Bonita pelan sambil matanya tak lepas menatap lelaki tampan itu.
Tubuh Rangga panas dingin saat hembusan napas Bonita mengenai kulit pipinya karena begitu dekatnya mereka berbicara.
"Rangga...apakah aku cantik??" kata Bonita lirih.
"I...iya tuan putri sangat cantik!!" jawab Rangga tergagap.
"Apakah tubuhku menarik??" tanya Bonita lagi.
"Sa...sangat me...narik tuan putri!!" jawab Rangga menahan napasnya.
Dia lelaki normal. Berhadapan dengan wanita secantik dan sewangi Bonita, tentu hasrat kelelakiannya perlahan berkobar dan itulah yang diinginkan Bonita, dia ingin mendapat anak dari lelaki itu untuk menarik Matsuyama pulang kembali padanya.
Dengan tanpa malu-malu Bonita duduk dipangkuan Rangga.
"Rangga, jika aku meminta kamu untuk bercinta denganku kamu mau??" tanyanya pada Rangga.
"Tapi tuan putri sudah menikah dengan tuan Matsuyama??" kata Rangga antara takut tetapi juga ingin.
"Suamiku pergi meninggalkanku, Rangga...jujur aku ingin tidur denganmu supaya aku hamil dan bisa merebut dia dari istri manusianya itu!!" kata Bonita.
"Kan kamu bisa mendapat keuntungan ganda...kamu bisa mencicipi tubuhku sampai aku hamil kamu bisa mendapatkan juga kekayaanku, karena aku tidak meminta bantuanmu cuma-cuma, heemmm!!" kata Bonita semakin lirih.
Suaranya semakin serak terbawa naf*su, begitu pula dengan Rangga. Tak lama kedua orang itu sudah melakukan penyatuan raga di tempat peraduan Bonita. Mereka berpacu hingga hampir tengah malam.
"Rangga, ambilah sekantung uang emas yang ada di meja itu...bantu ibumu untuk membiayai hidup kalian!!" kata Bonita dengan suara serak dari dalam selimutnya.
Rangga bangkit dengan tertatih-tatih. Sungguh ini adalah pengalaman pertama baginya.
__ADS_1
Diraihnya pakaiannya yang berserakan di lantai kamar. Dengan cepat dipakainya lalu diraihnya sekantung uang pemberian Bonita itu.
"Saya pamit tuan putri..." bisik Rangga pada Bonita yang telah memejamkan matanya kelelahan.
Heemmmm...
Hanya sebuah gumaman yang terdengar dari bibir mungil milik tuan putrinya itu yang membuat Rangga gemas jadinya.
Kalau tidak segan pada wanita itu, ingin rasanya Rangga meraup bibir indah itu untuk dilu*matnya lagi dan lagi. Dia sungguh-sungguh dibuat terbang melayang ke angkasa oleh wanita cantik itu.
Di perkampungan dunia bawah tanah ini hanya ada obor dan lampu ublik untuk penerangan.
Dengan langkah sempoyongan setengah diseret Rangga pulang ke gubuk tempat dia dan ibunya tinggal. Gubuk kecil di pinggir kampung di dekat hutan.
Rangga sudah tidak mempunyai ayah lagi, ayahnya gugur dalam peperangan melawan siluman kerajaan kera yang dipimpin oleh Kebebitak beberapa tahun yang lalu.
Karena rasa hormatnya pada mendiang ayah Rangga, maka Bara Seta mempekerjakan Rangga di istananya.
Awalnya dia ingin Rangga menjadi seorang prajurit, tetapi ibunya Rangga memohon agar Rangga menjadi tukang kebun istana saja, dia tidak ingin kehilangan putra tunggalnya seperti dia kehilangan almarhum suaminya dulu.
Mereka memilih pergi meninggalkan lingkungan istana dan memilih membangun gubuk di pinggir hutan begini agar hidup mereka jauh lebih tenang.
Tok...tok...tok
"Kamukah itu Rangga??" kata ibunya dari arah dapur.
"Iya bu, ini Rangga!!" jawabnya lalu masuk dan menutup pintu.
"Kenapa sampai hampir tengah malam kamu baru pulang, Rangga?? biasanya sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, kamu sudah ada di rumah nak!!" kata ibunya yang membuat Rangga menjadi merasa bersalah.
Tak mungkin juga dia mengatakan pada ibunya jika dia habis bercinta dengan tuan putri Bonita putri tunggal junjungannya itu.
"Iya bu, ada pekerjaan tambahan dari tuan Bara Seta!!" jawab Rangga singkat.
"Ya sudah...kamu pergi mandi sana membersihkan dirimu di sumur belakang!!" kata ibunya.
"Ibu akan menyiapkan makan malam buatmu walaupun sudah terlambat!!" kata ibunya Rangga lagi.
Rangga tak lagi menjawab. Dia menuruti perkataan ibunya untuk mandi karena seluruh badannya memang terasa lengket apalagi sehabis mereka melakukan penyatuan Raga berkali-kali tadi.
Rangga tidak ingin ibunya mencium bau-bauan aneh dari tubuhnya. Makanya dengan cepat dia mandi dengan sabun wangi untuk menghilangkan bebauannya.
Lalu tanpa banyak bicara dia mengganti bajunya dan segera makan malam walaupun terlambat.
Lalu setelah dia mencuci piring bekas makannya dia segera pergi tidur di kamarnya.
Dia mencoba memejamkan matanya tetapi wajah Bonita dan pertarungan sengit mereka di tempat tidur tadi seolah membekas dalam ingatannya.
"Tuan putri Bonita seandainya cinta ini bukan sebuah kepura-puraan belaka, alangkah aku bahagia."
"Aku mencintaimu tuan putri Bonita sejak pertama kali aku melihatmu dulu!!" bisik Rangga sambil tersenyum bahagia.
Akhirnya dia tertidur memeluk Bonita di dalam mimpinya.
Begitu pula dengan Bonita. Permainan panasnya dengan Rangga tadi begitu membekas di hatinya.
"Rangga....seandainya kamu adalah Matsuyama...tentu aku akan sangat bahagia...permainanmu sangat memuaskanku, Rangga!!" bisik Bonita.
Setiap dia memejamkan matanya bukan wajah Matsuyama yang terbayang tetapi wajah dan tubuh Rangga lah yang terukir di matanya.
Karena dia tidak bisa tidur, akhirnya dia keluar kamarnya.
*******
"Aku bahagia sekali beberapa hari ini...kita belanja, ke salon, nonton, tapi bagaimana nasib Sullivan ya??" tanya Levia.
"Bonyok...bonyok itu badannya!!" kata Shiera tertawa mengekeh.
"Asalkan dia jangan sampai hamil anaknya kanda Kebebitak saja!!" kata Valeria menimpali percakapan kedua temannya.
Ketiganya asyik berbelanja ketika mata Valeria menangkap satu sosok dari masa lalunya.
"Xavana!!" desisnya perlahan.
Xavana sedang bersama tuan Anderson dan yang membuat Valeria terkejut Bilygong ayah dari Kebebitak ada bersama kedua orang itu.
"Apa yang sedang kamu lihat, Valeria??" tanya Shiera dan Levia bersamaan.
Mereka berdua mengarahkan pandangan mata kearah yang dilihat Valeria.
"Lho...bukankah itu ayahanda dari kanda Kebebitak??" tanya mereka berdua.
"Mengapa siluman kera satu itu bisa ada bersama Xavana dan Bilygong??" tanya ketiganya heran.
"Itu sudah yang menjadi pertanyaanku, apa hubungan mereka??" tanya Valeria lagi.
Tuan Anderson, Xavana dan Bilygong tampak asyik memilih-milih sesuatu sambil tertawa-tawa gembira seperti sebuah keluarga bahagia.
"Cie...cie yang sedang memandang mantan terindah!!" kata Levia menggoda Valeria yang matanya tak lepas memandang sosok Xavana cinta masa lalunya.
*
*
****Bersambung....
Akankah Bonita mulai mendua dan bermain hati pada Rangga dan mulai mencintainya??
__ADS_1
Ikuti terus perjalanan cinta Almira ya...tekan like, komen, vote, favorit dan rate nya, terima kasih🙏🙏