
"Kita memang seharusnya bersiap-siap untuk menghadapi mahluk-mahluk jahat itu...jika ada kesempatan sebaiknya kita musnahkan saja.
"Ayah benar, dari pada kita terus menerus di ganggu?? kasihan juga anak-anak di rumah kakeknya mau kujemput takut keadaan masih terombang ambing seperti ini..."
"Hati-hati lho Matsuya, istrimu itu cantik banget, berderet pria tampan mengantri di belakangnya termasuk sang mantam suami!!" kekeh Giandra.
Matsuyama terdiam sesaat lalu dia menjawab.
"Ayah, Matsuya sudah kenal Almira...dia bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta, kesetiaannya tak perlu diragukan lagi...hanya lelaki bodoh yang melepaskan cinta seperti cintanya."
"Matsuya percaya jika kami masih berjodoh, sejauh apapun kami pasti bertemu dan bersama lagi!!" kata Matsuyama membuat Giandra tersenyum bangga pada pemikiran pemuda 22 tahun itu.
Walaupun usianya masih muda, tetapi soal kematangan berpikir, dia jauh di atas Xavier yang terkadang sering mendahulukan egonya.
Matsuyama juga cepat dalam mengambil suatu tindakan, orangnya tenang walau dalam situasi apapun dia tetap bisa berpikir jernih sehingga bisa memutuskan sesuatu secara tepat dan cepat.
Orangnya pun humoris sehingga di manapun dia berada dia selalu disukai banyak orang.
Rambut gondrongnya dibiarkanya melewati bahu terkadang dia ikat terkadang dia ambil dari sisi kedua telinga lalu dia jepit kebelakang.
Penampilan Matsuyama memang seperti samurai-samurai di Jepang zaman dulu.
"Kamu mau kemana??" tanya ayah mertuanya saat melihat Matsuyama berlalu.
"Pulang, yah...mau tidur!! Matsuya ngantuk banget!! pengen istirahat dulu tapi paling sambil semedi." Katanya.
******
"Matsuya...Matsuya..."
"Di mana lagi anak bandel itu bersembunyi??" gerutu seorang wanita berusia kurang lebih 30 an tahun.
"Ada apa sih, bu?? biarkan saja kenapa??" tanya suaminya.
"Ibu kesel yah...rambutnya mau dicukur supaya rapi dan tampan seperti Hiro, ini malah ibu diajak oleh Matsuyama main kucing-kucingan begini??" gerutu Miku istri kedua Kakegawa.
Setelah Abesira ibu kandung Hiro dan Sima meninggal sehabis pertempuran melawan ratu Hikaru waktu itu, tiga tahun kemudian saat usia Hiro dan Sima genap 6 tahun, ayahnya menikah lagi dengan Miku pengasuh Hiro dan Sima diperguruan.
Miku tak pernah membedakan kesayangan antara Matsuyama anak kandungnya denga Hiro dan Sima anak tirinya, dia menyayangi ketiga buah hatinya itu.
"Ada apa bu??" kata Hiro yang kala itu sudah berusia 9 tahun.
"Adikmu...ibu mau mencukur rambutnya dan merapikannya tetapi dia malah kabur-kaburan lagi seperti sekarang ini." gerutu ibu mereka.
"Hiro tau kemana adik Matsuya kabur!!" kata Hiro tersenyum nakal.
"Ibu lihat!!" kata Hiro menunjuk adiknya yang kabur membawa makanan dan minuman.
Bocah nakal itu bersembunyi di belakang tumpukan kayu bakar ayahnya sambil mulutnya tak bisa berhenti mengunyah makanan yang dibawanya dari rumah saat hendak kabur tadi.
"Oooo...di sini rupanya si gondrong ini bersembunyi ya...sekarang kamu mau kemana lagi?? mau coba kabur lagi dari ibu?? ooo tidak bisa!!" Miku menarik tangan Matsuyama dan membawanya ke teras untuk dicukur rambutnya.
Sambil menangis Matsuyama terus merengek agar rambutnya jangan dibabat habis nanti ngga keren lagi, katanya.
Setelah itu Matsuyama berubah jadi lebih pendiam dan murung. Hingga akhirnya karena perkara rambut membuat Matsuyama jatuh sakit.
"Kan...apa ayah bilang tempo hari?? Ibu ngeyel sih...biarkan saja dia memanjangkan rambutnya bu, toh rambut Matsuyama bagus aja ngga kutuan kok!!" bela sang ayah.
Sejak saat itu kemanapun Matsuyama pergi selalu disangka perempuan.
*****
Matsuyama menurunkan sayur mayur dan ikan mas yang dipesan oleh pemilik restoran di kota. Lalu telur bebek pesanan juga sudah dia turunkan.
Karena tubuh kekarnya berkeringat sehabis menurunkan sayuran, ikan dan telur dari mobil pick up, tubuh Matsuyama penuh dibanjiri keringat.
Tubuh kekar dan dada bidang Matsuyama tampak berkilau terkena cahaya matahari membuat wanita manapun yang melihatnya pasti terpesona.
"Hai...gondrong tampan!!" goda beberapa orang wanita yang lewat di sampingnya.
Matsuyama hanya menanggapinya dengan senyuman biasa saja.
Mata hazel dihiasi bulu mata lentik, bibir sexy miliknya dan hidung mancungnya. Semenjak dia menikah dengan Almira, dia jauh lebih dewasa dan tidak slengean lagi seperti dulu. Begitupun saat digoda oleh kaum hawa, dia menanggapinya dengan biasa saja.
"Bang, ada salam dari nona kami!!" tiba-tiba ada seorang pria muda yang datang menghampirinya.
Matsuyama telah selesai menurunkan barang dan membawanya ke dalam restoran. Dia mengikat kaos yang dipakainya kepinggang dan bersiap menaiki mobil pick upnya saat seseorang menyapanya.
Matsuyama memutar badannya menghadap si penegur tadi.
"Maaf, kamu siapa ya?? aku tidak mengenal siapàpun di sini kecuali pemilik restoran ini!!" kata Matsuyama memandang pemuda dihadapannya.
__ADS_1
"Itu nona muda kami!!" tunjuknya pada seorang wanita yang tengah duduk di dalam mobil dengan jendelanya yang terbuka.
Di dalam mobil mewah itu duduk seorang gadis cantik memakai kimono tetapi dengan rambut hitam panjangnya yang terurai wajahnya khas wanita jepang dengan bola mata bulat seperti mata boneka Chucky eh salah...seperti mata boneka barbie!!"
"Aku tidak mengenal siapa nona mudamu, lagi pula aku buru-buru...hari sudah siang...aku masih banyak pekerjaan di rumah!!" tolak Matsuyama.
"Ayolah tuan tampan...sebentar saja, nanti nona muda kami kecewa dan akibatnya aku dan temanku akan dihukum oleh nona!! kata pemuda itu.
Akhirnya Matsuyama menerima ajakan pemuda itu untuk mendekat pada mobil gadis cantik itu.
"Nona Akiko...ini pemuda yang nona tanyakan tadi!!" kata pelayan setianya.
Dia tersenyum pada Matsuyama...cantik sekali, pipinya kemerahan terkena cahaya matahari pagi.
"Ada apa anda meminta saya kemari nona?" kata Matsuyama dengan sopan.
Aku melihatmu dua minggu kemarin tampan, sejak itu aku selalu menunggu di sini menunggu kehadiranmu..." kata Akiko.
"Maaf... Memangnya ada perlu apa ya, anda menungguku??" kata Matsuyama heran.
"Aku ingin berkenalan denganmu!!" kata Akiko lagi.
"Sekali lagi maaf nona, nona salah orang...aku sudah menikah dan anakku sudah dua, satu berumur 4 tahun dan yang satu berumur 7 bulan." Kata Matsuyama.
Lalu Matsuyama memperlihatkan cincin yang terbuat dari emas putih yang melingkar di jari manis tangan kanannya pada Akiko.
"Lalu mengapa memangnya jika kamu sudah menikah?? aku berani bertaruh istrimu itu tidak secantik aku, iya kan?" kata Akiko percaya diri.
"Matsuyama walaupun mulai kesal dengan gadis yang berani menggoda laki-laki yang ada dihadapannya itu, tetapi dia masih berusaha bersikap baik dan sopan.
"Nona, maaf...mungkin saja istriku tidak secantik anda...tetapi saat janji pernikahan dulu, kami berdua sudah saling berikrar untuk sehidup semati dalam suka dan duka, susah dan senang kita akan menanggungnya bersama!!" kata Matsuyama.
"Lagi pula bagaimana nona bisa menyimpulkan bahwa anda lebih cantik dari istriku sedangkan nona belum pernah melihatnya, nona belum pernah bertemu dengan istriku!!" tandas Matsuyama.
"Maaf nona, jika tidak ada keperluan lagi, aku mau pamit untuk pulang...hari sudah lumayan siang, keluargaku sedang menunggu di rumah!!" kata Matsuyama.
"Siapa namamu gondrong tampan??" tanya Akiko sambil tersenyum genit.
"Panggil saja aku Cowy!!" kata Matsuyama tanpa mau memberi taukan nama aslinya.
Cowy adalah nama panggilan kesayangan Almira untuknya saat mereka masih bersahabat dulu...yang artinya cowok chuby.
Matsuyama jadi tersenyum mengenang nama panggilan Almira untuknya. Sahabat jadi cinta yang kini telah dia nikahi.
Akiko tersenyum simpul.
"Ikuti mobil pick up si gondrong yang telah memikat hatiku itu!!" perintahnya pada sang supir.
Matsuyama bukan orang bodoh yang tak tau mobil pick up miliknya diikuti sejak dari restoran tadi.
Dia sengaja berputar-putar untuk mengecoh si penguntit.
"Sialan pemuda gondrong itu..." umpat sang supir.
"Ada apa??" tanya Akiko.
"Sepertinya dia tau jika kita sedang menguntit mobilnya sengaja kita dibawanya berputar-putar sampai kita kehilangan jejaknya."
"Dasar pemuda gondrong yang nakal!!! kamu tak akan pernah lepas dari tanganku, gondrong...tidak peduli kamu sudah beristrikah...sudah punya anakkah...aku menyukaimu dan kamu harus jadi milikku!!"
"Kita berbalik...cukup hari ini kita mengikutinya, masih ada hari esok untuk memikat hati si gondrong tampan itu." kata Akiko sambil tersenyum.
"Gila...ada ya, zaman sekarang wanita mengejar-ngejar laki-laki?? aku malah serasa jadi ayam potong yang dikejar-kejar mau dipotong leherku!!" kata Matsuyama.
Matsuyama tiba di peternakan sudah cukup siang.
Ayah mertuanya sedang menanam sayur di belakang dan ibunya sedang memetik buah-buahan untuk dibuat selai.
Jauh di padang rumput yang masih diberi pagar kayu, tampak Koko dan Kiki si anjing penjaga yang tak biasa itu sedang bermain sambil menjaga ternak-ternaknya.
"Kenapa kamu baru kembali, Matsuya??" tanya ibunya.
"Tadi ada sedikit rintangan kecil, bu!!" jawabnya.
"Kamu bersihkan dulu tubuhmu, kita akan makan siang bersama." Kata Serafin.
Matsuyama menurunkan kebutuhan pokok yang tadi dia beli dari kota.
Sambil melepaskan penat, dia duduk di sofa depan perapian.
"Sedang apa kamu dan anak-anak di sana sayang??" bisik Matsuyama dan entah mengapa dia begitu merindukan suara lembut nan merdu itu.
__ADS_1
*****
Tak jauh berbeda dengan keadaan Matsuyama yang penuh godaan, di mansion tuan Kelvinpun saat diadakan jamuan makan malam oleh para kolega bisnisnya dan Aliandhara...
"Tuan Aliandhara...siapa wanita secantik bidadari yang sedang duduk di taman bersama dengan balita dan bayinya itu??" tanya Juan Carlos sahabat sekaligus kolega bisnisnya.
"Yang mana??" tanya balik Aliandhara yang duduk dipepet terus sejak tadi oleh Desiree.
"Yang rambutnya terurai panjang sepinggang, memakai blouse tanpa lengan berwarna biru laut senada dengan warna dua bola matanya...dia sedang bermain dengan dua anak kecil ditemani seseorang yang sedang memangkas rumput." Katanya.
"Ohhh, dia adikku yang sangat cantik bersama putranya dan yang balita itu adalah putraku!!" kata Aliandhara.
"Cantiknya...bisakah kamu mengenalkan si cantik itu padaku?? apakah dia seorang janda atau sudah menikah??" tanya Juan carlos. Pertanyaan yang sangat menjengkelkan untuk dijawab oleh Aliandhara.
"Adikku itu punya suami, jadi jangan kamu berpikiran macam-macam dengannya, oke??" kata Aliandhara dengan raut wajah kesal.
Semua itu tak luput dari perhatian Desiree, perubahan pada wajah Aliandhara saat seorang pria menanyakan soal Almira menandakan dia masih cinta pada gadis itu.
Sementara sang jadi tersangka topik utama malah tenang-tenang saja bermain bersama kedua putranya.
"Mommy...Rafa mau puding itu!!" tunjuk Rafa pada puding yang ada di atas meja.
Almira berdiri.
"Raga....!" panggilnya.
Raga yang sedang membersihkan kolam berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati Almira.
"Nyonya memanggil saya??" tanya nya.
"Raga...minta tolong jaga Rafa dan Xander sebentar, aku mau masuk mengambilkan makanan untuk putra-putraku juga untukmu!!" kata Almira.
"Mungkin bagi Almira arti perhatiannya dengan mengambilkan makanan untuk Raga itu hal biasa...berbeda dengan Raga sendiri yang hatinya terasa berbunga-bunga atas perhatian mantan istrinya itu.
"Memang terbukti bahwa Almira itu baik pada semua orang walaupun itu hanya tukang kebun, berbeda dengan Sullivan dulu yang selalu memandang rendah pada orang lain yang tak selevel dengan dia.
Makin terbukalah mata Raga melihat semua itu dan makin menyesallah dia dengan semua yang telah terjadi.
Dari Almira berdiri di depan pintu hingga saat Almira melangkah ke meja yang penuh makanan itu, semua mata pria disana menatap tak berkedip pada Almira.
Apalagi aroma yang sangat wangi menguar keseluruh ruangan saat si cantik yang kini telah menjadi seorang ibu muda itu semakin mendekat, aroma wangi dari tubuh dan rambutnya.
Tak ada lagi gambaran Almira tomboy seperti dulu, yang ada adalah Almira yang sangat cantik dan anggun.
Kulit kuningnya yang seperti gading dan sehalus batu pualam, rambut indahnya yang harum semerbak saat angin sore bertiup lembut dan dengan nakal memainkan anak rambutnya.
Tuan Kelvin hanya tersenyum melihat kehadiran putrinya. Dengan diiringi tatapan dua pasang mata yang seperti orang kebakaran jenggot melihat wanitanya ditatap sedemikian rupa oleh mata-mata para pria lajang maupun sudah beritri itu.
Mungkin sifat tomboynya sudah menghilang sedikit demi sedikit tetapi tidak dengan sifat cuek bebeknya.
Si cantik bermata biru itu dengan cueknya mengambil nampan mengisinya dengan puding dan kue-kue lalu mengambil minuman dan dibawanya keluar melewati mata-mata yang sudah gemas melihat kecantikan dan kemolekan tubuhnya yang semakin mon*tok dan berisi setelah melahirkan Xander.
"Rafa....Raga...mari kita makan dulu!!" katanya.
"Siapa itu tuan Kelvin??" tanya salah seorang rekannya.
"Dia putri bungsuku!!" jawab tuan Kelvin tersenyum sumringah.
"Cantik sekali putrimu tuan Kelvin, bisakah kita menjodohkan kedua anak kita?" tanya kolega bisnis tuan Kelvin.
Ada dua orang yang telinganya berasap dan kepalanya bertanduk mendengar perkataan orang itu.
Dari sudut meja, Aliandhara merah padam wajahnya dan dari dekat taman Raga yang bisa membaca pikiran dan gerak bibir orang lain, Raga merasa ingin membunuh laki-laki itu dengan tangannya sendiri karena emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
"Raga...kamu masih mau??" tanya Almira mengagetkan Raga.
"Tidak nyonya...aku sudah kenyang kok!!" kata Raga sudah ngga semangat lagi mau makan.
"Raga...."
Almira memegang lengannya Raga dengan lembut.
"Jika kamu masih lapar, aku akan mengambilkannya lagi untukmu!!" katanya dengan lembut.
Raga menggelengkan kepalanya, dalam hatinya berkata, "Aku tak akan membiarkan semua mata mereka memandangmu sayang!!"
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Sadar euyyy Raga...Almira sekarang sudah ada yang punya😊
Jangan lupa dukungannya ya reader🙏🙏🙏