
Celotehan Almira semalam yang seolah tak pernah terjadi apapun dengannya padahal nyawanya baru saja selamat dari bahaya, membuat Tristan kagum pada si jelita itu.
Senyuman dan tawanya selalu terbayang di pelupuk mata Tristan seolah gadis cantik itu sedang ada dan menari-nari di depan matanya.
Kekonyolannya dalam berbicara serta sikap tak mau mengalahnya membuat Tristan jadi merindukan gadis itu.
Dia membuka ponsel Almira. Baginya dikunci menggunakan sandi yang bagaimanapun akan bisa dia buka tanpa masalah yang berarti dengan kecerdasan di atas rata-rata seperti Tristan.
Dia tersenyum melihat foto-foto Almira hingga saat tangannya menggeser gawai cerdas itu dan menemukan foto pernikahan Almira
Dia menyeringai dingin. Ditatapnya wajah Xavier lalu dia berkata, "Jagalah baik-baik gadis ceriwisku itu...sekali saja kamu menyakiti hatinya, akan kurebut paksa dia dari tanganmu wahai Giovanno Giandra!!"
"Aku jatuh cinta padanya saat pertama kali aku melihatnya di mobil waktu itu, membuatku nekat untuk mencarinya karena firasatku mengatakan bahwa gadisku itu berada dalam bahaya."
"Dan ternyata feelingku benar tentang semua itu, terlambat sedikit saja maka gadisku akan mati, dan jika itu benar-benar terjadi maka aku akan datang mengobrak abrik markas mahluk-mahluk itu tak peduli mereka setan sekalipun."
"Tristan Calderon bukan hanya terlahir sebagai pembunuh berdarah dingin tetapi juga terlahir sebagai pemburu hantu dan sejenisnya." Tristan tersenyum lagi.
Gabriela masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi membuat Tristan kaget dan spontan menutup ponsel di tangannya.
"Mengapa kamu tersenyum-senyum sendiri, Tristan!!" pandangan menusuk dan menyelidik dari sang kakak seperti masuk dalam celah kepalanya.
"Bukan urusanmu!!" jawab Tristan ketus karena dia masih kesal pada kakaknya yang asal menerima job tanpa pembicaraan dan persetujuan dari dia dahulu seperti biasanya membuat dia harus kehilangan 4 orang kepercayaannya begitu saja.
"Maafkan aku Tristan, mungkin kamu kecewa dan marah padaku karena menerima tawaran itu tanpa persetujuan darimu, mestinya aku harus profesional dan tidak melibatkan dendam pribadiku sendiri.
"Apa maksudmu, Gabriela??" tanya Tristan tak mengerti.
"Nanti suatu hari kamu pasti akan mengerti, hanya saja jika posisimu menjadi aku, pasti kamu juga akan melakukan seperti yang aku lakukan ini!!"
Lalu Gabriela keluar sebelum adiknya itu membaca apa yang ada di dalam isi kepalanya.
"Apa sih maksud Gabriela?? ah...mengganggu kesenangan orang saja!!" kata Tristan.
****
"Apa yang sedang kamu bongkar-bongkar, sayang?? apa yang sedang kamu cari? kamu mencari anunya abangkah?? mengapa repot-repot?? anunya abang ada di dalam sini!!" kata Xavier sambil menunjuk celana boxernya.
"Idih abang apaan sih??" sahut Mira agak kesal dengan pikiran suaminya yang selalu mesum jika mereka berdekatan sepèrti sekarang ini.
"Almira itu mencari ponsel Mira, sejak semalam ngga tau kemana!! makanya Mira tidak menghubungi orang di rumah semalam."
"Memang kamu taruh di mana??" tanya sang suami.
"Kalau Almira tau ngga perlu nanya ke abanglah!!" sahutnya ketus seperti biasa, membuat Xavier gemes sama istri bar-barnya itu.
"Terus aja ketus sama abang, ntar abang tutup mulutnya nanti pakai bibir abang, mau!!" kata Xavier.
"Ngga!!" kata Almira bungkam sambil berkali-kali menggelengkan kepalanya.
"Aduh...aku tinggal dimana ya?? apa ketinggalan di rumah sakit?" gumam Almira sambil berusaha mengingat-ingat kembali.
Sementara itu jauh di dalam hutan larangan...
"Bodoh...bodoh semua pengikutmu itu, Kebebitak!!" teriak sesosok tubuh yang terlihat hanya samar-samar.
"Kalian ini bangsa Siluman, mengapa bodohnya mengalahkan manusia idiot sekalipun??" teriak sesosok tubuh itu.
"Ampuni hamba dan pengikut hamba ratu Hikaru!!" sembah Kebebitak.
"Membayar orang untuk membunuh Kelvin Antonio pun tak becus, mau mengoyak tubuh gadis ingusan itu tak kesampaian!!" geram ratu Hikaru.
"Ratu, seandainya malam itu tak datang sosok orang yang memakai jaket menutupi kepalanya dan mengeluarkan sinar biru setajam pedang dari matanya dan membantai semua pengikutku sampai menjadi debu, tentu si Xavier itu sekarang sudah menjadi duda dan tentu putri Levia akan senang mendengarnya." kata Kebebitak.
"Tapi nyatanya mana??" bentak ratu Hikaru membuat Kebebitak tergugu kaget.
"Tapi tunggu sebentar...tadi kamu bilang apa?? sepasang pedang berwarna biru keluar dari mata? apakah kamu tau dia itu laki-laki atau perenpuan?" tanya ratu Hikaru.
"Kami tidak tau pasti ratu, hanya saja jika dilihat dari perawakannya yang tinggi besar, bisa di pastikan bahwa dia adalah seorang laki-laki!!" jawab Kebebitak.
"Yang mempunyai ilmu yang bisa mengeluarkan sinar biru setajam pedang menyilang dari kedua matanya hanyalah Hatori adikku yang durhaka itu!!"
"Tetapi Hatori dan Kagome istrinya telah aku bunuh 20 tahun yang lalu."
"Memang saat itu Kagome tengah mengandung 9 bulan, tetapi aku pastikan mereka berdua telah mati, yang jadi pertanyaannya apakah Kagome masih hidup sehingga bisa melahirkan anak yang menurut ramalan adalah 4 unsur penting kehidupan dan ditakdirkan bakal membunuhku, bibinya sendiri??" dengus ratu Hikaru.
"Atau ada orang yang telah menyelamatkannya? sedangkan membunuh Hatori aja aku harus menggunakan cara licik karena yang aku tau Hatori diturunkan langsung oleh ibunda ratu sebelum beliau wafat, pedang sinar biru."
"Ibunda memang tak adil, mengapa hanya Hatori yang diturunkan ilmu langka itu sedangkan aku tidak."
"Itulah yang membuat kebencianku pada adik kandungku itu kian berlipat-lipat."
"Maaf ratu, terus langkah apa yang selanjutnya akan kita lakukan?" pertanyaan Kebebitak langsung membuyarkan lamunan Hikaru.
__ADS_1
"Aku akan memcoba menghubungi Levia dulu, Kebebitak karena dia tinggal satu rumah dengan Kelvin!! Mungkin kita bisa memancing Almira dan Xavier."
"Almira tak mungkin akan membiarkan ayahnya terluka."
"Bagaimana dengan anak dari Aliandhara itu, kanjeng ratu?? kita bisa memanfaatkannya." kata Kebebitak tersenyum licik.
"Kamu benar, Kebebitak...mengapa tidak terpikirkan olehku?" kata ratu Hikaru ikut tersenyum.
"Seandainya kamu tidak berlaku bodoh waktu itu, Kebebitak...Dahlan bodoh itu masih kita kuasai tubuhnya, tentu tidak sulit bagi kita untuk keluar masuk di rumah pantai itu!!" kata Hikaru dengan geram.
Kebebitak tak mengucapkan apapun, hanya dalam hatinya menggerutu, "lalu siapa yang meminta jatah setiap malam?? sehingga aku sering keluar rumah membawa tubuh tua si bodoh yang merepotkan, si Dahlan itu?? kan dia sendiri yang memintaku setiap malam sampai menjelang subuh untuk memuaskan hasratnya!!"
Levia tampak duduk bersila di atas pembaringannya. Tangannya bersidekap dan matanya terpejam sementara mulutnya berkomat kamit untuk mengadakan kontak langsung dengan ibundanya.
"Ada apa ibunda ratu menghubungi Levia, bunda?" tanya Levia masih dengan memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana perkembanganmu di sana, Levia?" tanya ratu Hikaru.
"Gerak Levia terbatas di sini bunda, dan Alia sudah terbebas dari sekapan Levia!!"
"Dasar bodoh...mengapa bisa demikian? anak lemah itu bisa merusak rencana kita di mansion itu, Levia!!" kata ratu Hikaru emosi.
"Anak Aliandhara yang telah membebaskannya, bunda!!" kata Levia pelan.
"Siapa?? anak idiot itu?? kamu jangan mengada-ada Levia, itu sama sekali tak masuk di akal."
"Levia serius bunda!! memang Rafa lah yang telah membebaskan Alia dan sekarang menyembunyikan di suatu tempat yang Levia tak ketahui keberadaannya." ucap Levia.
"Bun, Rafa itu bukan balita seperti kelihatannya...di dalam tubuh Rafa bersemayam putra dari ratu Nilakandi, adik dari putri Refanya si Almira itu."
"Berkali-kali Levia kalah dalam bentrokan tenaga dalam dengannya sehingga membuat Levia terluka, apalagi sekarang Levia sendirian, bunda!!" kata Levia.
"Lho, kemana Sima yang selalu bersamamu??" tanya ratu Hikaru.
"Sima ditangkap oleh adiknya dan di pulangkan paksa keperguruan mereka." jawab Levia.
"Dasar Sima sama bodohnya dengan Kebebitak!!" kata ratu Hikaru.
"Kebe...siapa bunda?" tanya Levia mengulang perkataannya.
"Kebebitak!!" jawab Hikaru dengan singkat.
"Pacarnya bunda ya!!" kata Levia sambil senyum-senyum.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tersenyum menyeringai di balik pintu.
"Kalian ingin mencelakakan keluarga ini?? kalian akan berhadapan denganku!!" kata Rafa alias pangeran Redo.
"Tak akan kubiarkan seorangpun menyakiti keluarga manusiaku, apalagi menyakiti Aliaku atau kalian akan merasakan panasnya semburan api dari lidah nagaku!!"
Pangeran Redo yang bersemayam di dalam tubuh Rafa tiba-tiba menggerakan kedua telapak tangannya keatas.
Wus...serangkum angin panas yang tak kasat mata tampak bergulung menghantam kearah Levia.
Aahhh...
Levia dan ratu Hikaru yang sedang bercakap-cakap lewat telepati mereka sama-sama tersentak kaget merasakan hawa panas yang menghantam mereka.
Sambung rasa di antara mereka langsung terputus diselingi sumpah serapah di antara keduanya.
"Jaha*nam...ini pasti ulah bocah naga sialan itu!!" umpat Levia merasa sangat geram.
"Dia selalu saja menggangguku tanpa aku menyadari keberadaannya di mana!!"
Pangeran Redo alias Rafa langsung menyelinap dan pergi.
Dia melihat kelantai satu kakek dan daddynya baru pulang dengan diantar Almira dan Xavier.
"Mommy..."
Dia berteriak dari atas dan langsung lari menyongsong ke bawah.
Rafa memeluk Almira dengan eratnya.
"Mommy, Rafa kangen sama mommy!!" katanya.
"Mommy akan tinggal di sini lagi kan?" tanya Rafa penuh harap.
"Ngga bisa sayang...kasihan kakek dan nenek di rumah kalau mommy lama-lama di sini!!" kata Almira.
"Rafa kok hanya meluk mommy?? kakek dan daddy tidak ikut dipeluk?" tanya tuan Kelvin.
Rafa berpindah memeluk kakek lalu daddynya.
__ADS_1
"Aunty Alia mana, Rafa?? tanya tuan Kelvin saat tak melihat Alia putrinya itu.
"Aunty Alia lagi sakit, kek!!" kata Rafa sambil mendengus pelan.
Perubahan sikap Rafa walau hanya sesaat tak bisa membohongi mata tajam milik Xavier dan Almira. Kedua suami istri itu berpandangan sesaat lalu saling mengangguk untuk memberi kode.
"Aunty Alia sakit apa, Rafa??" tanya Xavier.
"Aunty Alia tadi sakit dadanya, om Xavier!!" kata Rafa.
Ya jelas sakit dadanya, karena tadi hempasan tenaga dalam yang dilepaskan oleh Rafa telak mengenai dada Levia dan ratu Hikaru, walau ratu Hikaru tak ada bersama Levia tetapi karena mereka berdua melakukan telepati, maka sang ratu pun terkena imbas hempasan tenaga dalam itu.
Di tempat berbeda, sang ratu merasakan dada yang terkena angin pukulan itu terasa mendenyut.
"Hebat sekali pukulan putranya Nilakandi itu, dadaku masih terasa sesak walaupun aku sudah menyalurkan tenaga murni kebagian dadaku, tapi tetap masih terasa nyeri." umpatnya.
"Semakin banyak saja musuh yang harus kuhadapi, belum lagi putra dari Hatori yang banyak mempunyai ilmu yang langka yang aku sendiri tidak tau karena ibunda pilih kasih, hanya menurunkannya pada Hatori tapi tidak padaku.
******
"Matsuyama...bangun!!" kerjamu molor saja setiap hari, beginikah kamu waktu masih tinggal bersama Almira dan keluarganya??" tanya Hiro mengguncang bahu adiknya.
"Apa sih kak??? justru waktu masih tinggal bersama Almira dan keluarganya aku kerap tak bisa tidur, karena begitu menjelang malam maka para hantu dan siluman berlomba untuk masuk kehalaman rumah pantai yang sudah di pagari oleh tenaga dalam keluarga Almira.
"Untung sudah di pagari, kalau ngga maka kamu yang penakut itu bisa dimakan sama mereka!!" ucap Hiro kesal.
"Apa sih, kak!! malah bikin takut saja!!" kata Matsuyama bangun dan langsung duduk di tepi ranjang.
"Apa kakak ngga kangen sama Almira?" tanya Matsuyama pada Hiro.
Hiro tampak menghela napas dengan perasaan sedih.
"Ya kangenlah, Matsu...tapi kakak bisa apa? kakak tak bisa keluar dari lembah ini dan lagi pula kakak juga sudah menikah dengan Daniah!!" jawab Hiro.
"Bagaimana dengan kakak ipar?? apakah kakak ipar sudah hamil?" tamya Matsuyama.
Uhuk...uhuk...uhuk
Hiro tersedak air liurnya sendiri saat Matsuyama mengucapkan kata hamil di telinganya.
"Kenapa kak?? kak Hiro sakit?" tanya Matsuyama.
"Bagaimana mau hamil? aku bahkan tak pernah menyentuhnya sama sekali!!" batin Hiro.
"Ayolah Matsuyama...bangunlah kita pergi ke lembah sebelah yuk...di sana pemandangannya jauh lebih indah!!"
Lalu tanpa menunggu persetujuan Matsuyama, Hiro berbalik dan keluat dari kamar adiknya itu.
"Kak, aku tau kamu mencintai Almira...aku sering melihatmu duduk menyendiri di gazebo belakang sambil melamun menatap kejauhan, tetapi kamu juga harus sadar...kalian berdua itu tidak di takdirkan untuk bersama, seberapa besarpun usahamu untuk melawan takdir, kamu tak akan mampu!!"
Matsuyama memandang iba pada kakak laki-lakinya itu.
"Untung aku tidak terjebak dalam pesona si gadis naga itu, jika tidak mungkin nasibku juga akan sama seperti kak Hiro dan yang lainnya."
****
"Sayang, sebaiknya kita segera pulang yuk!! jangan sampai kita kemalaman di jalan...kamu tau kan betapa seramnya sekitar rumah kita? memang benar mereka tidak bisa masuk ke dalam, tetapi kita yang di luar ini jika tidak cepat-cepat masuk akan sangat berbahaya bagi keselamatan kita." Kata Xavier.
Akhirnya Almira dan Xavier pamit pulang karena takut kemalaman tiba di rumah!!
"Sayang...sehabis mandi dan makan, kita langsung bobo yuk...abang pegal semua nih!!" kata Xavier sambil meregangkan otot lehernya.
"Janji langsung bobo ya...ngga ngapa-ngapain lagi ya!!" Almira langsung menatap suaminya minta persetujuan.
"Janji!!" jawab Xavier sambil tersenyum.
Lalu mereka melajukan mobilnya menuju kerumah.
Sehabis makan sambil memijit suaminya, Almira buka suara.
"Bang, apakah tadi abang sempat melihat perubahan wajah Rafa saat kita menyinggung soal Alia??"
Xavier langsung berbalik telentang menghadap Almira.
"Kupikir tadi hanya abang yang punya pikiran demikian, sekalinya kamu juga berpikiran sama dengan abang!!" jawab Xavier.
*
*
***Bersambung...
Pendapat apa dan pikiran apa tentang Rafa yang sempat terlihat oleh keduanya?
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote dan favorite dan ratenya ya!!