
"Apakah kamu sudah diijinkan nenenda untuk ikut mommymu kedunia manusia??" tanda Redo.
Revita hanya mengangguk tanpa menjawabnya.
Tuan Kelvin dan Aliandhara tidak begitu memperhatikan bocah cantik itu karena fokus mereka hanya Almira saja.
"Siapa bocah cantik itu pangeran??" tanya Alia pada kekasihnya.
"Itu putrinya Almira saudara kembarnya Xander!!" jawab pangerab Redo.
"Cantik banget...wajahnya persis seperti Almira versi balita!!" kata Alia.
Tuan Kelvin masih memegangi Aliandhara yang terlihat sangat emosi pada Xavier. Dan kedua kakek bersepupu Kojiro dan Tosiro alias kakek Dahlan memegangi Xavier.
Xavier mengelap darah dari bibirnya yang pecah akibat jotosan Aliandhara.
"Awas kamu Sullivan...jika terjadi apa-apa pada Almira, sampai kelubang semutpun aku akan mengejarmu tak peduli kita pernah dekat bahkan pernah menjadi suami istri sekalipun." gumam Xavier.
Detik-detik yang menegangkan bagi mereka menunggu hasil operasi dari Almira.
****
"Hah??? tempat apa ini??" tanya Matsuyama heran.
Semalam perasaannya tempat itu adalah jalan setapak menuju kesebuah rumah yang lampunya nampak kelap kelip di kejauhan yang disangkanya rumah nenek Saki pengasuhnya.
Pohon besar tempat dia berteduh semalam masih ada; hanya saja jalan setapak itu sudah tak ada dan berganti dengan rimbunnya semak belukar.
"Setauku semak belukar berduri gini jadi tempat persembunyian para rubah!!" gumam Matsuyama.
"Apakah laki-laki separuh baya semalam yang kulihat memakai payung itu ternyata bukan manusia??" pikir Matsuyama.
"Aduh...tersesat di mana aku ini??" pikir Matsuyama lagi.
Matsuyama menuntun kudanya Snow berjalan melewati rumpun semak berduri.
Auhhh...
Sepotong duri menggores dalam lengan Matsuyama membuatnya meringis saat darah mengucur dari lukanya.
"Mira sayangku!!" tiba-tiba dia teringat istrinya itu.
Sejak semalam dia memang merasa sangat gelisah. Pikirannya terus menerus pada Almira.
"Sudah dua minggu aku tidak bertemu dengan istri dan anakku...juga kedua mertuaku, bagai mana kabar mereka ya??"
"Mira...abang merindukanmu!!" lirih Matsuyama.
Setelah dia merasa lukanya tidak mengeluarkan darah lagi lalu dia melanjutkan perjalanannya.
Jalan yang dilewati Matsuyama sangat sempit, seolah hanya diberikan jalan untuk Matsuyama dan kudanya saja. Snow pun juga terlihat gelisah semenjak tadi.
Kita tinggalkan dulu Matsuyama yang tersesat saat akan mencari rumah kediaman ibu Saki pengasuhnya dulu.
Kita kembali pada Almira yang tengah berjuang melawan maut di meja operasi.
Oek...oek..
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi memecah keheningan.
Semua orang nampak berdiri tegak apalagi saat dokter wanita itu menggendong keluar seorang bayi mungil.
"Selamat ya...bapak ibu semua!! bayi nyonya Almira berjenis kelamin wanita." Kata dokter itu.
Lalu bagaimana dengan keadaan adik saya, dokter??" tanya Aliandhara mewakili keluarga besarnya.
"Maaf tuan, keadaan nyonya Almira masih kritis dan belum sadarkan diri." Kata dokter itu.
"Tolonglah putri saya dokter!!" kata tuan Kelvin sampai terduduk lemas
Redo dan Revita saling pandang. Lalu kedua sepupu itu saling berpegangan tangan duduk di bangku ruang tunggu.
Roh mereka keluar dari tubuh mereka masuk ke dalam ruangan operasi.
Tepat seperti dugaan Redo dan Revita. Di samping kiri dan kanan Almira ada dua sosok mengerikan yang menghalangi roh Almira masuk ke dalam tubuhnya.
Di atas kepala Almira lalu mengelilinginya tampak Kebebitak menyeringai memandang tubuh polos itu.
"Pergi kau dari dekat tubuh yundaku..." teriak pangeran Redo lalu menyorongkan kepalan tangannya pada dua mahluk di kanan dan kiri yundanya begitupun dengan Revita, mata biru balita cantik itu menyorot kearah Kebebitak mengeluarkan cahaya biru pekat.
Kebebitak yang awalnya ingin menggerayangi tubuh Almira mau tak mau berjumpalitan di udara menghindari cahaya biru memantikan itu.
"Bocah keparat!!" maki Kebebitak lalu menghilangkan diri menyusul dua anak buahnya tadi.
"Dokter...dokter teriak perawat!!"
"Detak jantung nyonya Almira stabil kembali!!" teriak mereka.
Xavier jatuh berlutut mengucap puji dan syukur. Begitu pula dengan tuan Kelvin dan Aliandhara.
Revita dan Redo membuka mata. Mereka tersenyum melihat mommy dan yundanya bisa tertolong. Sedikit saja mereka datang atau bertindak terlambat mungkin Almira sudah akan pulang ke Rahmatullah.
Almira sadar kembali walaupun keadaannya belum terlalu pulih.
Almira menitikan air mata menggendong bayi perempuan lucu itu.
__ADS_1
"Ini anak kita bang Matsuya...cepatlah abang pulang...jangan terlalu lama di perguruan, kami membutuhkanmu." Lirih Almira.
*****
"Sialaaaannn!!" teriak Kebebitak merasakan bulu ekornya banyak yang terbakar.
"Siapa balita kecil itu tadi?? dia mempunyai kesaktian yang luar biasa...masih kecil saja sudah demikian hebatnya...apalagi kelak jika telah beranjak dewasa??" geram Kebebitak.
"Pangeran muda itu juga berhasil memusnahkan kedua anak buahku...kurang ajar betul mereka!!" kata Kebebitak lagi.
"Padahal sedikit lagi aku berhasil mengambil tubuh indah itu untuk kumiliki!!" geram Kebebitak.
Belum hilang geramnya, ketiga wanita kesayangannya masuk dengan raut wajah khawatir dan membawa seorang wanita belia bersama mereka.
"Ada apa dengan kalian?? dan siapa si cantik di belakang kalian ini??" mata Kebebitak yang tadinya merah menyala menahan amarah begitu melihat kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Sullivan...wajah garang Kebebitak berubah menjadi sangat manis.
"Kami dikejar polisi kanda...teman kami yang cantik ini sudah jadi buronan polisi!!" kata Levia.
"Polisi??? apa itu polisi?? dan mengapa kalian sampai bisa dikejar-kejar??" tanya Kebebitak.
Mereka berempat saling berpandangan. Sulit juga menjelaskan pada suami siluman kera mereka ini.
"Polisi itu tugasnya menangkap orang jahat, kanda!! Kata Shiera mencoba menjelaskan.
"Mengapa temanmu yang cantik itu sampai dikejar polisi?? kejahatan apa yang telah dia lakukan??" tanya Kebebitak.
"Dia menyakiti Almira hingga Almira pendarahan dan koma jadi dia harus di operasi saat melahirkan."
"Dan sekarang Sullivan dikejar oleh polisi, kanda!!" kata Valeria.
Kebebitak mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir dan tiba-tiba dia tersenyum mesum.
"Aku akan melindungi teman kalian tetapi ada syaratnya!!" kata Kebebitak tersenyum penuh arti.
Levia, Shiera dan Valeria yang tau bahwa Kebebitak tak pernah puas dengan satu wanita saling berpandangan.
"Kamu harus menjadi istriku seperti mereka bertiga!!" kata Kebebitak.
"Apa?? menjadi istrimu?? aku ngga mau!!! aku hanya mencintai bang Xavier...tak ada yang mampu menggantikan dia di hatiku!!" kata Sullivan.
"Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, cukup kamu melayani dan memuaskanku!! bagaimana??" seringai Kebebitak sambil matanya tak lepas memandang Sullivan tanpa berkedip.
Sullivan menatap risih pada Kebebitak. Tapi dia tak punya pilihan lain, jika dia tinggal di luar sana mungkin dia akan tertangkap dan diadili oleh keluarga Almira, tempat teraman hanyalah di dalam istana siluman kera ini tetapi jika harus melayani raja kera itu??
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya benar-benar sakit dan hancur. Xavier menamparnya hanya karena dia telah mendorong dengan tidak sengaja wanita hamil yang bernama Almira itu.
Setelah dia cukup berpikir akhirnya Sullivan memutuskan.
"Baiklah...di luar sana aku tidak punya siapa-siapa lagi...aku juga sudah tidak lagi diinginkan oleh mantan suamiku, aku memutuskan untuk ikut denganmu!!" kata Sullivan.
"Keputusan yang bagus cantik...Levia, Shiera, Valeria...bawa Sullivan ke peraduanku...kami akan berbulan madu nanti malam." Kata Kebebitak.
Sebenarnya dalam hatinya meronta dan tak ikhlas jika kesucian yang telah dia jaga selama ini yang akan dipersembahkannya untuk Xavier seorang harus dia serahkan kepada laki-laki lain yang sama sekali tidak dia cintai, terlebih itu seekor siluman pula.
"Sudahlah Sulli, di sini kamu aman...kamu bisa keluar jika keadaan di dunia manusia sana sudah aman!!" kata Levia diikuti anggukan tanda setuju oleh Valeria dan Shiera.
Jadilah sore itu Sullivan didandani secantik seorang pengantin agar nanti malam dia bisa menikah dengan panglima siluman kera itu.
*****
Matsuyama berhenti dipinggiran sungai bersama Snow kuda putihnya.
Dia sudah tidak tau di mana dia tersesat.
Matsuyama memandang ke sekitar sungai itu.
"mumpung belum sore, sebaiknya aku mencari ikan untuk makan malam dan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar ikan dan menghangatkan tubuh!!" gumamnya.
Tak jauh dari pinggir sungai dia melepas Snow untuk merumput dan beristirahat, sementara Matsuyama mengambil belatinya diikatnya erat gagang belati itu di sebuah tongkat kayu untuk di jadikannya tombak untuk menangkap ikan, kemudian dia turun kesungai untuk menombak beberapa ikan yang akan dijadikan santap malamnya.
"Ah...lumayan...lima ekor ikan cukuplah untuk mengganjal perut malam ini!!" gumam Matsuyama.
Sambil menunggu ikannya matang, Matsuyama membersihkan dirinya di air sungai yang mengalir.
Dia mendirikan kayu yang agak kuat dan memberinya atap dan sedikit dinding dari dedaunan hanya setinggi dadanya, cukup untuk menghindarkan diri dari udara dingin malam ini.
Sambil makan Matsuyama melamun memikirkan istri, anak dan bayi yang ada di dalam kandungan Almira.
"Seandainya dia ada di sini...pasti dia senang jika tidur di alam bebas begini seperti dulu!!" gumam Matsuyama sambil tersenyum bahagia.
Angin dingin dari lembah di belakangnya bertiup semakin dingin saat Matsuyama membawa Snow dan menambatkannya di dekat pohon yang tak jauh darinya.
"Snow...kamu dingin??" tanya Matsuyama pada kuda putih tunggangannya itu.
Snow yang cerdas hanya mengedip-ngedipkan matanya saja sambil mengibas-ngibaskan ekor lebatnya.
Kayu dan ranting kering yang di kumpulkan Matsuyama cukup banyak, cukup untuk menghangatkan tubuhnya hingga menjelang subuh.
Karena lelah dan mengantuk Matsuyama tertidur sambil memeluk lututnya.
Cukup lama dia tertidur dalam posisi seperti itu sampai dia terbangun saat Snow mengendus dan meringkik di dekat telinganya seperti merasakan sesuatu yang berbahaya.
Matsuyama cepat mengumpulkan kesadarannya. Dia mendengar Snow meringkik seperti ketakutan di sebelahnya.
Perlahan Matsuyama bangkit dan melepaskan ikatan Snow sambil dia berbisik untuk menenangkan kuda putih tunggangannya itu.
__ADS_1
"Tenanglah Snow...aku ada di sini, kamu jangan takut ya!!" bisik Matsuyama sambil mengelus kepala dan leher Snow.
Kuda putih itu sedikit lebih tenang. Matsuyama mematikan api dengan kakinya agar tidak terlalu nampak habis ada orang di sekitar pinggir sungai.
Dibawanya Snow agak menjauh dari pinggir sungai. Langkah Matsuyama dan Snow ringan tanpa terdengar sama sekali.
Tepat dugaan, tak lama sehabis Matsuyama dan Snow menjauh, tampak dari arah hutan seberang sungai terdengar suara auman serigala.
Tak lama setelah bunyi auman bersahutan muncul tiga ekor serigala besar hampir setinggi manusia.
"Hai...kita mencium baunya datang dari arah sebelah sini...tapi mana orangnya??" kata teman di sebelahnya.
"Coba periksa ke seluruh tempat ini!!"
Lalu ketiga manusia serigala itu mulai mengendus mencium bebauan yang ada di sekitar situ.
"Ini sisa-sisa perapian manusia itu, dan ini masih ada sisa ikan bekas dibakar olehnya!!" sahut teman yang lain.
"Lihat...ini gubuk kecil tempat dia beristirahat tadi rupanya!!" kata manusia serigala yang bertubuh lebih kecil.
Sementara dengan hanya menuntun Snow, Matsuyama sudah berjalan cukup jauh meninggalkan tempat itu.
"Siapa mereka itu?? dan aku ini sebenarnya tersesat di mana??" tanya Matsuyama!!" bergumam pada dirinya sendiri.
"Sepertinya aku bukan lagi ada di dunia manusia, apakah aku berada di dunia siluman?? tapi bagaimana bisa??" gumam Matsuyama.
Di depannya dia melihat ada dua persimpangan.
"Aku harus menuju kemana??" pikir Matsuyama.
"Salah memilih maka aku akan tersesat semakin jauh dari duniaku!! " bisiknya.
"Snow!!" katanya berbisik pelan ketelinga kuda putihnya.
"Bisakah dengan naluri hewanmu kamu memilih arah mana yang harus kita tuju??" kata Matsuyama sambil membelai surai kudanya.
Snow mengendus perlahan ke tanah kemudian dia memilih kearah jalan terjal dan berbatu.
"Kamu yakin ini jalan menuju kedunia manusia, Snow??" kata Matsuyama.
Snow meringkik perlahan seolah mengiyakan perkataan tuan manusianya.
Tak lama mereka meninggalkan tempat itu. Karena jalannya sedikit sempit dan berbatu maka Matsuyama naik kepunggung kudanya dan berjalan dengan hati-hati hingga tiba di jalan rata.
Benar saja insting kuda putih itu. Mereka berjalan seperti menembus kabut dan ternyata sudah ada di tepi pohon yang mereka singgahi semalam.
Sementara ketiga manusia serigala itu telah sampai di tempat di mana Matsuyama dan Snow berada di persimpangan tadi.
"Cepat sekali manusia itu hilangnya...baunya pun sudah tidak tercium lagi, kemana jalan yang mereka ambil??" kata ketiganya bingung.
"Haduh...bakal kena hukuman sang ratu kita nanti!!" kata ketiganya lagi lemas dan takut.
"Kamu benar...sri ratu begitu tergila-gila pada lelaki muda yang bernama Matsuyama itu!!" kata salah satu di antaranya.
"Ayolah kita segera mencarinya lagi..." kata mereka.
Dan ternyata mereka salah memilih jalan dan semakin jauh dari arah perginya Matsuyama.
*****
"Syukurlah kamu melahirkan dengan selamat, nak!!" kata kakek Dahlan menggenggam tangan Almira yang masih lemah.
"Iya kek...ini berkat bang Xavier yang cepat berpikir untuk membawa Mira kerumah sakit."
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, nak??" tanya kakek Dahlan.
"Mira juga tidak tau kek, tiba-tiba saja Sullivan menyerang Almira yang saat itu sedang berada di kios daging."
Dia menarik dan menjambak rambut Almira denga kuat hingga Almira jatuh terbanting di lantai, kek!!" kata Almira.
Kakek Dahlan menggeram marah.
"Berani-beraninya wanita itu menyakiti cucuku??"
"Jika terjadi apa-apa denganmu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu, maka kakek sendirilah yang akan membuat perhitungan dengannya."
"Dia berbuat begitu karena dia cemburu pada Almira, kek!!"
"Dia menganggap karena Mira maka dia dan bang Xavier berpisah...andainya dia tau betapa sakitnya hati Mira saat tau bang Xavier telah berselingkuh dengannya!!" kata Almira sedih.
"Sudahlah...Sullivan itu tak lagi penting...ayahmu dan abangmu Aliandhara mengerahkan polisi dan orang untuk mencari dan menangkap Sullivan hidup atau mati!!" kata kakek Dahlan.
"Sekarang kamu beristirahatlah...kakek akan menjagamu dan juga putrimu."
"Lalu di mana Revita dan Xander, kek?? Mira tidak melihat mereka berdua!!" kata Almira.
"Xander dan siapa tadi namanya balita cantik itu!!" tanya kakek Dahlan.
"Revita kek...namanya Revita!!" kata Almira lagi pada kakeknya sambil tersenyum.
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Walau dengan penuh perjuangan, akhirnya Almira bisa melahirkan juga...selamat menjadi ibu lagi Almira....dan jangan lupa selalu dukungan like, komen, vote, favorit serta rate nya ya reader🙏🙏
.