
"Aku sudah terbiasa memasak makanan dan membawakan bekal untukmu, menyuapimu sampai kamu kenyang." Giovanno tersenyum getir mengingat semua kenangan yang telah dilaluinya bersama Almira selama beberapa bulan ini.
"Giovanno, are you okay?" Kojiro jadi cemas melihat Giiovanno tersenyum sendiri sambil melamun.
"Giovanno kangen sama Almira yah...apa dia masih mau bertemu dengan Gio lagi?" Giovanno mulai menceracau.
Kojiro memegang dahi anaknya terasa sangat panas.
"Kamu demam tinggi Gio!!" Kojiro cepat merangkul bahu Giovanno.
Brukkk....
Tepat di muka pintu Giovanno roboh dan pingsan. Dengan cepat Kojiro mengangkat tubuh anaknya.
"Kenapa dia Jiro?" Tanya kakek Dahlan.
"Kasihan anak itu Jiro, aku berani bertaruh Almirapun keadaannya tidak jauh lebih baik dari Giovanno."
"Aku jadi cemas dengan keadaan cucuku itu yang aku takutkan Hiro dan Kadir tak bisa menemukannya apalagi dalam cuaca buruk begini...badai masih berlanjut di luar sana."
"Apalagi Kadir? Apa yang bisa kuharapkan dari pantat kuali itu...jangan-jangan sekarang dia sudah terbawa air kelaut."
*
*
"Kasihan kamu Mira, api unggun ini tak boleh sampai padam...untung banyak kayu-kayu kering yang sempat kuambil dalam perjalanan mengejar Almira tadi.
"Aku memang pintar, kayu sempat kukumpulkan, air minum kรนbawa dalam ranselku juga makanan kecil untuk pengganjal perut malam ini."
Hiro mencari-cari di dalam tas ranselnya.
"Kemana kutaruh ponselku? Haduh...pasti kutinggal di rumah tadi...bagaimana aku menghubungi mereka?'
Hiro duduk bersila menyatukan pikirannya dan hanya tertuju pada satu orang, Kojiro. Karena Hiro tau kakek Kojiro juga bisa bertelepati sama seperti dirinya.
Setelah memberitahukan keberadaannya dan mengatakan mereka baik-baik saja, Hiro kembali mengganti kompres Almira.
__ADS_1
Hiro termenung menatap wajah cantik Almira. Gadis itu sudah tenang tidak mengigau dan menangis dalam tidurnya lagi seperti tadi.
"Kadir...taukah kamu rasanya mencintai seseorang dalam diam? Kita sesama laki-laki pasti tau rasanya...melihat dia sakit begini hatiku juga ikut sakit."
"Aku ingin dia tetap bahagia dengan orang yang dikasihinya...tapi jelas itu sekarang tak mungkin!" Ucap Hiro.
Ssssss...ssssss
Anak kobra itu mendesis sambil menaikan kepalanya seolah mengerti apa yang diceritakan Hiro padanya.
"Aku sedih melihat dia menderita seperti ini Kadir, aku ingin mengambil semua penderitaanya dan hanya menyisakan bahagia untuknya.
"Seandainya aku punya kemampuan untuk menghapus ingatan masa lalumu maka akan aku lakukan, Mira..." Hiro membelai lembut rambut Almira.
"Jangan pergi...jangaaannn...."
Almira kembali mengigau dalam tidurnya. Hiro menggenggam erat jemari Almira untuk memberikan kekuatan pada gadis malang itu.
Sementara keadaan Xavier Giovannopun tak jauh berbeda dengan Almira. Lelaki tampan itu juga mengigau dalam tidurnya. Bibirnya tak henti memanggil-manggil nama Almira.
"Jiro...kita tidak bisa membiarkan mereka begini terus...kasihan cucuku dan putra angkatmu itu!" Kata kakek Dahlan.
"Bawalah putramu kembali kenegeri Sakura dan biarkan Almira bersamaku di sini!! Mintalah ijin pada tuan Anderson dan tuan Xavana agar mereka tidak meminta Xavier balik untuk sementara waktu.
"Pisahkan dulu mereka sampai mereka berdua bisa menerima keadaan dan kenyataan bahwa mereka bersaudara!! Aku takut jika mereka terus berdekatan seperti ini akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan!!" Kojiro merenungi setiap kata-kata dari sepupunya itu. Kakek Dahlan atau Tosiro ada benarnya, jangan sampai nanti ada perkawInan sedarah di antara keduanya akibat cinta yang mengikat mereka begitu kuat.
"Baiklah, besok pagi-pagi sekali aku akan membawa Giovanno kembali ke Jepang...kasihan anak itu, dia anak yang penurut, cerdas, lembut dan penyayang...sifatnya itu lah yang mengimbangi Almira yang keras, tengil, semaunya sendiri...seandainya mereka buka saudara, aku sangat mendukung Xavier bersama dengannya." Ucap kakek Kojiro.
*
*
Di sebuah lembah yang sunyi sebuah pondok kayu berdiri kokoh, suara gemericik air sungai Nishizawa mengalir dengan tenang di sertai semburat merah mentari pagi yang baru saja terbit. Burung-burung berkicau di pepohonan hijau yang tak terjamah manusia itu.
Seorang lelaki yang wajahnya sangat tampan duduk di bangku depan pondok. Pandangan matanya menatap lurus kedepan.
Buta...iya lekaki setengah baya itu memang mengalami kebutaan sejak pertempuran 17 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Serafin...mana Giandra?" Suara teriakan dari dalam pondok.
Dari dapur keluar seorang wanita mengenakan kerudung dan cadar berwarna biru. Wanita itu dijuluki Dewi kerudung biru ada juga yang menjulukinya Onna bugeisha. Permainan samurainya tak perlu diragukan lagi. Sejak kalah bertarung melawan ratu Hikari 17 tahun lalu yang menyebabkan dia harus merelakan wajah cantiknya menjadi cacat akibat pukulan tapak merapi sang ratu dan menyebabkan kebutaan total sang suami serta kehilangan kedua buah hatinya.
Iya...dialah Serafin dan Giandra orang tua dari Xavier Giovanno dan almira. Detik-detik menjelang ajal menjemput, rupanya Allah berkehendak lain.
***Flashback***
Seorang berjubah biru turun dari lembah dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tingginya. Semalam dia melihat Lintang Kemukus di sebelah timur.
Dia merasakan pertanda buruk akan muncul maka pagi-pagi sekali dia turun dari lembah.
Kemunculannya bertepatan pada saat pertempuran ratu Hikaru dan antek-anteknya melawan Serafin dan dibantu oleh Giandra suaminya yang sebelumnya terlebih dahulu menyelamatkan kedua anak mereka berakhir dengan kekalahan sepasang suami istri itu.
Mungkin benar kata pepatah kuno yang mengatakan sebelum ajal berpantang mati. Walaupun terluka sangat parah dan kemungkinan untuk bertahan hidup sangat sedikit, di saat Giandra yang tengah memegang tangan istrinya yang dianggapnya telah meninggal diapun sudah pasrah menunggu ajal menjemputnya...sesosok berjubah serba biru dengan dua samurai kembar di punggungnya menghampiri Giandra dan Serafin.
Giandra yang tengah sekarat tidak bisa lagi melihat dengan jelas manusia itu apakah seorang lelaki atau wanita.
Orang itu menoleh kesana kemari melihat hutan yang sudah porak poranda dengan pepohonan tumbang di sana-sini berwarna biru kehitaman.
Lalu matanya tertumpu pada sepasang manusia yang berpegangan tangan terkapar tak jauh dari tempat dia berdiri tergeletak di antara beberapa mayat yang lain.
Dia memeriksa mayat-mayat yang bertebaran. Dia menggelengkan kepalanya pertanda tak ada kehidupan lalu dia memeriksa manusia yang tergeletak saling berpegangan tangan itu.
"Suami istri!!" Desisnya saat melihat cincin yang melingkar di jari manis dua orang itu.
"Ini pukulan tapak merapi...sepasang suami istri ini terkena telak pukulan tapak merapi dari ratu ilmu hitam Hikaru."
"Masih ada denyut nadi mereka walaupun sangat lemah!!" Gumamnya lagi.
"Yang laki-laki ini jika umurnya masih panjang, dia akan mengalami kebutaan sepanjang hidupnya karena sinar pukulan itu menyerempet kewajahnya dan racun mematikan pukulan itu sudah masuk kedalam dua bola matanya."
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Masih ingat dengan Giandra dan Serafinkan?? Mereka adalah orang tua dari Shahnaz Almira dan Giovanno Giandra!!
Jangan lupa mampir, baca, like, komen vote, favorit dan rate nya๐๐๐๐