
"Tapi kamukan tau, Rangga...dalam aturan bangsa kita aku masih resmi sebagai istri Matsuyama kecuali Matsuyama sendiri yang berkata telah menceraikan aku, barulah aku bisa bebas dan bisa menikah dengan lelaki manapun." Kata Bonita.
"Ya kalau begitu kita harus segera mencari suamimu itu untuk segera menceraikanmu!!" kata Rangga.
"Mencarinya berarti aku harus pergi dari sini??" kata Bonita.
"Bukan aku, dinda tapi kita berdua...aku tidak mungkin membiarkan calon ibu dari anakku berjalan sendiri menempuh bahaya di luar sana...aku akan ikut dinda, kita akan cari Matsuyama bersama." Kata Rangga mantap.
Bonita meneteskan air mata. Dia begitu terharu mendengar ucapan tulus dari laki-laki yang telah menghamilinya itu.
Akhirnya mereka berdua memutuskan pergi dengan diam-diam dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuk ibu dan ayahnya.
Ayah dan ibu sebelumnya Bonita mohon ampunan dari kalian berdua untuk Bonita, untuk ayah sekaligus untuk bayi yang Bonita kandung. Bonita dan Rangga pergi untuk mencari Matsuyama, agar dia menceraikan Bonita dan Bonita bisa hidup bersama Rangga membesarkan buah hati kami. Bonita tidak tau berapa lama Bonita dan Rangga akan pergi, kami berdua minta restu ayah dan ibu...sekali lagi maafkan kami ya ayah...ibu!!
Istri Bara Seta terduduk lemas setelah membaca surat dari putrinya itu.
"Sudahlah bu, mereka sudah dewasa...sebenarnya ayah juga kecewa dengan putri kita yang terlalu mudah menyerahkan tubuhnya untuk laki-laki lain, tetapi ini mungkin memang sudah jalannya."
"Biarkan Bonita dan Rangga menyelesaikan masalah yang sudah mereka buat sendiri!!" ucap Bara Seta.
"Tapi yah, Rangga hanya seorang tukang kebun istana, pantaskah bersanding dengan putri kita??" tanya istri Bara Seta.
"Bu, ingatkah dulu ibu siapa ayah sebelum menikah dengan ibu??? ayah hanya seorang tukang kuda istana, tetapi seorang putri cantik jelita jatuh cinta pada ayah..." kata Bara Seta sambil memeluk erat istrinya.
"Dan ibu bersyukur sebagai seorang pemimpin biasanya mempunyai banyak selir tetapi ayah tetap memilih bertahan dengan satu wanita saja!!" kata istri Bara Seta sambil balas memeluk suaminya.
"Ayah tidak mau pusing bu, masih banyak urusan kerajaan yang harus ayah pikirkan ketimbang memikirkan soal perempuan saja, mengurus satu wanita cantik ini saja ayah sudah kewalahan, apalagi kalau lebih dari satu...bisa gila ayah!!" sepasang suami istri itu kemudian tertawa.
Sepasang muda mudi yang tadi makan di rumah makan itulah Rangga dan Bonita.
Sepanjang menikmati santapannya Bonita berpikir keras. Dia yakin pernah melihat dua pasang muda mudi yang tampaknya mereka kakak beradik yang di katakan si lusuh oleh pemilik rumah makan tadi, tapi di mana dia pernah melihatnya ya?" dia terus berpikir sampai Rangga menyapa kekasihnya itu.
"Apa yang kamu pikirkan dinda?? kamu masih merasa mual??" tanya Rangga penuh perhatian pada kekasihnya itu.
"Tidak kanda, aku tidak apa-apa hanya saja aku sedang berpikir sepertinya aku kenal dengan dua orang yang baru masuk itu tapi aku lupa di mana, dari wajahnya juga seperti familiar bagiku." Kata Bonita sambil makan.
"Ya sudah percepat makannya dinda, jangan sampai kita kemalaman di jalan!!" kata Rangga.
Sementara itu Rana dan Rini yang memang merasa diikuti mempercepat langkah mereka dan begitu tiba di tikungan mereka bersembunyi untuk melihat siapa penguntit mereka itu.
"Hilang??? cepat banget mereka hilangnya??" kata salah seorang berjubah hitam itu.
"Cari, sepertinya mereka masih ada di sekitar sini!!" kata temannya.
"Kalian mencari kami??" tanya Rini keluar dari persembunyiannya sambil menyeringai.
"Siapa kalian ini??? mau apa mengikuti kami?? apa kalian mau kami menelan kalian bulat-bulat??" kata Rina lagi.
__ADS_1
"Akhirnya kalian muncul juga dari persembunyian wahai siluman ular!!" kata pimpinan orang berjubah memandang sinis pada Rana dan Rini.
"Apa??? kalian menyebut kami siluman?? sepertinya aku mencium aroma pisang busuk dari tubuh kalian, pasti kalian ini juga adalah siluman monyet.
"Hei para monyet...apakah kalian tidak takut dimakan oleh para siluman ular ini??" tanya Rini lagi sementara Rana hanya diam sambil mengawasi keadaaan.
"Dasar siluman busuk, beraninya kamu mengatai kami siluman busuk. wahai kau siluman ular yang payah??" kata salah seorang dari si jubah hitam.
"Ngga nyadar diri....jubah kalian itu lebih bau dari pada baju lusuh kami ini, kami lusuh karena terkena debu jalanan sementara kalian memang bau karena tidak mau mandi dan tidak mau mengenal air!!" umpat Rini tak mau kalah.
(Memang kalau soal berdebat perempuan memang ahlinya bersilat lidah, ya??😁😁).
"Hei nona...mengapa selalu saja kamu yang bicara, apakah saudaramu itu bisu, tuli atau bisu tuli, hah...?? sayang...anaknya Sinoe ini ganteng-ganteng ternyata bisu tuli." Jawab mereka mengejek Rana dan Rini.
"Sudahlah sebenarnya langsung aja, apa tujuan kalian mencegat kami berdua di sini??" tanya Rana akhirnya buka suara.
"Oh ternyata bukan bisu dan tuli, thoh!!!!" hahaha....
"Kami mencegat kalian di sini pertama memang diembankan tugas oleh panglima kami untuk membunuh kalian berdua, dan yang kedua kami memang memburu hadiah!!"
"Sepuluh keping uang emas untuk kepala kalian berdua!!" jawab pimpinan dari orang berjubah itu.
"Oalah....untuk uang thoh...terus setelah mendapat hadiah uang emas itu kalian mau apakan?? untuk main perempuan atau untuk membeli makanan??" tanya Rana yang gantian mengejek keempat si jubah hitam itu.
"Memang ada perempuan yang mau dengan mahluk berbulu dan berekor seperti kalian??"
"Terus kalau untuk berfoya-foya membeli makanan, memang makanan manusia itu cocok dengan lidah kalian?? paling juga kalian kembali ke habitat asli sukanya makan pisang, pisangnya pisang busuk, lagi!!" kedua kakak beradik itu kontan serentak tertawa.
"Ayo kita bunuh mereka berdua, masa kita berempat kalah dengan dua bocah ingusan??" lalu mereka berempat serentak menyerang.
Tetapi keempat orang berjubah hitam itu lupa siapa lawan yang mereka hadapi.
Walaupun masih sangat muda, tetapi keduanya adalah putra dan putri siluman ular sanca raksasa Sinoe yang menjadi junjungan ratu Hikaru semasa hidupnya.
Mereka berempat lupa bahwa kodratnya kera itu menjadi makanan ular raksasa.
Kedua anak Sinoe walaupun masih muda tetapi memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
Walaupun keduanya terkurung oleh gencarnya pukulan dan tendangan dari keempat mahluk berjubah hitanm itu tetapi Rana dana Rini masih bisa tertawa-tawa seolah keempatnya adalah hiburan untuk mereka berdua.
Hingga di suatu kesempatan Rini menyemburkan bisa ular dari dalam mulutnya.
Keempatnya sontak menghindar tetapi sial bagi salah satu dari antara mereka, karena salah memilih posisi lompat, maka tubuhnya terlempar dengan tubuh gosong dan dada bolong terkena racun mematikan itu!!
"Jadi kera gosong dah dia..." kata Rana.
Kita tinggalkan dulu perkelahian ketiga orang berjubah hitam dengan kedua anak Sinoe itu....
__ADS_1
*******
"Kamu jadi menjemput istri dan anakmu hari ini, Matsuyama??" kata Giandra saat melihat Matsuyama memanaskan mesin mobilnya.
"Jadi yah....ini Matsuyama sedang bersiap-siap!!" kata Matsuyama.
"Cepatlah bawa Mira kembali ya...kami merindukan cucu kami!!" kata Serafin kepada menantunya itu.
"Siap bu...ibu dan ayah tunggu saja di rumah, paling besok kami sudah ada di peternakan lagi."
Matsuyama membawa cadangan bensin dan ban mobil, karena perjalanannya cukup jauh. Dia tidak mau terjadi sesuatu saat di perjalanan nanti!!
"Siapkan semua dengan baik Matsuyama, karena kamu mau membawa istri dan anakmu pulang bersama denganmu!!" kata Giandra mewanti-wanti Matsuyama.
*******
"Bang Ali, Alia, Redo, Mira titip ayah Kelvin ya...juga bang Xavier Mira titip ayah Kojiro."
"Xander dan Revita, Mira bawa pulang ke peternakan dulu ya!! nanti jika mereka bosan Mira bawa balik ke mansion lagi!!" kata Almira.
Tuan Kelvin memeluk putri semata wayangnya. Disusul oleh Aliandhara, Xavier dan yang lainnya.
"Hati-hati di jalan ya, nak!!" kata tuan Kelvin."
"Dek, aku pasti akan sangat merindukan dirimu!!" kata Aliandhara dan Xavier.
"Jaga dirimu baik-baik ya...!!" pesan mereka.
"Ayah....Revita sama Xander pergi bersama mommy dulu, ya!!" kata si cantik Revita.
Xavier menciumi kedua buah hatinya terakhir dia mencium Miranda dan memeluk Almira sekali lagi.
"Abang akan selalu merindukanmu, dek!!" Xavier berbisik ketelinga Almira.
"Jaga anak-anak kita selama di sana, ya!!" sekali lagi Xavier berpesan sambil membelai rambut Almira.
Tak lama mobil yang dibawa Matsuyama tiba, di halaman mansion...setelah berbasa basi sebentar Matsuyama membawa istri dan anak-anaknya pulang ke peternakan.
"Sayang...abang kangen!!" kata Matsuyama memeluk istrinya, membuat Aliandhara dan Xavier berpaling dengan kesal.
"Halo anak-anak, daddy kangen sama kalian semua!!!" kata Matsuyama.
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Kejutan apa selanjutnya yang akan menunggu keluarga kecil itu???
Ikuti terus kisah mereka ya reader dan jangan lupa dukungannya.