
"Aku hanya bodyquardmu dan ikut membantu mengasuh Rafa."
"Itu sebenarnya tugas tuan muda, mestinya tuan muda bisa lebih mendekatkan Rafa dengan mommynya yang asli...karena mau bagaimanapun, Valeria tetaplah ibunya."
Tapi aku membatin dalam hati, "Haruskah aku ceritakan pada Alia bahwa aku tadi dilemparkan sepucuk surat ancaman oleh seseorang?"
Entah mengapa dalam situasi seperti ini, siapapun bisa jadi tersangkanya tak terkecuali Alia dan pak Xavier.
Aku menatap dalam mata Alia mencoba masuk ke dalam pikirannya, "aneh...tak ada apapun yang di pikirkan oleh gadis ini...aku seolah hanya melihat cahaya putih yang semakin lama semakin terang dan blaammm...."
Aku tersentak...seolah cahaya putih dari pikiran Alia menghantam balik ke arahku.
Sementara Alia masih duduk tersenyum sambil bercerita kepadaku.
"Ada suatu kekuatan besar yang menolak aku masuk dan membaca pikiran Alia," batinku!!"
"Sekarang kamu tinggal di mana, Mira? Tak mungkinkan kamu kembali ke rumah kakekmu yang dulu?" Alia berusaha mencari tau tempat tinggalku dan kakek.
"Aku dan kakek mengontrak di sekitaran tempat tinggal kami yang dulu aja biar deket sama bekas rumah kakek...karena rencananya kakek akan membangun kembali rumah kami yang hancur dulu." Aku berbohong, tapi aku berusaha juga untuk mengosongkan pikiranku agar siapapun Alia, tidak bisa masuk ke dalam pikiranku.
"Padahal kakek mau bangun rumah pakai apa? Pakai ranting sebagai dindingnya dan daun kering sebagai atapnya? Sepeser uang aja kakek ngga punya, mau beli bahan pakai apa? Masa mau di barter sama bulu-bulu kakek?" Pikirku sambil senyum-senyum sendiri.
Mahasiswa dan mahasiswi sudah banyak yang hadir pagi itu kebetulan pagi ini mata kuliah Xavier, jadi semua mahasiswi hadir tak ada yang absen.
Zamannya pak Heru, mata kuliah ini terasa membosankan tapi ketika digantikan oleh Xavier rasanya jadi menyenangkan. Xavier orangnya lucu dan ramah, dia tau menempatkan keadaan...waktunya kita terlalu berpikir serius, dia selingi dengan candaannya hingga suasana jadi tak monoton dan membosankan. Apalagi ditambah nilai plusnya, pak Xavier itu ganteng, keren dan tentu saja masih jomblo.
"Selamat pagi saudara-saudari sekalian..." Dengan senyumnya yang maniezzzz pake banget, dia menyapa kami semua.
"Pagi pak..." Kami menjawab kompak.
"Mira...kenapa ya, kalau kuperhatikan semakin lama...wajah pak Xavier itu ada kemiripan denganmu??" Bisik Alia.
"Hah?? Mirip dari mananya? Jawabku sambil sibuk mencatat.
"Alia...Almira...kalau kalian punya bahan cerita, silahkan diceritakan di depan sini...dihadapan teman-teman semua!!" Kata Xavier.
"Kan aku kena lagi, kamu sih ngajakin ngobrol melulu..." Sungutku.
__ADS_1
Xavier mendatangi kursi kami dan mulai bertanya.
"Coba Alia, ulangi lagi yang kamu ceritakan tadi kepada Almira supaya setelah bercerita kalian berdua bisa fokus pada mata kuliah yang saya berikan."
"Karena saya tidak suka pada saat saya menjelaskan di depan sini, kalian masing-masing pada ngobrol sendiri-sendiri."
"Kalian pikir saya di depan sini sedang menawarkan produk kosmetik, jualan jamu atau jualan obat?"
"Anu pak...Mira tadi bilang, katanya senyum pak Xavier itu manisss banget...pak Xavier keren....begitu kata Almira, pak!!"
"Betul begitu Mira?" Pak Xavier menatapku dalam-dalam.
"Ngga pak...Mira ngga ada ngomong begitu, tadi Alia bilang, adawww..." Aku menjerit saat Alia mencubit pinggangku.
"Apaan sih Alia? Sakit tau!!" Aku meringis.
"Sudah...sudah...intinya saya tak mau mendengar kalian ngobrol pada saat saya menerangkan, kalau masih melanggar akan saya suruh maju ke depan kelas dan mengulangi semua yang sudah saya jelaskan...harus sama persis atau kalian tidak boleh mengikuti mata kuliah saya selama setengah semester ini."
"Waduh...." Banyak yang berbisik-bisik!!! "Kita ngga akan dapat nilai dong, artinya kita ngga akan lulus."
Xavier berbalik lagi ke depan kelas sambil sebelumnya melirik pada Almira....dan itu semua tak luput dari mata Alia.
"Kita ke kantin yuk..." Ajak Alia.
"Ngga, aku tadi sudah sarapan..." Jawabku.
"Ya sudah, kamu ku tinggal dulu ya...aku sebentar aja kok!!" Aku mengacungkan jempolku.
Aku bermaksud duduk di taman tak jauh dari belakang kelas, tempat dudukku memang agak tersembunyi. Kulihat di kejauhan Alia sedang berbincang-bincang serius dengan dua orang lelaki dan perempuan. Aku tak bisa melihat wajah ke dua orang tersebut karena mereka berdiri memunggungiku.
"Alia pernah bilang bahwa dia tak mempunyai teman siapapun di kampus ini, tapi mereka tampak akrab...bahkan sepertinya ke dua orang itu sangat menghormati Alia."
Sedang serius-seriusnya aku berpikir, tak di duga datanglah trio halilintar yang tempo hari mengganggu Alia.
"Heh...gadis bar-bar...tumben kamu bertapa di sini? Mana temanmu si culun itu?" Mereka tertawa-tawa.
"Haduh...datang lagi si rambut mangkok, si bulu mata sapi dan si rambut api...kalian mencari siapa? Kalau mencari Alia, dia sedang tidak bersamaku, kalau kalian mencariku...untuk keperluan apa?" Kataku enteng.
__ADS_1
"Mulut sama kelakuanmu sama bar-barnya...kamu ini anak kuliahan atau kuli bangunan? Lihat pakaianmu persis kuli pengangkut barang."
Si rambut api berceloteh riang, seolah menghina orang lain itu merupakan hiburan bagi mereka. sementara dua temannya juga tertawa terbahak-bahak.
Mungkin jika mereka mengatakan itu pada orang lain, mungkin orang itu akan tersinggung tapi mereka mengatakan itu kepadaku si ratu cuek dan jutek? Ngga ngaruh buatku.
"Aku memang kuli tapi bukan kuli bangunan, aku kuli penggali kuburan...aku juga kuli pengangkut, tapi bukan pengangkut barang...aku mau mengangkut kalian bertiga setelah sebelumnya kalian bertiga ini ku mutilasi...kupotong-potong...lalu ku masukan dalam karung lalu kuangkut dan kumasukan ke dalam lubang yang ku gali tadi!!! Kalian mau??" Kataku sambil berdiri seolah-olah akan membantai mereka betulan!!
Hih....mereka bertiga kompak berteriak dan berlari meninggalkanku. " Dasar gadis gila..." umpat mereka.
"Katanya tadi mau minta saya traktirkan di kantin, ayo...saya cari sejak tadi ngga ada. sekalinya ngumpet di sini."
Xavier tiba-tiba muncul dari samping pohon mengagetkanku.
"Bener nih bapak mau traktir saya? Emang bapak sudah gajian?" Tanyaku lagi.
Xavier mengerutkan dahinya!! "Emang ada hubungan apa antara gajian, sama mentraktirmu?"
"Saya makannya banyak lho pak, nanti bapak bangkrut!!" Godaku.
"Kalau kamu mau, satu isi makanan di kantin akan saya belikan...apa sih yang ngga buat pacar bapak?"
"Hah??? Pacar???" Aku nampak bingung dengan perkataan Xavier.
"Iya, pacar...bukankah tadi di parkiran kamu mengaku pada mereka kamu itu pacar saya??" Xavier tersenyum menggoda.
"Iyakah pak? Emang tadi saya ngomong begitu?" Aku mengalihkan pembicaraanku karena malu.
"Kamu pikir saya ini tuli sampai ngga denger kamu ngomong!! Secara suaramu lho nyaring!!"
Aku manggut--manggut antara malu sama gemas melihat wajahnya.
"Ayo kelamaan...saya yang malah jadi lapar melihatmu manggut-manggut begitu..."
Ditariknya tanganku tanpa mempedulikan lagi tatapan tanda tanya dari mahasiswa mahasiswi yang melihat kami.
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya ya....terima kasih🙏🙏