Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 148 Meluluhkanmu


__ADS_3

"Sudah ngga usah dibahas dan diingat...abang akan selalu melindungi kamu!!" katanya sambil tersenyum lalu membelai lembut dan membenarkan anak rambut Almira yang agak berantakan tertiup angin.


"Cantik..." desis Xavier pelan.


Almira tidak berucap apapun walaupun dia mendengar perkataan Xavier hanya wajahnya saja yang memerah.


Mobil mereka melaju membelah jalan raya mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.


Almira tampak menyenderkan kepalanya di kaca jendela.


"Kepalamu sakit??" tanya Xavier melihat Almira.


"Sedikit bang..." kata Almira.


"Dek, apa abang boleh bertanya sesuatu??" katanya.


"Mau tanya apa bang??" lirih Almira sambil berusaha menahan mual dan rasa mau muntah.


Apakah Xander punya saudara kembar karena abang sering dimimpikan bocah perempuan yang wajahnya mirip dengan Xander.


"Apakah itu penting bagi abang??" tanya Almira.


Xavier menghentikan mobilnya dipinggir jalan.


"Mira...abang mohon...jangan hukum abang seperti ini!! jangan siksa perasaan abang dengan sikap dinginmu ke abang Mira, tolong jangan jauhkan abang dari buah hati kita, abang tau dia masih hidup tapi di mana dia?" tanya Xavier.


"Dia dirawat oleh ibunda ratu!!" jawab Almira singkat lalu lanjut memejamkan matanya.


Xavier kembali melanjutkan perjalanan.


"Abang tau mungkin sulit untuk bersatu kembali, dek...tapi abang akan tetap berjuang untuk memperoleh maaf darimu!!" kata Xavier pada Almira.


Almira tidak menjawabnya, menulikan kedua telinganya.


Hari menjelang malam saat mobil mereka memasuki area pantai tempat mereka tinggal selama ini.


Almira langsung membuka matanya mencium hawa garam yang merasuki penciumannya.


Tak lama lagi kita sampai dek!!" kata Xavier memecah keheningan di antara mereka.


"Nah itu rumah kita sudah nampak!!" kata Xavier.


"itu rumah abang bukan rumah Mira, jadi jangan sebut kita...lagi pula kita sudah bukan lagi suami istri!!" kata Mira dingin.


Lagi-lagi Xavier hanya bisa menelan kata-katanya sendiri.


Terkadang dia kehabisan kata-kata menghadapi sang mantan yang berubah menjadi sangat dingin seperti salju di pegunungan Himalaya.


Tampak kakek Dahlan dan kakek Kojiro menunggu di depan pagar.


Setelah mobil berhenti Mira langsung kabur lari menghambur kepelukan kakeknya.


"Kakek!!!" teriaknya.


Sambil menahan tubuhnya yang sedikit demam, kakek Dahlan menyambut pelukan Almira.


Xavier turun dari mobil membawa tas baju Almira dan Xander juga menggendong putranya yang tertidur itu.


Setelah puas melepas rindu pada kakeknya, Almira memeluk kakek Kojiro.


"Ayah!!" katanya sambil terisak.


Kakek Kojiro menghela napas baru berbicara.


"Terima kasih masih menganggap laki-laki tua ini sebagai ayahmu, nak...walaupun kamu bukanlah lagi anak menantuku!!" katanya sedih.


"Selalu yah...Almira akan selalu menganggap begitu!!" kata Almira.


"Hei...siapa dua bocah lucu ini??" tanya Almira saat mendengar sesuatu mendesis di kakinya.


Tak lama dua ekor ular dewasa datang menghampirinya!!


"Kadir anak mama...inikah istrimu??" tanya Almira sambil memeluk Kadir yang juga menghambur masuk ke dalam pelukannya.


Sssss..ssssss


"Aku baik Kadir...kamu ngga usah khawatir!!" kata Mira menjawab pertanyaan Kadir.


Lalu Kadir meluncur turun ke perut Almira dan menjilati dengan lidahnya yang bercabang dan berwarna kebiruan.


"Ini istrimu??" tanya Almira memandang seekor ular betina yang tegak di sampingnya.


Ssss...sssss


"Oh...namanya Silvia?? senang berkenalan denganmu, Silvia!!" kata Almira membelai kepala Silvia dan kedua anak mereka.


Zzzssssssss


"Iya Kadir...itu putraku namanya Xander dan putriku saudara kembar Xander ada sama ibunda ratu Nilakandi." Jawab Almira.


"Mira, cuci dahulu wajah, tangan dan kakimu serta putramu barulah setelah itu kalian makan!!" kata kakek Dahlan.

__ADS_1


"Dek, kamu dan Xander tidur di kamar tidur kita dulu, biar abang tidur di Sofa ruang tamu!!" kata Xavier.


Sepeninggal Xavier, Almira memandang kesekitar kamar mereka.


Foto pernikahan mereka masih tergantung di dinding juga foto saat Xavier memeluknya masih tertata rapi di atas meja rias Almira.


Almira membuka lemari pakaian. Masih tergantung rapi pakaian Almira.


Matanya tertuju pada kotak yang ada di dalam lemari. Di angkat dan dibukanya kotak itu.


Wajah Almira memerah. Isi kotak itu adalah baju yang dikenakan Almira saat pertama kali Xavier merenggut keperawanannya saat di pantai kala itu. Darah yang mengering menjadi saksi bisu mereka.


Mata Almira basah. Semua kenangan pahit dan manis berseliweran di kepalanya sampai dia tak sadar Xavier telah berdiri di belakangnya.


"Abang akan selalu menyimpan itu dek!!" kata Xavier membuat Almira kaget dan cepat menghapus air matanya.


"Seharusnya kenangan malam pertama abang bersama Sullivan yang abang simpan, untuk apa kenangan bersamaku karena itu tak penting untuk hidup abang!!" kata Almira sambil melepaskan tangan Xavier dari bahunya dan hendak berlalu.


Tetapi Xavier meraih tubuhnya dan memeluknya erat.


"Istri abang hanya satu dek, hanya kamu...malam pertama abang hanya saat bersamamu, tidak ada malam pertama bersama Sullivan walaupun dia menginginkannya tetapi abang tidak...abang hanya akan meniduri wanita yang sangat abang cintai yaitu kamu!!" kata Xavier sambil memeluk Almira.


"Bayi di dalam perut Mira sakit bang!!" Almira meringis untuk melepaskan pelukan erat itu.


"Maaf...maafkan ayah ya sayang!!" katanya sambil berjongkok dan mengelus perut Almira yang membuncit.


"Ayo kita makan...mereka sudah menunggu di ruang makan!!" kata Xavier.


"Makanlah dulu, Mira...baru kita ngobrol-ngobrol tentangmu...oh iya, suamimu tidak ikut kemari?" tanya kakek Dahlan.


"Bang Matsuya pulang keperguruan menengok orang tuanya, katanya ibunya sedang sakit, kek!!" kata Almira.


"Kamu memberi tahu suamimu atau tidak kamu mau pergi menengok kakek??" tanya kakek Dahlan lagi.


"Ya ngga lah kek, perguruan ayah Kakegawa kan terisolir dari dunia luar!!" jawab Almira.


"Nanti ibu dan ayah yang akan menyampaikannya sekalian suami Almira menjemput kemari!!" kata Mira.


"Huh...semoga aja urusan bocil itu ngga kelar-kelar di perguruannya sana supaya aku dan Almira juga Xander bisa bersama seterusnya!!" batin Xavier sambil makan.


"Xavier Giovanno!!" mata kakek Kojiro melotot pada putranya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan!!" katanya.


"Ngga ada, yah!!" katanya.


Almira sudah kehilangan kemampuannya untuk bisa membaca pikiran orang lain, sehingga dia tidak tau apa yang sedang Xavier pikirkan tentang mereka.


******


Matsuyama berdiri memandang air terjun di belakang lembah. Ingatannya kembali melayang saat mereka bertiga masih kecil dahulu.


Hiro, Sima dan dirinya sering mandi di bawah air terjun. Sungguh masa kecil yang menyenangkan dan membahagiakan. Tak ada permusuhan, tak ada pertikaian tetapi sekarang?


Tampaknya cinta dan dendam masa lalu telah menghancurkan segalanya.


Sebagai anak sebenarnya dia tak tega melihat wajah ibunya rusak membusuk di bagian pipinya, tetapi itu kesalahan ibunya sendiri suka membokong orang dari belakang dan posisi Hiro hanya membela diri.


"Apakah aku harus memohon pada kak Hiro dan kak Sima untuk memberikan penawar racun itu??" gumam Matsuyama.


Lalu terbayang lagi diingatannya tentang istrinya Almira yang tengah mengandung.


"Apa kabarmu di sana baik-baik aja sayang?? abang kangen sama kamu kangen pengen belai anak kita yang ada di perutmu, kangen sama Xander...apa kalian di sana sudah tidur??" gumam Matsuyama menatap kejauhan.


Seandainya di perguruan ini tidak terisolir dari dunia luar, abang sudah sejak kemarin-kemarin menelponmu...abang kangen, Mira!!" kata Matsuyama.


"Matsuyama...."


Sebuah tepukan di pundak Matsuyama sontak mengagetkannya dari lamunan.


"Ayah!!" kata Matsuyama pendek.


"Kamu masih marah pada ibu dan ayah??" tanya Kakegawa.


Matsuyama diam sambil menatap wajah ayahnya.


"Yah, Matsuya mau tanya pada ayah...apakah saat ayah dan ibu melakukan dosa pengkhianatan itu tak adakah rasa bersalah sama sekali di hati kalian? sebegitu besarkah nafsu mengungkung kalian sehingga kalian lupa akan dosa dan lupa bahwa akan ada tiga hati yang akan tersakiti karena perbuatan kalian? hati ibu Abesira, hati Hiro dan Sima??" tanya Matsuyama pelan dan datar tetapi begitu menusuk gendang telinga Kakegawa.


Tak ada kemarahan yang terlihat di mata putranya tetapi tatapan mata yang lembut itu begitu menusuk hingga jauh ke dalam.relung hati Kakegawa.


"Ayah tau bahwa ayah salah, Matsuya...apa yang telah ayah dan ibu lakukan awalnya hanya kekhilafan biasa dan akhirnya menuntut ayah menikahi ibumu karena kamu telah hadir di dalam rahim Miku ibumu.


"Khilaf?? ke khilafan yang terus berlanjut maksud ayah!!" sindir Matsuyama.


"Jangan terus menerus memojokan ayah, Matsuya!!" kata Kakegawa dengan wajah frustasi.


"Karena kekhilafan ayah dan ibu, Matsuyama juga jadi korbannya, yah!! kak Hiro, kak Sima, terutama ibu Abesira.


"Ayah dan ibu sungguh keterlaluan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu...Matsuya curiga jangan-jangan ayah dan ibu menghalangi kak Hiro bersama Almira dan menjodohkan kak Hiro dengan kak Daniah karena ada maksud terselubung?? benar begitu, yah??" tanya Matsuyama dengan suara serak menahan gejolak perasaannya.


"Matsuya...ayah dan ibu hanya ingin yang terbaik untukmu!!" kata kakegawa.


"Tapi kak Hiro dan kak Sima juga anak ayah walaupun bukan anak kandung ibu." Kata Matsuyama.

__ADS_1


"Kalian berdua memang pantas mendapatkan kemarahan dari mereka berdua...tetapi mengapa Matsuyama juga menjadi korbannya?" lalu Matsuyama pergi meninggalkan ayahnya dengan perasaan kecewa.


Sementara Miku terus merintih saat rasa sakit dari racun kala biru itu seperti mencacah pipinya.


Terngiang di telinganya saat Abesira akan menghembuskan napas terakhirnya...


"Kamu sekarang boleh merasa menang, Miku...ambillah suamiku yang seorang pengkhianat itu, pengkhianat memang sangat cocok dipasangkan oleh seorang pengkhianat...tetapi percayalah karma itu ada...suatu hari nanti akan datang dan tiba masanya pembalasan itu datang untuk kaum pengkhianat seperti kalian!!"


Kata-kata dua puluh tahun lalu yang diucapkan oleh Abesira seperti mengiang kembali di telinganya, sangat jelas...


****


"Hiro...ayo kita kembali kerumah ibu Saki!!" ajak Sima memegang pundak saudara kembarnya yang seakan enggan beranjak dari makam ibu mereka.


Selama Abesira di makamkan, tak pernah sekalipun ayah mereka berkunjung kemakam ibu mereka, hanya ibu Saki yang rutin membersihkan makam itu, walaupun telah tua tetapi makam itu tetap terawat dengan sangat baik.


"Ayo...hari sudah mau hujan...besok kitakan bisa kemari lagi!!" ajak Sima.


"Hatiku benar-benar sakit, Sima....bisa-bisanya kita hidup belasan tahun bersama penjahat seperti mereka, minuman dan makanan apa yang mereka cekoki buat kita sampai kita hanya menurut saja seperti kerbau dicucuk hidungnya." Kata Hiro sangat geram.


"Sebenarnya aku itu sudah lama sadar dan tak mau lagi makan dan minum apa yang disuguhkan oleh wanita jahat itu."


"Dengan kejamnya dia mengatakan pada ayah bahwa aku liar dan susah diatur...hingga kamupun yang saat itu masih terpengaruh pada ramuan jahatnya juga ikut membenci dan menjauhiku serta memusuhiku." Kata Sima.


"Lalu aku bergabung dengan kelompok Levia sebagai imbas kekesalanku padamu, sambil aku berusaha untuk mencari cara menyadarkanmu."


"Kamu tau...mengapa dia matia-matian memisahkanmu dari Almira dan berusaha menjodohkan putranya Matsuyama?? karena dia ingin mengambil mutiara naga yang sampai kini masih tersimpan di dalam tubuh gadis itu."


"Ayah saja yang begitu bodoh sampai tak tau bahwa Miku sama jahatnya dengan Hikaru!!"


"Tak tahukah ayah bahwa Miku adalah adik kandung Hikaru."


"Dia berusaha masuk kedalam kehidupan ayah dan ibu untuk memisahkan ayah dari ibu dan untuk mengambil kitab 1000 racun yang ibu miliki."


****Flashback on*****


"Miku...kamu masuklah kedalam kehidupan Kakegawa, rayu dia agar mau bercinta denganmu dan bertanggung jawab menikahimu!!"


Suatu Sore Hikaru sedang memanggil adik kandungnya untuk menghadap padanya.


"Kak...tapi aku ngga suka sama Kakegawa....aku sukanya sama Giandra!!" rengek Miku.


"Kamu pikir mudah untuk merayu Giandra?? dia sudah cinta mati sama Serafin sementara Kakegawa itu cintanya gampang goyah apalagi melihat wanita cantik bertubuh seksi.


"Kamukan tau istri Kakegawa si Abesira itu wanita yang terkenal karena keganasan racunnya."


Beberapa hari kedepan, aku akan bertarung melawan mereka semua dan racun dari Abesiralah yang paling kutakutkan....buat dia melemah, dia sangat memcintai Kakegawa, Laki-laki itu adalah kelemahannya."


"Jika kamu mampu merebut Kakegawa maka hancurlah sudah dia!!"


"Lalu bagaimana dengan kedua anak kembar mereka??" tanya Miku.


"Buat mereka linglung dengan melupakan semua tentang masa kecil mereka...jangan pernah absen memberikan racun penghilang ingatan pada anak-anak itu."


"Sudah jangan banyak membangkang perintah kakakmu ini...Miku!!" kata Hikaru sedikit kesal pada adik bungsunya itu.


"Haaahhh iya...iya!!" kata Miku sambil cemberut.


"Begitu...itu baru adik kakak yang cantik!!" kata Hikaru tersenyum pada adiknya.


Mulailah Hikaru memasukan pengaruh pada Kakegawa sedikit demi sedikit melalui Miku.


Kakegawa yang sering bepergian memang jadi incaran Miku dan Hikaru.


Miku menyamar menjadi gadis yatim piatu yang teraniaya membuat Kakegawa kasihan padanya.


Sedikit demi sedikit Miku merayu Kakegawa hingga akhirnya hati laki-laki itu luluh juga.


Mereka sering bercinta di belakang Abesira hingga saat itu Miku mengandung Matsuyama. Kakegawa membawa Miku pulang keperguruan dan mempekerjakan Miku sebagai pengasuh Hiro dan Sima.


Berpura-pura hanya sebagai tuan dan pelayannya padahal setiap Abesira tak ada di rumah mereka langsung melakukan kegiatan panas mereka hingga berjam-jam atau terkadang mencuri-curi waktu saat penghuni perguruan sedang terlelap tidur maka Kakegawa akan menyelinap masuk ke kamar Miku untuk meminta jatahnya pada wanita licik itu.


Sebenarnya Abesira telah mencium aura perselingkuhan suaminya itu, tetapi demi cintanya pada keluarga maka dia membutakan dan menulikan telinganya.


Sungguh Abesira yang malang. Hingga saat pertempuran itu terjadi saat Abesira berhasil menghindari pukulan Matahari dari ratu Hikaru, sebuah kekuatan yang tak kelihatan lalu mendorong tubuhnya kembali hingga dia dihantam telak di dadanya oleh pukulan ratu Hikaru.


Beruntung sebelum meninggal Abesira telah menghancurkan kitab sakti 1000 racun miliknya dan membuatkan minuman untuk diminumkan pada kedua anak kembarnya.


*****Flashback off****


"Sial....sial...." maki istri Kakegawa itu.


"Bagaimana jadinya dengan lukaku ini!! sialan kamu Hiro...." teriaknya.


*


*


***Bersambung...


Mampukah Xavier meluluhkan hati yang telah membeku itu??


Ikuti kisaj cinta Almira, Xavier dan Matsuyama selalu ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2