
"Sudah ngga usah ditepuk-tepuk terus, nanti tambah pikun...berat urusannya!! Ayah tadi tak lupa memakai ce*lana dalamkan??" kekeh Xavier.
"Kok semakin lama kamu ini semakin menjengkelkan sama seperti Dahlan dan Almira? Kalau ngomong ngga disaring dulu asal jeblak aja!!" sungut kakek Kojiro.
Xavier termangu saat ayahnya menyebut nama Almira. Mendadak hatinya terasa sedih. Dia berpura-pura bahagia, untuk membohongi hatinya. Dia ingin agar ayahnya tau bahwa dia baik-baik saja walaupun tidak demikian dengan kenyataan yang sebenarnya.
Kakek Kojiro sadar telah kesalahan bicara pada Xavier.
"Maafkan ayah, Xavier...sudahlah ayo kita lanjutkan perjalanan lagi."
Suit...suit...
Suara siulan menggema di tempat itu sebelum kemudian muncul dua orang gadis cantik.
"Saori...tak percuma kita turun gunung, lihat betapa indahnya mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini??"
"Kak Sinmhi jeli aja matanya kalau lihat yang bening-bening!!
Si adik yang bernama Saori terkekeh melihat kelakuan kakaknya itu.
"Yang kamu maksudkan saya?" kata kakek Kojiro dengan penuh percaya diri.
Cuih....
"Bukan kamu kakek tua, tetapi dia!!" tunjuk Sinmhi pada Xavier.
"Kalau kamu malah bikin sepat pemandanganku saja." Sinmhi memaki.
Bukannya marah, Kojiro malah tertawa mengekeh mendengar hinaan Sinmhi.
"Kau belum tau saja bagaimana tampannya aku dulu semasa muda, jika kita bertemu dulu belum tentu juga aku naksir pada wanita bermata sipit sebelah sepertimu!!" Kojiro mencibir.
"Nanti jika kalian tua bahkan lebih jelek dari pada aku, daging kalian akan bergelambir seperti leher unta."
Xavier terpaksa menahan tawanya melihat si kakek balas mengejek dua gadis itu.
"Dasar tua bangka sinting...berani-beraninya kau menghina kami berdua? Kau dari dimensi mana hingga tak tau siapa kami ini?" jawab Saori galak.
"Dari dimensinya superman...you know superman?"
"Ya jelaslah kami tak mengenalmu, bertemu aja baru ini? memang kalian blackpink, hingga aku harus bersusah payah mengenal kalian?" ejekan kakek Kojiro semakin menjadi-jadi karena dia tau dua orang wanita di depannya sedang marah besar.
"Kakek...usil amat sih??" bisik Kojiro di telinga kakeknya.
"Biarin, biar mereka tau rasa...enak aja berani sekali mereka mengatakan bahwa aku jelek...padahal memang iya sih!!" kakek Kojiro tersenyum-senyum.sendiri.
"Dasar orang tua ngga jelas..." kata Xavier.
Dua wanita cantik itu tampak menggeretakan gigi mereka menahan kesal.
"Saori, sebaiknya kita apakan tua bangka di depan kita ini?" tanya Sinmhi pada adiknya.
__ADS_1
"Kita karungi aja, atau kita kiloin jadi makanan buaya." Jawab adiknya.
"Dasar dua gadis sinting, apa kalian berasal dari planet orang gila? Sehingga otak kalian berdua ini miring semua?" kakek Kojiro terus mengoceh.
Srettt...
Dua kakak beradik itu menghunus pedang dari balik punggung mereka.
"Tua bangka...kau terlalu banyak bacot...rasakan tajamnya pedang kami!!"
Mereka berdua melesat sambil menghunjamkan kedua pedang mereka mengarah kejantung dan leher kakek Kojiro.
Tetapi sebelum pedang menemui sasarannya, Xavier mencabut sebatang anak panah dari punggungnya dan membidikan busurnya kearah kedua tangan kakak beradik itu sehingga mereka tidak jadi menyerang kakek Kojiro tapi berjumpalitan menghindari anak panah Xavier yang seolah mempunyai mata dan mengejar mereka.
Ahhh....
Sinmhi menjadi korban pertama, saat anak panah itu menggores lengannya.
"Kembali..."
Xavier berteriak sambil memutar busur di tangannya. Dan seolah benda hidup yang mempunyai telinga anak panah itu melesat kembali ketangan Xavier dan langsung dia selipkan kembali kekantong kulit yang tersampir dibelakang bahunya.
Saori berdiri dengan wajah pucat pasi dan napas memburu. Dia seperti habis mendapatkan nyawanya kembali.
"Yang kalian hadapi itu baru putraku, belum lagi kalian berdua menghadapiku!!" kata kakek Kojiro.
"Sebaiknya kalian pulanglah kembali, di sini bukan tempat yang aman bagi gadis-gadis muda dan cantik seperti kalian."
"Maafkan atas kelancangan kami berdua kek...jika berkenan memberi tahu, siapakah kalian ini??" tanya Saori dengan sopan.
"Aku kakek Kojiro dan ini putraku Xavier Giovanno...nah kalau kalian bicara sopan beginikan jauh lebih baik dan terlihat semakin cantik...siapa tau suatu hari kelak di antara kalian bisa berjodoh dengan putraku yang tampan ini." seloroh sang kakek karena dia tau kedua gadis cantik itu menaruh hati pada Xavier.
"Ayah...."
Xavier mendelik pada ayahnya mendengar perkataan itu.
Sinmhi dan Saori tersenyum lalu berkata, "kami berdua memang suka padamu tuan tampan, tunggulah suatu hari nanti setelah kami turun gunung kembali...kami pasti akan mencarimu karena kau telah memikat hati kami berdua."
Lalu mereka berpamitan tapi tangan keduanya sempat mencolek pipi Xavier.
"Gimana? enak dicolek?" sang ayah menyenggol pinggangnya.
"Pipiku telah ternoda..." gerutu Xavier.
"Hanya Almira yang boleh menyentuhnya, bukan gadis-gadis aneh seperti mereka tadi." Xavier melangkah lebih dulu sambil menggerutu sementara sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala.
*
*
"Ayo masuk Mira, Rafa sudah menunggu di ruang tamu." Alia mempersilakan aku masuk.
__ADS_1
Aku masuk mengikuti langkah Alia ke dalam mansion tuan Kelvin ini.
Benar saja di ruang tamu Rafa sudah berlari menyambutku.
"Mommy..." teriaknya sambil memeluk pinggangku.
"Wuidih...anak mommy sudah besar sekarang!!" aku balas memeluknya lalu menggendongnya.
"Mira!!"
Aku berdiri tegak tak menoleh karena aku tau suara menyebalkan itu milik siapa!!
"Lama sekali kamu sudah tak pernah main kemari lagi, Rafa selalu menanyakanmu...dia sangat merindukanmu, juga aku!!" suaranya terdengar sangat pelan.
Aku tertegun mendengarnya. Semenjak Valeria sering mencari gara-gara denganku waktu itu, aku memang jarang datang kesana...alasannya aku malas ribut dengan mak lampir itu...aku capek!!"
"Mommy, Rafa lapar...makan yuk!!" Rafa turun dari gendonganku dan menarik tanganku.
"Eits, tunggu dulu!! wah anak mommy sudah ngga cadel lagi ngomongnya ya?? sudah lancar lagi!!" aku menciumi pipi Aliarafa sambil tersenyum bahagia. Dan Aliarafapun tampak bahagia balik menciumku.
"Mira!!"
Aku menoleh saat Aliandhara memanggil namaku lagi.
Kulihat sekarang dia sedikit kurus. Mungkin terlalu banyak beban pikiran yang harus dia tanggung.
"Tuan muda sekarang lebih kurus dari saat kita terakhir bertemu??" ucapku padanya.
"Aku kurus karena terlalu memikirkanmu dan sangat merindukanmu!!" jawabnya.
"Gombal!!" kataku lalu menarik tangan Rafa untuk masuk.
"Selesai bersantap nanti aku ingin bicara empat mata denganmu, Mira!!" aku tegak sebentar mendengar ucapannya lalu melangkah kembali mengikuti Rafa kemeja makan.
Di sana sudah menunggu tuan Kelvin dan Alia. Mereka tersenyum menyambut kedatanganku.
"Terima kasih kamu sudah mau mampir, nak!! Rafa terus menerus menanyakanmu." Tuan Kelvin tersenyum ramah menyambutku.
Aku mengambil tempat duduk di samping Rafa dan Aliandhara duduk persis di depanku.
Matanya tak pernah lepas menatapku. Sebenarnya aku sangat risih mendapat tatapan seperti itu tapi aku mencoba bersikap biasa saja.
*
*
***Bersambung...
Akankah perasaan itu hadir kembali setelah sekian lama tak bertemu?
Baca terus lanjutannya ya guys...😊😊 bagi yang sudah mampir terima kasih banyak..Insya Allah author juga akan balik mampir untuk memberi dukungan.
__ADS_1