Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 44 Bayangan Yang Mulai Terkuak


__ADS_3

Makin menguatlah dugaan tuan Kelvin bahwa Aliandhara menikahi Valeria karena terkena sesuatu. Kini dia bersyukur wanita itu sendiri yang telah meninggalkan putranya.


Biarlah apa yang telah terjadi kemarin menjadi pengalaman berharga untuk mereka.


***Flashback on***


Ngos...ngos...


Xavier kembali terbangun dengan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.


"Mimpi itu lagi? Mengapa mimpi itu sering datang di dalam tidurku? Mimpi dikejar-kejar oleh beberapa orang berpakaian hitam...mimpi seorang bocah yang terkapar di pinggir sungai."


"Giovanno? Siapa itu Giovanno? Aduh...kepalaku sakit sekali...aarrgghhh..." Xavier menjerit menahan sakit yang tak tertahankan di sekitar kepalanya.


Tok...tok


"Tuan...tuan muda Xavier...ada apa tuan?" Tanya seorang pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar dan mendengar jeritannya.


Karena tak ada jawaban, pelayan tersebut memberanikan diri masuk ke kamar Xavier yang tak terkunci.


"Ya Allah tuan muda Xavier...kenapa?" Pelayan tersebut berusaha menyadarkan Xavier dengan menggosok minyak angin di hidung Xavier.


Tak lama kemudian Xavier kembali sadar. Dia memijit keningnya sendiri.


"Saya kenapa bi?" Dia agak bingung melihat pelayannya. berdiri di sampingnya.


"Tuan tadi berteriak lalu pingsan...untung tak lama segera sadar kembali." Pelayan itu menjelaskan duduk persoalannya pada Xavier.


"Bibi sudah berapa lama bekerja di sini?" Tanyanya pada pelayan yang memang sudah berumur itu.


"Sudah lama sekali tuan, bahkan sebelum tuan Xavana lahir saya dan suami saya bekerja pada keluarga Anderson...setelah kedatangan tuan muda kemari tak lama suami saya meninggal dunia."


"Kedatangan saya kemari? Memang bibi ingat waktu itu usia saya berapa saat datang kemari?" Tanya Xavier lagi.


"Usia tuan muda kurang lebih 6 tahun saat tuan besar membawa tuan muda kemari dan disambut dengan suka cita oleh tuan Xavana."


"Iya saya tau saya bukan putra kandung daddy Anderson bahkan di usia saya yang ke 12 saya dibawa ke Jepang dan diangkat murid sekaligus anak oleh ayah Kojiro."

__ADS_1


"Yang saya lupa adalah kejadian sebelum saya di bawa kemari, bi!! Semua memori tentang masa lalu saya dan siapa orang tua saya lalu apakah saya punya saudara kandung, itulah yang saya lupa sama sekali." Jawab Xavier.


"Nampaknya tuan besar juga tidak tahu menahu asal usul tuan Xavier, karena menurut yang saya dengar bahwa tuan besar menemukan tuan muda tergeletak pingsan di pinggir sungai tanpa identitas apapun."


"Ya sudahlah bi, saya mau mandi dulu...saya mau mengajar pagi ini." Lalu Xavier beringsut dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


"Tuan muda mau saya bawakan sarapannya ke kamar atau di ruang makan aja?" Kata pelayan itu lagi.


"Di bawah aja bi sekalian berangkat nanti....terima kasih ya bi!" Xavier tersenyum ramah pada pelayannya.


"Tuan Xavier memang jauh berbeda dengan tuan Xavana...kalau tuan Xavier selalu memperlakukan siapapun dengan santun dan penuh kelembutan, tak pernah sedikitpun dia membentak pada kami para pelayannya jika kami ada berbuat salah."


"Tapi dengan tuan Xavana yang pemarah dan kejam, yang selalu berlaku buruk pada pelayannya apalagi sewaktu ada wanita yang bernama Valeria itu menemaninya, lengkap sudah menjadi paket komplit."


Tak lama Xavier turun ke ruang makan. Wajahnya sudah segaran dan makin berkali-kali lipat ketampanannya.


"Selamat pagi semua..." Dia menyapa para pelayan di bawah.


"Selamat pagi tuan Xavier, silakan ini sarapannya..." Jawab pelayan yang membawakan sarapan pagi untuknya.


"Oh iya bi, saya minta ditaruh di dua kotak makan bekal untuk saya ya!" Lalu dia menggeser kursinya sambil celingukan.


"Tuan besar dan tuan muda Xavana berangkat ke kantor pagi-pagi sekali tadi, mungkin beliau akan langsung berangkat ke New York karena perusahaan di sana sedang bermasalah."


Xavier terdiam, semestinya sebagai anak walaupun hanya anak angkat dia harus membantu perusahaan ayah dan saudara angkatnya, tapi dia tau diri...dia tidak berhak atas semua itu. Makanya dia lebih memilih untuk menjadi seorang dosen saja, agar dia juga bisa lebih dekat dengan gadis pujaan hatinya, Shahnaz Almira.


"Ini kotak bekalnya tuan!!" Pelayan menyerahkan dua kotak bekal seperti yang diminta Xavier tadi.


"Terima kasih ya bi, saya mau pamit sekalian...Assalamualaikum!!"


"Waalaikum Salam...hati-hati di jalan tuan muda." Bibi melambaikan tangannya.


*


*


"Kamu ngapain dari tadi toleh kanan toleh kiri seperti orang mau menyeberang jalan? Kamu pikir ada speed boat lewat di depan rumah ini?"

__ADS_1


"Menunggu pak Xavier kek, katanya mau menjemput Mira, ntar Mira tinggal dia malah nyamperin kesini."


"Ya sudah tunggu aja ngga usah mondar mandir begitu, kakek pusing liatnya."


"Lha yang suruh kakek liat Mira mondar mandir siapa? Coba kalau tidak ada pekerjaan pergi mandi sana...titip mandikan Kadir juga sekalian kek!! Sudah seminggu kayaknya Kadir itu ngga di mandikan."


"Badannya Kadir sudah licin seperti dilulur sama minyak makan...tinggal kasih tepung jadilah Kadir goreng tepung."


"Bukannya badan Kadir memang licin ya...kalau keset singset bukan ular namanya tapi jamu." Omel Kakek Dahlan.


"Whatever lah kek, pokoknya titip mandikan dia...kasihan!!" Jawabku.


"Kamu kasihan sama Kadir? Kamu ngga liat penderitaan kakek gimana? Jangankan mandikan Kadir, dekat sama Kadir aja kakek ngeri...baru dipelototin Kadir kakek sudah gaer apalagi pegang-pegang Kadir? Hihhhh..." Kakek Dahlan bergidik ngeri.


"Cobalah kakek berdamai dengan hati kek, terimalah Kadir apa adanya...dengan begitu kakek bisa belajar untuk mencintainya..." Almira seperti seorang guru menceramahi muridnya.


"Berdamai dengan hati? Terima apa adanya? Yang ada kakek yang dimakan Kadir dengan ala kadarnya...dasar cucu edan!!!" Kakek terus menggerutu.


"Jangan bicara begitu kakek...tidak kah kakek melihat sorot mata Kadir yang sayu mendambakan kasih sayang kakek? Terimalah dia sebagai cucu kakek juga, dalam benak Kadir berkata bahwa dia juga ingin bermanja-manja dengan kakek."


"Heh...Mira sialan...kamu tau apa yang ada dalam benak Kadir saat ini? Dalam benak Kadir berkata...sini kau tua bangka, aku ingin mematokmu."


"Sorot mata sayu dari mananya? Yang ada sorot mata menjengkelkan iya!!"


"Assalamualaikum!!! Asyik bener diskusinya? Sampai mobil saya datang tidak dihiraukan sama sekali."


"Waalaikum salam...eh bapak kapan datangnya..." Tanya Mira basa-basi.


"Baru aja kok Mira, sengaja tadi bapak tidak mau mengganggu perdebatanmu dan kakek...bapak tak mau kehilangan momen menikmati wajah cantikmu..."


"Eyaaa...." Kakek menggodaku.


"Cucu saya memang cantik pak, seperti bidadari merosot dari monas langsung kecebur got." Kakek Dahlan tertawa membalas gurauanku tadi.


*


*

__ADS_1


***Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih all readersπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2