
"Dia gadis yang kuat dan tangguh, hanya saja dia tumbuh menjadi gadis yang bar-bar dan teramat ketus dan dingin!!" kata kakek Dahlan.
"Lho dia tumbuh menjadi gadis ketus dan dinginkan karena ajaranmu juga!!" kata kakek Kojiro diikuti dengan delikan mata dari kakek Dahlan.
"Semprul kamu Kojiro!!" semprotnya.
"Tapi betul kan? untung Almira itu cantik, jika sepertimu yang hitam seperti pantat panci?" kata Kojiro.
"Bencinya aku kenapa harus punya sepupu seperti kamu ini, Kojiro!!" kata kakek Dahlan kesal bukan main.
"Justru hidupmu lebih berwarna sejak dekat kembali denganku kan?? jujur deh!!" sahut kakek Kojiro.
Huekkk...
"Kamu kenapa Dahlan? jangan bilang ratu Hikaru hamil saat Kebebitak memakai tubuhmu untuk menggeluti ratu Hikaru."
"Apa??? jahara nya si Kebebitak itu, kenapa mau mesum harus pakai tubuhku segala?? jijik aku!!" jawab kakek Dahlan bergidik.
"kamu berhutang penjelasan kepada kami semua, mengapa orang sepertimu mau-maunya menyerahkan diri dan dikibuli oleh Kebebitak."
"Apa dia berubah jadi gadis secantik bidadari sehingga tubuh tuamu bereaksi? Hahaha, kakek Kojiro dan Matsuyama tertawa ngakak.
"Bagus ya...bahagia kalian di atas penderitaanku!!" umpat kakek Dahlan.
"Sudah cukup istirahatnya, cepat kita pergi dan meninggalkan tempat ini sebelum hari menjadi gelap supaya kita tidak tersesat." Kata Giandra sambil memandang langit yang mulai temaram.
Mereka bertujuh mulai mengerahkan kembali ilmu lari mereka melesat meninggalkan tempat itu.
Menjelang malam mereka tiba kembali di rumah pantai.
"Tampaknya aku harus memasang pagar gaib di sekeliling rumah pantai agar si idiot ini tidak terkecoh lagi dengan penampakan berikutnya!!" gerutu Kojiro.
"Bantu ayah Xavier, Matsuyama...kita satukan kekuatan untuk membentuk pagar gaib pelindung!!" kata kakek Kojiro.
Ketiga orang itu berdiri membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan satu dengan yang lain. Lalu kakek Kojiro melepaskan pegangan tangannnya pada Xavier lalu menyorongkan perlahan telapak tangannya kearah atas rumah untuk memagari lingkungan sekeliling rumah.
Kurang lebih setengah jam mereka saling mentransfer tenaga dalam dan akhirnya pagar gaibpun sudah melingkar di sekitar rumah pantai itu.
Keringat sebesar biji jagung tampak mengalir di dahi dan tubuh mereka.
"Wah, abang seksi banget..." kata Mira sambil memandang takjub pada Xavier yang membuka kemejanya yang telah basah oleh keringat.
Dada bidang dan sedikit berbulu dengan perut penuh roti sobek tapi tak bisa dikonsumsi secara umum membuat Mira terkagum-kagum pada mantan kekasihnya yang kini telah menjadi abangnya itu.
"Jangan dipandang lama-lama nanti suka lagi..." celetuk kakek Dahlan membuat Almira berdiri dengan gontai.
Xavier tak tega melihat mantan orang terkasihnya itu bersedih, diraihnya tubuh Almira dan dipeluknya erat.
"Nggalah kakek...kita berdua tau batasannya kok, sekarang kita berduakan bersaudara, bukan begitu sayang!!" dikecupnya berkali-kali pucuk kepala Almira yang tenggelam masuk kedalam dekapan hangatnya.
Ada rasa ngilu di antara keduanya saat kata keramat itu terucap. Almira ingin sekali menangis untuk membuang semua ganjalan di hatinya, tapi dia tidak tau bagaimana caranya mengeluarkan air matanya karena sejak dia kecil dia berusaha menahan air mata walau sesakit apapun karena jika dia menangis maka kakek Dahlan akan memukuli pantatnya dengan rotan.
Merasakan getaran tubuh Almira, Xavier tau apa yang dirasakan gadis itu, dia mempererat pelukannya untuk menenangkan Almira.
"Tetaplah menjadi wanita kuat dan tangguh jangan perlihatkan kelemahan kita pada orang lain!!" bisiknya ke telinga Almira.
"I love you now and forever..." bisikan Xavier di telinga Almira bagaikan angin segar dari surga.
Ehemmm...ehemmm
Pandangan mata mereka semua menyorot kepada dua insan itu membuat Almira sangat malu dan makin menenggelamkan wajah dan kepalanya di dada bidang Xavier.
"Woi...woi....film sudah berakhir...bubar...bubar!!" suara Matsuyama spontan mampu melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Haduh...ni para bocah..." ujar Giandra lalu menarik tangan istrinya masuk, lalu disusul oleh yang lainnya serta meninggalkan Almira berdua dengan Xavier.
"Mira!!"
Almira menoleh pada Xavier yang memanggil namanya.
"Kalau abang boleh jujur, mengapa ya...setiap berdekatan denganmu abang tak pernah merasa ada ikatan pertalian darah di antara kita?" kata Xavier.
"Maksud abang kita seperti bukan saudara, begitu?" tanya balik Almira pada Xavier.
"Iya..." jawab Xavier singkat.
"Itu hanya perasaan abang saja mungkin!!" kata Almira lagi.
"Ya sudah...hari mulai terasa sangat dingin, aku mau masuk dan mandi lalu makan sup buatan ibu!!" ucap Almira lalu melangkah masuk.
Mereka semua makan dengan tenang di meja makan besar itu.
"Jika malam ini kita mendengar suara-suara aneh dari luar lebih baik abaikan saja." kata kakek Kojiro.
"Mahluk-mahluk laknat itu tidak bisa masuk ke dalam rumah, mereka hanya bΔΊsa berada di luar saja." Kata kakek Kojiro lagi.
"Yah baguslah mereka hanya di luar saja, ngga ada untung-untungnya mengajak mereka masuk ke dalam, malah merugikan kita semua." Kata kakek Dahlan kesal.
"Apakah kamu merindukan kehangatan ratu Hikaru? Merindukan rintihannya dan goyangannya." Kata kojiro menggoda sepupunya itu.
"Ukuran mulutmu berapa, Kojiro?" tanya kakek Dahlan.
"Ada apa dengan ukuran mulutku?" tanya kakek Kojiro.
"Mulut kakek mau di jejalkan dengan sepatu butut kakek Dahlan itu!!" kata Almira sambil mengunyah makanannya.
"Bukan begitu kan, kek?" tanya Almira.
"Halah tapi kamu suka juga kan? secara lho goyangan sang ratu itu hot dan sangat menggairahkan." Kojiro semakin menjadi-jadi mengganggu dan menggoda sepupunya itu.
"Maaf...maaf saja ya...tapi aku lebih mencintai almarhumah istriku!!" kata kakek Dahlan.
"Abang...aku tidur dekat denganmu ya...aku takut!!" kata Matsuyama.
"Ya iyalah...kamar di sini cuma ada dua...yang satu kamar pastilah untuk Giandra dan Serafin....dan satu kamar lagi untuk Almira, kita berempat tidur di ruang tamu." kata kakek Kojiro.
Semua orang sudah tertidur lelap menjemput mimpinya masing-masing, tapi Matsuyama sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Bulu kuduknya merinding semenjak tadi, alhasil dia hanya membolak balikan badannya saja.
"Aduh, semua orang sudah pada lelap tertidur, sementara aku tidak bisa tidur sama sekali...mataku semakin malam semakin terang seperti neon 100 watt." Gumam Matsuyama kesal.
"Ngapain ya biar bisa tidur?? ngitung domba sudah, ngitung utang juga sudah, apa aku ngitung jumlah ubannya kakek Dahlan sama kakek Kojiro aja aja?" Matsuyama terus berpikir hingga telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang bergerak di luar jendela.
"Suara apa itu ya?" ngga dilihat tapi penasaran, mau dilihat kok takut jadinya...." Matsuyama semakin dilema antara takut dan penasarannya.
"Ngintip aja ah...semoga sesuatu yang di luar sana juga tidak sedang mengintipku, tapi saat aku melihat keluar terus dia melihat ke dalam juga, gimana dong??" Matsuyama semakin resah.
"Pokoknya ngintip ajalah dulu!! soal takut, ya takut sih sebenarnya...tapi diurus belakangan aja deh!!"
Akhirnya dengan sedikit keberanian yang dipaksakan Matsuyama mencoba menguatkan diri untuk mengintip.
"Iihhhh...matilah aku!!!" Matsuyama berdiri bersandar di dinding setelah melihat keluar. Wajahnya jadi pucat pasi dan bibirnya mulai bergetar.
"Apa itu ya???" gumam Matsuyama...
"Ada beberapa tubuh yang kepalanya ditenteng di tangan bukan di tempatkan di tempat yang semestimya sedang menatap ke rumah ini!!"
"Tampaknya rombongan pemegang kepala itu mau masuk ke rumah ini tapi karena tadi sore sudah di pagar oleh kekuatan gaib, mereka hanya bisa berdiri di depan saja."
__ADS_1
Sekali lagi Matsuyama mencoba mengintip keluar.
"Ala mak...mengapa mereka tersenyum sambil melihat kearahku ya??? bisa mati berdiri aku kalau begini terus keadaannya."
Matsuyama beringsut membangunkan kakek Dahlan, Kojiro dan Xavier tetapi mereka semua berakting mati.
"Jika begini keadaannya andai bom hirosima dan nagasaki meledak lagi, mereka bertiga ngga akan bangun...paling-paling mereka bertiga bergandengan tangan menuju akherat!!" Matsuyama jadi geli sendiri.
"Aku bangunkan Mira aja ah...setidaknya Mira lebih berani dari pada aku!!"
Lalu Matsuyama bergegas jalan ke kamar Mira dan tanpa mengetuk lagi dia main masuk saja.
"Mira...bangun...hoi chucky bangun...di luar banyak hantu!!" bisik Matsuyama.
Mira tampak menggeliat..
"Ada apa sih, Mat...berisik banget!!" ucap Mira sambil menguap.
"Mat...Mat memang namaku Amat??" Matsuyama cemberut.
"Lho namamu memang Matsuyama kan?? atau kamu mau di panggil Susu saja!!" kata Almira.
"Ada perlu apa kamu membangunkan tidurku??" tanya Almira pada Matsuyama.
"Diluar banyak hantu, Mir...aku takut banget!!" kata Matsuyama lagi.
"Hah??? hantu??? mana...mana!!" Almira langsung melompat dari tempat tidurnya untuk mencari.
"Idih...gila memang ini cewek ya!! aku yang cowok aja takut, ni cewek ngga ada takut-takutnya!!" gerutu Matsuyama kesal.
Mira mengintip dari balik jendela kamarnya.
"Mereka itu bukan hantu, Matsu...mereka sejenis siluman...mereka ini datang dari lembah hitam, mereka juga anak buah ratu Hikaru pacar gelapnya kakekku kakek Dahlan."
"Kamu tenang saja, mereka tak akan bisa masuk ke tempat ini, Matsu!!"
"Terus sampai pagi gitu mereka di sana?" tanya Matsuyama mulai cemas.
"Mereka akan pergi saat ayam berkokok menjelang subuh...setan, hantu dan sejenisnya kan takut dengar suara azan!!" kata Almira.
"Apakah mereka setiap malam nongkrongin rumah ini?" tanya Matsuyama lagi.
"Ya ngga lah....ada malam-malam tertentu mereka berkeliaran, kamu pikir mereka juga tidak punya kesibukan selain ngeronda di sekeliling rumah kita? mereka juga mau kencan, mau masak, mau nyuci, mau dandan!!" kata Almira enteng.
Sementara wajah Matsuyama sudah lipat sepuluh sangking kesalnya pada gadis bar-bar yang mengoceh ngawur di depannya itu.
"Pertanyaannya...mengapa mereka mengikuti kita sampai kemari?" kata Matsuyama.
"Pertanyaan bagus, boy!!" kata Almira mengacungkan jempolnya.
"Pertama, kita semua orang terpilih untuk menghadapi malam purnama merah nanti!! terutama aku dan bang Xavier."
"Masih ada 2 orang lagi di luar sana yang belum bergabung dengan kita yang menjadi inti 4 unsur kekuatan yaitu angin, api, air dan tanah."
*
*
***Bersambung...
Duh...Mira berani banget ya!! andai saja semua cewek di dunia seberani Shahnaz Almiraππππ
Jangan lupa dukungannya ya guys...mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya...πππ
__ADS_1