
Tut...tut...tut
Xavier sudah memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak karena dia sangat kesal dengan ulah ibu Shiera.
"Sayang...."
Lagi-lagi Xavier berusaha membujuk istri bocahnya itu untuk memaafkannya.
"Apa sih bang...coba tidur sudah!!"
Tiba-tiba Almira berbalik dan memeluk tubuh kekar suaminya.
Awalnya Xavier terkejut saat mendapatkan bukit kembar itu menempel erat di dadanya tetapi akhirnya dia tersenyum lega karena sang pemilik hati telah memaafkannya.
"Abang itu cintanya sama kamu sayang, tak ada wanita lain yang mampu menggantikanmu di hati abang."
"Kita pasangan muda, kita seharusnya saling mempercayai satu dengan yang lain jangan mudah terhasut oleh sesuatu yang ingin memisahkan cinta kita!!" bisik Xavier ketelinga Almira sambil sesekali menjilat daun telinga istrinya itu sehingga membuat Almira kegelian.
*****
"Tosiro...purnama merah tinggal dua hari lagi, apa yang akan terjadi di hari itu ya??"
"Tosiro...." kakek Kojiro menoleh pada saudara sepupunya itu.
Cetek..
"Apa sih yang kamu lihat Tosiro??" Kojiro menjentikan jarinya sambil melihat kearah yang dilihat oleh Tosiro alias si kakek Dahlan.
"Kamu melihat wanita cantik?" tanya Kojiro.
"Boro-boro wanita cantik, nah itu wanita yang lagi menenteng kepalanya kemana-mana.
Kojiro mengikuti arah telunjuk kakek Dahlan.
"Astagfirullah..." kakek Kojiro sampai termundur saķing kagetnya melihat apa yang ditunjuk oleh kakek Dahlan.
"Kita ini seperti nonton film horor aja ya?? bahkan ini lebih horor lagi dari pada film!!" kata kakek Dahlan.
"Aku rasanya ingin secepatnya membasmi ratu Hikaru dan antek-anteknya, aku sudah lelah dengan keadaan yang serba menakutkan ini." Kata kakek Dahlan.
"Kalau begini terus, bagaimana aku bisa dugem??" sungut kakek Dahlan kesal.
"Kalau soal dugem, kan kamu bisa dugem bareng mereka!!" ucap Kojiro.
"Bareng mereka? Gila aja kali!!" ucap kakek Dahlan.
"Kamu lihatkan pemuda ganteng yang waktu itu mengantar Almira pulang!!" tanya kakek Dahlan
"ya...walaupun masih ganteng aku sih dikit, dia banyak!!" sahutnya lagi penuh percaya diri.
"Ada apa dengan pemuda itu?" tanya kakek Kojiro.
"Aku punya firasat bahwa dia adalah salah satu orang terpilih itu!!" kata kakek Dahlan.
"Dari mana kamu bisa ambil kesimpulan seperti iti??' tanya Kojiro lagi.
"Aku melihat sesuatu yang bersinar dari balik hodie yang dipakainya terutama di bagian dada dekat lehernya." Ucap kakek Dahlan
"Bisa jadi sih!! karena aku melihat dia memang bukan orang sembarangan." kata kakek Kojiro.
"Walaupun dia menutupi sebagian kepala dan wajahnya, tetapi aku tau bahwa dia sangat tampan!!" ucap kakek Dahlan.
"Seandainya saja Almira belum ada ikatan pernikahan dengan Xavier, maka dengan senang hati aku akan menjodohkannya dengan Almira." Kata kakek Dahlan sambil senyum-senyum.
"Apa maksudmu?? kuhajar kau ngga lama itu ya??" kata Kojiro dengan geram.
"Kamu mau mengajarkan Almira untuk selingkuh, ya!! gitu-gitu Xavier itu adalah putra angkatku!!" gerutu kakek Kojiro.
"iya...iya...ngga usah ngambek gitu juga kali kek!!" kekeh tawa Dahlan menertawakan sepupunya itu.
*****
"Ibu Shiera tunggu!!"
Xavier mengejar ibu Shiera diikuti oleh Almira di belakangnya.
"Iya pak Xavier, ada apa ya!!" katanya seperti tanpa dosa setelah semalam dia hampir membuat sepasang suami istri perang nuklir karena ulahnya.
"Maksud ibu Shiera bicara begitu semalam, ada apa ya??" tanya Xavier geram.
"Saya ngga bermaksud apa-apa pak, saya hanya ingin menggoda bapak saja!!" jawabnya enteng.
"Bu, gara-gara pesan tertulis dari ibu Shiera itu...saya dan istri saya hampir bertengkar!!" jawab Xavier sambil menarik Almira kesamping tubuhnya.
"Untung istri saya tipe wanita yang cukup sabar, kalau ngga bisa habis saya dikulitinya dari kepala sampai kaki." Kata Xavier ķetus.
Ibu Shiera memandang tajam pada Xavier dan Almira lalu memandang pada kedua tangan mereka yang bergandengan dan cincin yang sama dan melingkar di jari manis keduanya.
"Kalian suami istri?" tanya ibu Shiera tak dapat menahan ketetkejutannya.
"Kalian bilang, bahwa kalian bersaudara lalu mengapa kalian menikah?? dan kapan kalian menikahnya?? kok kami tak ada yang tau!!" rentetan pertanyaan bertubi-tubi dari ibu Shiera mencecar pasangan pengantin baru itu.
"Apa?? kalian berdua sudah menikah??" sebuah suara di belakang mereka dan mengejutkan keduanya.
"Kak Xavana??" kata Xavier sedikit merasa tak enak, karena dia tau kakaknya itupun menyukai wanita yang sama yaitu Almira.
Itu sebabnya dia tak pernah mau pulang ke mansion orang tua angkatnya dan bertemu dengan ayah dan kakaknya itu, karena dia tak mau urusan semakin rumit jika telah melibatkan saudara dan asmara.
__ADS_1
Wajah Xavana berubah mengelam mendengar perkataan ibu Shiera tadi.
Maksud hatinya datang ke kampus ini karena dia ingin bertemu dengan adik angkatnya itu dan terutama untuk menemui Almira karena dia sangat merindukan gadis cantik itu.
Tetapi apa yang telah didengar dan dilihatnya membuat hati Xavana terluka dan sakit bukan main.
"Kalian berdua sudah menikah??" suara Xavana seperti tercekat di tenggorokannya.
"Maafkan kami berdua kak!!" kata Xavier pelan.
Sementara ibu Shiera juga berdiri terpaku di tempatnya. Dia ingin tidak mempercayai semuanya tetapi fakta sudah berbicara.
Kalau ditanya apakah hatinya sakit, tentu saja teramat sakit. Dia sudah terlanjur jatuh hati pada Xavier saat pertama Xavier menolongnya waktu itu.
Dia sudah beranggapan bahwa Xavier dan Almira adalah kakak beradik, tetapi semua anggapannya itu salah saat Xavier menegaskan tentang hubungannya dengan Almira.
Xavana berbalik meninggalkan mereka, sangat jelas dari matanya kalau dia terluka.
Xavier ingin mengejar tetapi ditahan oleh Almira.
"Biarkan tuan Xavana menenangkan diri dulu, nanti kalau dia sudah merasa tenang, baru kita jelaskan pelan-pelan.
Ibu Shiera pun tampaknya sedang tidak baik-baik saja, dia menatap geram pada Almira dia tiba-tiba saja sangat membenci gadis yang kini telah menjadi rivalnya itu.
Lalu diapun berbalik pergi dengan kecewa.
"Bang, mengapa pernikahan kita membuat luka bagi banyak orang? tidak bisakah kita bahagia tanpa membuat orang lain menderita?" Almira memegang erat-erat lengan suaminya seakan ingin menyalurkan semua kegundahannya.
"Sudahlah sayang, kamu masuk dulu ya, abang mau masuk ke kantor dulu." lalu mereka berpisah di depan kelas.
Sementara itu...
Aahhhhh....
Xavana berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan perasaannya.
Hari ini dia sudah tidak mood lagi untuk berangkat bekerja. Semua moodnya rusak pagi ini setelah secara tak sengaja mendengarkan perdebatan ketiga orang itu tadi.
"Xavier!!!!"
Xavana berteriak meluapkan kemarahannya.
"Jahat kamu Xavier...kamu tau aku menyukai...bukan, bahkan bukan lagi menyukai, aku jatuh cinta pada gadis yang kamu sebut adik itu...tapi apa yang aku dengar tadi sunggub membuat aku kecewa!!"
"Dan kamu Almira...teganya kamu menyakiti hatiku!! tak pernah seorang wanitapun menolakku apalagi menyakitiku tetapi kamu telah melakukan dua sekaligius, menyakiti dan melukai hatiku!!"
Aahhhhh....
Dia berteriak lebih keras dan lebih kencang dari pada yang awal tadi.
Xavana seperti menemukan jalan buntu yang tak menemui ujungnya.
"Makan yang banyak sayang...buka mulutnya!!" kata Xavier sambil menyuapi istrinya.
"Mira ngga enak makan, bang!!" sahut Almira.
"Makanlah Mira, kasihan calon bayi kita kalau ibunya susah makan seperti ini!!" kata Xavier.
"Calon apa?? calon bayi? bayi yang mana, bang!!"
"Ya, bayi anak kita lah masa anak monyet?? anaknya Kebebitak dong!!" goda Xavier pada sang istri.
"Ishhh, jijiknya...dengar namanya aja aku sudah jijik!!" kata Almira.
"Ibu hamil ngga boleh ngomong begitu, abang ngga mau anak kita punya rupa seperti Kebebitak."
"Tapi kenapa abang yakin banget kalau Mira itu hamil??" tanya Almira penasaran.
"Kamu cek aja pakai test pen eh...test pack...buktikan jika ucapan abang itu ngga salah."
"Jika ucapan abang salah maka kita mainnya hanya sampai 2 ronde saja, tetapi jika ucapan abang benar kita setiap hari mainnya sampai subuh ya...!!"
Almira berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang ucapan suaminya itu.
"Kok buat Mira ngga ada untung-untungnya ya bang?? kok untungnya buat abang semua?" tanya Mira.
Xavier tertawa geli melihat perubahan wajah Almira.
"Ya iyalah untungnya buat abang semua!!" kata Xavier sambil mencubit hidung istrinya yang menggemaskan itu.
Tanpa mereka sadari ada 3 pasang mata yang menatap mereka dengan perasaan yang berbeda-beda.
"Almira hamil?? waduh tambah berat aja musuh yang dihadapi oleh ibunda ratu nantinya!!" kata Levia perlahan.
"Mira, kamu itu tidak pantas memiliki Xavier...lelaki dewasa pasangannya harus wanita dewasa sepertiku, apa enaknya bercinta dengan gadis tengil sepertimu??" Sheira menelan ludahnya dengan wajah yang mengelam.
Sementara di sisi yang lain Xavana juga memandang Almira tak berkedip.
"Seandainya kamu hamil anakku, alangkah sempurnanya hidupku!!" gumam Xavana.
*****
"Tosiro!!! sudah dua hari aku tak melihat Kadir, kemana anak itu ngelayapnya? heran, jadi ular aja kerjanya sudah ngelayap melulu, apalagi kalau jadi manusia?? bisa lupa pulang, tu anak."
"Aku malah suka tuh anaconda ngga pulang-pulang, sebab jika dia di rumah pasti ada aja yang membuat kita bertengkar."
"Aku tuh suka sama Kadir dia itu lucu, imut dan menggemaskan!!" kata kakek Kojiro.
__ADS_1
Kakek Dahlan mendelik besar kearah Kojiro. Sesaat kemudian tawanya meledak.
"Huahahaha...!!"
"Apa yang lucu?? apa yang kamu tertawakan?" tanya kakek Kojiro pada kakek Dahlan.
"Kamu bilang Kadir itu lucu, imut dan menggemaskan?? hello...apakah kamu datang dari zaman masa prasejarah?? Karena bisa saja tuh Kadir berasal dari telur purba di zaman itu dan baru menetas sekarang, dan karena pergeseran waktu membuat kulitnya hitam pekat tak karuan!! Celotehan kakek Dahlan malah membuat suasana makin hening.
Sementara Kadir sedang mengamati sekitar rumah besar milik tuan August ayah Angkat dari Tristan dan Gabriela.
"Aku tak mungkin salah mengikuti...inilah tempat kediaman pemuda yang telah menolong Almira itu." batin kadir.
Benar saja kesabaran Kadir yang membelitkan tubuhnya di atas sebuah pohon tak jauh dari rumah itu.
Tristan keluar bertelanjang dada tampak otot-otot dada dan lenganya serta roti sobek di perutnya semakin bertonjolan membuatnya semakin macho.
Rupanya dia habis selesai berlatih dan sedang mencari angin di luar.
"Keluarlah...jika kamu berniat baik jangan bersembunyi di balik dedaunan itu!!"
"Tak ada gunanya aku bersembunyi di sini, toh dia telah tau aku ada di mana." batin Kadir.
Kadir mendesis lalu turun dan meluncur perlahan.
"Ahaaa...kau seekor ular kobra ternyata, tetapi mengapa feelingku mengatakan bahwa kau ini bukan sembarang ular??"
Tristan tersenyum melihat siapa yang muncul di depannya.
"Hai...ada keperluan apa kamu menemuiku wahai ular tampan?" tanya Tristan masih tersenyum.
Tampak Tristan saling berkomunikasi dengan Kadir.
"Maksudmu aku adalah salah satu dari orang terpilih? apa buktinya!!" tanya Tristan penasaran.
Ssssssszzzzzz
"Kalung?? iya aku memang memakai kalung...kata ayahku sekitar 20 tahun yang lalu saat aku dibawa kemari ternyata ibuku sudah meninggal dan hanya aku yang tersisa.
"Kalung inikan maksudnya??" kata Tristan sambil mengeluarkan kalung dari lehernya tapi ternyata kalung itu sama sekali tak bisa dia lepaskan.
"Apakah Almira termasuk salah satu dari 4 unsur itu?" tanyanya yang langsung di iyakan oleh Kadir.
Wajah Tristan nampak berubah. Ada gurat bahagia di wajahnya.
"Jadi 2 hari lagi dati sekarang, baiklah...aku pasti akan datang untuk bergabung dengan kalian melawan kekuatan ratu iblis itu."
"Terima kasih ya Kadir, sekarang kamu pulanglah sampaikan juga salamku untuk Almira ya!!" ucapnya.
Kadir merayap lalu menghilang di kegelapan malam.
"Aku pasti akan hadir di sana untuk melindungimu Almira." gumam Tristan.
****
"Sera, dua hari lagi purnama merah itu akan terjadi...biasanya saat itulah bentrokan tenaga dalam dari golongan putih dan golongan hitam terjadi.
Kita juga harus berada di sana karena ada Xavier dan Almira sedang berjuang di sana.
"Maka dari itu, persiapkanlah diri kita Sera, tentu ratu Hikaru akan datang bersama para sekutunya.
"Semoga golongan putih akan menang karena terus terang aku teramat lelah hidup dalam ancaman bahaya terus, yah...aku ingin hidup bahagia bersamamu!!" kata Serafin.
"Semua orang pastilah memimpikan hidup bahagia, Serafin tetapi jika ratu jahat itu masih hidup tentu akan lain ceritanya." kata Giandra.
"Kamu berdoa saja...kita semua akan membantu doa untuk keempat orang yang akan menghadapi Hikaru ini."
"Bang, jika benar Almira sedang hamil muda...mampukah Almira mengalahkan Hikaru? Almira juga khawatir pada bayi yang Almira kandung!" kata Almira.
"Abang akan selalu melindungimu dan anak kita, Mira...sekarang kita tidur ya, banyaklah beristirahat!!" Xavier memeluk istrinya agar tidur dalam posisi nyaman.
Jauh di lembah sunyi...
Hiro tampak duduk termenung di gazebo perguruannya.
"Dua hari lagi purnama merah itu akan terjadi, di sana ada Almiraku yang akan bertarung dengan Hikaru!!"
"Aku ingin sekali pergi melihat pertarungan itu, tetapi apakah ayah dan ibu mengijinkanku?"
"Sudah lama sekali rasanya aku tak pernah lagi mendengar celotehan dari mulut si ceriwis itu...si ceriwis tapi ngangenin!!" senyum Hiro mengembang teringat akan semua kenangan indahnya bersama Almira.
"Mengapa harus Xavier?? mengapa bukan aku??"
"Hiro..."
Suara Daniah yang tiba-tiba ada di belakangnya begitu mengejutkannya.
*
*
***Bersambung...
Di saat pertarungan akan di mulai, Almira tengah dalam keadaan hamil muda, bisakah dia menghadapi ratu Hikaru bersama 3 orang terpilih lainnya??
Jangan lupa ikuti terus lanjutannya ya reader🙏🙏
.
__ADS_1