Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Ban 103 Penyerangan


__ADS_3

"Maaf bu, saya harus menyusul Almira...ngga apa-apakan saya tinggal duluan??" lalu tanpa menunggu persetujuan ibu Shiera maka Xavier segera lari keluar menuju parkiran mobil, meninggalkan ibu Shiera yang sangat kesal pada Xavier karena telah meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa sih hari ini kelakuan istriku itu sangat aneh??" gumam Xavier sambil menjalankan mobilnya melaju membelah jalan raya.


Karena melajukan mobil dengan kecepatan penuh akhirnya dia bisa menyusul istrinya yang tengah berboncengan dengan tukang ojek.


Titttt...ttiiittt


Xavier memotong jalan motor ojek yang ditumpangi istrinya itu.


"Aduhh apa lagi sih bang...Mira buru-buru...ayah dan bang Aliandhara sedang dikeroyok bersama para body quardnya sementara kondisi ayah sedang sakit dan harus cepat dibawa kerumah sakit!!" gerutu Almira kesal melihat Xavier seperti sengaja menghalangi jalannya.


"Pak biar istri saya ikut dengan saya...ini ongkos ojeknya!!" Xavier menyerahkan selembar uang merah pada bapak tukang ojek itu.


"Ini terlalu banyak, pak!!" kata bapak tukang ojek itu.


"Ngga apa-apa pak...ambil saja!!" kata Xavier.


Xavier masuk kedalam mobil. Dia menatap istrinya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan kesal.


"Apa liat-liat sayang??? kamu mau kita melakukannya di dalam mobil ini dengan posisi duduk begini?" Xavier tersenyum smirk pada istrinya.


Almira mencibir kesal lalu membuang pandangannya keluar jendela


"Ayo cepat jalan bang, kasihan ayah dan bang Ali." Kata Almira.


"Sejak kapan kamu memanggil Aliandhara dengan sebutan abang??" selidik Xavier dengan penuh curiga.


"Ya, sejak aku tau bahwa aku adalah anak dari tuan Kelvin!!" jawab Almira.


"Masa aku harus memanggil bang Ali dengan sebutan tuan muda lagi?" jawab Almira.


"Awas ya kamu sayang, jangan sampai abang tau kamu suka sama orang lain ya...kalau sampai ketauan sama abang maka sebagai hukumannya...sebagai hukumannya..." Xavier menggantungkan ucapannya dan tersenyum nakal pada istrinya!!


"Apa bang!!" tanya Almira.


"Ngga boleh istirahat dari pagi sampai ke pagi lagi!!" jawab Xavier.


"Ngapain??" tanya Almira gusar.


"Ngebor liang kenikmatan, sampai kamu ngga kuat berdiri lagi!! mau?? Dengan cepat Almira menggeleng sambil bergidik ngeri. Terbayang olehnya, besarnya tongkat pusaka Xavier jika sudah dalam keadaan menegang. Berkali-kali dia harus merangkak saat berjalan karena tidak kuat lagi berdiri.


Melihat ekspresi istrinya yang menegang, Xavier tertawa puas lalu dia menjalankan mobilnya menuju kearah yang ditunjuk Mira.


Tampak para body quard sedang berkelahi dan di dalam mobil tampak tuan Kelvin yang sedang sakit di temani oleh Aliandhara yang gemetar.


Tanpa menunggu lagi Xavier langsung membantu para body quard tuan Kelvin dan Almira langsung menghampiri ayahnya.


"Ayah tidak apa-apa, bang?" tanya Almira pada Aliandhara.


"Badan ayah panas sekali!!" Mira meraba kening tuan Kelvin.


"Pak jalan..." kata Almira memberi perintah.


"Biar suami saya dan yang lainnya mengurusi 6 kroco itu!!" kata Almira.


Mobil mulai melaju dan sebelumnya Almira meninggalkan pesan pada Xavier untuk membawa ayahnya kerumah sakit.


Di kursi belakang Almira terus menggenggam tangan ayahnya.


"Terus Rafa dengan siapa di mansion, bang??" tanya Almira pada Aliandhara.


"Dengan para body quard juga pengasuhnya!" kata Aliandhara.


Sesampainya di rumah sakit, tuan Kelvin segera dibawa dan di tangani di UGD. Tak lama tuan Kelvin di tempatkan di ruangan VVIP dengan penjagaan yang super ketat.


"Mira, kamu di sini aja ya bersama dengan abang!!" kata Aliandhara.


"Abang takut jika ada penyerangan lagi, abang takut para body quard yang mengawal tak mampu menghadapi para penyerang itu."


Alasan Aliandhara ada benarnya. Lama Almira memikirkan ucapan mantan tuan mudanya itu.


"Nanti Almira coba bilang pada bang Xavier dulu ya, bang!! Almira tidak bisa memutuskan sendiri."


Tak lama Xavier masuk keruangan untuk menjenguk ayah mertuanya.


"Bagaimana keadaan ayah, sayang!! kata Xavier.


Dia sengaja merangkul bahu istrinya dan mencium kepala istrinya tercinta itu dengan penuh cinta. Kemesraan keduanya membuat wajah Aliandhara merah padam.


"Bang...boleh kah Almira menemani ayah di rumah sakit? Mira takut akan ada serangan susulan lagi dari para musuh-musuh ayah." kata Almira pada suaminya.


Xavier berpikir sejenak sebelum kemudian berucap.


"Boleh, tapi abang juga akan ikut menemani!!" jawab Xavier.


"Terima kasih ya, bang..." kata Almira sambil memeluk suaminya.


Aliandhara mendengus dan membuang pandangan matanya kearah lain.


Tak lupa Xavier juga mengabari orang di rumah pantai kalau mereka sedang menunggu tuan Kelvin di rumah sakit agar orang rumah tidak panik mencari mereka.

__ADS_1


"Sayang...kamu pergilah mandi, abang sudah menyiapkan pakaian juga kaca mata gantung serta segi tiga sama kaki." Kata Xavier.


"Apa bang?" tanya Almira bingung.


Tapi setelah melihat apa yang dibawa suaminya, wajah Almira jadi memerah karena malu.


Mereka makan malam setelah beberapa pemeriksaan ketat dari Xavier karena takut ada yang berniat jahat pada mertuanya.


Tuan Kelvin sedang bed rest. Aliandhara tidur dekat sofa di samping ayahnya sementara kamar di dalam untuk Xavier dan Almira.


"Bang, jangan gini ah..." Almira yang tengah berbaring langsung ditindih oleh Xavier.


"Aku ngga enak...ini kan rumah sakit bang!!" kata Almira.


"Sekali celup aja sayang, abang kangen...seharian abang menahan gejolak di tubuh abang!!" Xavier mencium kening dan pipi istrinya.


Tapi Almira tau, kata sebentar dari Xavier bukanlah arti yang sebenarnya, tetapi bisa berjam-jam dan pada akhirnya meluluh lantakan seluruh persendian di tubuh Almira.


Tapi dia pun tak kuasa menolaknya. Apalagi sesuatu yang mengeras di bawah sana semakin membesar dan sesak seperti berusaha merangsak masuk ke pertahanan Almira.


"Sayang, kamu duduk di atas abang ya!!! Abang pengen digoyang bukan selalu menggoyang." Bisiknya membuat wajah Almira memerah seperti kepiting rebus mendengar ucapan vulgar suaminya.


mendekati tengah malam, kegiatan panas mereka berakhir dengan kekalahan Almira yang lagi-lagi harus menyeret langkahnya dibantu oleh Xavier menuju kamar mandi.


*


*


"Daddy dengar Xavier sudah kembali ke kota ini, tetapi mengapa tidak pulang ke mansion?" tanya tuan Anderson pada Xavana.


"Entahlah daddy, nyangkut di mana tuh anak...sampai lupa pulang menjenguk keluarganya di sini?" kata Xavana.


"Cari tau di mana keberadaan adikmu itu, Xavana...suruh dia pulang ke mansion, daddy merindukannya."


"Baiklah daddy, besok akan Xavana kerahkan orang untuk mencarinya..."


"Apakah dia tinggal dengan si cantik yang selalu kuimpikan itu, ya??" gumam Xavana sambil senyum-senyum.


"Mengapa kamu senyum-senyum sendiri, kamu sudah gila ya!" gerutu tuan Anderson melihat kelakuan putranya itu.


"Ngga lah dad...kalau Xavana jadi gila, bagaimana Xavana bisa membawa gadis pujaan Xavana untuk menghadap daddy??" kata Xavana.


"Xavana, tadi Valeria main kemari!!" kata tuan Anderson.


Wajah Xavana yang tadinya ceria jadi muram.


"Mau apa lagi dia datang ke mansion ini?? bukankah kabar terakhir yang kita dengar bahwa dia sudah kembali pada Aliandhara?" tanya Xavana kesal.


"Aku??? mencintai Valeria??? ngga usah ya..." kata Xavana.


*


*


"Sudahan bang...sakit!!" rintih Almira terkapar tak berdaya di tempat tidur.


Xavier juga telentang di samping istrinya dengan mata terpejam. Keringat bercucuran pada keduanya.


Kata sebentar dari Xavier itu adalah 4 sampai 5 jam membuat tubuh Almira terasa remuk tak berbentuk.


Almira dengan langkah tertatih menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya setelah sebelumnya dia menyelimuti tubuh telanjang suaminya yang tengah tertidur pulas kelelahan setelah menggempur Almira habis-habisan di atas ranjang tadi.


Dia mengenakan pakaiannya kembali lalu membuka pintu kamar untuk melihat keadaan ayahnya.


"Akhirnya kamu keluar juga?" kata Aliandhara mengagetkan Almira.


"Abang...bikin kaget saja!!" sahut Almira.


"Bagaimana keadaan ayah, bang??? apa sudah enakan??" kataku sambil berusaha mengalihkan pandangan mataku dari Aliandhara.


"Mira??" panggil Aliandhara.


"Iya, bang??" jawab Almira.


"Tatap mata bang Ali saat bicara, jangan menunduk atau mengalihkan pandangan matamu dari abang, sebegitu mengerikankah wajah abangmu ini??" tanya Aliandhara menatap Almira dalam-dalam.


"Abang masih sama seperti saat pertama kita bertemu dulu, abang masih sangat tampan, dan abang..." ucapan Almira yang menggantung membuat Aliandhara penasaran.


"Dan abang kenapa, Mira??" tanya Aliandhara penasaran.


"Abang masih selalu membuat hati Almira ketar ketir jika dekat dengan abang!!" Almira memalingkan wajahnya karena malu.


Aliandhara tersenyum bahagia mendengar pengakuan Almira. Hatinya menghangat. Dia seolah tak peduli, Almira itu milik siapa...yang jelas gadis itu masih sangat dia cintai.


"Abang menyesal saat itu mengabaikanmu demi Valeria...sebenarnya saat itu hati abang masih bimbang dan ragu, siapakah yang harus abang pilih? saat abang memilih Valeria karena dia adalah ibu dari Aliarafa, ternyata abang tak bisa membohongi perasaan abang sendiri kalau abang masih mencintaimu, Mira!!"


"Sudahlah bang, lupakan saja...itu semua masa lalu kita....sekarang kan Almira sudah menikah, dan sebaiknya abang lupakan Mira, karena bagaimanapun sekarang kita adalah bersaudara!!" kata Almira tak kalah gusar.


Almira dan Aliandhara sama sekali tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka dengan tangan terkepal.


"Aku tak akan pernah membiarkan istriku jadi milik siapapun...dia istriku, dia milikku selamanya!!" Xavier merasa sangat geram dengan Aliandhara.

__ADS_1


Awalnya dia terbangun dari tidurnya. Dia menepuk-nepuk tempat tidur di sampingnya, saat tak mendapati istrinya akhirnya dia terbangun. Dia memakai pakaiannya yang sudah diletakan Almira di atas Sofa.


Saat dia ingin keluar, dia tak jadi melangkah dan menutup sedikit pintu agar dia tetap bisa menguping pembicaraan Almira dan Aliandhara.


Dia sangat geram pada Aliandhara yang masih berusaha untuk mendekati istri tercintanya.


"Awas saja kamu Aliandhara sampai berani kamu macam-macam dengan istriku, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."


Untungnya perkataan Almira yang terakhir yang mengatakan menyuruh melupakan dia karena dia sekarang telah menikah membuat hati Xavier merasa berbunga-bunga.


"Mira...ngapain di situ sayang?? ayo kita kembali tidur?? atau Aliandhara mau tidur di kamar dan kita berdua berjaga di luar?" tanya Xavier menatap Aliandhara dengan pandangan yang dia buat sebiasa mungkin padahal dalam hatinya seperti menyimpan bara api.


Akhirnya di sepakati Aliandhara tidur dan Xavier serta Almira yang menjaga tuan Kelvin.


"Bang...mengapa di luar sunyi sekali? pada kemana para body quard yang berjaga di muka pintu?" tanya Almira saat dia mengintip keluar melalui lubang kunci.


Xavier tiba-tiba merasakan suasana yang tak enak. Mungkin telah terjadi sesuatu di luar sana, apakah para pengawal di luar itu terbunuh semuanya?


Tok...tok...tok


"Permisi...perawat mau mengecek pasien!!"


Dengan cepat Xavier mengunci pintu kamar dan Almira sendiri juga bingung mengapa Xavier malah mengunci kamar bukan membukanya.


"Sayang...cepat bangunkan abangmu di kamar...segera pindah kemari...nampaknya ada yang tak beres terjadi di sini!!"


Almirapun cepat tanggap apa yang diperintahkan oleh suaminya, dengan cepat dia masuk ke kamar dan membangunkan Aliandhara yang belum ada setengah jam lalu memejamkan matanya.


Dia menjelaskan dengan singkat bahwa tampaknya di luar sudah tidak ada body quard mereka lagi, entah mungkin mereka telah terbunuh atau apa tidak ada yang tau.


Suara ketukan di pintu berubah menjadi gedoran untuk membuka paksa.


Dengan cepat Xavier dan Aliandhara menggeser sofa yang berat untuk menahan pintu.


Terdengar suara berat dari luar pintu. Suara yang mengandung ancaman.


"Keluar...atau kami masukan gas beracun kedalam kamar ini!!" kata suara dari luar.


Xavier masuk ke dalam kamar dan memeriksa lewat celah jendela. Di luar jendela kamar yang mengarah ke belakang rumah sakit nampak sunyi tak nampak apapun, tapi Xavier tau bahwa justru keadaan yang nampak sunyi dan tenang itulah letak bahaya yang paling besar.


Dia mengawasi sekitar atas kamar saat dia melihat ada celah di atas plafon untuk mengecek instalasi listrik di kamar-kamar rumah sakit ini.


"Sayang, abang akan menotok tuan Kelvin agar memudahkan abang untuk membawanya lewat celah plafon, kamu dan Aliandhara bersiaplah untuk naik juga setelah abang dan ayah mertua naik ke atas plafon itu.


Tak lama setelah rombongan kecil itu berhasil keluar lewat plafon rumah sakit, pintu ruangan VVIP itu terbuka dan masuklah beberapa orang bersenjata datang dan mengobrak abrik kamar itu.


"Sialan...kemana mereka semua pergi?? Apakah lewat pintu kamar??"


Mereka memeriksa seluruh kamar sampai kamar mandipun tak luput dari pemeriksaan mereka.


"Kabur lewat mana mereka?" tanya seorang wanita dengan rambut pirang diikat ekor kuda memakai baju tanpa lengan dengan jaket dan celana kulit dengan sepatu bothnya. Wajahnya dingin dengan sorot mata seorang pembunuh.


"Siapa sebenarnya orang yang menjadi sasaran kita kali ini? tampaknya orang yang sangat penting?" tanya wanita itu.


"Anda benar nona Gabriela...tuan Kelvin Antonio selain terkaya dia juga menyimpan kalung mustika naga yang dicari dan diincar banyak orang!!" sahut seorang lelaki muda berambut cepak yang memakai baju yang sama seperti Gabriela.


"Go, Tristan...kita harus cepat tinggalkan tempat ini sebelum aksi kelompok kita tercium oleh sistem keamanan di rumah sakit ini."


"Anda tenang saja nona, seluruh cctv di rumah sakit ini sudah di matikan, terutama di bagian kamar dan sepanjang koridor ini sehingga saat kita membantai orang-orang tuan Kelvin tadi, tak akan ada bukti-bukti terekam apapun."


Gabriela sudah beranjak keluar, saat Tristan hendak melangkah keluar kamar, dia melihat benda pipih ponsel milik Almira yang tertinggal.


Segera diambil dan di masukannya kedalam kantong jaketnya lalu menyusul melangkah keluar.


Di parkiran rumah sakit khusus untuk para petinggi dan pasien VIP dan VVIP, letaknya di basement rumah sakit.


Entah mengapa tempat itu begitu sunyi malam ini.


"Sayang, kamu lihat empat orang yang berpakaian hitam di dekat mobil ayah Kelvin itukan??" bisik Xavier ketelinga istirinya.


Almira ikut memandang dan mengangguk cepat.


"Habisi mereka dengan cara apapun jangan sampai menimbulkan suara, oke sayang?? kamu tidak kehilangan kemampuan berkelahimu setelah kita sering bercintakan?" Xavier menggigit hidung mancung istrinya itu sambil tersenyum menggoda membuat wajah istri cantiknya itu memerah kembali.


Dengan cepat Almira memasukan cincin pemberian Hiro kedalam mulutnya dan membuat seluruh tubuhnya hilang dari pandangan mata dan berjalan cepat menuju keempat orang itu.


Dia memancing salah satunya agar menjauh dari ketiganya dengan membuat suara berisik di belakang mobil ayahnya itu.


"Coba kamu tengok, Sambas...apa sih itu?? palingan suara kucing mau kawin..." kata Wardoyong teman di sebelahnya.


Dengan cepat Sambas berjalan menuju ke belakang mobil yang dia tak tau bahwa malaikat mautnya sudah menanti di belakang sana dengan seringai dingin.


*


*


***Bersambung...


Siapa sebenarnya musuh baru tuan Kelvin itu?? apa sebenarnya tujuan dari komplotan itu untuk menghabisi tuan Kelvin??


Ikuti terus yuk...kisahnya dan jangan sampai tertinggal membacanya ya guys๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Jangan lupa juga like, komen, vote, favorit dan ratenya ya reader๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2