
"Apa pak Xavier cemburu ya?" Batinku.
"Ya terang saya cemburu...pacar saya ngobrol akrab dengan laki-laki lain, mantannya pula." Dia mendengus kesal dengan ucapanku dalam hati tadi.
"Aduh...salah nih..dari pada urusannya tambah ruwet lebih baik aku cepat ke kelas saja." Aku mempercepat langkahku mendahuluinya.
Hari ini rupanya Xavier benar-benar kesal padaku. Sepanjang mengajar tadi tak sedikitpun matanya menatap kearahku seperti biasanya.
Alia menyikutku pelan dan berbisik, "Pacarmu itu kenapa? Lagi PMS kah? Kok dari tadi bawaannya bete gitu, padahal tadi pagi baik-baik saja?"
"Cemburu!!" Jawabku tak acuh sambik fokus pada mata kuliah hari ini.
"Serius? Yang bener? Cemburu dengan siapa?" Tanya Alia makin tertarik.
"Abang loe!!" Jawabku.
Alia tersenyum geli mendengar ucapanku barusan.
"Andai pak Xavier tau kamu dan abangku selalu ribut dan bertengkar jika bertemu." Kata Alia.
"Itu sudah!" Jawabku.
"Kalau kalian belum puas ngobrol, silakan ngobrol di depan kelas sini atau ngobrol di koridor di tempat yang luas!!" Xavier menatap kami berdua bergantian.
Aku dan Alia terdiam lalu melanjutkan mencatat apa yang pak Xavier terangkan. Hingga tak terasa waktu istirahat tiba, dan Xavier telah lebih dulu keluar kelas.
Belum juga menuju ke kantor beberapa mahasiswi mengerubuti Xavier seperti lebah mengerubuti sarangnya meminta Xavier menjelaskan lagi tentang mata kuliah tadi walaupun aku tau itu semua cuma modus untuk bisa dekat dengan dosen tampan itu.
Aku menggeliat mengencangkan pinggangku.
"Ayo ke kantin?" Ajak Alia padaku.
"Aku belum lapar Al...kamu aja yang pergi!" Akhirnya Alia meninggalkanku sendiri.
Aku menuju taman belakang tempat favoritku sambil membawa buku untuk kubaca.
Ehemmm...
"Gadis cantik itu dilarang membaca dan duduk sendirian, entar ada yang nyulik lho!!" Sebuah suara menyapa mengusik ketenanganku.
Aku mengangkat wajahku, tampak Hiro berdiri tak jauh dari sampingku sambil tersenyum.
"Kamu lagi!!" Sahutku ketus pada lelaki bermata sipit berkulit putih itu.
"Kamu kalau marah gitu kecantikanmu bisa beratus-ratus kali lipat!!" Ucapnya tak mempedulikan wajahku yang semakin cemberut.
__ADS_1
"Aku sudah cantik sedari orok..." Jawabku ketus.
"Iya kamu memang cantik sedari orok bahkan aku sudah terpikat padamu sejak kamu masih bayi."
Aku mengerenyitkan kening menatap tajam pada si empunya wajah teduh itu.
"Apa maksudmu?" Tanyaku padanya.
"Kamu tebaklah sendiri apa maksudku, bukankah kamu bisa membaca pikiran orang lain?" Jawab Hiro enteng.
Aku menatapnya dengan sedikit kesal. Bagaimana aku ngga kesal apa yang aku baca dari pikirannya sama seperti yang aku baca di pikiran Xavier, tiga kata mustika yang membuat kaum hawa meleleh apalagi yang menyebutkannya itu laki-laki seganteng Hiro, Xavier dan Aliandhara.
"Ngga jelas!" Sahutku sambil melihat kearah lain.
"Ooh kurang jelas ya kalau begitu sini kuperjelas...i..love...u!!" Bisik Hiro di telingaku.
Tanpa kita berdua tau ada seseorang yang berdiri mematung sambil menenteng dua tas bekal makanan sedang mendengarkan ucapan Hiro.
Hatinya bergemuruh menahan kesal dan amarah. Satu hari ini sudah dua kali dia menahan emosinya melihat kekasih hatinya didekati oleh laki-laki lain.
Tiba-tiba mata Hiro menangkap sosok Sima saudara kembarnya sedang bersama Alia dipojok gudang dekat kantin.
Aku juga ikut melihat kearah yang dilihat Hiro.
"Mira hati-hatilah, apa yang kamu lihat baik di depanmu belum tentu baik begitu pula
Hiro lalu melesat pergi meninggalkan Mira sendirian sebelum Sima dan Levia si Alia palsu menyadarinya .
"Aku akan tetap menjagamu dari incaran Sima dan Levia." Gumam Hiro sambil berlalu.
"Bukan main seharian ini saya harus perang perasaan melihat pacar saya bersama dengan laki-laki lain." Xavier berdiri di sampingku.
Aku menatapnya sedikit kesal karena ulahnya seharian ini yang cemburu membabi buta.
"Ini makanlah, maafkan saya ya jika seharian ini bawaannya emosi aja." Aku mengambil kotak bekal yang di sodorkan Xavier tapi tidak kumakan hanya kuletakan saja di sampingku.
"Kenapa tidak dimakan? Tidak lapar? Kamu belum ada makan apapun lho sejak pagi!!" Xavier mengambil bekal itu lagi dan membukanya.
Aku ingin memakannya saat mataku lagi-lagi menangkap Alia sedang berbicara serius dengan Sima. Belum juga terpecahkan maksud dari perkataan Hiro tadi, sekarang otakku mesti berpikir keras mencari cara agar bisa menguping pembicaraan mereka.
Tapi memang benar apa yang dikatakan Hiro, akhir-akhir ini Alia memang berbeda kalau bisa di bilang sikapnya mencurigakan.
"Pak..." Aku hanya mengisyaratkan bibirku pada Alia dan Sima di kejauhan.
Xavier menoleh kearah dua orang itu. Dia pun turut pula memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
"Saya juga merasa Alia dalam waktu sebulanan ini berbeda...lebih genit lebih berani terutama dengan kaum adam."
"Tapi bapak suka juga kan? Alia lho sekarang jauh lebih cantik, wajahnya tampak bercahaya seperti bulan purnama." Kataku lagi.
"Palsu..." Kata Xavier.
"Sesuatu yang baik di luar belum tentu baik di dalam begitu pula sebaliknya..." Kata Xavier.
"Mengapa apa yang di ucapkan Xavier sama dengan yang di ucapkan Hiro? Apakah mereka berdua tahu sesuatu yang tak aku tau?" Batin Mira.
"Sudah...kita makan saja dulu yuk!! Saya sudah lapar!!" Xavier membuka kotak bekal satu dan diberikannya pada kekasihnya dan yang satu lagi untuk dia.
"Mira..."
Xavier bersuara setelah sekian lamanya mereka diam membisu sambil makan.
Hhhmmmm...
Aku tak menjawab karena sebenarnya aku masih kesal padanya.
"Jika suatu hari nanti kita tidak berjodoh, apakah kamu akan memilih Hiro atau Aliandhara?" Pertanyaan Xavier itu cukup membuatku terkejut.
"Apaan sih pak? Nanyanya kok gitu banget...tapi tunggu dulu, memang selama ini bapak ada pernah bilang suka sama saya? Seingat saya ngga ada deh pak!!" kataku.
"Memangnya perasaan cinta dan sayang kita pada seseorang itu selalu harus diungkapkan dengan kata-kata ya..."
"Lagian seingat saya, saya pernah deh bilang i love you sama kamu sekalian saya waktu itu bilang will you marry me?" Xavier.mengulum senyumnya.
"Sayangku...saya jujur bilang bahwa saya sayang sama kamu...Saya rasanya ingin selalu ada didekatmu dan melindungimù." Xavier duduk di samping Mira dan menggenggam erat tangan pujaan hatinya.
"Sejak pertama kali kita bertemu dan kita ribut waktu itu, aku sudah jatuh cinta padamu. I fell in love at first sight i saw you." Bisik Xavier ketelinga kekasihnya dengan mesra.
"Artinya pak?" Tanya Almira pura-pura bego.
"Ngga lama saya ***** juga itu bibir!!" Bisik Xavier lagi.
"Jangan pak, dipikir bibir saya ini lolipop? Main ***** aja?" Bisik Mira juga ketelinga Xavier seperti seorang anak kecil yang tengah berbisik-bisik pada temannya.
*
*
***Bersambung...
Akhirnya bisa update juga setelah beberapa belum terselesaikan.
__ADS_1
Terima kasih buat reader yang telah membaca, memberikan dukungan like nya, saran bahkan ada yang memberi rate dan vote nya...🙏🙏🙏