Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 114 Akhir Pertarungan


__ADS_3

Hiro tampak canggung mendengar ucapan selamat dari kedua orang tua Almira itu.


Sebenarnya dia tak begitu suka mendengar Daniah memperkenalkan diri sebagai istrinya tetapi mau bagaimana lagi??"


Mereka masih sempat saling bersilaturahmi sebelum pertarungan besar antara Sinoe si ular jelmaan dari ratu Hikaru dan raja naga biru junjungan semua kaum naga.


"Sudahlah...aku tak ingin ketinggalan melihat pertarungan naga dan ular itu!!" kata Giandra.


Sementara Almira terduduk kelelahan, pertarungan tadi sangat menguras tenaganya.


Xavier membawa Mira ke tempat yang agak jauh dan duduk bersama istrinya di sana.


Mereka yang ada di situpun menyingkir menjauh takut terkena kibasan ekor dan semburan api serta lendir beracun keduanya.


Hati Hiro terasa panas melihat Xavier memijit tengkuk leher Almira yang merasa mual kembali.


Hiro memalingkan wajahnya kesamping. Terlalu sakit rasanya melihat orang yang kita cintai telah bersama dengan orang lain dan itulah yang dirasakan Hiro saat ini.


"Itulah yang telah ayah sampaikan padamu saat itu!!" tiba-tiba Kakegawa muncul di sampingnya.


"Sakit ayah!!" kata Hiro pelan.


"Ayah tau itu, tapi dia dilahirkan memang bukan untukmu Hiro juga bukan untuk Xavier, kelak semua akan terungkap karena semua telah tertulis dalam takdir."


"Maksud ayah apa? Xavier dan Almira akan berpisah lagi?" tanya Hiro.


"Ayah tak bisa jelaskan sekarang, nak!! kelak semua akan terjawab!!" ucap Kakegawa.


"Kau, Aliandhara, Xavier, semua manusia biasa dan Almira sesungguhnya bukan utuh manusia seperti kita, walaupun semasa menjadi janin dia dititipkan pada rahim Serafin, tetapi tetap saja dia bukan manusia seperti kita."


Hiro tak menjawab, sejujurnya dia masih bingung tetapi dia enggan untuk bertanya lebih jauh.


Pertarungan naga biru dan ular hitam itu masih berlangsung. Saling gigit, saling belit, saling menghantamkan ekor dan saling menyemburkan bisa.


Ular jelmaan ratu Hikaru seperti kesulitan membelit tubuh naga biru yang mempunyai sisik sekeras baja dan sangat tajam ditambah lagi naga biru itu mempunyai tangan dan kaki yang kuku runcing sedangkan ular hitam itu hanya mengandalkan kelicinan tubuh dan semburan bisa serta gigi-gigi taringnya


Suatu kali dia nekat menyemburkan bisa nya yang berwarna hitam pekat itu kewajah naga biru, dengan cepat naga biru balas menyemprotkan bisa untuk menghadang semburan racun hitam.


Saling dorong dua kekuatan itu mengakibatkan tempat itu seperti terguncang gempa. Mereka semua menjauh menyelamatkan diri.


"Tosiro tunggu aku??" teriak kakek Kojiro sambil menarik kolor kakek Dahlan.


"Lepas kenapa Kojiro...celanaku sudah robek, nanti malah putus talinya!!" tepuk kakek Dahlan kearah tangan kakek Kojiro.


Setelah terlepas karena tepukan kakek Dahlan, kembali kakek Kojiro menarik kolor kakek Dahlan.


"Ngga lama kuhajar memang kamu Kojiro ya..." geram kakek Dahlan.


Mereka semua berlari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing.


Xavier menggendong Almira yang terlihat sangat lemas karena muntah terus semenjak selesai pertarungan tadi.


"Sayang...sabar ya!!" kata Xavier memeluk tubuh Almira.


Semua saling tolong menolong untuk menyelamatkan diri. Ratu Nilakandi melesat untuk menolong mantan suaminya tetapi Alia telah bergerak lebih dulu untuk menolong ayah angkatnya itu dibantu olah pangeran Redo kekasihnya.


Matsuyama menolong Aliandhara. Tetapi siluman cantik itu berteriak...


"Aku mau menolong tuan ganteng itu!!" rengeknya sambil menunjuk Aliandhara.


"Dan aku ngga mau kamu tolong...weeee!!" Aliandhara menjulurkan lidahnya.


Ratu Nilakandi menatap kecewa pada tuan Kelvin.


"Sebegitu bencinya kah kamu padaku?" gumamnya sedih.


Kita tinggalkan dulu mereka yang ada di area pertarungan itu.


Seorang kakek tampak berjalan cepat keluar dari goa dengan celingukan seolah takut ketahuan.


Setelah dirasanya aman, dia melesat pergi menuju pantai tempat dia bertemu dengan pemuda yang menarik perhatiannya itu tempo hari.


Ahhh...dia tersenyum sumringah melihat si tampan bermata hazel itu sedang berdiri di dekat teluk seorang diri.


"Xavana...." teriaknya.


Yang dipanggil sontak menoleh dan tampak tersenyum bahagia serta lari menyongsong kakek itu.


"Kakek...bawa umpan dan kailnya kan??" tanyanya.


"Bawa dong!!" ucap si kakek sambil mengangkat kail dan umpan di tangannya.


"Apa yang kamu bawa itu, Xavana??" katanya sambil melihat isi ransel Xavana.


"Baju untuk kakek...Xavana lihat baju kakek sudah penuh tambalan dan telapak kaki kakek sampai kapalan karena ngga pernah pakai sandal."


Kakek Bilis senang banget menerima pemberian dari Xavana. Dia langsung memakai baju dan sandal pemberian dari Xavana.


"Kamu baik sekali nak, pasti ayah dan ibumu juga sangat baik!!" kata kajek Bilis pada Xavana.


"Aku hanya punya daddy mulai kecil kek, mommy meninggal saat aku berumur 4 tahun!!" kata Xavana sedih.


"Apa??? Xiexie sudah meninggal dunia??" jerit hati kakek Bilis.


Kail yang dia pegang sampai terlepas dari pegangan tangannya.


Mendadak hatinya terasa ngilu mendengar perkataan Xavana.


"Xiexieku" bisiknya.

__ADS_1


"Mommymu meninggal kenapa, Xavana?" tanyanya.


"Aku juga tak tau kek, waktu itu yang aku ingat sehabis menjemput Xavana pulang sekolah, mommy langsung muntah darah kehitaman."


"Setelah itu mommy terus menerus turun kesehatannya, daddy sudah membawa mommy berobat ke dokter manapun, tetapi mommy tak jua kunjung sembuh hingga akhirnya mommy menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan daddy." jelas Xavana sambil berlinangan air mata.


"Apakah semasa mommymu hidup daddymu mencintai mommymu?" tanya kakek Bilis penuh rasa ingin tau.


"Sangat kek, bahkan daddy rela meninggalkan pekerjaannya di kantor untuk bersama dengan mommy."


"Apakah setelah mommymu meninggal, daddymu menikah lagi?" tanya kakek Bilis ingin tau.


"Tidak kek, daddy sangat mencintai mommy sehingga sampai detik ini daddy memilih hidup sendiri untuk mengasuhku."


Kakek Bilis terdiam mendengar cerita dari Xavana.


"Xavana bolehkah kapan-kapan kamu ajak kakek ke makam ibumu??" tanya kakek Bilis akhirnya setelah lama terdiam.


"Boleh kek, sudah agak lama juga Xavana tak pernah mengunjungi makam mommy."


"Aku dapat ikan kek!!" teriak Xavana seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.


"Wah, kamu semakin pintar memancing sekarang!!" puji kakek Bilis yang membuat Xavana bertambah terhibur hatinya.


Kakek Bilis memandang sedih pada Xavana yang kegirangan.


"Seandainya dulu ayah tak meninggalkan ibumu untuk pergi bertapa, tentu hingga kini ayah bisa menjaga ibumu, anakku..."


"Tentu ayah bisa melindungi ibumu, karena penyakit ibumu itu penyakit buatan para istri ayah yang tak suka melihatnya bahagia...mau dibawa ke rumah sakit manapun penyakit ibumu tak akan bisa sembuh." Batin kakek Bilis.


"Kek, malam ini kita bermalam di teluk ya!!" kata Xavana memecah kesunyian.


"Kamu tidak dicari oleh ayahmu??" tanya kakek Bilis.


Sebenarnya dia khawatir jika ekornya akan muncul saat matahari terbenam nanti.


"Daddy sedang mengurus bisnisnya di luar negeri, kek!!" jawab Xavana.


"Aku kesepian di mansion kek, dulu sebelum mengenal seorang gadis jelita yang bernama Almira itu, Xavana sering pergi keluar masuk pub dan diskotik untuk mabuk-mabukan dan main perempuan tetapi setelah Xavana mengenalnya, Xavana jadi berubah." Kata Xavana.


"Kamu mencintainya??" tanya kakek Bilis pada Xavana.


"Sangat kek, tetapi sayang gadis itu kini sudah menikah dengan pria lain!!" Xavana menarik napas berat.


Kembali terbayang wajah cantik Almira, sorot mata dan wajahnya yang dingin dan jarang tersenyum, tetapi sekali dia tersenyum mampu meluluhkan hati laki-laki manapun termasuk player sepertinya.


"Sudahlah...ayo kita buat perapian!! kita makan besar sore ini, ikan tangkapan kita banyak, puas kita makan ikan malam ini kek!!" kata Xavana.


"Aku juga membawa nasi, dan sambal...ehmmm nikmatnya!!" kata Xavana.


"Nasi?? apa itu nasi??" tanya kakek Bilis.


Kakek Bilis menggelengkan kepalanya.


"Kakek hanya makan sayur dan buah tak pernah makan nasi!!" kata kakek Bilis.


Xavana membentangkan kain di lantai goa. Nasi dan sambal serta ikan bakar hasil tangkapan mereka sudah diletakan di atasnya.


Xavana sangat senang saat melihat kakek Bilis makan dengan lahapnya.


"Seenak inikah makanan di dunia manusia? pantas Xiexieku tak betah ada di dunia siluman kera bersamaku dulu!!" bisik kakek Bilis dalam hatinya.


Kembali lagi ke pertarungan....


Ular hitam jelmaan ratu Hikaru terlempar jauh menghantam anak buahnya sendiri karena terkena sabetan ekor naga biru.


Ular hitam itu meraung kesakitan dan banyak anak buahnya yang tewas tertimpa tubuh ularnya.


Tempat itu serasa dilanda lindu yang dahsyat saat tubuh berat itu menghantam pohon-pohon di sekitarnya dan terakhir terhempas ke tanah.


"Bunda...bibi...." teriak Levia dan Shiera bersamaan sambil mengejar tubuh ular itu yang semakin lama semakin mengecil dan kembali ke tubuh aslinya.


Ratu Hikaru terluka parah. Saat Levia dan Shiera mendekati dan memeluknya, tubuh mereka bertiga menghilang.


"Kabur lagi..." teriak kakek Kojiro kesal.


"Untuk waktu yang cukup lama, ratu jahat itu tak akan kembali...karena dia terluka sangat parah, karena hampir separuh tubuhnya telah remuk." Kata Serafin.


Kebebitak kehilangan setengah pasukannya karena pertarungan itu.


Alia bisa kembali hidup tenang bersama ayah dan abang serta Rafa keponakannya.


Tetapi dia telah kehilangan pria yang dia cintai, yaitu pangeran Redo.


Sang pangeran memenuhi takdirnya dan kembali ke dunianya. Begitu pula dengan Tristan.


Almira memohon-mohon pada ratu Nilakandi agar jangan dipisahkan dulu dari suami, kakek dan ayah ibu, serta ayah kandung manusianya dulu.


"Berilah kesempatan sampai hamba melahirkan, ibunda ratu!!" mohonnya sambil menangis, begitu pula Xavier yang tak melepaskan sedetikpun pelukannya dari tubuh sang istri.


"Tolonglah dengarkan permohonan putrimu itu, Nilakandi...apa kamu ingin takdir kita dulu terulang kembali??" tanya Kelvin Antonio menatap Nilakandi dengan tajam.


"Baiklah..." kata ratu Nilakandi akhirnya.


"Tetapi aku hanya bisa membantu sampai Almira melahirkan, setelah itu dia harus kembali karena dunianya bukan di sini!!" katanya.


Betapa hancur hati sepasang suami istri itu. Kesedihan juga dirasakan oleh Hiro yang mulai mengerti apa yang di maksud oleh ayahnya tadi.


Aliapun memeluk pangeran Redo dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


"Jangan menangis Alia, walaupun dunia kita berbeda tapi aku akan tetap melindungimu dan sesekali akan tetap mengunjungimu di sini.


Tubuh ratu Nilakandi, pangeran Redo dan Tristan perlahan memunculkan wujud asli mereka.


Nilakandi dan pangeran Redo berwujud naga berwarna biru sedangkan Tristan berwujud naga hijau.


"Inilah wujud asli kami!!" kata pangeran Redo.


Alia dan Aliandhara saling berpelukan dengan tubuh gemetar melihat mahluk raksasa itu wajahnya begitu dekat dengan mereka.


"Kanda...jagalah putri kita sebelum kelak aku akan membawanya pergi bersamaku!!" kata Nilakandi pada Kelvin Antonio yang memejamkan mata menahan gejolak kesedihannya.


Dulu dia kehilangan Nilakandi lalu apakah sekarang dia akan kehilangan putrinya lagi?


Kakek Dahlan dan kakek Kojiro sudah jangan ditanya lagi. Keduanya lari terbirit-birit sampai terkencing-kencing sangking takutnya.


"Aku takut mereka khilaf lalu menelan kita bulat-bulat, Tosiro!!" kata kakek Kojiro.


"Iya, sama..." kata kakek Dahlan.


"Apakah suatu hari nanti Almira kita akan berubah jadi seperti itu juga??" tanya kakek Kojiro.


"Aku berharap tidak begitu, Kojiro...aku tetap ingin Almiraku yang cantik dan manis seperti dulu!!" kakek Dahlan menangis mengingat semua perkataan ratu Nilakandi tadi tentang cucu kesayangannya.


"Titip putriku Xavier...jaga dia dan janinnya baik-baik, sampai kelak aku akan menjemputnya karena akan banyak tokoh dari golongan hitam dan golongan putih yang akan memperebutkannya kelak."


"Aku percaya pada kalian semua!!" kata ratu Nilakandi.


Lalu keempatnya berdiri tegak. Raja naga, ratu Nilakandi, Tristan dan pangeran Redo satu persatu terbang menembus awan dan hilang di kejauhan.


Almira yang tak tahan lagi dengan semua akhirnya jatuh pingsan dipelukan Xavier yang juga masih terisak.


Setelah keempat naga perkasa itu pergi, Kakegawa, Hiro dan Daniah, Kelvin Antonio, Aliandhara dan Alia, Matsuyama, Dahlan dan Kojiro masih berkumpul di samping Xavier yang memeluk erat Almira serta Serafin dan Giandra.


"Kalian semua tadi dengarkan apa yang di katakan oleh ratu Nilakandi?" tanya Kakegawa.


Ratu Hikaru itu belum mati sementara banyak tokoh golongan putih dan hitam menginginkan Almira dan bayinya...oleh sebab itu kita harus menjaganya baik-baik." Kata Kakegawa lagi.


"Jika kalian butuh kami, hubungi saja jangan sungkan-sungkan..." kata Kakegawa.


"Sekarang kami akan pulang ke lembah dan kalian juga harus cepat kembali sebelum petang, ya!!" lalu Kakegawa dan rombongannya memejamkan mata dan saling berpegangan tangan satu dengan yang lain, lalu...


Blushhh...


Mereka berempat seketika lenyap karena mereka berteleportasi untuk pulang kembali.


"Ayo kita segera pulang, kembali ke rumah pantai!!" kata Giandra.


Almira dengan di gendong oleh Xavier berlari di tengah. Diapit oleh Serafin dan Giandra di depan serta kakek Dahlan dan Kojiro di belakang mereka.


Sepanjang perjalanan Xavier terus menitikan air mata. Tak terbayangkan jika suatu hari nanti dia akan berpisah dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


Apakah dia bisa melanjutkan hidup tanpa kekasih hatinya? apakah tak ada satu cara pun yang bisa dia lakukan agar istrinya tak diambil dari sisinya?


Semua pertanyaan itu terus menerus bergelanyut di dalam otaknya sekarang ini.


Sambil berlari dipandangnya sosok berwajah cantik yang ada dalam gendongannya, sesekali diciumnya kening dan kepala itu.


Kakek Kojiro berbisik pada Tosiro saudara sepupunya.


"Kasihan ya, Xavier..." kata kakek Kojiro pelan.


"Iya...aku jadi tak tega melihatnya seperti orang yang kehilangan semangat hidup begitu!!" kata kakek Dahlan.


Aliandhara yang mengendarai mobilnya dalam mode diam. Alia duduk di sebelahnya juga diam terlebih lagi tuan Kelvin yang duduk di belakang.


"Mira, aku lebih rela melihatmu bersama dengan Xavier tapi aku masih dapat bertemu denganmu ketimbang aku tak bisa melihatmu lagi selamanya!!" bisik Aliandhara dalam hati.


Teringat kembali dalam ingatannya saat-saat pertama dulu dia bertemu dengan Almira.


Menggodanya dan membuat sicantik itu selalu marah padanya membuat kebahagiaan tersendiri buat Aliandhara sampai saat Valeria datang dan mengacaukan segalanya dan Almira pergi dari sisinya tanpa bisa dia cegah lagi.


Itu Almira hanya pergi sementara saja hatinya sudah gundah gulana, apalagi jika Almira pergi selamanya dan menghilang dari pandangan mata dan hidupnya?


Tempat terjadinya pertarungan itu kembali sepi. Hanya angin dingin yang berhembus mencekam. Pohon-pohon banyak bertumbangan.


Lalu kemana hilangnya ratu Hikaru, Levia dan Shiera?? tak ada seorangpun yang tau kemana mereka pergi.


Yang jelas kondisi ratu Hikaru sangat parah dengan keadaan tubuhnya nyaris remuk tak berbentuk.


Ternyata Kebebitaklah yang membantu mereka meloloskan diri dan membawa mereka kegoa siluman kera.


"Terima kasih paman Kebebitak...sudah mau menolong kami!!" kata Levia pada Kebebitak yang berjalan di depan sambil memanggul ratu Hikaru.


"Sama-sama..." kata Kebebitak menyeringai. Padahal dalam hatinya dia berkata, "pertolongan ini tak gratis, Levia...kelak aku akan memintamu dan sepupumu yang cantik dan molek itu menjadi pengganti ibundamu untuk memuaskan naf*suku."


"Kalian akan aku tempatkan di istana kecilku di sebelah timur istana utama, agar aku lebih fokus mengobati ibunda kalian!!"


"Juga agar aku bisa lebih puas meniduri kalian berdua tanpa ada gangguan dari Bakul Rumbis istriku yang bodoh itu." batin Kebebitak dengan liciknya.


Kebebitak sampai di depan gerbang istana kecil itu lalu berpesan pada pengawalnya untuk menjaga ketiganya di sana.


Dia menempatkan ratu Hikaru di kamar utama sementara Levia dan Shiera juga dapat kamar terpisah yang letaknya agak berjauhan dan itu seperti di sengaja oleh Kebebitak.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Mohon dukungannya selalu ya reader...🙏🙏🙏


__ADS_2