
"Mira, dia bukan kakekmu!! Kata Matsuyama berubah menjadi serius.
"Dia akan sangat kasar kepada orang tertentu yang dianggapnya dapat mengetahui identitas dia yang sebenarnya."
"Contoh dengan Kadir...aku tau Kadir itu bukan ular biasa, dia dapat merasakan kejanggalan di sekitarnya termasuk dengan kakekmu."
"Maksudmu apa, Cowi? kalau dia kakek Dahlan palsu, lalu kemana kakek Dahlan yang asli?" tanya Almira yang mulai gamang dengan pertanyaannya sendiri.
"Justru itulah yang harus kita selidiki, Mira!!" Matsuyama jika otaknya sedang waras memanggil nama Almira dengan benar, tetapi jika otaknya sedang bengkok maka Almira dipanggilnya dengan sebutan Chucky.
"Menurutmu, berapa lama aku tinggal dengan kakek Dahlan palsu?" tanyaku lagi.
"Coba kamu ingat-ingat kembali!!" kata Matsuyama.
"Apa selama ini sifat kakek Dahlan peduli padamu? nah kamu bandingkan, mulai kapan dia tak pernah merasa peduli lagi dengan keberadaanmu? mungkin di situlah awalnya kamu tinggal dengan kakek Dahlan palsu itu."
Mira nampak berpikir. Dulu sewaktu mereka belum ikut ke mansion tuan Kelvin, kakeknya masih baik-baik saja..."apa mungkin semenjak tinggal di rumah pantai ini, ya?" pikir Mira.
Mungkin dia tidak menyadari perubahan kakeknya karena semenjak kuliah dan sering bersama dengan Xavier, dia memang jarang sekali di rumah.
Memang terkadang dia merasa kakeknya agak aneh...sering menatapnya dengan pandangan berkilat terkadang bicaranya ketus tetapi karena kakeknya itu sejak dulu sifatnya memang begitu, jadi Almira hanya menganggap biasa saja
"Sesuatu yang sifarnya jahat tak akan bisa menyentuh apalagi nenyakitimu, Mira...karena ada kalung kepala naga di balik bajumu itu.
"Juga racun jenis apapun tak akan mampu membunuhmu juga karena kalung itu, di tambah lagi cincin yang telah diberikan Hiro tempo hari padamu."
"Bisa jadi niat mereka ingin mengambil kalungmu juga menyingkirkanmu, Mira."
Mira bergidik ngeri, membayangkan selama ini dia tinggal di dalam kandang singa, untung ada Xavier lalu Hiro dan sekarang ada Matsuyama yang melindunginya...
Bagaimanapun tangguhnya dia, tetap saja dia hanya seorang wanita yang juga masih memiliki rasa takut.
"Mira, kita harus kembali kerumah itu sebelum dua mahluk mengerikan itu tau bahwa kita tak ada di sana dan mencirigai kita."
"Pesanku, jangan sekali-kali kamu lepaskan kalung dan cincin itu dari tubuhmu karena selama kamu memakainya maka tak ada satu kekuatan hitampun mampu menyentuhmu."
"Dari mana kalian berdua?" kakek Dahlan berkata ketus di depan pintu menyambut kedatangan Mira dan Matsuyama.
__ADS_1
"Ingat bersikap biasa saja, jangan menimbulkan kecurigaannya pada kita, paham?" aku hanya mengangguk saja apalagi sinar mata kakek Dahlan terkadang sangat menakutkan untuk dilihat.
"Jawab...kenapa diam saja??" sentak kakek Dahlan.
"Kami hanya berjalan-jalan mencari udara segar di pantai kek!!" jawab Almira lagi.
Saat masuk ke dalam tak sengaja kulitku dan kulit kakek Dahlan palsu bersentuhan.
Sepintas kulirik wajah kakek Dahlan mengerenyit menahan sakit tapi tetap berusaha di tahannya.
Bug...
"Aduh...apaan sih Cowi?" sentakku kesal karena sepertinya dia sengaja mendorongku.
Sementara itu si kakek sepertinya teramat kesakitan dengan sentuhan kami itu. Lengannya hitam melepuh.
"Kakek tidak apa-apa?" tanyaku pura-pura khawatir.
"Tidak, tidak apa-apa...kalian pergilah tidur kakek juga akan beristirahat..." katanya.
Saat Mira, Kadir dan Matsuyama kembali ke kamar, kakek Dahlan yang sedari tadi menahan sakit mengumpat.
"Jangan kata mengambil, menyentuh kulitnya saja tubuhku sudah melepuh seperti ini!! benar-benar anak bang*sat!!" umpat kakek Dahlan dengan geramnya.
Sebelum naik ketempat tidur, Matsuyama masih mengintip di balik lubang kunci di kamar itu. Dia sempat melihat seringai jahat kakek Dahlan dan saat sang kakek berbalik, Matsuyama kaget setengah mati melihat ada ekor menyebul dari balik jubah yang dikenakan kakek Dahlan.
"Kakek Dahlan berekor? emang kakek Dahlan monyet?" batin Matsuyama.
"Kok suasana rumah ini tambah horor sih? sudah tau aku takut sama hantu? seandainya aku tak mengemban tugas dari ayah untuk menjemput kak Hiro dan kak Sima pulang keperguruan, dan tugas besar dari ayah untuk menjaga gadis pembawa mustika naga itu menggantikan kak Hiro, sudah dari awal aku ngibrit pulang kembali kelembahku tercinta terutama yang tak ada hantunya!! hiiiih...."
Matsuyama sama sekali tak berani memejamkan mata, apalagi Kadir bersama Almira dan tidak bersamanya.
"Haduh...lama-lama aku berada di rumah ini aku bisa sakit jiwa kalau begini!! Matsuyama terus mengeluh hingga pagi menjelang dan dia sangat senang jika pagi datang tentu tak ada penampakan yang akan dilihatnya. Apalagi dia bisa ikut Almira pergi ke kampusnya yang menurutnya lumayan aman.
Sementara di kamar Almira...
"Kamu ngga mau tinggal di rumah? kamu takut juga?" gumam Almira pada Kadir yang terus mendesis.
__ADS_1
"Kamu mau ikut mama kekampus?" tanya Almira dan Kadir mendesis lagi.
Binatang melata yang juga mengerti bahasa manusia itu semalam menangkap pembicaraan seseorang dengan kakek Dahlam di kamarnya.
***Flashback...
"Dahlan...."
Suara itu menggema seperti menggaung dari dasar sumur yang dalam. Suara itu berasal dari wanita yang penampakannya seperti kabut tipis persis seperti yang dilihat oleh Almira dan Matsuyama semalam.
"Kapan kamu bisa mengambil mustika naga dari dalam tubuh gadis itu? aku sudah tak sabar untuk memiliki wujud yang nyata dan bukan berwujud seperti kabut begini?"
"Sabarlah ratuku...terkadang tubuh Dahlan yang kugunakan ini sesekali menolak untuk bekerja sama denganku..."
"Mengapa tidak kamu musnahkan sekalian jiwa yang bersemayam di dalamnya? sehingga membuatmu bisa menguasai tubuh ini seutuhnya!!"
"Sulit ratuku...lelaki tua ini terlalu mencintai cucunya sehingga membuatku sulit menguasai tubuh ini sepenuhnya!!"
"Aku tak mau tahu...cepat kamu selesaikan misimu, Dahlan...aku ingin berkuasa lagi seperti dulu...karena menurut firasatku, Serafin dan Giandra sudah turun gunung beserta putra angkatnya dan Kojiro...jangan sampai cinta sejati Almira dan Xavier menyatu, karena jika kedua cinta sejati itu bertemu dan mustika naga itu berhasil keluar dari tubuh gadis itu, keberadaanku, kamu, putriku Levia akan terancam, mungkin nasib kita akan berakhir kembali di sumur tak berdasar menjadi jiwa tanpa raga...kau mau seperti itu Dahlan???"
Kakek Dahlan menggeleng!!
"Aku ingin kembali muda dan tak akan pernah dimakan usia...hidup abadi dan menjadi penguasa...itulah tujuan hidupku, bukan seperti Dahlan bodoh yang tubuhnya aku kuasai ini"
"Dua minggu lagi bulan purnama merah akan tiba, aku akan menghalangi kelompok Serafin untuk datang kemari.
Purnama merah itu hanya ada 100 tahun sekali di mana tempat berkumpulnya segala ilmu hitam melebur menjadi satu untuk menghancurkan ilmu putih agar ilmu hitam, kebatilan, kejahatan berjaya di muka bumi ini...hihihihi!!
Tawa melengking mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya.
Kadir perlahan turun dari tiang rumah dan perlahan melata dan menghilang untuk menunggu Almira pulang kerumah.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Kemanakah kakek Dahlan yang asli menghilang? Ikuti terus kelanjutan kisahnya ya!!😊😊😊