
Serafin ceramah panjang lebar karena kesal pada Xavier mendengar apa yang telah menimpa pada putri mereka.
📱"Lalu berita buruknya apa Gio??
Serafin tiba-tiba jadi tak enak hati dan perasaannya begitu pula dengan Giandra.
📱"Bu, kakek Dahlan...
Xavier tidak bisa meneruskan perkataannya sendiri.
📱"Ada apa dengan kakek Dahlan?? barusan kakek Dahlan tadi bertamu kemari, sekarang masih duduk di luar katanya tadi pengen duduk di luar menikmati hawa peternakan di malam hari.
Giandra mengiyakan ucapan Serafin istrinya.
📱"Ah yang benar bu, yah...ngga mungkin itu!!
Xavier jadi tersentak, dia juga ingat saat sebelum pingsan Almira bercerita bahwa kakek Dahlan ada di kamarnya bahkan sempat dia titip Miranda saat mau ke toilet.
Sekarang kakek Dahlan ada di peternakan tempat ayah dan ibunya berada.
📱"Coba ibu minta ayah keluar temui kakek Dahlan dan tanyakan sekali lagi kakek Dahlan tadi ke peternakan naik apa??"
Xavier coba untuk meyakinkan ayah dan ibunya.
Serafin memberi kode pada Giandra suaminya untuk melihat ke teras depan.
Bergegas Giandra keluar rumah. Tetapi sepi...dia tak menjumpai siapapun di sana. Hanya angin malam yang terasa semakin dingin mencucuk tulang, tapi tak ada kakek Dahlan di sana.
Lalu Giandra bergegas masuk kembali ke dalam rumah menemui istrinya yang masih berteleponan dengan Xavier.
"Bu..."
Serafin menoleh pada suaminya.
Giandra menggelengkan kepalanya memberi kode pada istrinya.
📱"Gio...."
Suara Serafin terasa tercekik di tenggorokan. Dia tau kedatangan kakek Dahlan yang tiba-tiba tadi hanya untuk memberikan tanda bahwa dia sudah tak ada lagi di dunia ini.
📱"Ibu dan ayah belum bisa pulang untuk memberikan penghormatan terakhir pada kakek Dahlan...karena sampai sekarang Matsuyama juga belum ada kabar beritanya."
📱"Jika ayah dan ibu pergi, siapa yang akan mengurus peternakan...kasihan ternak dan ladang Matsuyama."
📱"Ngga apa-apa bu...yang penting Gio sudah menyampaikan kabar duka ini ke ibu dan ayah."
📱"Jaga adikmu baik-baik di sana ya, Xavier Giovanno...jangan sampai kejadian penyerangan seperti yang dilakukan mantan madunya yang gila itu terulang kembali...jika tidak kami berdua tak akan pernah memaafkanmu...mengerti kamu Gio??"
Giandra yang mengambil alih ponsel di tangan istrinya bicara panjang lebar memberi nasehat pada Xavier.
📱"Iya ayah...ibu...Almira dan anak-anak akan Gio jaga baik-baik...lagi pula mereka itu anak Xavier juga walau mau diingkari bagaimanapun."
"Dia yang sekarang harus kembali kuanggap menjadi adik adalah mantan istriku yang masih Gio cintai, ibu...ayah!!" batin Xavier.
📱"Ya sudah bu, Gio tutup dulu teleponnya...sebenarnya sudah dari sore kita harus pulang, tetapi karena Almira belum sadarkan diri, dokter jadi membatalkan kepulangannya hari ini!!"
Giandra tampak bersandar di tiang teras. Banyak kenangan bersama kakek bar-bar yang lucu tetapi sangat baik hati itu.
"Yah...!!"
Serafin mendekati suaminya dan duduk di sebelah suaminya.
"Yah...kita belum sempat membalas kebaikan orang tua yang telah bersedia merawat putri kita semenjak masih bayi merah sampai sekarang tanpa pamrih itu...kini dia telah tiada...pasti Almira syok benar saat ini...kasihan anak itu!!" kata Serafin.
"Iya...kasihan putri kita...dia kehilangan nenek, suami, lalu kakek yang dia cintai pun pergi meninggalkannya." Kata Giandra menghela napas panjangnya memikirkan nasib putri mereka, Almira.
******
"kita sudah sampai di mana ya, Snow??" kata Matsuyama berbicara pada kuda putihnya.
Sekeluarnya Matsuyama dan Snow dari dunia para siluman, mereka berdua terus berjalan hingga tiba di pinggiran sebuah desa.
Tampaknya tidak banyak penghuni di desa itu. Tadi waktu di daerah perbukitan saat mau turun Matsuyama sempat memperhatikan keadaan di bawah sana.
Kini mereka berdua berjalan memasuki desa itu.
__ADS_1
Di pinggiran desa ada sebuah gubuk terbuat dari bambu. Tampak seorang nenek tengah menjemur ikan kering di halamannya.
Matsuyama berhenti dan turun dari punggung Snow. Dia menambatkan kuda putihnya di dekat pohon yang banyak rerumputan.
"Selamat siang nek??" sapanya pada sang nenek yang tengah sibuk itu.
"Siang..." si nenek menoleh pada Matsuyama.
"Eh, ada tamu!!" silakan mampir anak muda...tampaknya kamu datang dan habis melakukan perjalanan yang jauh??" kata si nenek.
"Iya nek, bolehkah aku beristirahat sebentar di kediamanmu ini?? hanya sekedar melepas lelahku saja!!" kata Matsuyama yang memang terlihat sangat lelah.
Sudah dua hari ini dia mengalami kejadian buruk yang membuatnya tidak bisa tidur dengan enak.
"Siapa namamu anak muda?? kamu dari mana dan mau kemana??" tanya si nenek lalu duduk di samping Matsuyama.
"Namaku Matsuyama nek, dua hari kemarin aku mengadakan perjalanan dari lembah di kaki gunung Fuji mau menuju ke kediaman bekas pengasuhku semasa kecil, tetapi aku tersesat dan masuk ke dunia para siluman!!" kata Matsuyama.
"Oh iya, perkenalkan juga nama nenek Chiko dan suami nenek adalah Suta."
"Kakek sekarang kemana nek??" tanya Matsuyama.
"Kakek sedang ada di ladang, paling sebentar lagi akan pulang untuk makan siang di rumah!!" kata nenek Chiko.
"Sebentar ya Matsuyama nenek ambikan kamu air minum dulu."
Lalu nenek Chiko beranjak masuk dan tak lama keluar lagi membawa secangkir teh dan beberapa potong ubi rebus.
"Sisa sarapan tadi pagi nak...makanlah!!" kata nenek Chiko.
"Nek, mengapa desa ini sepi sekali?? sepertinya banyak ditinggalkan penduduknya ya!!" kata Matsuyama sambil mengunyah ubi rebusnya.
"Desa ini menjadi jalan lintas para perampok, nak!! semua penduduk merasa takut dan merasa tak nyaman lagi tinggal di tanah kelahirannya sendiri dan banyak yang mengungsi ke desa lain...paling hanya tinggal para orang tua yang masih tersisa ya seperti kakek dan nenek ini!!" kata nenek Chiko.
"Nenek dan kakek tidak takut dibunuh oleh para perampok itu??" tanya Matsuyama penasaran.
"Apa manfaat mereka membunuh kami para lansia ini, nak!! mereka bunuhpun tak akan mendapatkan hasil apapun!!" kata orang tua itu lagi.
"Nenek dan kakek tidak punya keluarga lain?" tanya Matsuyama.
"Anak menantu nenek dan kakek mengungsi ke desa lain karena takut dijadikan sasaran oleh para perampok itu apalagi mereka mempunyai bayi jadi nenek menyuruh mereka mengungsi ke desa sebelah ke tempat adik nenek di sana."
Matsuyama berdiri lalu membungkukan badannya menghormati si kakek.
"Siapa anak muda tampan ini, nek??" tanya kakek Suta.
Dia ikut duduk sementara nenek Chiko membereskan umbi dan sayuran yang di bawa kakek.
"Namaku Matsuyama, kek!! lalu Matsuyama menceritakan kisah awal perjalanannya sampai dia bisa tiba di desa ini.
"Kakek sedikit mengenal pemilik perguruan di lembah kaki gunung Fuji itu...kalau tidak salah namanya Kakegawa." Kata kakek Suta.
"Iya kek, Kakegawa adalah ayahku!!" kata Matsuyama.
"Kamu anak siapa?? Abesira atau istri yang satunya lagi??" kata kakek Suta.
"Aku anak dari istri kedua, kek...ibuku bernama Miku!!" jawab Matsuyama.
Mereka berdua ngobrol hingga si nenek Chiko menyiapkan makan siang.
"Sebaiknya kamu makanlah dulu untuk mengisi tenagamu, Matsuyama...karena di desa ini jangan kamu berharap untuk menjumpai warung makan...untuk makan sehari-hari saja kami harus menanam sendiri!!" kata kakek Suta.
"Kek...kalau boleh tau siapa perampok yang sering lewat di desa ini??" tanya Matsuyama.
"Pimpinan mereka berdua, Matsuyama...mereka kakak beradik yang memiliki ilmu sangat tinggi, mereka datang dari arah timur."
"Mereka berdua adalah dua gadis cantik tetapi memiliki hati sekejam iblis, berdarah dingin dan sangat jahat."
"Bagi mereka membunuh adalah suatu kewajiban dan kesenangan!!" kata kakek Suta.
"Sebaiknya sehabis makan ini, kamu langsung pergi saja...bukannya kakek mengusirmu tetapi ini demi kebaikanmu juga...kamu berwajah sangat tampan, kami tidak ingin terjadi sesuatu padamu jika kamu bertemu dengan mereka!!" kata sepasang kakek nenek yang baik itu.
"Baiklah kek...rasa lelahku juga sudah hilang, terima kasih atas jamuan kakek dan nenek serta keramahan kalian padaku...jika begitu aku pamit dulu, kek!!"
Lalu Matsuyama pergi menunggangi Snow menuju arah selatan.
__ADS_1
*****
Levia, Valeria dan Shiera mendandani Sullivan secantik mungkin.
"Kau cantik sekali Sullivan...pasti saat itu Xavier bahagia bisa menikah denganmu!!" kata Levia.
"Selama kami menikah, dia tidak pernah menyentuhku, Levia!!" jawab Sullivan.
"Berarti kamu masih perawan, dong?? wah, beruntung sekali kanda Kebebitak mendapakan seorang janda rasa perawan!!" kata Valeria sambil tertawa.
"Tapi aku yang tidak beruntung, Vale...nasibku yang sial dan apes!!" kata Sullivan sehingga temannya yang lain jadi tertawa.
"Hati-hati lho Sullivan...tongkat pusaka kanda Kebebitak itu besar dan panjang...bisa-bisa nanti malam kamu pingsan saat melayaninya." Kekeh ketiganya semakin membuat Sullivan gemetar ketakutan.
"Apakah pengantinku sudah siap??" tanya Kebebitak masuk kedalam kamar.
"Sudah kanda...silakan kanda bersenang-senang malam ini sampai pagi dengan Sullivan!!" kata Levia.
"Kalian bertiga jangan cemburu, ya!! kanda pasti akan berlaku adil kok!!" ujar Kebebitak.
"Tentu saja tidak kanda, tetapi bolehkah kami bersenang-senang di dunia kami lagi sampai kanda dan Sullivan puas?? tenang saja kanda...Sullivan masih perawan kok, pasti kanda akan ketagihan begitu tongkat pusaka kanda yang besar itu menjelajah goa milik Sullivan!!" kata Shiera.
"Tentu saja boleh para permaisuriku...terima kasih atas pengertian kalian pada suamimu ini!!" kata Kebebitak menyeringai.
"Ya sudah kanda...kami pergi dulu ya...selamat berbulan madu kanda...Sullivan!!" kata mereka bertiga sangat bahagia karena mendapat kebebasan untuk beberapa hari ini...syukur kalau Kebebitak menyekap Sullivan sampai beberapa minggu sehingga mereka bebas bersenang-senang di luar sana.
"Kawan-kawan...kumohon jangan tinggalkan aku sendiri dengannya!!" teriak Sullivan memohon pada mereka bertiga.
"Tolong aku teman-teman!!" mohon Sullivan sambil menangis sebelum kemudian Kebebitak memanggul Sullivan di pundaknya dan dibawa langsung ke kamarnya.
Setelah Sullivan hilang di balik tembok walaupun masih terdengar jeritan-jeritannya...
"Kawan-kawan...tidak apa-apakah Sullivan kita tinggal sendiri di sini??" kata Valeria sedikit cemas karena dia tau bagaimana keganasan Kebebitak dan naf*sunya yang meluap-luap.
"Tidak apa-apa, Valeria...sekarang dia menjerit-jerit ketakutan nanti sebentar lagi dia akan menjerit-jerit keenakan." Kata Shiera.
Begitulah akhir dari janda Xavier yang harus menyerahkan tubuhnya pada raja siluman kera itu.
*****
"Xander...Revita...kakek senang sekali kalian berdua bisa tinggal di sini menemani abangmu Rafa!!" kata tuan Kelvin saat mereka sedang bersantai di mansionnya.
"Apakah Almira akan baik-baik saja setelah di tinggalkan oleh kakek Dahlan ya, Redo??" tanya Alia cemas.
"Yundaku itu orang yang kuat dan tegar...semoga dia bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja!!" ucap Redo pada Alia.
"Sebenarnya ayah sangat kasihan pada Almira...banyak sekali ujian yang harus dia terima di saat usianya baru 19 tahun seperti sekarang ini!!" kata tuan Kelvin.
"Sebenarnya kakek Dahlan itu sakit apa sih, yah??" tanya Alia pada ayahnya.
"Ayah juga kurang tau, Alia...tetapi menurut ayah angkat Xavier si kakek Kojiro, kakek Dahlan sering merasakan sakit di dadanya.
"Mungkin kakek Dahlan ada punya riwayat penyakit jantung!!" kata tuan Kelvin.
"Entahlah...berkali-kali Almira jatuh pingsan saat proses pemakaman kakeknya!!" kata Alia.
"Untunglah sang mantan selalu mendampinginya dengan setia!!" kata Alia.
"Kamu kalau bicara soal yang begituan jangan sekali-sekali di depan abangmu Aliandhara, ya?? dia sangat sensitif jika menyangkut soal Almira."Kata tuan Kelvin.
"Semua laki-laki sama saja...egois!!" kata Alia sambil mencibir lalu melirik kekasihnya!!"
"Kok ngeliati aku segitunya banget yang??" kata Redo melirik Alia.
"Tapi akukan bukan tipe seperti itu?? jika kamu meragukanku sebaiknya aku akan melamarmu pada ayah Kelvin dan menikahimu sekarang juga!!" kata Redo.
"Ngga mau...nanti aku bakal jadi janda juga di usia muda!!" ucap Alia.
"Kek...Rafa ingin bertemu dengan mommy dan menghiburnya." kata Rafa tiba-tiba.
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Selamat jalan kakek Dahlan yang bar-bar tetapi sangat baik hati!!😥😥
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏