Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 155 Takdir Matsuyama


__ADS_3

"Tapi akukan bukan tipe seperti itu?? jika kamu meragukanku sebaiknya aku akan melamarmu pada ayah Kelvin dan menikahimu sekarang juga!!" kata Redo.


"Ngga mau...nanti aku bakal jadi janda juga di usia muda!!" ucap Alia.


"Kek...Rafa ingin bertemu dengan mommy dan menghiburnya." kata Rafa tiba-tiba.


"Besok aja ya Rafa...biarkan mommy malam ini beristirahat karena mommy tampak sangat lelah menghadapi prosesi pemakaman tadi sore!!" kata tuan Kelvin.


Untungnya Aliarafa langsung menurut dengan apa yang dikatakan kakek dan tidak banyak protes lagi.


*****


"Dek, kamu belum tidur??" kata Xavier saat melihat Almira masih duduk termenung walaupun dia telah selesai menyusui Miranda dan bayi kecil itu sudah pulas tidur kekenyangan.


"Mira belum mengantuk, bang!!" kata Mira pelan.


"Abang buatkan teh hangat terus abang bawakan cemilan terus abang temani Mira ngobrol sampai Mira mengantuk, ya!!" kata Xavier langsung menuju dapur tanpa persetujuan Almira lagi.


Terbayang kembali diingatan Almira bagaimana kakeknya sering mengomeli dia karena kenakalannya, bagaimana kakeknya yang bar-bar itu berkali-kali harus berurusan dengan kepala sekolah saat Almira terlibat tawuran dan berkali-kali juga kakek tersenyum bangga padanya karena berkali-kali memperoleh piala dan trophy kemenangannya dalam berbagai perlombaan yang telah diraihnya.


Almira ngotot, Almira bar-bar, Almira jago berkelahi dan jago balapan serta Almira yang pandai bersilat lidah karena siapa?? karena ajaran kakeknya!!


Semua kenangan pahit dan manis bersama sang kakek terus bergantian masuk ke dalam ingatannya.


Saat kakek harus membawanya saat kakek bekerja karena nenek telah meninggal terlebih dahulu, saat kakek sambil bekerja sambil mengantar jemput dia pulang sekolah. Tak peduli hujan badai sekalipun. Prinsip kakek, Almira harus pintar agar tidak hidup susah seperti kakek yang harus banting tulang dulu bekerja mencari nafkah agar mereka bisa makan dan Almira bisa sekolah!!


Butiran kristal mengalir dari dua kelopak mata Almira menandakan betapa sakitnya hati itu.


Xavier masuk dengan membawa nampan teh dan cemilan untuk mereka dan sempat memperhatikan raut kesedihan di wajah Almira.


"Nih, kamu minum dulu tehnya...jangan sampai kamu jatuh sakit, ayah dan ibu di sana mempercayakan kamu pada abang!!"


Akhirnya Almira menurut. Dia menerima cangkir pemberian Xavier dan meminumnya seteguk.


"Bang...apakah Mira boleh bertanya pada abang??" tanya Almira.


"Tanya saja dek, akan abang jawab jika abang bisa!!" kata Xavier.


"Bang...apa kekurangan Mira sampai abang tega selingkuh dengan Sullivan di belakang Almira??" tanya Almira tiba-tiba.


"Karena perselingkuhan abang maka Almira jadi hancur seperti sekarang ini." kata Almira.


"Mestinya Almira sudah meraih gelar sarjana, bekerja dan membahagiakan kakek tapi nyatanya?? hingga detik akhir hayatnya beliau, Almira tidak bisa memberikan kebahagiaan hanya memberikan kesedihan dan kesusahan pada kakek."


"Kamu tidak punya kekurangan apapun, Mira...bahkan sebagai seorang wanita kamu terlalu perfect." Jawab Xavier.


"Justru abanglah suami yang bodoh yang tidak tau berterima kasih...hanya akibat cinta masa lalu yang mestinya harus abang lupakan bukan justru abang pertahankan...karena dia hanya masa lalu dan kamu beserta anak-anak adalah masa depan abang."


"Lalu mengapa abang bercerai dengannya?? abang meninggalkan Mira demi dia tetapi mengapa setelah semuanya terjadi abang lalu menceraikannya?? abang sungguh egois!!" kata Almira.


Xavier tidak bisa berkata apapun selain terdiam. Jika sudah dalam keadaan seperti ini, apapun yang dia katakan akan tetap salah bagi Almira.


******


"Yah...mengapa Matsuyama belum kembali juga, ya??? Ibu jadi khawatir!!" kata Miku saat mereka berdua duduk di teras perguruan.


Kakegawa berhasil menghentikan aliran racun jahat kala biru di wajah Miku istrinya...tetapi dia tidak bisa mengembalikan pipi kanan Miku yang terlanjur rusak akibat terkena racun kala biru dari Hiro.


"Sebenarnya yang ayah takutkan adalah Matsuyama itu tersesat, bu!!"


"Ibu ingat jalan mau ke rumah ibu Saki itu ada dua persimpangan...ditakutkan Matsuyama ini kan tidak tau jalan dan tidak pernah kemana-mana yang ayah takut dia salah mengambil jalan." Kata Kakegawa.


"Memang simpang jalan yang lain mengarah kemana, yah!!" tanya istrinya.


"Ke perkampungan para siluman!!" jawab Kakegawa pelan.


"Apaaaa....berarti nyawa Matsuyama dalam bahaya dong yah...!!" teriak Miku dengan gusar.


"Itu sudah, bu...sebenarnya ayah ingin mencarinya tetapi ayah tidak tega meninggalkan ibu sendirian di perguruan dalam keadaan masih sakit begini!!"


Miku jadi terdiam mendengarkan dan membenarkan ucapan suaminya.


*****


Malam itu Giandra dan Serafin kedatangan tiga orang tamu, sahabat Giandra yang berasal dari dunia bawah tanah.


Giandra sengaja mengadakan sambung rasa dengan Bara Seta sahabatnya itu karena Matsuyama tak kunjung pulang tetapi saat dia mencoba melakukan sambung rasa dengan Matsuyama setiap kali itu juga dia gagal seperti ada kekuaran yang tak kasat mata yang menghalangi.


"Ada apa kamu memanggilku kemari, Giandra??" tanya Bara Seta sementara dua orang anak buahnya berjaga di luar.


"Menantuku Matsuyama si pemegang salah satu cincin keramat itu sudah sebulan lamanya tak pulang...padahal pamitnya hanya sebentar untuk menjenguk kedua orang tuanya di lembah." kata Giandra.


"Aku mencoba berkali-kali melakukan sambung rasa dengan Matsuyama tetapi tidak bisa, aku jadi khawatir karenanya!!"


"Coba aku bantu untuk menemukannya!!" kata Bara Seta.


"Coba ambilkan baskom isikan air ya..." kata Bara seta lagi.


Dengan cepat Serafin mengambilkan apa yang diminta oleh Bara Seta.


Bara Seta, Giandra dan Serafin duduk mengelilingi baskom itu. Tampak Bara Seta memejamkan matanya dan membacakan sesuatu.


Secara aneh perlahan muncul gambar di dalam baskom yang telah diisi air tersebut.


Tampak oleh Serafin dan Giandra, Matsuyama menunggang kuda kearah selatan.

__ADS_1


"Mau kemana anak itu?? mengapa dia pergi kearah selatan?? bukankah perguruan ayahnya si Kakegawa itu ada di barat?" gumam Giandra.


"Tampaknya menantumu itu seperti disesatkan oleh sesuatu sehingga dia tidak bisa menemukan jalan pulang!!" kata Bara Seta.


"Biarkan dia menjalani takdirnya, Giandra...takdir yang harus dia tanggung akibat kesalahan kedua orang tuanya dulu!!" kata Bara Seta.


"Kesalahan?? kesalahan apa??' tanya Setafin bingung.


"Kalian berdua ini bersahabat dengan Kakegawa dan Abesira tetapi mengapa kalian tidak tahu menahu tentang masalah ini?" Bara Seta menatap Giandra dan Serafin bergantian.


"Abesira itu sengaja di dorong oleh Miku sehingga dia terkena secara telak pukulan matahari dari ratu Hikaru kakaknya." Kata Bara Seta.


"Apa??? kakak?? jadi Miku itu adalah adik Hikaru??? dan dia juga yang mendorong sahabat kami??" tanya Giandra geram.


"Miku dan Kakegawa itu sudah lama berselingkuh dan karena perselingkuhannya diketahui oleh Abesira, juga kedua anak mereka Hiro dan Sima...maka mereka membuat skenario pembunuhan terkena pukulan musuhnya.


"Abesira mengutuk Kakegawa dan Miku, tetapi Matsuyama juga harus menerima imbas dari hasil perbuatan orang tuanya..."


"Semoga takdir baik akan membawa dia pulang bertemu dengan keluarganya lagi."


"Tak adil memang, Miku dan Kakegawa yang berbuat tetapi putra mereka yang berhati baik itu yang harus menanggung akibatnya!!" kata Bara Seta.


"Lalu bagaimana dia bisa bertemu kembali dengan anak dan istrinya, Bara??" tanya Giandra.


"Jika mereka masih berjodoh, pasti mereka akan bertemu dan bersama lagi."


Bara Seta mengakhiri penglihatannya.


"Jangan khawatir...Matsuyama itu orang baik, meskipun terlahir dari seorang ibu yang jahat, tetapi kejahatan ibunya tidak menurun padanya."


"Yakinlah suatu hari nanti dia pasti akan kembali pulang!!"


"Terima kasih, Bara...kami sedikit tenang mendengarnya kasihan anak kami sering menanyakan tentang suaminya, bahkan dia telah melahirkan seorang putri tanpa bisa mengabari suaminya." Kata Serafin.


******


Almira tampak melamun duduk diayunan depan rumah yang menghadap kepantai.


Miranda tampak tertidur dalam gendongannya.


Kakek Kojiro sedang sibuk mengurusi kebunnya di belakang. Sejak kakek Dahlan sepupunya meninggal dunia, kakek Kojiro menjadi lebih banyak diam.


Almira tetap memilih tinggal di rumah pantai yang mengingatkannya selalu akan kenangan tentang kakeknya.


Xander dan Revita jadi lebih dekat dengan kakek dan keluarganya yang lain. Sesekali mereka menjenguk Mira di rumah pantai, walaupun Aliandhara ingin adiknya itu tinggal bersama mereka di mansion. Tetapi Almira tidak mau..


Xavier baru saja selesai mandi setelah dia mengurusi tambak ikannya di belakang. Dia tidak menjumpai Mira dan Miranda di belakang dan di dalam rumah, lalu Xavier keluar kearah teras.


Dia melihat Mira menggendong Miranda duduk diayunan sambil melamun memandang kelaut lepas.


"Bang...Mira ingin pulang kepeternakan!! ayah dan ibu bilang bahwa bang Matsuya belum pulang kepeternakan!!" jawab Mira.


"Boleh...tetapi sekarang putrimu belum bisa diajak mengadakan perjalanan jauh dulu...kasihan!!" sahut Xavier walaupun sebenarnya dia tak rela Almira dan Miranda pergi.


"Ayo makan dulu...abang sudah memasak makan malam untuk kita!!" ajak Xavier.


Diraihnya bahu Almira untuk membantunya berdiri lalu mereka berjalan masuk ke rumah.


"Maaf ya bang, jadi abang yang malah menyiapkan makan malam!!" kata Mira tersipu malu.


"Tidak apa-apa sayang...abang tau kamu habis melahirkan begini tenagamu belum pulih benar ditambah lagi bertubi-tubi masalah menimpamu!!" Xavier gemas melihat pipi Almira yang tadi memerah.


Miranda ditidurkan dalam boks bayinya. Tak lama kakek Kojiropun keluar dari kamar dan ikut bergabung di meja makan.


"Maafkan Mira ya, yah...jadi ayah dan bang Xavier yang memasak makan malam!!" kata Almira.


"Tidak apa-apa nak...kami mengerti kondisimu kok!!" jawab kakek Kojiro.


"Mira kamu mau makan yang mana, biar abang ambilkan!!" kata Xavier.


"Terima kasih ya bang!!" kata Almira yang bisa sedikit terhibur dengan candaan kakek Kojiro dan Xavier.


******


"Snow...kamu pasti haus kan?? kita berhenti dulu di sini ya!!" kata Matsuyama lalu menuntun kudanya ke pinggiran sungai untuk minum dan beristirahat sebentar.


Sementara Snow minum dan merumput, Matsuyama duduk bersender di sebatang pohon.


"Sampai kapan perjalanan yang seperti tak berujung ini?? aku ingin pulang ke peternakan, aku ingin bertemu dengan keluargaku!! pasti istriku Almira sudah melahirkan saat ini, laki-laki atau perempuan ya??" gumam Matsuyama sambil tersenyum mengenang istrinya.


"Pasti Xander seneng banget bisa punya teman di peternakan!!" kata Matsuyama.


Karena terlalu menahan kerinduan pada anak istrinya akhirnya Matsuyama jatuh tertidur.


Dia terbangun saat telinganya menangkap ramai suara anak kecil bermain di seberang sungai sana.


Matsuyama mengucek-ucek matanya untuk meyakinkan pemandangannya.


Di mana mereka?? mengapa suaranya riuh terdengar tapi tak nampak satupun orang di sekitar sini!!" Matsuyama masih terus mengedarkan pandangan matanya menyapu kesekeliling sungai itu.


"Ah sudahlah, sebaiknya aku dan Snow segera meninggalkan tempat ini sebelum hari benar-benar sore." Kata Matsuyama.


"Dori...cepat halangi pemuda tampan itu untuk pergi, kita harus bisa membawanya pada ibunda!!" kata gadis cantik berkuncir buntut kuda pada pemuda kecil di sebelahnya.


"Bagaimana jika dia tidak mau ikut, Dora??" tanya Dori pada kakaknya.

__ADS_1


"Paksa dia dan buai dia dengan nyanyianmu yang merdu!! kita bawa dia pada ibunda, kita butuh banyak penerus setelah bangsa kita banyak yang terbunuh pasca perang dengan para serigala itu!!" kata Dora.


"Mengapa harus aku yang bernyanyi Dora, mengapa bukan kamu saja?? kamukan perempuan tentu kamu lebih pandai bernyanyi!!" kata Dori.


"Aku tidak pandai bernyanyi Dori bodoh...binatang hutan aja banyak yang mati saat aku bernyanyi, apalagi kakak tampan itu??"


"Nasibmu Dora, mengapa kamu dilahirkan mempunyai suara seperti auman singa...jangankan suara, rambutmu pun seperti rambut singa!!" kata Dori meledek kakaknya.


"Terus saja kamu meledek kakakmu ini, Dori...sebelum aku mengaum di samping telingamu ya!!" kata Dora mulai marah pada adiknya.


"Matsuyama??"


Saat Matsuyama tengah bersiap mau naik ke punggung Snow tiba-tiba ada seseorang memanggil namanya.


"Iisshhh siapa yang memanggil namaku di pinggir sungai begini?? masa namaku terkenal sampai kemari??" gumam Matsuyama sambil mengedarkan pandangan matanya.


Orang yang memanggil namanya itu muncul di depan Matsuyama.


"Kamu!!" kata Matsuyama.


Seorang berjubah hitam datang menghampirinya.


"Kamu, apakah kamu anak buah paman Bara Seta??" tanya Matsuyama.


Si jubah hitam membuka tudung kepalanya.


"Aku putri Bara Seta, aku diutus ayah untuk mengarahkanmu ke jalan menuju pulang!!"


"Namaku Bonita, kamu bisa memanggilku Boni saja!!" kata gadis cantik bernama Bonita itu.


"Kamu tadi bilang apa, Boni?? kamu diutus ayahmu untuk mengarahkan jalan menuju pulang??" tanya Matsuyama.


"Memangnya aku tidak bisa pulang sendiri apa?? pakai acara harus diarahkan untuk pulang segala??" balik bertanya Matsuyama.


"Jika kamu bisa pulang sendiri pasti kamu sudah pulang sejak sebulan lalu, tetapi nyatanya??? kamu seolah menemui semua jalan buntu untuk kembali pulang...ini semua karena takdir yang harus kamu jalani, Matsuya!!" kata Bonita.


"Bagaimana paman Bara Seta bisa tau jika aku tersesat tak bisa pulang??" tanya Matsuyama.


"Ayah mertuamu yang meminta tolong pada ayahku untuk membantu perjalananmu kembali pulang!!" Matsuyama akhirnya hanya mengangguk pasrah.


"Dori, siapa gadis berjubah hitam itu?? mengganggu rencana kita saja untuk membawa pemuda tampan itu!!" geram Dora.


"Ayo cepat Matsuya...sebaiknya kita cepat pergi dari sini segera!!" Lalu Bonita melompat keatas punggung Snow lalu mereka menggebrak Snow agar lari meninggalkan tempat itu.


Selang beberapa detik dari kepergian Matsuyama dan Bonita, munculah seorang wanita cantik berambut merah dan bola matanya juga berwarna kemerahan.


"Kemana perginya mereka Dora...Dori?? tanya wanita berambut merah itu.


"Pemuda itu dibawa kabur oleh seorang gadis berjubah hitam, bunda!!" kata Dora memandang takut pada wanita berambut merah.


"Gadis berjubah hitam??" ulang ibunda dari Dora dan Dori itu.


"Iya bunda, dialah yang mengajak Matsuyama untuk cepat berlalu dari tempat ini." kata Dora sementara Dori jangankan untuk menjawab, untuk mengangkat kepalanya menghadap pada bundanya saja dia sudah ketakutan.


"Kurang ajar...mengapa para penghuni dunia bawah tanah juga ikut muncul kepermukaan?? apakah mereka juga tertarik pada aroma tubuh pemuda tampan itu??" gumamnya sedikit gelisah.


"Ikuti terus mereka Dora, pantau dengan cermin ajaibmu di mana mereka berada." Kata ibunda mereka.


Sementara sambil memacu kuda putih itu yang berlari secepat angin, Matsuyama yang duduk di belakang sesekali menoleh kebelakang takut ada yang mengikuti mereka.


Tetapi mata Matsuyama yang jeli tak bisa dibohongi, ada beberapa kelebatan bayangan berwarna merah berkelebat cepat mengikuti kuda putih mereka di antara semak dan pepohonan.


"Sebenarnya mereka itu siapa Boni??" tanya Matsuyama.


Bonita tak menjawab, dia malah mempercepat laju kuda putih Matsuyama agar mereka cepat keluar dari hutan itu.


"Sedikit lagi kita akan keluar dari hutan larangan ini!!" gumam Bonita sambil terus memacu kuda putih itu.


"Pegangan yang kuat Matsuyama...." kata Bonita.


Dengan sekali hentakan kuda putih itu seolah terbang menembus udara dan....


"Hah??? pantai??? hutan larangan itu bersebelahan dengan pantai??" gumam Matsuyama.


Bonita memperlambat laju Snow karena mereka telah berhasil keluar dari hutan yang menakutkan itu.


"Berarti aku sudah bisa pulang ke perguruan, Bonita?? kasihan ayah dan ibuku....bagaimanapun besarnya kesalahan mereka berdua, mereka tetaplah orang tuaku!!" kata Matsuyama.


"Setelah dari perguruan aku ingin langsung pulang ke peternakan...kasihan mertuaku terutama istriku yang sedang hamil dan mungkin sekarang sudah melahirkan anak kami juga putraku." Pandangan mata Matsuyama menerawang penuh rasa rindu pada keluarganya.


Bonita menatap Matsuyama dengan perasaan iba.


"Tidak segampang itu Matsuyama...jalanmu untuk pulang lebih rumit dari pada yang kamu pikirkan."


"Kecuali jika kamu telah selesai menjalani takdirmu maka jalan pulang itu akan terbuka dengan sendirinya, dan akupun juga tak bisa selalu bersamamu untuk melindungimu, kamu akan belajar dengan sendirinya dari pengalamanmu!!" kata Bonita.


Sementara wanita berambut merah yang dipanggil dengan sebutan bunda itu sedang mengamuk di istananya. Bagaimana tidak, lelaki yang diharapkan akan memberikan mereka banyak keturunan akhirnya lolos dari kejaran mereka sehingga membuatnya naik pitam.


"Dasar bodoh semuanya...mengejar dua orang aja kalian tidak becus...apa kalian mau kaki-kaki kalian aku potong semua karena tidak punya kegunaan??" wanita berambut dan bola mata berwarna merah itu mengamuk memukul apa saja yang ada didekatnya.


*


*


****Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu mampir membaca, like, komen, vote, favorite dan rate nya, terima kasih🙏🙏


__ADS_2