Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 90 Itu Siapa


__ADS_3

"Lalu di mana ibu kandung Rafa sendiri? dia seolah membutakan mata dan hatinya untuk suami dan anaknya?"


"Dia lebih memilih diam dalam gelimangan harta dan cinta palsu dari Xavana."


Tuan Kelvin nampak marah sekali. Tetapi seperti biasa dia selalu tenang dalam menahan gejolak emosinya.


Aliandhara hanya diam mendengar kemarahan yang tersimpan di hati sang ayah.


"Kamu harus bersikap tegas dan jangan plin plan...jika kamu memang sayang pada Almira maka suruh Valeria pergi dan menjauh dari hidupmu tapi jika kamu masih mengharapkan Valeria dan ingin kembali bersamanya maka tinggalkan Almira.


Aliandhara tampak berpikir. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi bahwa dia tak pernah tegas.


Hanya karena Valeria ibu dari Rafa membuat hati Aliandhara meragu untuk menyuruh Valeria pergi.


Padahal selama inipun dia hanya sesekali keapartemen nya tempat Valeria sekarang tinggal padahal mereka sudah lama berpisah.


Dia sebenarnya mencintai Almira dan dia tau perasaan gadis itupun demikian terhadapnya tetapi Almira mengalah dan pergi menjauh darinya saat dia tau Valeria sudah kembali.


"Baiklah ayah, aku akan bersikap tegas...aku punya kehidupan sendiri sekarang begitupun Valeria, kami toh sudah bukan pasangan suami istri lagi."


"Bagus!!"


Tuan Kelvin menepuk pundak putranya.


Perjuangkanlah apa yang ingin kamu perjuangkan dan lepaskan lah semua yang kamu anggap hanya menghalangi langkahmu untuk meraih kebahagiaanmu.


***


"Xavana, daddy dengar adikmu dan ayah angkatnya Kojiro sudah kembali ke kota ini, tetapi mereka tinggal di mana? mengapa Xavier tidak pulang kemari menemui daddy?" tanya tuan Anderson pada Xavana.


"Oh ya??? Xavana tidak tau dad...semenjak Xavier tak mengajar lagi di universitas itu dan memutuskan untuk kembali ke Jepang, Xavana tak pernah mendengar lagi kabarnya."


"Orang kita melihat Xavier kemarin memasuki supermarket bersama seorang gadis cantik."


"Almira...itu pasti Almira!!" bisik hati Xavana.


"Apakah ayah sudah mencoba untuk menghubunginya?" tanya Xavana.


"Nomor ponsel Xavier yang lama tak aktif lagi, mungkin dia sudah menggantinya dengan nomor yang baru."


"Kelewatan Xavier!!" maki Xavana.


"Jika Xavana bertemu dengannya maka akan Xavana paksa dia ikut pulang untuk menjenguk daddy.


***


"Kadir...apa selama ini Almira sudah mempunyai pacar lagi?" tanya Xavier di suatu sore saat semua orang sedang sibuk dan dia memilih duduk di pinggir pantai bersama Kadir.


Ssss..ssss


"Hah??? banyak??? yang benar??" sahut Xavier terkejut.

__ADS_1


Ssss...sssss


"Hiro...terus ada satu orang lagi?? Matsuyama maksudmu??" Xavier mulai meningkat atmosfernya.


Entah mengapa walaupun sudah dinyatakan bahwa mereka bersaudara tetapi tetap saja dia tak rela mendengar dan melihat Almira bersama dengan orang lain.


Ssss...ssss


"Kalau bukan Matsuyama lalu siapa? apakah duda yang bernama Aliandhara itu?" Xavier mulai menerka-nerka.


"Bang...mengapa musti Kadir sih yang diajak curhat?? curhat sama aku, napa!!" Matsuyama yang tiba-tiba muncul di belakangnya sangat mengagetkan Xavier.


"Sialan kamu ini Matsuyama...bikin kaget saja!!" semprot Xavier kesal.


"Yang jelas ya bang laki-laki yang di maksud Kadir suka sama Almira itu bukan aku..."


"Jujur Almira itu bukan wanita tipeku, aku tuh suka cewek yang feminim, keibuan, lemah lembut bukan seperti Almira yang kebapakan, bar-bar..."


Xavier dan Kadir diam saja dengan wajah kecut mendengar Matsuyama terus nyerocos padahal Xavier sudah memberi isyarat dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Abang ngga usah sok keimutan gitu deh pakai kedip-kedip mata segala!!" Matsuyama masih tidak menyadari bahwa objek yang mereka obrolkan sedang berdiri bertolak pinggang di belakang Matsuyama dan sudah memasang wajah mode horor


"Bagus ya....aku kebapakan, aku bar-bar!!! terus saja bicara menjelek-jelekan di belakangku."


Matsuyama terlompat kaget mendengar suara Almira persis tepat berada di belakangnya.


"Abang...Kadir, kenapa ngga bilang bahwa singa gurun sudah bangun dari tidurnya dan sudah keluar dari kandang?"


Tanpa aba-aba dua kali Matsuyama melesat pergi meninggalkan mereka semua.


"Abang...Kadir...jangan beranjak dari situ, Mira akan mengurus kecebong yang kabur itu dulu, giliran nanti abang dan Kadir yang buat pengakuan dosa pada Mira!!"^


"Tunggu...Cowi...."


Almira lari mengejar Matsuyama yang sudah lari entah kemana.


Xavier dan Kadir saling berpandangan sebelum kemudian masing-masing kabur mencari tempat persembunyian yang aman.


"Pada kemanaan sih??? kok sepi banget kayak kuburan...kemana perginya anak-anak brengsek itu pagi-pagi begini??"


Kakek Kojiro yang baru keluar dari kamarnya mencari-cari semua orang.


"Aku kok jadi penasaran ya??? aku sering mendengar cerita dari Almira dan Matsuyama kalau pagi begini Tosiro sudah tidak ada di kamarnya pergi entah kemana nanti di sore hari baru kembali."


"Ngga mungkin kan Tosiro pergi bekerja??"


"Coba aku intip ke kamarnya aja ah!! siapa tau aku bisa menemukan petunjuk di mana sepupuku itu di sembunyikan oleh mereka."


Dengan mengendap-endap Kojiro sampai ke depan pintu kamar kakek Dahlan.


Dia mencoba mengintip ke dalam tetapi kamar itu seperti dipenuhi oleh kabut tipis.

__ADS_1


Sangking enaknya mengintip sampai dia tak sadar saat Giandra mendekat dan menyapanya.


"Sedang apa kek?" tanya Giandra.


Kojiro tersentak kaget. Dia sampai terlunjak dari tempatnya berdiri.


"Giandra...bisa ngga sih kalau menyapa itu pelan-pelan saja?? aku kan jadi kaget setengah mati!!" umpat kakek Kojiro.


"Aku menyapa kakek lho pelan-pelan aja...wajah kakek aja yang sejak tadi kuperhatikan tampak sangat tegang." Kata Giandra.


"Kakek penasaran dengan isi kamar dari Dahlan palsu ini, Giandra...siapa tau di dalamnya kita bisa menemukan petunjuk juga berada di mana sepupuku itu di sembunyikan.


"Maksud kakek kita mau masuk ke dalam begitu?" tanya Giandra.


Kakek Kojiro tampak menggigit-gigit bibirnya sendiri untuk mempertimbangkan mau masuk ke dalam atau kah tidak.


"Kalau kakek mau masuk ke dalam, masuk saja nanti aku yang berjaga di luar." Kata Giandra lagi.


Akhirnya karena didorong oleh rasa penasaran yang kuat, kakek Kojiro perlahan membuka pintu kamar.


"Dikunci..." kata kakek Kojiro.


Mereka mencoba membuka kuncian pintu tetapi tak bisa. Akhirnya Giandra mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuka pintu kamar. Mereka berhasil membuka pintu.


"Kakek yang masuk, aku akan berjaga di luar takut kakek Dahlan palsu datang."


Kakek Kojiro perlahan masuk ke dalam kamar itu. Suasana kamar yang suram dan dingin disertai beterbangannya kabut tipis menambah seramnya suasana di dalam kamar itu.


"Kamarnya Tosiro kok jadi horor begini ya...aku serasa berada di hutan belantara Afrika sana!!"


"Peti apa yang ada di ujung ruangan itu? seperti peti jenazah." kata kakek Kojiro.


Dengan sedikit gemetar kakek Kojiro menghampiri peti tersebut untuk melihat apa isinya."


Alangkah kagetnya sang kakek saat mendapati sepupunya Tosiro terbaring tenang di dalam peti tersebut.


Kakek Kojiro memeriksa denyut nadi dan pernapasan kakek Dahlan.


Tak ada denyut nadi tak ada pernapasan dan tak ada tanda kehidupan di tubuh itu.


Kojiro seakan tak percaya pada sosok terbaring yang dia lihat di dalam peti jenazah itu.


*


*


***bersambung...


Jika yang terbaring itu adalah jenazah kakek Dahlan, lalu siapakah yang selalu bersama mereka di malam hari itu?


Jangan lupa mampir, baca,like, komen, vote, favorit, dan ratenya ya...selalu mohon dukungannya agar author receh ini bisa tetap selalu berkarya.

__ADS_1


__ADS_2