Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 57 Musuh Tak Terduga


__ADS_3

Hanya terkadang dia sering melamun di teras pondok sambil mendengarkan gemericik air yang mengalir dari sungai Nishizawa...mendengarkan suara burung-burung dan binatang-binatang hutan. Jujur dia sangat merindukan anak-anaknya yang sudah 17 tahun tak ditemuinya lagi, dan entah di mana mereka berada sekarang!!


"Sayangku, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Serafin menghampiri suami tercinta yang sedang duduk termenung.


"Angin lembah terasa sangat dingin, nanti ayah masuk angin di sini." Serafin merapatkan syal yang dipakai suaminya.


"Sera, sudah berapa tahun kita tinggal di lembah yang sunyi ini?" Tanya Giandra pada sang istri.


"Memangnya kenapa yah? Ayah merindukan dunia luar sana!!" Tanya sang istri padanya.


Giandra diam. Lalu dia menyahut kembali, "memang ada pengaruhnya kah dunia luar sana sama di lembah sunyi ini? Semua sama hanya kegelapan yang kulihat!!"


Istrinya menatap sang suami dengan sedih. Ada rasa sesal di hatinya, seandainya dulu Giandra tak menikah dengannya tentu hidup Giandra akan baik-baik saja tidak seperti sekarang ini.


Dari segi ilmu kanuragan Giandra memang berada beberapa tingkat di bawah Serafin. Karena Serafin memang sejak kecil dilatih keras baik fisik maupun mentalnya oleh sang ayah sekaligus gurunya sedangkan Giandra hanya anak dari seorang bangsawan yang hidup dalam segala limpahan kemewahan yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang pemberani yang telah menolongnya dari para perampok yang menghadang perjalanannya.


Dari sang ayah mertua dan istrinyalah Giandra terus digembleng dan dilatih ilmu silatnya.


"Sayang...maafkan aku ya!! Karena aku kamu sekarang ikut menderita." Serafin memeluk erat suaminya.


"Tidak apa-apa Sera, aku ikhlas menjalani semua kesulitan ini asalkan tetap bersama denganmu." Dia balas memeluk istrinya.


"Andaikan Giovanno dan Almira ada bersama kita, tentu kita tak akan merasa kesepian seperti ini ya sayang!!" Kata sang istri.


"Aku yakin mereka di luar sana masih hidup tetapi apakah mereka masih bersama atau tidak itu yang aku tak tahu."


"Jika mereka masih hidup tentu mereka sudah tumbuh dewasa sekarang." Kata Serafin lagi.


"Benar Sera, walaupun Giovanno bukan saudara kandung Almira, tetapi aku tetap menyayanginya." Giandra memandang lagi lurus kedepan.


"Kasihan Giovanno itu, dia tak sempat merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, ayah ibunya keburu gugur di medan peperangan." Serafin menggenggam tangan suaminya.


"Iya yah, aku jadi merasa bersalah pada Kikio dan Ichiko karena tak bisa menjaga putra mereka dengan baik bahkan putri kitapun ikut lenyap." Serafin begitu terpukul tapi dia tetap berusaha tegar, dia tak ingin suaminya ikut merasa terpukul juga.


"Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu dan berkumpul lagi!!" Jawab Giandra.

__ADS_1


"Serafin, Giandra...kalian makanlah duluan, nenek mau pergi ke seberang lembah mencari dedaunan yang bisa dijadikan ramuan obat." Nenek Megumi lalu mengambil caping bambu dan keranjang untuk mengumpulkan tumbuhan obat-obatan.


"Iya nek, sehabis makan kami akan segera menyusul..." Sahut Serafin sementara suaminya diam saja.


"Sera, kenapa perasaanku mendadak ngga enak ya!!" Kata Giandra pada istrinya.


"Sama yah, aku pun merasa demikian...sejak tadi aku merasa terus menerus berdebar." Sahut sang istri.


"Sera, semalam aku bermimpi nenek Megumi melambai-lambaikan tangannya pada kita, seolah nenek akan pergi jauh!!" Kata Giandra.


Serafin diam mendengar penjelasan suaminya, karena diapun bermimpi itu dalam tiga malam berturut-turut tetapi dia hanya diam saja tak mau menceritakan mimpinya itu kepada yang lain.


"Ya sudah sebaiknya kita makan dulu baru nanti kita susul nenek keseberang lembah."


"Yah, bukankah di seberang lembah itu ada rawa kematian?" Nenek Megumi tidak sedang menuju kesana kan?" Serafin lari kedalam rumah.


Dia lari keluar lagi dengan tergopoh-gopoh.


"Yah...ayah..." Serafin berteriak.


"Nenek Megumi meninggalkan sepasang samurai kembarnya di kamar, jadi tadi nenek pergi hanya membawa belati kecil saja." Serafin terlihat panik seketika.


"Sebaiknya kita tunda dulu makannya, Sera...kita langsung menyusul nenek saja, aku mulai khawatir." Kata Giandra sambil berdiri dan meraih tongkat besinya.


Serafin pun beranjak kembali masuk mengambil samurai sang nenek dan segera keluar menyusul suaminya.


Tepat seperti dugaan sepasang suami istri itu, mereka datang tepat pada saat pertarungan sang nenek dengan bermodalkan belati kecil dan topi capingnya.


Lima orang pria berwajah sama dan memakai pakaian yang sama pula. Mereka adalah Pandawa Lima, lima senopati ratu Hikaru yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.


Crasss....


Sabetan belati di pinggang salah seorang Pandawa Lima itu oleh nenek Megumi harus dibayar mahal oleh sang nenek dengan tebasan samurai yang memutuskan lengannya dan membuat luka robek yang dalam di punggungnya.


Nenek Megumi terhuyung. Lengannya yang putus masih menggenggam belati. Belum lagi luka menganga di punggungnya itu.

__ADS_1


Saat salah satu dari mereka hendak mengayunkan samurainya mau memenggal kepala nenek Megumi, Tongkat besi di tangan Giandra melesat menghantam tangan yang memegang samurai itu.


Trangg...


Tongkat besi mematahkan samurai lawan. Giandra yang sekarang beda dengan Giandra 17 tahun yang lalu. Walaupun matanya buta tetapi Giandra memfokuskan pada pendengaran dan nalurinya. Itu semua berkat gemblengan keras dari sang istri dan guru baru mereka, nenek Megumi.


"Bedebah..."


Salah satu dari mereka mengumpat melihat saudara mereka remuk tangannya dan samurainya patah.


Mereka berbisik satu dengan yang lain, tampaknya dia adalah saudara tertua sekaligus pemimpin kelima Pandawa Lima itu.


"Kita sebaiknya mundur, kalian lihat siapa si buta tadi yang menghantam pedang dan meremukan tangan saudara kita? Kalau wanita berkerudung dan bercadar biru itu akhir-akhir ini karena sepak terjangnya yang luar biasa, mereka menjulukinya Dewi.Kerudung Biru. Tetapi si buta itu aku tak tau, dan dilihat dari cepatnya gerakan dan kuatnya pukukan tongkat itu menandakan dia juga memiliki ilmu kesaktian yang juga tinggi."


"Kita sebaiknya pergi, sang nenek itu kurasa umurnya pasti ngga bakal lama lagi, racun samurai sudah menjalar masuk hingga kebahunya, belum lagi racun yang merobek punggungnya itu."


Mereka berlima berlompatan dan dalam sekejap hilang dilebatnya hutan belantara dibelakang limbah.


"Ngga usah dikejar yah, lebih baik kita bawa nenek Megumi pulang.


Nenek Megumi yang tengah sekarat mencegah Serafin untuk membawanya.


"Serafin...Giandra...nenek tak punya banyak waktu lagi...umur nenek tak bakalan panjang..." Nafas nenek Megumi tersengal-sengal.


"Jika racun samurai ini telah sampai kejantungku di situlah akhir hidupku, Serafin, seluruh ilmuku telah kuturunkan padamu, semestinya samurai kembar itu dimainkan kau dan suamimu, tapi karena Giandra sudah mempunyai tongkat besi maka mainkan lah kedua samurai itu oleh dua tanganmu sendiri."


"Cepatlah turun lembah, tak usah lagi kembali ke pondok karena aku merasa bahaya besar menunggu kalian di sana."


*


*


***Bersambung...


Maaf baru bisa update lagi karena fokus sekarang ini ke novel Kutukan Cinta, semoga ngga bosan ya membaca karya-karyaku.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu mengingatkan, mohon dukugannya ya🙏🙏


__ADS_2