
"Pertama kamu sudah melakukan penyatuan raga dengan gadis itu, yang kedua kamu juga pada akhirnya menikahi dia walaupun dengan terpaksa." Kata Giandra pelan.
"Maafkan aku yah...sekali lagi tak ada niat sama sekali di hati Matsuya untuk menyakiti hati Almira!!"
"Hati laki-laki dan perempuan itu beda, Matsuya...tetapi jika Almira tau semua ini, ayah tidak yakin dia bisa memaafkanmu!!" kata Giandra.
"Keterlaluan kamu Bara Seta, kamu tau Matsuyama itu menantuku...suami dari putriku...masih juga kamu menikahkan mereka berdua!!!" batin Giandra geram.
Tambah kecutlah hati Matsuyama mendengar perkataan Giandra itu dan bertambah bingunglah dia pada keputusan yang harus diambilnya nanti, karena dia tau betapa keras kepalanya seorang Shahnaz Almira.
"Kenapa aku mau saja ditemani oleh si brengsek Bonita waktu itu ya?? jika tau akan begini jadinya, mending aku sendirian saja saat itu!!"
*******
Bonita termenung di pinggir kolam memperhatikan ikan yang tengah berenang.
Matanya memang memandang ikan-ikan tersebut tetapi pikirannya sedang berkelana kemana-mana.
Sudah sebulan sejak dia melakukan penyatuan raga pada Matsuyama di dalam goa itu, tetapi tidak ada tanda-tanda kehamilannya.
Bahkan seminggu setelah mereka berhubungan, dia telah datang bulan.
Lalu pandangan matanya beralih ke sisi kolam yang lain di mana Rangga yang tanpa menggunakan pakaian atas sedang membersihkan kolam tempat ikan-ikan kesayangan Bara Seta.
Teringat kembali di dalam pikiran Bonita saat malam itu di mana dia dan Rangga berhubungan.
"Entah mengapa saat melihat tubuh Rangga yang penuh dengan peluh seolah bersinar berkilauan dan tampak mempesona di mata Bonita.
Perlahan dia bangkit berdiri mendatangi Rangga yang posisinya tengah berdiri membelakangi dirinya.
"Rangga..." sapanya.
Dengan cepat Rangga menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya itu.
"Saya tuan putri...ada yang bisa saya bantu??" kata Rangga.
Mereka berdua saling mendekat. Hingga tak ada jarak yang mengikis antara mereka berdua.
"Rangga, aku menginginkanmu!!" kata Bonita yang mendadak saja penuh gairah menatap Rangga.
Rangga yang sebenarnya juga menyimpan perasaan yang sama dengan Bonita tak bisa lagi mengendalikan akal sehatnya.
Mereka berdua saling berpagutan melepas rindu.
"Jangan di sini tuan putri, takut ada yang melihat..." bisik Rangga.
Akhirnya Bonita menarik Rangga ke kamarnya.
"Rangga...!!" panggil Bonita lirih.
"Iya tuan putri...!!" kata Rangga masih memeluk tubuh ramping itu.
"Aku tau hubungan ini salah...jujur niat awal aku mendekatimu karena aku ingin mencari keturunan untuk menarik Matsuyama kembali...tetapi setelah sebulan kita berhubungan, aku sadar aku mulai suka padamu!!" kata Bonita sambil memainkan rambut Rangga yang menyelipkan wajahnya ke cerung milik wanita itu.
"Tapi kamu tau, aku ini masih istri Matsuyama dan kamu tau kan peraturan bangsa kita, selama apapun kita ditinggalkan tetapi jika tidak ada terucap kata cerai dari pihak lelaki maka selamanya kita akan terikat pada pernikahan itu." Kata Bonita.
"Jadi apa yang tuan putri ingin aku lakukan??" tanya Rangga mengangkat kepalanya memandang wajah cantik di depannya itu.
"Rangga jawablah pertanyaanku dengan jujur...apakah kamu ingin berhubungan denganku karena rasa cinta, karena naf*su atau karena aku adalah tuan putrimu??" tanya Bonita menatap sayu bola mata terindah yang pernah dilihat Bonita.
"Tuan putri, aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu dulu."
"Sejak aku sering ikut dengan mendiang ayahku ke istana ini dan saat aku melihatmu, aku telah jatuh cinta padamu!!"
"Tetapi aku sadar diri apalah aku ini, tuan putri!!" kata Rangga.
Ssssttttt....
"Jangan kamu berkata begitu Rangga...aku tidak suka mendengarnya!!" kata Bonita menempelkan jari telunjuknya je bibir Rangga.
"Rangga...jika suatu hari nanti karena hubungan terlarang kita ini aku hamil, maukah kamu mengakui anak yang aku kandung dan menikahi aku??" tanya Bonita.
"Tentu tuan putri, aku bukan lelaki pengecut yang lari begitu saja dari tanggung jawab...pria sejati adalah pria yang berani berbuat dan juga berani bertanggung jawab!!" ucap Rangga mantap.
"Terima kasih Rangga, aku bahagia mendengarnya dan tolong mulai saat ini jangan panggil aku dengan sebutan tuan putri lagi...panggil aku dinda saja!!" kata Bonita.
"Baiklah dinda...!!" kata Rangga.
"Kita tunggu saja Matsuyama datang dan menceraikan aku, supaya kita bisa menikah...atau jikapun dia tidak akan datang ke dunia bawah tanah lagi kita berdua yang akan pergi mencari mereka!!" sahut Bonita mantap.
*******
"Aduhhh aku lelah sekali Rini, tidak bisakah kita beristirahat barang sebentar??" tanya putra Sinoe yang bernama Rana itu.
"Baiklah Rana...lagi pula aku bingung...kita tidak bisa keluar dari hutan dengan kondisi tubuh setengah manusia setengah ular begini." kata Rini menimpali ucapan saudaranya.
__ADS_1
"Terus kita harus bagaimana Rini??" tanya Rana.
Terpaksa kita menggunakan ilmu pamungkas kita untuk membuat diri kita mempunyai kaki walau pun efek dari ilmu itu adalah seluruh tubuh kita terasa sakit tak karuan seperti di sayat-sayat dengan pisau seluruh ekor kita.
Lalu kedua kakak beradik itu duduk bersila di atas tanah saling berhadapan. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat satu dengan yang lain.
Perlahan tubuh bagian pinggang ke bawah mereka mulai berubah wujud.
Ekor sebesar pohon kelapa itu perlahan mengecil dan menjelma menjadi sepasang kaki manusia.
Lalu kedua kakak beradik itu mengumpulkan sisik-sisik dari ekor mereka yang berserakan dan mengubahnya menjadi uang emas.
"Rana...kita akan memulai hidup baru kita sebagai manusia, kita akan mencari pembunuh ibu kita!!" kata Rini menepuk bahu adiknya.
Kemudian keduanya berjalan menuju pasar kuda terdekat dan membeli dua ekor kuda dan pakaian yang layak untuk mereka.
********
"Sudah sebulan Almira dan Miranda di rumah kakeknya, aku kangen banget sama istri dan anakku!!" kata Matsuyama duduk di atas tanah yang akan dia tanami.
"Aku harus menjemput mereka besok pagi-pagi sekali!!" kata Matsuyama lagi.
"Menantumu itu mengapa semenjak pulang kok murung terus, yah??" kata Serafin pada Giandra yang tengah duduk termenung.
"Katanya mau menjemput istri dan anaknya tapi ngga dijemput juga!!" kata Serafin lagi.
Giandra diam. Tidak mungkin dia menceritakan masalah Matsuyama yang sebenarnya pada Serafin. Bisa habis keduanya diamuk oleh Serafin karena Giandra hapal betul watak istrinya yang keras hampir sebelas dua belas dengan Almira.
"Ya mungkin dia merindukan anak dan istrinya, bu...hanya saja selalu ada hambatannya saat dia ingin menjemput Almira di mansion tuan Kelvin." Kata Giandra berusaha menenangkan Serafin.
"Ibu siapkan makan aja, ayah sudah lapar...ya!!" lalu Giandra mengelus rambut Serafin dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Apakah terlalu lama berkumpul dengan Xavier akan membuat rasa cinta kembali bersemi di hati mereka ya?? apalagi di antara mereka berdua ada Revita dan Xander sebagai penyambung hubungan mereka."
"Apalagi aku tau kesalahan Xavier tidak sefatal kesalahanku."
"Dia memang menikah dengan Sullivan walaupun terpaksa tetapi Xavier sama sekali tidak menyentuh wanita itu, berbeda dengan aku yang sampai melakukan hubungan badan dengan Bonita, semoga si Bonita itu tidak sampai hamil, jika dia hamil maka hancurlah sudah seluruh hidup dan cintaku pada Almira dan Miranda..."
"Pasti Almira tidak akan pernah mau memaafkan dan menerima aku lagi!! apa yang akan aku lakukan tanpa mereka di sisiku?" gumam Matsuyama pelan seolah hanya bergumam untuk dirinya sendiri.
"Besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menjemput Mira dan Miranda." Kata Matsuyama.
Setelah lama berpikir akhirnya dia memutuskan untuk menjemput keluarganya besok pagi. Terserah nanti kedepannya bagaimana yang terpenting mereka bisa berkumpul dulu.
********
Dua bulan kemarin dia dan kembarannya mendapatkan fakta baru yang membuat darah mereka tambah mendidih.
Pantas cara Kakegawa memperlakukan mereka berdua dengan si anak emas itu berbeda, ternyata mereka berdua bukan anak kandung Kakegawa.
****Flashback on****
"Bu makam siapa yang ada di sebelah makam ibu kami itu?? makam yang hanya berhiaskan tonggak batu sebagai batu nisannya??" kata wakil ketua Ma suatu hari.
"Iya bu, bahkan saat ibu kami baru meninggal dan di makamkan kami sudah melihat makam itu di sini!! jawab ketua Ro.
"Kalian berdua tau mengapa ibu kalian di makamkan di sebelah makam tua itu??' tanya ibu asuh mereka berdua.
Sepasang muda mudi yang masih polos itu menggelengkan kepalanya.
"Karena itu adalah makam ayah kalian yang sebenarnya!!" jawab sang ibu asuh.
JEDARRR....
Seperti disambar petir kedua bersaudara itu sangat terkejut mendengar penuturan sang ibu asuh.
"Makam ayah kami?? bukankah ayah kami Kakegawa??" tanya mereka serempak.
Sang ibu asuh menggeleng perlahan.
"Kalian berdua bukan putra dan putri dari Kakegawa, ibu kalian menikah dengan Kakegawa saat sedang mengandung kalian sembilan bulan." Jawab ibu asuh mereka.
Sontak ketua Ro dan wakil ketua Ma jadi terkejut.
"Lalu apa yang terjadi dengan ayah kami, bu??' tanya ketua Ro.
"Ayah kalian dulu adalah pemimpin perguruan yang sekarang diambil alih oleh Kakegawa." Jawab ibu asuh.
"Terus hubungan ayah kami dengan Kakegawa ini, apa bu??" tanya wakil ketua Ma.
"Perguruan ini dulu adalah sebuah perguruan besar, di mana ayah kalian sebagai pucuk pimpinannya dan ibu kalian sebagai wakilnya!!"
"Mereka berdua Takeshi ayah kalian dan Abesira ibu kalian saling jatuh cinta...mereka akhirnya menikah!!"
"Tetapi tanpa di ketahui saudara tiri Takeshi yaitu Kakegawa juga memendam perasaan yang sama terhadap Abesira...juga berambisi menjadi ketua di perguruan ini."
__ADS_1
"Kekecewaan Kakegawa dipendamnya dalam-dalam dan tidak di perlihatkannya kepada siapapun, dia tetap bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi."
"Hingga akhirnya ibu kalian Abesira hamil kalian berdua, keadaan masih baik-baik saja hingga suatu hari ayah kalian Takeshi terserang penyakit aneh yang tidak di ketahui itu penyakit apa."
"Penyakit itu dengan cepat menggerogoti kesehatan ayah kalian dan saat kehamilan kalian yang menjelang sembilan bulan ayah kalian menutup mata untuk selamanya."
"Tentu saja ibu kalian sangat terpukul mengetahui suaminya telah meninggal dunia...dan untuk sementara saat itu tampuk pimpinan dipegang oleh Kakegawa selaku saudara tiri ayah kalian karena tidak mungkin ibu kalian yang dalam keadaan hamil besar dan syok karena kematian ayah kalian, memegang tampuk pimpinan."
"Karena tak ingin melihat kalian yang lahir kelak tanpa ayah, maka sebulan kemudian Kakegawa melamar ibu kalian untuk dijadikan istrinya."
"Lalu bagaimana ibu bisa tau bahwa Kakegawalah yang telah membunuh ayah kami??" tanya ketua Ro.
"Ibu kalian mendengar sendiri percakapan antara Kakegawa dengan seseorang yang telah memberikan racun kepada ayah kalian, yaitu racun kala biru."
"Ibumu memang tau hingga perselingkuhan Kakegawa dengan perempuan jahat yang bernama Miku itu...jangan lupa dia juga ambil andil dalam kematian ibu kalian!!"
"Wanita itulah yang menaruh racun dalam dosis rendah setiap hari ke dalam minuman dan makanan ibu kalian hingga mendorong ibu kalian hingga ibu kalian terkena telak pukulan matahari dari ratu Hikaru yang ternyata adalah kakak dari Miku.
"Pantas...sejak kami kecil, terutama sejak ibu meninggal perlakuan tak adil sering kami dapatkan, bahkan berkali-kali kami diadu domba agar kami berdua terpisah."
Ketua Ro dan wakil ketua Ma tampak mengeraskan rahangnya. Kemarahan mereka sudah diubun-ubun tetapi mereka juga harus menyadari bahwa kekuatan Kakegawa apalagi ditambah oleh Miku akan sangat menyulitkan mereka berdua untuk mengalahkannya.
"Kelicikan dibayar cara licik pula!!" seringai kerua Ro.
"Lalu bagaimana dengan murid-murid perguruan itu, bu??" tanya wakil ketua Ma.
"Karena guru besar mereka yang sangat penyayang dan penyabar telah wafat, satu persatu murid perguruan berhenti belajar ilmu di sana."
"Mereka memilih pergi karena sudah tidak merasa nyaman lagi belajar ilmu kanuragan di sana!!" jawab ibu asuh mereka.
"Kasihan ibu kalian semasa hidupnya banyak mengalami penderitaan akibat perbuatan Kakegawa dan Miku."
"Abesira tau kelicikan Kakegawa, hingga dia menyembunyikan kitab ilmu seribu racun...dan pelan-pelan menurunkannya pada kalian berdua tanpa kalian sadari!!"
*****Flashback off*****
Semenjak kejadian itu, kebencian kedua anak Takeshi itu semakin mendalam.
Berkali-kali Kakegawa dan Miku berusaha untuk memisahkan kedua saudara kembar itu tapi tetap tidak berhasil.
Hingga suatu hari datanglah kesempatan bagi keduanya untuk membalas dendam.
Matsuyama tidak ada, Miku dalam keadaan sakit terkena racun kala biru tempo hari.
Ketua Ro dan wakil ketua Ma bekerja sama dengan panglima perang kerajaan siluman kera Kebebitak yang juga mempunyai dendam pribadi pada Kakegawa dan Miku.
Berbekal cincin titipan yang diambilnya dari peternakan Matsuyama dan membunuh si empunya cincin, maka sepasang cincin milik Bara Seta itu dikuasai olehnya dan yang satu masih dipegang oleh Matsuyama.
Jika sepasang cincin itu mereka kuasai, maka seluruh mahluk hidup akan tunduk pada perintahnya.
Kebebitak sendiri yang turun tangan langsung membunuh Kakegawa dan istrinya dan melimpahkan fitnah keji pada kedua anak Sinoe yang juga mempunyai dendam pada Matsuyama.
Mereka beranggapan bahwa Matsuyama lah yang telah memenggal kepala ibu mereka padahal semua itu hanya ulah satu orang, yaitu sang ketua Ro di bantu oleh Kebebitak dan pasukannya.
Kini Kakegawa yang telah membunuh ayah kandung mereka dan Miku yang telah membunuh ibu mereka juga telah mereka bunuh.
Ketua Ro menangis di depan makam ibu dan ayahnya.
"Ayah...ibu...dendam kalian telah terbalaskan...Kakegawa dan istrinya telah kami singkirkan...tenanglah kalian di sana, ayah...ibu..." kata ketua Ro sambil memeluk saudaranya yang terisak di samping kanannya sementara di samping kirinya ibu pengasuh mereka juga tersenyum bahagia.
********
Perjalanan Rini dan Rana membawa mereka keperbatasan antara dunia manusia dan siluman.
"Rana, yakin kita akan menyeberangi pintu gaib itu?? di balik pintu ini ada kehidupan manusia yang sesungguhnya!!" kata Rini samg kakak sedikit ragu.
"Jangan ragu Rini, kita sudah terlalu jauh melangkah sampai kita mengobankan ekor kita untuk digantikan menjadi kaki!!" kata Rana.
Rini terdiam dan mengiyakan juga ucapan saudaranya itu.
"Berarti kita kembali lagi ke lembah tempat kita melihat perguruan Kakegawa di bumi hanguskan!!" tanya Rini.
Lalu kita harus melangkah kemana Rana??" bisik Rini sambil menuntun kuda mereka.
"Kita kearah matahari terbit aja, aku ingin melihat indahnya dunia manusia Rini!!" kata Rana pada saudaranya itu.
Aku lapar, jika kita nanti menemukan warung makan...kita mampir sebentar ya....aku tak sabar ingin mencicipi masakan yang dibuat oleh manusia..." Rana berucap.
Mereka berdua terus berjalan menyusuri jalan setapak yang hampir tertutup oleh semak belukar itu!!
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Hai reader...jangan lupa mampir di novel ku yang baru juga yaa...yang berjudul Maaf Atas Dustaku.
Love you😘😘...