
Kebebitak sampai di depan gerbang istana kecil itu lalu berpesan pada pengawalnya untuk menjaga ketiganya di sana.
Dia menempatkan ratu Hikaru di kamar utama sementara Levia dan Shiera juga dapat kamar terpisah yang letaknya agak berjauhan dan itu seperti di sengaja oleh Kebebitak.
"Kalian tunggulah gadis-gadis cantik...akibat pertarungan ibunda kalian, pengikutku banyak yang terbunuh oleh sebab itu aku ingin anak sebanyak-banyaknya dari kalian berdua!!" seringai mesum tampak tersungging di wajah tampan pemimpin siluman kera itu.
Lalu dia masuk ke sebuah bangunan mungil tempat ayahnya berada.
"Ayah...ayah..."
Kebebitak memanggil ayahnya dan mencari keberadaan orang tua itu sampai ke taman belakang.
Satu-satunya yang dijaga oleh pengawal hanyalah bangunan tempat ayahnya itu tinggal.
Hanya ada dua orang dayang dan seorang tukang kebun yang mengurus keperluan ayahnya itu.
Semenjak ayahnya ditinggal pergi oleh istri manusianya, ayahnya berubah. Dia lebih sering menyendiri dan memilih tinggal di bangunan sebelah timur istana yang berdekatan dengan goa sebagai pintu keluar ke dunia manusia.
Kepemimpinan sebagai panglima perang dia serahkan kepada Kebebitak putranya.
Dia sudah lama hidup berpisah dengan dua istrinya. Keduanya memilih tinggal di istana dan dia sebenarnya mengkhususkan bangunan istana mungil ini untuk tempat tinggalnya dan Xiexie dan saat Xiexie telah tiada dia tetap mengenang wanita itu untuk tetap terus tinggal di sana.
"Bi, apakah bibi melihat ayahku?" tanya Kebebitak pada pelayan tua yang sudah ikut mereka selama puluhan tagun itu.
Tadi siang tuan keluar membawa kail dan umpan, tuan Kebebitak!!" jawabnya sopan sambil membungkukan badannya.
"Semakin rutin saja ayah pergi kedunia manusia!!" pikir Kebebitak.
*
*
Di dalam goa dekat teluk, kakek Bilis dan Xavana tidur kelelahan dan kekenyangan. Mereka ngobrol ngalor ngidul kemana-mana setelah makan malam tadi.
Tak pernah kalek Bilis merasa sangat bahagia seperti sekarang ini. Bahkan saat ekornya muncul setelah senja berganti malam, bukannya takut Xavana malah tertawa lucu.
"Sebenarnya aku telah tau kalau kakek bukan manusia seperti aku!!" kata Xavana sore tadi.
"Tapi kakek jangan khawatir, aku tau kakek siluman yang baik dan tak mungkin menyakiti aku!!" ucap Xavana.
"Bagaimana mungkin aku akan menyakitimu, putraku sendiri!!" batin kakek Bilis berlinangan air mata.
Mereka tidur saling memunggungi. Sesekali kakek Bilis menepuk nyamuk perlahan agar anaknya itu tidak terusik tidurnya.
Akhirnya pun dia jatuh tertidur dengan tenang. Xavana benar-benar obat baginya. Seolah kerinduannya pada sang istri selama puluhan tahun terbayarkan.
"Kamu sudah bangun nak?? tidurmu sangat nyenyak sehingga kakek tak tega untuk membangunkanmu." Kata kakek Bilis.
"Kek, kemarin kakek memintaku untuk mengunjungi makam mommy, habis dari sini kita langsung menuju kesana, ya!!" kata Xavana bersemangat.
Kakek Bilis hanya tersenyum melihat putranya itu tampak sangat bersemangat.
*
*
"Sayang...mengapa melamun di sini?? angin pantai pagi ini sangat dingin, nanti kamu sakit!!" kata Xavier saat melihat istri tercintanya sedang melamun di tepi pantai memandang deburan ombak.
Sesekali air matanya menetes tak tertahankan, entah suatu hari nanti apakah dia masih bisa menikmati suasana seperti ini atau kkah tidak.
Dia terbangun pagi ini dan sudah tak mendapati lagi istrinya tidur di sampingnya, dia panik, dia takut Almira akan meninggalkannya lebih cepat dari perjanjian semula.
Dia berteriak memanggil kesana kemari mencari Almira hingga ibunya Serafin memberitahukan bahwa Almira sedang berada di pantai.
Almira mendongak memandang wajah tampan yang tengah memeluknya dari belakang itu.
"Abang sudah bangun??" katanya dengan suara parau.
Dia memang terus menerus menangis semenjak subuh tadi. Almira yang sekarang terlihat rapuh dan cengeng apalagi semenjak kehamilannya ini, ditambah lagi masalah demi masalah yang menimpa rumah tangganya membuatnya semakin rapuh.
"Kamu habis menangis lagi, hemmm!!" tanya Xavier mencium pucuk kepala istrinya.
"Abang mau makan jika kamupun makan, ayo..." Xavier lalu jongkok di depan membelakangi Almira.
"Bang, kira-kira dong kalau mau berak jangan di depan Mira juga, kaleee!!" katanya kesal.
"Siapa yang mau berak, sih?? abang mau kamu naik dan gendong di belakang abang..." sahutnya.
Almira langsung tersenyum. Dengan senang akhirnya dia naik di belakang suaminya.
Mereka tertawa-tawa gembira saat Xavier berdiri dan mukai berjalan dan Almira menggelungkan tangannya dengan manja di leher suaminya.
"Abang yang masakan buat Mira seperti dulu, ya??" katanya manja.
"Oke, tuan putri...anda ingin makan apa? atau anda ingin saya yang akan memakan anda??" tanya Xavier membuat wajah Almira bersemu merah.
Serafin menangis bahagia melihat kemesraan mereka berdua walaupun kemesraan itu tak akan berlangsung lama.
Xavier menyuapi istrinya dengan telaten seperti saat mereka masih pacaran dulu, setelah dirasanya kenyang barulah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Almira dengan setia menunggu suaminya selesai makan setelah itu dia membereskan bekas makan mereka lalu kembali bersama dengan suaminya lagi.
"Abang mau mengajar dulu, apakah akan ikut ke kampus??" tanya Xavier.
__ADS_1
"Ngga usah bang, Mira menunggu di rumah saja!!" katanya.
"Abang akan berusaha pulang ceoat untuk menemanimu!!" sahut Xavier sambil memeluk istrinya.
Sepeninggal suaminya, Almira kembali berjalan-jalan di pantai ditemani oleh Kadir sahabatnya.
Mereka duduk dibawah pohon kelapa sambil bercerita.
"Kadir, apakah kamu mendengar apa yang dikatakan oleh ibunda ratu Nilakandi kemarin??" tanya Almira pada Kadir yang juga menegakan lehernya di samping Almira.
Sssss....sssss
Kadir menyahuti ucapan Almira seolah mengerti ucapan sahabatnya itu.
"Kadir, setelah aku melahirkan nanti aku akan menjalani takdirku sebagai naga yang sendirian dan kesepian!! mungkin kita tak akan pernah bisa bertemu lagi!!" kata Almira sedih.
"Jika saat itu tiba, maukah kamu berjanji padaku?" tanya Almira pada sahabatnya itu.
"Tolong jaga suami dan anakku seperti kamu menjagaku dulu ya...juga jagalah ayah dan ibu serta kakekku."
Sesekali Almira menyeka air mata yang mengalir di pipinya yang mulus.
Kadir mendekat lalu naik kepangkuan Almira merambat keleher terus mengusap air mata gadis malang itu dengan kepalanya seolah memberinya semangat dan kekuatan.
"Terima kasih ya sahabatku...aku tak akan pernah melupakan semua kebaikanmu jika suatu hari aku pergi nanti.
Kakek Dahlan yang kebetulan mendengar percakapan cucunya itu menjadi teriris perasaannya.
Almira memang bukan cucu kandungnya, tetapi dia merawat Almira dari bayi hingga dewasa seperti ini, dia menyayangi Almira seperti dia menyayangi dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mematahkan kutukan itu? seandainya pertarungan kemarin berhasil membunuh ratu Hikaru tentu Miraku tak akan berubah menjadi naga kembali."
"Seandainya aku mampu, aku yang akan pergi untuk mencari ratu jahat itu dan menghabisinya tetapi keberadaannya sekarang aja tak ada seorangpun yang tau."
"Sebaiknya kita berkonsultasi dengan Kakegawa dan yang lainnya, jangan mau main cari cara sendiri...ingat kemampuan otak yang semakin tua semakin sulit untuk berpikir!!"
Sebuah suara mengagetkan kakek Dahlan yang sedang termenung sendirian.
"Kurang ajar kau Kojiro...." Semprot kakek Dahlan kesal.
"kamu selalu saja datang di saat yang tidak tepat!! bikin jengkel saja..." umpatnya geram.
"Kau katakan pula bahwa otak tuaku tak mampu berpikirlah, sialan betul kau ini!!" kakek Dahlan melotot kearah kakek Kojiro.
"Ya maaf Tosiro...jangan juga kamu melotot padaku seperti itu, matamu yang hanya sebesar biji labu merah itu ngga akan mungkin bisa menjadi sebesar biji kedondong!!" kakek Kojiro menyengir lalu lari meninggalkan sepupunya yang sudah marah bukan main.
"Kenapa juga sih aku bisa punya sepupu yang gila seperti itu? aku pikir dulu aku dan Mira itu gila, ternyata Kojiro lebih gila dari pada kami berdua!!" kata kakek Dahlan.
*
*
"Aduh...untung Mike sudang pulang dari sini jika tidak bisa ketauan, nih!!" batin Valeria sambil tersenyum kecut.
"Mengapa kamu jadi aneh begitu Valeria?? adakah yang kamu sembunyikan dariku??" tanya Aliandhara menatap dengan pandangan curiga pada mantan istrinya itu.
"Menyembunyikan apa?? aku tak memyembunyikan apapun, sayang?" kata Valeria menutupi rasa gugupnya.
"Angin apa yang membawamu kemari?" tanya Valeria.
"Memang siapa yang melarang aku datang ke apartemenku sendiri?" balik bertanya Aliandhara.
"Lagi pula aku kemari untuk menenangkan pikiranku!!" lalu Aliandhara menuju kamarnya.
Dia membuka pintu kamar. Keningnya mengerenyit melihat springbed king size miliknya berhambur tak karuan.
"Jorok sekali kamu sebagai perempuan, Valeria?? mengapa kasurku berantakan seperti ini seperti terkena gempa!!" tanya Aliandhara.
Dia memandang berkeliling ke seluruh penjuru kamar.
Dia melihat asbak dan banyak puntung rokok.
"Sejak kapan kamu merokok, Valeria??" tanyanya lagi menyelidik.
"Bersihkan kamar ini Valeria dan semua puntung rokokmu ini dan bersihkan kasurku itu karena aku
melihat cairanmu tercecer di sana!!" katanya lalu keluar kamar.
Deg...
Jantung Valeria berdetak cepat mendengar perkataan Aliandhara. Dari semalam sampai subuh dia dan Mike memang bergelut di atas ranjang milik Aliandhara dan putung-putung rokok itu milik Mike.
"Aku merokok saat aku merasa suntuk!!" jawab Valeria sekenanya.
Aliandhara keluar dari kamarnya dan menuju kamar tamu.
"Valeria...sampai di mana kamu bisa menyimpan semua kebohonganmu? kamu pikir aku tak tau jika kamu sering bergonta ganti laki-laki dan membawanya ke apartemenku ini? kamu tunggu saja sampai aku menangkap basah dirimu, jangan harap kamu bisa enak-enakan menikmati fasilitas dariku." Seringai Aliandhara.
Sementara Valeria mondar mandir di dalam kamar untuk mencari cara agar Aliandhara pergi dari Apartemen ini karena dia dan beberapa teman sosialitanya akan mengadakan pesta sek*s di apartemen ini.
Gila memang Valeria ini. Dia yang menumpang di apartemen Aliandhara, malah dia yang berbuat tidak senonoh di sana.
"Aduh tampaknya tak bisa malam ini deh..nanti jika ketauan maka aku akan terusir dari apartemen yang nyaman ini.
__ADS_1
Dari kamarnya Aliandhara tersenyum melihat kegelisahan Valeria.
"Kau tunggu saja tanggal mainnya Valeria...gara-gara kedatangan racun sepertimu sampai aku kehilangan Almira yang sangat aku cintai!!" desisnya.
*
*
"Wah kakek berdua hebat...setauku tidak banyak orang yang bisa berteleportasi ternyata kalian juga bisa!!" puji Matsuyama saat di depan pintu gerbang perguruannya kakek Dahlan dan kakek Kojiro tiba-tiba nongol di sana dan mengakibatkan Matsuyama yang sedang menyapu halaman jadi kaget setengah mati.
"Aku yang hebat, dia cuma ikut nempel di belakangku!!" kata kakek Kojiro cemberut.
"Masuklah kek...akan Matsu panggil dulu ayah dan ibu di belakang!!" jawab Matsuyama.
Kakek Dahlan dan kakek Kojiro duduk di bangku yang terbuat dari bambu di teras rumah Kakegawa.
Rumah Kakegawa ini tak berubah dari dulu sampai sekarang tetap terasa sejuk!!" kata kakek Kojiro sementara kakek Dahlan hanya diam saja.
Tak lama Kakegawa keluar bersama Matsuyama.
"Wah...aku kedatangan tamu jauh...apa kabar kalian berdua??" mereka bertiga saling berpelukan erat.
"Seperti teletubies saja kalian bertiga ini!!" kata Matsuyama.
"Masuklah...kita bicara di dalam sambil makan, ibunya Matsuyama tadi masak banyak!!" kata Kakegawa.
"Kemana Hiro dan istrinya, Daniah??" kata kakek Kojiro.
"Hiro mengantar Daniah menengok orang tuanya, paling besok sudah kembali!!" kata Kakegawa.
"Kamu kapan menikah menyusul kakakmu, Matsuyama??" tanya kakek Dahlan.
"Siapa yang mau sama bocah selengean dan pengangguran seperti Matsuyama itu?? mau diberi makan apa anak orang? makan batu?" kata Kakegawa menggoda anaknya membuat Matsuyama cemberut.
"Itu kak Hiro tidak bekerja ayah nikahkan, tetapi kak Daniah bisa makan aja, ngga dikasih makan batu tuh!!" ujarnya cemberut.
"Memangnya kamu sudah kebelet mau nikah??" tanya kakek Dahlan.
"Mau sih tapi wanitanya yang mempunyai sifat seperti Matsuyama juga...agak gila, lucu, cuek, jutek tetapi cantik dan baik hati!!" kata Matsuyama.
"Seperti Almira dong..." pancing kakek Dahlan.
"Iya seperti Mira, tapi bukan Mira ya kek, mencintai Almira itu bikin sakit hati!!" jawab Matsuyama.
"Kok bisa??" kata ayahnya.
"Iya...bagaimana ngga bikin sakit hati, dia terlalu tenar kalah-kalah para artis korea!!" jawab Matsuyama dengan polosnya.
Mereka semua yang ada di situ tertawa mendengar ucapan polos Matsuyama.
"Oh iya, mari kita makan dulu!!" ujar ibu Matsuyama sambil menata makanan di atas tikar.
"Wah, terima kasih..." ucap kakek Kojiro dengan mata berbinar.
"Kebetulan tadi aku dan Tosiro belum makan siang!!" kakek Dahlan langsung mendelik mendengar ucapan sepupunya yang tidak tau malu itu.
"Dasar tidak tau malu!!" ucap kakek Dahlan kesal.
"Ngga apa-apa...mari kita makan, sejak pagi istriku mendapat firasat akan kedatangan tamu jauh jadi dia masak banyak ternyata tamunya itu kalian, hehehe!" kekeh Kakegawa.
Sambil makan dan menikmati sejuknya angin lembah di siang hari, mereka ngobrol.
"Lembah ini tidak berubah sejak puluhan tahun lalu!!" kata Kojiro mengedarkan pandangan matanya keseluruh lembah yang hijau.
Suara gemericik air sungai di bawah lembah terdengar seperti suara simfoni yang merdu di telinga.
Setelah selesai makan sambil menikmati teh hangat dan cemilan, Kakegawa buka suara.
"Apa yang membawa kalian berdua melakukan teleportasi melintasi gunung menyeberangi samudra hingga ribuan kilo meter jauhnya dari tempat kalian?"
"Mustahil rasanya jika hanya sekedar mengunjungi sahabat lama, ya kan??"
"Kami mau numpang makan," ucap kakek Dahlan menyeringai.
"Kami memang ada keperluan khusus menemuimu dan ingin meminta bantuanmu, Kakegawa!!" ucap kakek Kojiro.
"Aku tau sejak dulu di antara kita semua kamulah yang bisa menerawang sesuatu hanya dengan menyentuh objek benda yang bersangkutan!!" ucap kakek Kojiro.
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan? pasti berkaitan denga ucapan ratu Nilakandi kemarinkan?" ucap Kakegawa.
"Kalian pasti ingin tau apakah ada yang bisa kita lakukan agar Almira terbebas dari kutukan itu, kan?" kata Kakegawa lagi.
Kakek Kojiro dan kakek Dahlan mengangguk bersamaan.
"Sebenarnya ada satu cara lagi yang bisa dilakukan untuk mematahkan kutukan ratu Hikaru itu selain membunuhnya...tapi syaratnya juga sama beratnya dengan membunuh ratu Hikaru itu sendiri."
*
*
***Bersambung...
Apa syarat yang akan diajukan oleh Kakegawa? bisakah kedua kakek sakti itu menjalankan syarat tersebut??
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mengikuti cerita mereka ya guys...🙏🙏🙏