
Teriakannya itu menggema sampai ke peraduan Kebebitak. Shiera dan Kebebitak yang sedang berada di puncak sesaat menulikan telinga mereka sampai mereka berdua menuntaskan hasrat yang menggelora. Setelah tubuh keduanya terkulai lemas, Shiera memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai begitu pula dengan panglima perang kerajaan siluman kera itu.
Mereka bergegas menuju ke arah kamar Hikaru dan terbelalak melihat ratu Hikaru hanya tinggal tengkorak saja.
"Bibi...."
"Apa yang telah terjadi, Levia??" tanya Shiera bersimpuh di depan tengkorak ratu Hikaru sementara Kebebitak termangu melihat mantan kekasihnya tergeletak tanpa daging lagi.
Levia menangis sejadi-jadinya sementara Shiera memeluk erat tubuh sepupunya itu.
"Kanda?? apa yang harus kita lakukan?" tanya Shiera pada Kebebitak.
"Pengawal...."
Kebebitak berteriak memanggil para pengawalnya.
Beberapa pengawal dalam berdatangan kearah teriakan panglimanya termasuk kakek Bilis yang kebetulan sedang lewat si sana.
"Ada apa Kebe?" tanya kakek Bilis.
"Ratu Hikaru yah, lihatlah!!" tunjuk Kebebitak di atas pembaringan.
Kakek Bilis mengamati perubahan tubuh ratu Hikaru sesaat.
"Jantungnya telah dihancurkan!!" kata kakek Bilis singkat.
"Maksudnya, yah??" tanya Kebebitak tak mengerti apa maksud ucapan ayahnya.
"Asal kalian semua tau, tubuh cantik dan seksi yang kalian lihat selama ini hanyalah fatamorgana."
"Sesungguhnya ratu Hikaru itu telah lama meninggal dunia, hanya saja junjungannya ular sanca raksasa yang bernama Sinoe itu telah membangkitkannya kembali."
"Dulu suami Hikaru salah memilih goa saat menyimpan jantung dan samurai untuk memusnahkan jantung itu."
"Dia justru menyimpan di dalam perut Sinoe yang saat itu sedang terbuka dan mencari mangsa."
Kebebitak tertegun mendengar penuturan ayahnya. Berarti selama ini dia bercinta dengan mayat hidup dong !!" begitu pikirnya.
"Tampaknya junjungan pelindungnya itu terluka parah!!" kata kakek Bilis.
Malam itu juga upacara penguburan ratu Hikaru berlangsung. Semua siluman hadir untuk memberi penghormatan terakhir tetapi panglima mereka Kebebitak dan wanita simpanannya yang bernama Sheira tak nampak di sana, karena sejak awal upacara berjalan hingga akhir, ketua mereka tengah bermain kuda pacuan di kamarnya.
Tanpa memperhatikan perasaan Levia yang sedang berduka, Kebebitak memberikan kode pada Sheira untuk kembali ke peraduan mereka. Mereka kembali melanjutkan kesenangan mereka yang tadi sempat terhenti.
Sebenarnya Kebebitak berencana untuk bermain bertiga agar dia bisa menguasai Levia dan Sheira sekaligus, tetapi karena Levia tengah berduka maka Sheiralah malam ini yang akan menjadi pusat sasaran naf*sunya.
Mereka terus berpacu hingga tengah malam. Saat Sheira sudah kelelahan, Levia mengetuk pintu kamar sepupunya itu untuk bercerita tetapi yang dilihatnya malah bikin tubuhnya panas dingin melihat sepupunya tengah digarap oleh Kebebitak.
Belum sempat Levia beranjak dari sana Kebebitak sudah menarik tangannya mencabik-cabik pakaiannya hingga polos dan langsung menindihnya.
Sementara itu...
"Almira ini kami, tampakan diri kalian!!" seru Matsuyama.
Tubuh Almira muncul bersama Rafa di bawah pohon itu.
"Kamu sudah bebas sekarang!!" Matsuyama memeluk sahabatnya itu dengan penuh suka cita.
"Terima kasih Matsuya!!" bisik Mira terharu.
"Sama-sama...aku berhasil mengalahkan ketakutanku pada hantu, semua karena kuingat dirimu...aku harus berani saat di dalam sana seorang diri, semua kulakukan demi sahabatku.
Ayah, ibu, kakek dan ayah mertuanya bergantian memeluknya.
"Semoga kamu bisa menjalani hari-harimu tanpa merasa ketakutan lagi, Mira!!" ujar ibu Serafin saat memeluk putrinya terharu.
"Terima kasih ibu, ayah, kakek, ayah mertua dan terima kasih untukmu, Matsuya!!" kembali Almira memeluk erat sahabatnya itu.
Malam menjelang pagi itu mereka memutuskan untuk menginap di tempat itu.
Kakek Dahlan mencari kayu seadanya untuk membuat api unggun dan untuk mengusir hawa dingin.
Matsuyama duduk di sebelah Almira yang tengah mengelus-elus punggung Rafa untuk menidurkannya kembali.
"Kamu lapar??" bisik Matsuyama pada Mira.
Mira menoleh pada Matsuyama lalu mengangguk.
Matsuyama lalu merogoh kantong ranselnya mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan.
Dia menemukan biskuit yang dia bawa kemarin dari mobil saat mau berjalan kaki kemari.
"ini makanlah...semoga bisa mengganjal rasa laparmu dan ini..." Matsuyama mengelus lembut perut yang membuncit itu.
"Kamu lelah ya...sebentar lagi kita akan pulang kok!! bisik Matsuyama di perut Almira sambil menempelkan telinganya.
"Kamu lihat Kojiro...bocah slengekan itu saja mengerti artinya sayang, walaupun dia bukan ayah biologis bayi yang dikandung oleh Almira itu, sedangkan ayahnya sendiri entah sekarang di mana atau sedang bersenang-senang dengan istri sahnya karena dia dan Almira hanyalah menikah siri tempo hari.
Kojiro lagi-lagi hanya bisa berdiam diri mendengar perkataan sepupunya itu.
__ADS_1
Serafin sibuk membuat kopi dan teh untuk mereka minum melawan hawa dingin di lembah sunyi itu.
Sementara Giandra melihat-lihat sekitar siapa tau ada binatang buruan yang bisa mereka tangkap untuk mengganjal perut.
Almira menerima biskuit dari Matsuyama dengan senang hati sementara satu bungkus biskuit yang lain mereka bagi-bagi untuk sementara mengusir rasa lapar.
Setelah itu mulut Mira tampak menguap, mungkin ibu hamil satu ini merasa kantuk datang menyerangnya karena beberapa jam tadi dia terjaga sementara yang lainnya tidak ada.
Matsuyama tak pernah lepas memandang wajah sahabatnya yang semakin imut saat muka mengantuk begitu.
Blugh...
"Hadeuh...dasar bumil...sembarangan saja menaruh kepalanya..." bisik Matsuyama saat Almira merebahkan kepalanya di pundak Matsuyama.
Dengan cepat Matsuyama mencarikan posisi tidur yang enak bagi Almira dengan merebahkan kepala Almira di atas pahanya.
"Aku tak pernah merasakan jatuh cinta bahkan sampai di usiaku yang ke dua puluh dua tahun ini aku tak tau apa itu cinta dan bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi saat aku berada dekat denganmu aku merasakan ketenangan dan kedamaian..." bisik Matsuyama.
"Aku tak merasakan debaran apapun tapi saat bersamamu aku senang, aku bahagia seakan aku tak ingin jauh darimu...saat kamu sedih akupun sedih, saat kamu menangis aku tak rela, aku ingin sakitmu menjadi sakitku, lukamu menjadi lukaku!!" bisik Matsuyama lagi.
Di saat semua orang dilihatnya tengah sibuk dengan urusan masing-masing...
Cup...
Matsuyama mengecup kening Almira, dan...
Cup...
Sekali lagi dia mengecup pipi mulus kemerahan itu dan mengusap bibir mungil yang tidur dengan dengkuran halus menahan lelah juga letihnya.
"Seandainya kamu mau menerima pemuda luntang lantung sepertiku ini menjadi pendamping hidupmu, Mira!! tapi aku apa? aku tak ada apa-apanya dibandingkan bang Xavier yang super duper tampan, cerdas...aku hanya orang gunung yang tak mengerti apa-apa, satu yang aku tau bahwa aku ingin selalu bersamamu dan ingin selalu melindungimu!!" gumam Matsuyama sedih.
"Letakan kepala Almira pelan-pelan, Matsuya...minumlah dulu teh hangatmu agar perut tidak dingin!!" kata ibu Serafin.
"Terima kasih, bibi!!" kata Matsuyama.
"Bibi yang berterima kasih padamu Matsuyama, kamu yang bukan suaminya selalu saja ada untuknya sementara suaminya sendiri, sekarang entah di mana keberadaannya." Kata Serafin sedih.
"Terus apa rencana kita setelah ini?" kata kakek Dahlan.
"Apa kita akan kembali ke rumah pantai?" tanya nya lagi.
"Kita akan kembali, begitupun dengan Rafa kita akan antar kembali ke mansionnya tetapi bagaimana dengan Almira?? kembali artinya trauma akan perselingkuhan suaminya selalu membayanginya jika tinggal di rumah pantai itu." Kata Serafin.
"Kita tanyakan saja nanti padanya setelah dia bangun dari tidurnya, tampaknya dia sangat lelah...bersyukur ini semua telah berakhir...Almiraku tak akan jadi tumbal lagi!!" kata kakek Dahlan lega.
"Hah...iya ada apa kek??" tampak Matsuyama seolah tergagap karena tadi dia memang sedang melamun.
"Apakah kamu akan kembali keperguruanmu??" ulang kakek Dahlan.
"Matsuya akan bawa Almira pergi mencari kehidupan baru..." jawab Matsuyama jujur.
"Kamu mau jadi pebinor?" tanya kakek Kojiro sedikit keras.
"Apa itu pebinor kek??" bukannya menjawab, Matsuyama malah balik bertanya.
"Pebinor itu perebut bini orang...Almira itu masih istri Xavier, kamu mau merebutnya?" sentak kakek Kojiro yang tentu saja lebih membela putra angkatnya itu.
"Matsuya tidak merebut Almira dari bang Xavier, tetapi bang Xavier sendiri yang telah meninggalkan Almira pergi bersama wanita lain!!" jawaban Matsuyama yang polos seakan menohok hati kakek Kojiro yang membuatnya diam seribu bahasa.
"Jangan melihat dia masih bocah maka kamu semena-mena berkata kepadanya, dia juga punya otak untuk berpikir, punya telinga untuk mendengar dan terutama punya mulut untuk berbicara!!" kata kakek Dahlan sambil menepuk bahu sepupunya itu.
Ehmmmmm...
Almira menggeliat lalu membuka matanya saat mendengar ada keributan kecil di sampingnya.
"Ada apa Matsuya, kakek, ayah mertua, kenapa jualan obat di hutan begini??" tanyanya polos tanpa dosa.
"Dasar bocah sableng...orang lagi ngomel dia bilang jualan obat..." kata kakek Dahlan sedikit kesal.
Mereka duduk mengitari api unggun di malam menuju pagi itu. Matsuyama selalu menempel pada Almira seperti halnya Rafa yang selalu menempel padanya membuat kakek Kojiro sering melototkan matanya.
"Jangan kamu terlalu sering melotot nanti keluar biji matamu itu baru kamu tau rasa!!" kata kakek Dahlan menggoda sepupunya.
"Mira....ayah, ibu, kakek dan ayah mertuamu akan kembali pulang kerumah pantai...lalu bagaimana denganmu?? kami tak mau dan tak bisa memaksamu untuk ikut dengan kami kerumah di mana banyak kenangan pahit dan manis bagimu di sana."
"Lalu kamu akan pergi kemana? apakah Rafa akan pulang ke mansion tuan Kelvin dan Matsuyama balik ke perguruan, kemana kamu akan pergi seorang diri, nak!!" tanya Serafin sedih.
"Matsuyama tidak akan pulang keperguruan, bi...Matsuya akan pergi membawa Mira sejauh mungkin untuk mengobati luka hatinya." Kata Matsuyama.
"Rafa juga akan ikut mommy dan paman Matsuya kemanapun mereka pergi!!" kata Rafa dengan tegas.
"Baiklah...setelah kita turun gunung kita berpisah karena tujuan kita berbeda, Matsuya...paman titip putri paman dan putra tuan Aliandhara padamu ya!! jaga mereka seperti kamu menjaga dirimu sendiri." Kata Giandra.
Maka saat pagi tiba mereka mulai menuruni gunung.
"Hati-hati jangan sampai kamu terpeleset...pegangan sini!!" kata Matsuyama melingkarkan tangan Almira di lengan kekarnya.
"Anak-anak...kita berpisah di sini, berhati-hatilah kalian bertiga...bahaya bukan hanya datang dari ratu Hikaru saja, tapi bisa dari siapa pun, mengertikah kalian??" tanya kakek Dahlan pada ketiganya.
__ADS_1
"Kami mengerti kek!!" kata ketiganya kompak.
"Sekali lagi ayah minta maaf atas perbuatan Xavier padamu, Mira...jika kamu sudah lelah berkelana maka pulanglah, ayah selalu mencintaimu seperti anak ayah sendiri."
Akhirnya kakek Kojiro ikhlas melihat Almira berniat untuk memilih pergi, dia tak bisa memaksakan sekeping hati yang terluka untuk bisa secepatnya sembuh kembali.
Lalu setelah saling berpelukan mereka akhirnya berpisah. Almira dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke timur sedangkan rombongan kakek, ayah dan ibunya kembali lagi ke barat.
Mereka bertiga naik mobil menuju ke timur.
"Matsuya...kita sekarang akan pergi kemana?" tanya Almira menatap Matsuya.
"Entahlah, yang penting kita jalan saja dulu!!" katanya.
"Kamu tidak kembali keperguruan?" tanya Almira sementara Rafa di belakang tertidur kembali.
"Aku akan bersamamu kemanapun itu!!" kata Matsuyama.
Mereka berdua akhirnya diam. Setelah menempuh dua jam perjalanan akhirnya Matsuyama berhenti di perbatasan sebuah desa.
"Kamu lihat daerah pertanian kecil itu Mira??" tunjuknya.
Almira mengedarkan pandangannya pada sebuah rumah yang terbuat dari balok-balok kayu yang nampak sangat klasik. Di sekitarnya ada peternakan kecil dan sedikit area pertanian.
Yang paling membuat Almira tercengang di depan pintu rumah tertulis "peternakan dijual."
Mereka bertiga turun dan menemui seorang petani tua di sana.
"Selamat siang...saya melihat tulisan di depan tertulis bahwa peternakan ini akan dijual?" tanya Matsuyama pada lelaki tua yang ternyata adalah pemilik peternakan.
"Iya nak, kakek adalah pemilik peternakan kecil ini." kata orang tua itu.
"Masuklah..." katanya mempersilakan.
Matsuyama, Almira dan Rafa masuk ke halaman berpagar kayu itu.
Mereka duduk di teras sementara si kakek masuk mengambil minuman dan menyediakan ubi rebus.
"Kek, mengapa peternakan ini mau dijual?" tanya Almira.
"Kakek mempunyai banyak kenangan tentang nenek di sini, sebenarnya sudah banyak yang menawarkan harga untuk membeli peternakan ini tapi kakek melihat-lihat dulu calon pembelinya, kakek tidak mau hewan ternak kakek ditelantarkan.
"Ditelantarkan bagaimana kek??" tanya Almira lagi
"Kakek mempunyai beberapa ekor kucing, dua ekor anjing, ayam, bebek, beberapa ekor domba dan ada juga beberapa ekor sapi dan kuda."
Di belakang rumah kakek menanam jagung, gandum dan umbi-umbian dan di depan itu...kakek menunjukan jarinya, kakek menanam sayuran hidroponik dan sedikit buah-buahan."
"Kakek kesepian di sini semenjak istri kakek meninggal dunia...kakek mau ikut anak kakek di kota besar sana." kata kakek yang memperkenalkan diri bernama Abraham itu.
"Kami akan membeli peternakan ini kek, istri dan anak saya butuh suasana yang tenang apalagi mau menjelang persalinannya ini." Kata Matsuyama
"Pintu peternakan ini selalu terbuka jika kakek mau berkunjung kemari!!" ucap Matsuyama.
"Kalian bertiga ini pasangan muda yang enerjik ya...ya sudah kakek siapkan dulu sertifikatnya...besok kalian balik lagi kemari!!" kata kakek Abraham.
"Baiklah kek, kami bertiga permisi dulu besok kami datang lagi membawa uangnya!!" kata Matsuyama.
Saat ada di dalam mobil Almira bertanya kepada Matsuyama...
"Memang kamu punya uang untuk membeli peternakan itu Matsuya??" kata Almira.
"Kalau aku tidak punya uang mana aku berani membawa istri dan anak orang kabur dari suami dan ayahnya!!" kata Matsuyama tertawa.
"Suami?? apa aku punya suami??" gumam Almira tertahan sementara genangan air mata siap menjebol lentik bulu matanya.
"Aku tidak punya suami, aku telah dibuang, aku dicampakan demi wanita lain!!"
Srett...
Menggelindinglah bulir air mata keluar dari kelopak matanya.
Sssttt
"Cup...cup...sayang...jangan menangis...aku tidak bisa dan tidak akan kuat melihatmu menangis seperti ini!!" Matsuyama memeluk erat tubuh Almira diikuti oleh Rafa.
"Ya sudah kita cari penginapan dulu ya, agar kalian bisa beristirahat!!" ucap Matsuyama lalu melajukan mobilnya memasuki daerah pinggiran kota.
*
*
***Bersambung...
Perjalanan baru Almira, Matsuyama dan Aliarafa pun dimulai oleh ketiganya...apa keinginan mereka selanjutnya??
Jangan lupa untuk terus mengikuti kisah perjalanan cinta Almira ya...dan jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya...🙏🙏
.
__ADS_1