
"Jangan pak, dipikir bibir saya ini lolipop? Main ***** aja?" Bisik Mira juga ketelinga Xavier seperti seorang anak kecil yang tengah berbisik-bisik pada temannya.
"Sudah ngga marah lagi ceritanya nih!! Sudah kelar nih cemburunya!!" Kataku tersenyum menggodanya.
"Saya ngga bisa lama-lama marah sama calon ibu dari anak-anak saya." Xavier membelai lembut rambut hitam Almira.
"Ya sudah masuk kelas sana, ntar pulang tunggu saya ya...jangan pura-pura bego ngacir pulang duluan." Xavier memberi wejangan pada Almira.
Akhirnya Xavier dan Almira berlalu dari sana tanpa menyadari ada dua orang yang ada di balik pohon itu sedang menguping pembicaraan mereka.
Setelah Almira dan Xavier pergi, dua orang yang bersembunyi itu ternyata adalah Levia dan Sima keluar dari persembunyiannya sambil tersenyum smirk.
"Bagaimana nona Levia? Apakah anda tidak cemburu melihat pangeran berkuda putihmu teramat menyayangi Almira?" Sindir Sima pada tuan putrinya.
"Biarkan saja dulu Sima, waktu itu kita gagal saat obat perangsang yang kamu masukan bisa di atasi oleh Mira dan Xavier...masih banyak waktu bagi kita untuk bermain-main dan memisahkan mereka."
*
*
"Assalamualaikum..."
"Kakek Kadirku di mana?" Begitu pulang kuliah yang dicari Almira adalah Kadir.
"Ada tuh lagi mandi di dapur!!" Sahut kakek sambil mencabuti rumput di samping rumah.
"Awas pinggang encok!!" Sapaku sambil berlalu ke dapur.
"Astaghfirullah...kakek..." Almira menjerit histeris dari dapur.
Tergopoh-gopoh kakek Dahlan lari menuju ke dapur.
"Apamu yang kejepit Mira?" Teriak kakek dari pintu tengah.
"Kakek??? Kenapa Kadir dimandikan di dalam panci tempat menanak nasi??" Teriak Mira.
"Kakek pikir Kadir itu sayur sop?" Mira sudah berkacak pinggang.
__ADS_1
"Ahhh kamu ini bikin kaget saja Mira...kakek pikir kamu tadi kejepit atau disengat tawon!!" Kakek Dahlan menggerutu.
"Lagian tuh Kadir masuk sendiri ke dalam panci!! Di dapur ada baskom sama panci kok malah milih masuk ke panci."
"Aduh....kasihan Kadir anakku...mana pancinya habis dipakai untuk menanak nasi lagi...teganya kakek, lihat badan Kadir dari ujung ekor sampai ke kepalanya penuh nasi, matanya sampai ngga kelihatan ketutupan nasi, kakek!!" Seru Almira.
"Lagian tadi sebelum masuk ke panci, Kadir kakek suruh kemana?" Tanya Almira.
"Kadir kakek suruh berenang di laut supaya bau amis, lendir dan bercak-bercak panu di badannya hilang!!" Kakek Dahlan nyengir.
"Ya iyalah kakek...pasti badannya Kadir gatal dan perih semua...lagian yang bercak-bercak itu bukan panu kakek...itu corak kulit badannya Kadir." Almira sangat panik melihat anak angkatnya bergelung di dalam panci yang penuh dengan sisa-sisa nasi itu.
"Anak pungut sama emaknya sama, sama-sama lebay bin alay!!" Cibir kakek Dahlan.
"Pokoknya semenjak ada si hitam belitat, yang mirip sama pantat kuali itu, Mira sudah ngga sayang sama aku lagi!!"
"Perhatian dan kasih sayangnya hanya tertuju pada bocah ular sialan itu...awas saja, nanti kalau sudah besar mau kubikin rica-rica dan dendeng Kadir." Kakek Dahlan terus menggerutu.
"Ayo sini mama sabuni dan mandikan pakai air hangat..." Mira mengangkat Kadir dari dalam panci penuh dengan kasih sayang.
"What??? Air hangat??? Aku yang tua bangka ini aja mandi pakai air keran...kenapa ngga di mandikan pakai air mendidih aja sekalian? Siapa tau kulitnya bisa berubah menjadi kobra putih albino...jadi sedap juga dipandang mata, ngga seperti sekarang ini badan kok hitam pekat, panuan lagi!!"
"Kadir sudah makan nak?" Dengan telaten Mira memandikan binatang kesayangannya itu.
"Belum? Kamu disuruh kakek cari kodok sendiri di sawah? Keterlaluan kakek Dahlan ini...sawahnya siapa di sini?"
"Sudah kamu cari tikus aja di belakang rumah, tikus di sini segede gaban...makan satu aja kamu kenyangnya setahun."
"Apa? Ngga suka tikus? Cerewet juga si Kadir ini, kamu mau makan apa? Nasi sama ikan mau? Ya sudah, sini keringkan dulu badanmu pakai handuk kakek Dahlan!!" Kata Mira
"Apa? Jangan pakai handuk kakek, nanti sisik-sisik Kadir lengket di handuk kakek nanti handuk kakek amis semua." Seru kakek Dahlan.
"Ya sudah kalau ngga boleh pakai handuk kakek, pakai sarung kakek aja!!" Mira bersiap mengambil sarung kakeknya.
"Gila kamu Mira, tadi handuk sekarang sarung...ngga...ngga ...kakek ngga mau seluruh kutu, tuma, panu Kadir lengket di sarung kakek!! Kamu pakai handukmu sendiri aja sana!! Kakek Dahlan bertambah gusar.
"Kakek kan tau kalau Mira itu ngga punya handuk...kalau Mira mandi hanya kering-kering di badan gitu aja!! Lagian kan Mira itu jarang mandi!!" Ujar Mira pelan.
__ADS_1
"Kok ada ya anak gadis jorok seperti kamu ini? Heran gadis jorok begini kok banyak yang naksir?" Kakek Dahlan geleng-geleng kepala antara jengkel dan kesal.
"Intinya ya kakek, walaupun kita jarang mandi, yang penting badan kita selalu wangi...orangkan ngga mungkin nanya kamu sudah mandi apa belum? Ya kan?" Mira berceloteh lagi.
"Tau ah...capek yang ada kalau adu debat sama kamu ini, ngga akan kelar masalahnya dari pagi ketemu sore terus ke pagi lagi...intinya jangan berani-berani pakai handuk kakek apalagi sarung kakek titik ngga pakai koma."
"Kalau masih tetap nekat mau pakai juga, akan kakek kikis habis sisik-sisik di badan Kadir, kakek ngga main-main Shahnaz Almira.!!" Ancam kakek serius.
"Iya...iya...Almira keringkan pakai baju Mira aja!!" Almira tau kalau sampai kakek Dahlan sudah menyebutkan nama aslinya, berarti si kakek tidak sedang bermain-main lagi.
"Maaf ya nak...keciannya anak mama...sana...sini ngga diterima oleh khalayak ramai." Almira memeluk Kadir sambil memberikannya semangat.
"Tapi Kadir jangan khawatir, mama akan selalu sayang dan cinta sama Kadir." Seolah mengerti perkataan majikan cantiknya, ular itu menjilati pipi Almira sebagai ucapan terima kasih.
Dari jauh kakek Dahlan bergidik ngeri melihat keakraban Kadir dan Almira.
"Dijilat Kadir? Didekati aja aku ogah, apalagi dijilatnya...hihhhh bisa kencing di celana aku." Gumam kakek Dahlan.
*
*
"Honey...mengapa kamu selalu meninggalkanku sendirian di apartemen? Tak tau kah kamu bahwa aku selalu kesepian?" Valeria menyambut Aliandhara yang baru saja datang menjenguknya di apartemen.
"Maaf Valeria, di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi...ya mungkin dulu kita sepasang suami istri tapi sekarang status kita sudah berbeda."
Aliandhara lalu duduk di sofa sambil menyalakan televisi.
Dengan genitnya Valeria berjalan berlenggak lenggok dengan hanya memakai daster tipisnya lalu duduk dengan seenaknya di pangkuan Aliandhara.
"Turun dari pangkuanku Valeria, aku sedang lelah dan banyak pikiran sekarang...jangan sampai menambah beban pikiranku." Aliandhara mendorong Valeria agar menjauh dari pangkuannya.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Akhirnya bisa up lagi ditengah sibuknya pekerjaan...
Beri semangat author selalu ya reader...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih😊😊🙏🙏