
"Apakah kanda juga kecewa??" tanya Bonita menyenggol pinggang Rangga.
"Aku tidak terlalu kecewa untuk saat ini tetapi jika suatu hari kelak dinda mengecewakanku seperti itu maka aku tidak akan memberi pengampunan apapun untuk dinda." Celetuk Rangga.
Matsuyama bermalam dipinggir hutan. Karena dia merasa tidak enak di dalam satu mobil tetapi di cueki oleh Almira terus, Matsuyama memilih keluar mobil mencari kayu kering disekitaran hutan lalu membuat perapian untuk menghangatkan diri.
Dia menjerang air untuk mengisi termos panas milik mereka takut kedua anaknya mau minum susu setelah itu dia merebus mie setelah selesai membuat kopi.
Tok...tok...tok
"Sayang, kamu mau makan mie rebus??" tetapi Almira sudah tidur atau mungkin hanya pura-pura tidur.
Matsuyama menarik napas berat lalu kembali keperapian.
"Dia masih marah...aku memang pantas dimarahi, dek...tapi jangan diamkan abang seperti ini...mending kamu cerewet seperti biasa dari pada kamu diam begini!!" lirih Matsuyama.
Sementara di mobil Almira tidak tidur tetapi dia hanya pura-pura tidur.
Hatinya masih sakit mendengar pengakuan Matsuyama dan Bonita tadi siang.
Begitu mudahnya dia berhubungan intim dengan wanita lain yang bukan istrinya.
Air mata Almira tak berhenti mengalir. Dia sangat kecewa pada Matsuyama.
"Aku harus bagaimana sekarang?? ternyata Matsuyama dan Xavier sama saja setali tiga uang!!" isak Almira dalam diamnya.
********
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Hiro??" tanya Sima pada saudara kembarnya.
"Aku puas Sima, akhirnya Kakegawa dan Miku mati juga...akhirnya dendam seribu karat ini terbayar lunas berikut bunganya!!" kata Hiro.
"Aku tak bisa membayangkan dulu bagaimana penderitaan ibu saat kita masih dalam kandungan, saat ayah kandung kita meninggal tanpa sebab."
"Lalu penderitaan ibu saat melihat perselingkuhan Kakegawa dan Miku di belakangnya saat mengetahui mereka berdua menikah di belakang ibu."
Tangan Hiro terkepal kuat. Tak terbayangkan olehnya rasa sakit yang diderita oleh Abesira ibu mereka.
Hiro menengadahkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tampak rembesan air mata keluar dari kelopak matanya yang terpejam.
__ADS_1
Sima mendekat dan memeluk saudara kembarnya itu untuk memberinya kekuatan.
Mereka sejak dulu hanya berdua lalu saat Miku dan Kakegawa menghasut dan mengadu domba Sima dan Hiro, Hiro yang lemah lembut dan begitu menyayangi Miku dan Kakegawa menurut dan percaya saja saat mereka mengatakan Sima itu jahat.
Karena berbeda dengan Hiro, Sima itu wanita yang tangguh dan keras, tak gampang percaya oleh apapun sebelum dia membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.
Saat mereka berumur 8 tahun, Sima pernah secara tak sengaja mendengar percakapan Miku dan Kakegawa.
****Flashback on****
Sima sedang bermain petak umpet dengan Hiro waktu itu, dia sudah mencari kesekeliling perguruan tetapi tidak bisa menemui Hiro.
"Kemana sembunyinya Hiro sialan, itu??" gumam Sima lalu melewati kamar ayah dan ibu tiri mereka.
"Yah...Sima begitu keras kepala, dan Hiro selalu menurut apapun yang dikatakan oleh Sima karena dia sangat mencintai saudara kandungnya itu."
"Ibu khawatir jika kita tidak segera memisahkan mereka berdua, ibu takut mereka akan menjadi duri dalam daging.
Awalnya Sima kecil tak mengerti apa itu duri dalam daging, dan mengapa ibu dan ayah ingin memisahkan mereka berdua.
"Ibu akan mengadu domba antara Hiro dan Sima. Ibu tidak mau mereka tau bahwa ayah kandung mereka telah dibunuh olehmu, ibu tidak mau mereka juga tau bahwa ibu mereka meninggal karena ibu dorong."
Sima yang berotak cerdas walaupun masih kecil berusaha untuk mencari tau dengan caranya sendiri.
Hanya sayang, karena Hiro hati nya yerlalu lembit dan gampang di bodohi akhirnya termakan hasutan kedua orang tuanya yang terus menanamkan kebencian pafa meteka berdua.
Puncaknya saat mereka berumur delapan belas tahun, Sima benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi akhirnya dia memilih jadi pemberontak dan harus bermusuhan dengan saudara kembarnya sendiri itu semua karena pengaruh Miku dan Kakegawa.
Cukup lama mereka berdua bermusuhan karena kesalah pahaman itu hingga ibu Saki mantan pengasuh mereka dulu turun tangan untuk mendamaikan dua saudara kembar itu.
Hingga Hiro sendirilah yang telah membebaskan Sima dari goa itu dan membawanya pergi ke tempat kediaman rahasia ibu Saki.
****Flashback off****
"Sampai sekarang aku itu ngga ngerti mengapa kedua orang itu ingin menghancurkan kita?? apakah karena harta warisan ayah dan ibu yang hingga kini belum diketahui di mana di simpannya??" tanya Hiro.
"Pertama karena itu Hiro, kedua karena rasa iri Miku pada ibu Abesira yang kemudian dengan akting hebatnya ikut menghasut ayah Kakegawa.
Tapi sekarang mereka berdua sudah mati semua...walaupun bukan dengan tangan kita sendiri yang membunuhnya, tak perlu kita mengotori tangan kita untuk melenyapkan dua manusia jahat itu untuk selamanya.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu janjikan pada panglima Kebebitak sebagai imbalannya?? jangan bilang kamu menjanjikan tubuhmu pada panglima kerajaan kera yang gila sama perempuan cantik itu." kata Hiro pada kembarannya.
"Kamu tenang saja aku tidak segila dan sebodoh itu untuk menyerahkan kesucianku pada mahluk siluman itu."
"Aku menjanjikan setengah dari harta karun ayah Takeshi dan ibu Abesira akan jadi milik Kebebitak!!" jawab Sima."
"Gila kau Sima...memang kamu tau di mana letak harta karun itu??" tanya Hiro.
"Aku sudah menemukan ancang-ancangnya di mana kira-kira harta itu di simpan...harta itu milik perguruan kita yang akan aku gunakan untuk membangun perguruan kita kembali...aku harus mewujudkan keinginan ayah dan ibu untuk membangun kembali perguruan kita, Hiro!!" kata Sima.
"Aku ikut saja dengan rencanamu Sima selama itu untuk tujuan yang baik!!" kata Hiro.
*********
"Aku capek Rini...bisakah kita beristirahat dulu?? kakiku sudah melepuh semua dan pecah-pecah nih!!" keluh Rana pada saudaranya.
"Baiklah...aku juga sudah haus dan lapar Rana, tetapi sepanjang perjalanan kita, hanya bukit pasir yang kita temui...apa kita ini tidak salah jalan kah?? ini bukan gurun Sahara kan?? mana cuacanya terik banget lagi!!" keluh Rini juga.
"Sepertinya kita ini salah ambil jalan Rana, ini keluar dari jalur jalan yang kita tuju!!" kata Rini lagi.
"Coba kita maju lagi sedikit kedepan, karena di seberang sana sepertinya ada hutan mungkin kita bisa minum dan mencari makan di hutan sana...bersabarlah sedikit Rana!!" Rini tampak menyemangati Rana yang sudah kelelahan.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan menyeberangi gurun pasir itu.....
"Akhirnya kita keluar juga dari gurun pasir itu dan menemukan hutan kembali Rini!!" Rana sangat senang karena sebentar lagi dia bisa mencari sungai, minum sepuasnya dan bisa berburu binatang di hutan untuk makanan mereka.
"Tunggulah kedatangan kami berdua kepeternakanmu, Matsuyama!!" seringai penuh dendam kedua saudara itu.
"Kamu akan membayar sedikt demi sedikit hutang keluargamu Matsuyama!!" desis Rini penuh dendam.
"Lihat itu ada sungai Rana, kita bisa minum sepuasnya di sana, siap tau di sungai itu ada ikannya untuk kita tangkap dan kita makan malan ini." Kata Rini.
*
*
****Bersambung***
Dendam, iri, dengki dan kebencian akan merusak segalanya...bahkan teman atau saudarapun bisa menjadi musuh!!
__ADS_1
Hai...reader...mohon selalu dukungannya pada novelku ini ya!!