Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Part 70 Titik Terang


__ADS_3

"Hiro, sekali ini ayah akan membiarkanmu menemui gadis pujaanmu itu, ini pertemuan pertama dan terakhir, karena setelah ini jangankan tubuh kasarmu tubuh halusmu pun tak akan kuijinkan keluar dari lembah ini."


Jiwa Hiro melayang menembus waktu. Rindu yang berlebihan langsung membawa sukmanya menemui sang pujaan hati.


Almira sedang asyik duduk di taman seperti biasanya saat ada seseorang yang menepuk bahunya.


Dia menoleh kesana kemari mencari siapa yang menepuknya.


"Iissshhh....jangan-jangan di sini ada hantunya?" pikir Almira sambil celingukan.


Syutttt...


Ada hawa dingin meniup telinganya. Mira semakin penasaran.


"Sayang...."


"Hiro, kamu di mana?" teriak Almira.


Tiba-tiba sesosok tubuh membentuk nyata di depan Almira. Makin lama makin nyata dan membentuk tubuh seorang pria, Hiro!!"


"Hiro..."


Almira sontak berdiri dan memeluknya tapi seperti memeluk angin tubuh itu tak bisa disentuh dan ditembus.


"Hiro, kamu sudah meninggal? kamu bunuh dirikah?" tanya Mira kaget.


"Enak aja!!" ini sukmaku...ragaku ada jauh di seberang lautan sana!!"


"Kok kamu bisa meninggalkan ragamu, Hiro?" tanya Mira.


"Bisalah demi cintaku padamu dan demi cintamu padaku.!! tapi aku pergi tak bisa lama meninggalkan tubuhku takut ada jiwa lain yang masuk mengambil ragaku."


"Setelah ini apa kita masih bisa bertemu lagi Hiro?" tanya Mira.


"Entahlah Mira, sebab ayahku tampaknya tau jika aku memakai ilmu meraga sukma untuk pergi menemuimu meninggalkan lembah.


"Apa kamu baik-baik saja selama beberapa hari ini, Mira?" tanya Hiro.


"Aku baik dan aku merindukan ocehanmu!!" jawabku.


"Hanya sekedar ocehanku?" tanyanya lagi sambil tersenyum.


"Aku merindukan berantem denganmu." aku berucap kembali.


"Aku juga merindukanmu, Mira!! ya sudah, aku tak bisa berlama-lama...jaga dirimu Mira, semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu!! maaf aku tak bisa menjagamu lagi, entah setelah ini kapan lagi kita bisa bertemu."


Hiro memegang tangan Almira. Ingin rasanya dia membawa gadis itu bersamanya. Karena dia tau kedepannya banyak sekali bahaya yang akan mengancam nyawa gadis itu sementara dia maupun Xavier sudah tidak dapat melindunginya lagi.


Dikecupnya pucuk kepala Almira untuk terakhir kali.


"Aku pergi, jagalah dirimu baik-baik..." kata Hiro.


"Kamu jangan sedih begitu, Hiro...selama kita masih tinggal di belahan bumi yang sama jika memang Allah berkenan kita pasti akan bertemu lagi!!"


"Semoga kamu selalu berbahagia Hiro, selamat jalan!!"


Lalu sosok Hiro semakin lama semakin hilang dan akhirnya lenyap sama sekali dari pandangan.


Mira hanya bisa terdiam. Ada rasa kehilangan dalam hatinya. Orang-orang terbaiknya kini telah pergi meninggalkannya sendiri.


*


*


Tubuh Hiro berkelojotan seperti tersengat listrik saat sukma itu masuk kembali ke dalam raganya.


Kembali dia termenung sedih. Rasanya hari-hari kedepan yang dilaluinya pasti akan terasa hampa.


Dulu saat pertama kali dia ditugaskan meninggalkan lembah oleh ayahnya untuk mencari saudari kembarnya dan melindungi seorang gadis dari kejahatan ratu Hikaru, dia sempat menolak tugas itu karena saat itu dia tengah memperdalam ilmu kanuragannya dan dia malas berbaur dengan dunia di luar sana.


Tetapi sekarang setelah berbulan-bulan berada di dunia luar, dia malah enggan untuk kembali apalagi dia telah jatuh hati dengan gadis yang akan dilindunginya.


Dan ternyata gadis yang akan dilindunginya itu adalah gadis yang semasa masih bayi selalu digendong-gendongnya.


"Sudah puas temu kangennya? kamu tak usah khawatir, Matsuyamalah yang akan melanjutkan tugasmu menjaga gadis yang membawa permata naga biru itu."


Hiro tersentak, dia sama sekali tak menyadari kehadiran ayahnya itu. Entah pikirannya yang sedang kacau sehingga dia tidak konsentrasi atau memamg ilmu ayahnya yang tinggi.


"Memang Matsuyama bisa apa yah?" kata Hiro agak kesal.


"Jangan kamu meremehkan adikmu itu, walaupun dia suka cengengesan tapi ayah yakin dia mampu menjaga diri dan menjaga gadismu itu!!"

__ADS_1


"Gadisku? apa maksud ayah?" Hiro tersentak kaget.


"Kamu tidak usah kaget, ayah tau semua sepak terjang kalian di luar sana termasuk kejahatan Sima yang telah menjadi kaki tangan putri dari Hikaru."


"Kamu mencintai gadis itu kan? tapi percayalah Hiro, Almira bukan jodohmu...dari pada kamu merasakan sakit nanti lebih baik kamu merasakan sakit sekarang."


"Belajar sakit hati dari sekarang akan lebih baik daripada setelah cintamu terlalu dalam padanya tapi kenyataannya dia bukan untukmu malah akan membuat hidupmu lebih menderita."


"Iya ayah!!"


Hanya kata-kata itu yang mampu Hiro ucapkan. Lalu dia bangkit berdiri dan meninggalkan ayahnya.


"Ayah tau kamu sangat kecewa nak, tapi percayalah ini jalan terbaik untuk kehidupanmu kelak!!" batin Kakegawa.


Hiro melangkah keair terjun di bawah lembah. Air terjun yang dingin seakan mencucuk sampai ke dalam tulang sum-sum dan seperti menyumbat peredaran darahnya.


Aarrgghhh...


Hiro berteriak keras untuk melepaskan kepenatan, kesedihan dan kegalauannya yang berbaur menjadi satu. Suara Hiro tenggelam dalam kerasnya gemericik air yang menghantam sungai dan bebatuan di bawahnya.


Kita tinggalkan dulu Hiro yang tengah menghadapi dilema hatinya, kita ikuti kembali perjalanan sepasang suami istri Giandra dan Serafin yang tengah menuju kesuatu tempat.


"Sayang...mengapa kamu membohongiku dengan mengatakan kamu masih buta?" tanya Serafin pada suaminya.


"Maafkan aku sayang, aku tak ingin kamu merasa minder saat ada di dekatku."


"Untuk apa aku merasa minder sayang?" tanya Serafin.


"Maafkan aku sayang, mungkin kamu akan merasa minder dengan wajahmu." kata Giandra.


"Untuk apa aku merasa minder? toh wajahku tidak apa-apa?" sahut Serafin.


"Cacat di wajahmu?" jawab Giandra.


Serafin membuka cadar biru yang menutup wajahnya selama 17 tahun ini, tampaklah seraut wajah yang luar biasa cantiknya sama sekali tak ada bekas cacat bekas pertarungan mereka belasan tahun lalu!!


"Kok bisa sayang?" tanya Giandra.


"Jawabanku sama seperti pertanyaanku padamu, sayang!! kok bisa kamu sembuh dari kebutaanmu? padahal kebutaanmu dinyatakan buta permanen oleh nenek Megumi."


"Itu semua karena ilmu pengobatan dan ketekunan nenek mengobati kita, yah!!


"Betapa besarnya hutang budi kita pada nenek tapi belum sempat kita membalasnya, nenek keburu pergi meninggalkan kita berdua."


"Yah, benarkah ini jalan menuju kegoa pualam itu? apa kamu tak salah mengingat jalannya?" tanya Serafin.


"Aku tak mungkin lupa Sera, karena aku sendiri bersama ayahmu yang menyimpan batu permata naga biru itu di dalam goa pualam."


"Jalannya makin kemari semakin mencekam suasananya ya, yah!! hawanya semakin dingin dan mencucuk tulang." Serafin memegang erat tangan suaminya.


"Kamu takut sayang?" tanya Giandra pada sang istrinya.


"Sedikit." jawab Serafin.


Giandra menyibak rimbunnya semak belukar yang ada di depannya lalu menemukan pintu goa yang mereka cari.


Setelah mereka masuk, Giandra menutup kembali belukar lebat di depannya. Mereka melanjutkan langkah dengan hati-hati.


Sreett


Serafin mencabut salah satu samurainya untuk berjaga-jaga.


"Ayah...cahaya biru apa itu di arah kegelapan di depan kita?" tanya Serafin.


"Nilakandi atau di Jepang di sebut Seiryu..." bisik Giandra pada sang istri yang tengah menggenggam erat samurainya.


Benar saja, dari dalam goa muncul sosok mengerikan berbentuk seekor naga bertubuh kehijauan dan bermata sangat biru.


"Giandra..."


"Akhinya kamu datang juga, mana putriku yang kutitipkan di dalam rahim istrimu?"


Suara itu menggema seolah datang dari tempat yang sangat jauh.


"Maafkan kami Seiryu...anak kami hilang semasa masih bayi saat kami bertarung melawan Hikaru dan antek-anteknya."


"Bahkan kami tidak tau di mana dia berada sekarang entah masih hidup ataukah sudah meninggal!!"


"Bayi kalian dan anak angkatmu itu masih hidup walaupun mereka saling terpisah jauh..."


"Jika kalian mencari permata naga yang kau sembunyikan dulu bersama ayah mertuamu, permata itu sudah tak ada di sini, aku telah memasukan ke dalam rahim istrimu dan telah menyatu bersama putrimu."

__ADS_1


"Permata itu akan keluar dengan sendirinya saat putri kalian telah menemukan jodohnya, orang yang benar-benar bersedia mengorbankan jiwa dan raganya untuk melindunginya."


"Kelak mereka berdua lah yang mampu menghancurkan keganasan Hikaru dan antek-anteknya."


"Sekarang kembalilah, salah satu dari anakmu tak jauh ada di dekat kalian, carilah pasti kalian bisa menemukannya dengan naluri kalian sebagai orang tua."


"Terima kasih Seiryu...kami berdua pamit!!"


Lalu Giandra dan Serafin merapatkan kedua tangannya di depan dada dan melangkah mundur meninggalkan goa itu.


Sepanjang perjalanan pulang, Giandra dan Serafin terdiam memikirkan semua ucapan Seiryu tadi.


"Sera, kamu dengar apa yang diucapkan Seiryu tadi?" kata Giandra.


"Almira masih hidup dan Giovanno ada di sekitar kita, berarti mereka berdua dulu terpisah?? aduh yah, semoga Giovanno dan Almira di asuh oleh orang yang baik ya yah..."


"Semoga saja Sera!! kita doakan saja semoga kita bisa bersama dan berkumpul kembali seperti dulu."


*


*


"Yah, badan Xavier masih gemetaran mengingat peristiwa semalam!!" ucap Xavier.


"Peristiwa yang mana?" jawab ayahnya.


"Itu para gadis bukan perawan..." jawab Xavier lagi.


"Orochi dan Tosa maksudmu?"


"Tosa? kok Tosa sih? Sato ayah!!" jawab Xavier.


"Kamu ini protes melulu kayak Dahlan saja!!" ucap Kojiro


"Seperti kakek Dahlan dan Almira, begitu maksud ayahkan?"


"Ya nanti kalau ayah sebutkan satu nama keramat itu kamu bawaannya baperan lagi!!" ucap Kojiro pada Xavier.


"Almira sekarang sedang apa ya ayah? apakah dia sudah menemukan pengganti Xavier?" ucap Xavier sambil menundukan kepalanya.


"Ya mana ayah tau? memang ayahmu ini dukun, paranormal atau apapun itu?" jawab Kojiro sekenanya.


"Kan kamu bisa sambung rasa dengannya melalui telepati yang kamu miliki?" jawab sang ayah.


"Tidak bisa ayah, Almira pasti menolaknya...saat Xavier pergi aja dia belum mau menemui kita kok!!" kata Xavier.


"Atau Almira sudah sama Hiro, atau Aliandhara atau..."


Sang ayah tersenyum sambil menggoda putra angkatnya itu.


"Ayah...kok ngomongnya gitu sih? memang Almira cewek apaan?" gerutu Xavier.


"Cie...cie...ada yang marah mantannya ditaksir laki-laki lain!!" goda sang ayah.


"Sadar Xavier, kamukan cuma abangnya...apapun yang baik untuknya harus kamu ikhlaskan, nak!!"


"Tidak bisa yah, Xavier sudah mencoba untuk ikhlas tapi tidak bisa!!" ucap Xavier sedih.


"Oh iya Xavier, ayah mau cerita sama kamu tapi bawaannya lupa melulu!!" ucap ayahnya.


"Apa itu yah?" kata Xavier.


"Tuan ganteng yang bernama Giandra tempo hari!!"


"Iya, terus kenapa kalau tuan Giandra ganteng? terus ayah ngga terima? merasa tersaingi?" goda Xavier.


"Dasar anak sambal....bukan begitu Xavier!!" kakek Kojiro tampak bersungut-sungut jengkel mendengar ucapan putranya.


"Wajahnya, dodol!!"


"Wajahnya mengingatkan ayah pada seseorang, tapi siapa ya? ayah benar-benar lupa sama sekali!!"


"Ya bagaimana ayah mau ingat?? yang ayah ingat cuma kakek cantik yang bernama Orochi itu doang!!" goda Xavier.


*


*


***Bersambung...


Dasar Kojiro dan Xavier ini ingatannya perlu diasah kayaknya😁😁😁🙏🙏🙏

__ADS_1


Ikuti terus lanjutannya ya...jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya!!🙏🙏


__ADS_2